Minggu, 22 Desember 2019

Sudah Tahu? Motif Macan Tutul bagaikan Sidik Jari Manusia

 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah kawasan hutan hujan tropis terbesar di Pulau Jawa. Dengan luas 87.699 hektar TNGHS dihuni berbagai spesies langka, salah satunya Macan Tutul Jawa atau dikenal dengan sebutan Panthera pardus Melas.

Untuk memantau populasi hewan tersebut, Balai TNGHS seringkali melakukan pemantauan di beberapa lokasi melibatkan sejumlah pakar di bidang geologi dan konservasi. Resort Cikaniki Balai TNGHS di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ditetapkan sebagai lokasi khusus yang berfungsi sebagai area kontrol.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah populasi hewan langka tersebut. Menurut informasi Petugas Pengendali Ekosistem Hutan Wardi Septiana, bersumber pada data hasil Camera Trap tahun 2016 ada 68 individu macan tutul.

"Untuk jenis satwa ini, tidak ada data yang pasti atau absolut semua yang ada saat ini masih berdasarkan pada dugaan semua. Tidak ada yang bisa memastikan berapa jumlah mereka di kawasan TNGHS," kata Senjaya Baru, Pengendali Ekosistim Hutan (PEH) pada urusan Konservasi Keanekaragaman Hayati TNGHS, kepada detikcom, Senin (23/9/2019).

Pantauan itu sendiri didapat berdasarkan data camera trap. Disebutkan bahwa sosok macan tutul yang tertangkap alat tersebut bisa teridentifikasi lewat motif pada tubuhnya. Seperti halnya sidik jari manusia, motif ini rupanya berbeda pada masing-masing macan tutul. Walhasil, penampakan motif pun bisa mengestimasi jumlah macan tutul di sana.

Macan tutul juga diketahui sebagai spesies yang nocturnal. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu siang untuk tidur di atas pohon besar dan menjadi sangat aktif menjelang petang dan akan terus berburu di malam hari sampai menjelang pagi.

"Pada umumnya Macan Tutul mencari mangsa pada senja hingga malam hari, jarang mereka berburu pada siang hari. Waktu aktif Macan Tutul mengadakan perburuan adalah antara pukul 15.00 sampai 20.00 dan antara pukul 03.00 sampai 06.00, jadi tidak selalu dalam keadaan gelap," lanjut pria yang akrab disapa Kang Jaya tersebut.

Hasil penelitian yang pernah dilakukan di TNGHS menggunakan Camera trap menunjukkan bahwa waktu aktif macan berfluktuasi sesuai dengan kondisi habitatnya. Waktu aktif macan yang diketahui di TNGHS adalah pagi jam 6:00 - 9:00 serta sore hari jam 15:00-18:00 WIB. Aktivitas macan paling rendah pada siang hari, setelah jam 9:00 hingga sebelum jam 15:00 WIB.

Cantiknya Pulau Matan yang Mengalahkan Mantan

Tanah Papua dikenal dengan alam yang masih asri dan alami. Di sana ada Pulau Matan, pulau cantik dengan laut memikat. Mantan mah lewat!
Papua Barat itu tidak cuma Raja Ampat. Banyak banget keindahan alam yang bisa kalian temui di sini. Baik yang berpenghuni maupun gak berpenghuni. Biasanya makin jauh perjalanan, makin tersembunyi, maka makin indah pula destinasinya. Misalnya Pulau cantik yang satu ini, Pulau Matan.

Perjalanan ke Pulau Matan membutuhkan Waktu sekitar 2 jam dari Sorong dengan menggunakan kapal kecil. Kurang lebih kalian harus menyiapkan biaya sekitar 900 Ribu untuk menyewa 1 kapal. Tenang Guys, 1 kapal itu bisa muat 10-15 kepala, jadi bisa patungan biar lebih murah.

Seperti yang saya bilang tadi, perjalanan butuh waktu sekitar 2 jam dengan ombak yang lumayan. Sebelum sampai di Pulau Matan, kami singgah terlebih dahulu ke Pulau Jefman. Pulau Jefman terletak di Distrik Salawati, Kabupaten Raja Ampat.

Di sini terdapat Bandar Udara yang sudah tak terpakai lagi. Bandara ini dulunya adalah bandara pertama di Papua Barat. Bandara Jefman ini dibuat pada saat zaman Perang Dunia ke II bersama dengan Bandara di Biak.

Bandara Jefman terakhir beroperasi tahun 2004 sebelum akhirnya dipindah ke Bandara Dominik Eduard Osok (DEO) di Kota Sorong. Jadi dulu kalau mau ke Sorong harus lewat bandara ini dulu, terus nyebrang lagi pakai speedboat kalau mau ke Kota Sorong. Untungnya sekarang akses jadi semakin mudah karena bandara yang baru ada di tengah kota.

Sekitar 10 menit dari Pulau Jefman, tibalah kami di Pulau Matan. Sungguh beruntung, karena Pulau Matan sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Salah satu rekan saya sudah berkali-kali kesini, tapi katanya inilah yang paling bagus kondisinya.

Lihat aja gambar di atas. Dengan sinar matahari yang bersinar terang, membuat air laut memunculkan warna gradasi Turquoise yang indah dan memanjakan mata. Segar, buat kalian ingin segera berenang jangan lupa pakai Sunblock karena cuaca yang terik sekali.

Di sini juga kaya akan keanekaragaman ekosistem laut. Misalnya bintang laut berwarna biru ini.

Hampir seluruh destinasi pulau di Papua Barat memiliki barisan Karang indah yang menyelimuti Pulau utamanya. So, hati-hati dengan karang disini ya kalau mau berenang. Bersenang-senang itu hal yang wajar untuk dilakukan, tapi jangan lupa untuk jaga keselamatan juga.

Budaya Khas Jerman Semarakkan Oktoberfest 2019 di Aryaduta

Festival budaya khas Jerman yakni Oktoberfest 2019 menyemarakkan perayaan ke-31 tahun Hotel Aryaduta di Jakarta kemarin. Festival dua mingguan menjelang akhir September ini merupakan tradisi tahunan Aryaduta dalam menyambut bulan Oktober.

"Sebagai penyelenggara Oktoberfest terlama di Jakarta, kami selalu menjadikannya acara yang terbesar dan paling meriah setiap tahunnya," ujar General Manager Aryaduta Dirk Fischbach Jakarta dalam keterangan tertulis, Selasa (24/9/2019).

Dirk Fischbach mengatakan festival rakyat terbesar dengan akar tradisi Bavaria ini juga dirayakan di berbagai kota di seluruh belahan dunia termasuk Jakarta. Oktoberfest merupakan bagian penting dari budaya Bavaria, yang telah diadakan sejak tahun 1810 ketika Putra Mahkota Ludwig menikahi putri Jerman, Therese of Saxony-Hildburghausen.

"Aryaduta Jakarta telah menjadi tuan rumah perayaan ini sejak tahun 1988 dan menjadikannya sebagai salah satu tradisi tahunan yang paling dinanti-nantikan," sebutnya.

Perayaan tahun ini telah berlangsung di The Ballroom Aryaduta Jakarta dan di area taman outdoor yang menyajikan dekorasi dengan gaya tradisional Bavaria dengan meja kayu panjang. Adapun panggung yang juga turut menampilkan Garmisch Partenkirchen Musikanten, serta band beranggotakan 10 orang yang didatangkan langsung dari Jerman.

"Pelayan dan pramusaji juga mengenakan kostum tradisional lederhosen, gaun dirndl dan Master Chef Simon Fraundorfer yang menyiapkan sajian Prasmanan otentik Bavaria yang terdiri dari berbagai macam sosis atau wurst tradisional serta goulash, weisswurst, bretzn, hidangan penutup khas Bavaria, dan lainnya," jelasnya.

Sebagai informasi, Festival Jerman kemarin ini banyak menghadirkan kompetisi yang menyenangkan khas Jerman yang diikuti oleh pengunjung yang hadir, seperti menunggang banteng, jug holding, menggergaji kayu dan masih banyak lagi. Beberapa tamu memenangkan hadiah undian termasuk door-prize menginap tiga hari dua malam di Aryaduta Bali.

"Kami berharap anda mendapatkan hari yang tak terlupakan dari sajian, acara, pelayanan, dan semarak tradisi dari Oktoberfest kami yang ke-31 kemarin. Sampai jumpa di tahun mendatang," tandasnya.

Sudah Tahu? Motif Macan Tutul bagaikan Sidik Jari Manusia

 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah kawasan hutan hujan tropis terbesar di Pulau Jawa. Dengan luas 87.699 hektar TNGHS dihuni berbagai spesies langka, salah satunya Macan Tutul Jawa atau dikenal dengan sebutan Panthera pardus Melas.

Untuk memantau populasi hewan tersebut, Balai TNGHS seringkali melakukan pemantauan di beberapa lokasi melibatkan sejumlah pakar di bidang geologi dan konservasi. Resort Cikaniki Balai TNGHS di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ditetapkan sebagai lokasi khusus yang berfungsi sebagai area kontrol.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah populasi hewan langka tersebut. Menurut informasi Petugas Pengendali Ekosistem Hutan Wardi Septiana, bersumber pada data hasil Camera Trap tahun 2016 ada 68 individu macan tutul.

"Untuk jenis satwa ini, tidak ada data yang pasti atau absolut semua yang ada saat ini masih berdasarkan pada dugaan semua. Tidak ada yang bisa memastikan berapa jumlah mereka di kawasan TNGHS," kata Senjaya Baru, Pengendali Ekosistim Hutan (PEH) pada urusan Konservasi Keanekaragaman Hayati TNGHS, kepada detikcom, Senin (23/9/2019).

Pantauan itu sendiri didapat berdasarkan data camera trap. Disebutkan bahwa sosok macan tutul yang tertangkap alat tersebut bisa teridentifikasi lewat motif pada tubuhnya. Seperti halnya sidik jari manusia, motif ini rupanya berbeda pada masing-masing macan tutul. Walhasil, penampakan motif pun bisa mengestimasi jumlah macan tutul di sana.