Jumat, 12 Februari 2021

Riset WHO Mendukung, China Klaim Asal-usul Virus Corona dari Kepala Babi

 Otoritas China mengatakan virus Corona yang ditemukan di Wuhan, China, kemungkinan berasal dari kepala babi beku yang diimpor. Negara tersebut langsung menangguhkan impor produk makanan beku, setelah bukti menunjukkan bahwa ada sampel virus Corona di dalamnya.

Otoritas kesehatan China pun juga sudah berkali-kali melaporkan temuan yang menunjukkan adanya virus Corona pada makanan beku, termasuk kepala babi dan makanan laut yang kemungkinan dijual di Pasar Huanan.


Soal makanan beku dan 'transmisi cold-chain' juga ini sempat dibahas oleh para ahli di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang melakukan investigasi asal-usul virus Corona.


"SARS-CoV-2 bisa tahan di kondisi yang ditemukan dalam makanan beku, kemasan, dan produk beku," kata pejabat Komisi Kesehatan Nasional Liang Wannian, yang dikutip dari Daily Star, Kamis (11/2/2021).


Jika teori tersebut benar, ini akan mendukung teori dari para ilmuwan China yang mengatakan bahwa virus Corona ini berasal dari luar Wuhan.


Ada beberapa temuan yang mendukung teori ini, salah satunya kasus di Beijing pada Juli 2020 lalu. Ditemukan kesamaan genetik antara virus yang menyebabkan infeksi dengan jejak virus yang ada pada salmon beku impor.


Pemerintah setempat pun memberikan klaim lain, termasuk temuan yang melibatkan kepala hewan yang diimpor dari Amerika Utara. Mereka menyebut dua pekerja di Kota pelabuhan Tianjin sudah terinfeksi lewat kepala hewan, tetapi otoritas kesehatan setempat tidak menjelaskan apakah kepala hewan itu juga positif terinfeksi COVID-19.


Namun, pakar penyakit menular di Pusat Medis Universitas Georgetown, AS, mengatakan teori ini membutuhkan studi lebih lanjut.


"Dari semua pasar seafood di China, Asia, dan seluruh dunia, kenapa produk itu menyebabkan wabah di Wuhan?," tanya Lucey.


Menanggapi itu, dokter penyakit menular di National University of Singapore Dale Fisher mengatakan teori ini cukup masuk akal. Ia meminta tim dari WHO untuk menelitinya kembali.


"Teori transmisi cold-chain benar-benar ini muncul bahwa ada wabah yang terjadi di pabrik pengolahan daging di negara lain," ujar Fisher


"Tapi, sangat tidak mungkin ada penyebaran penyakit yang meluas terjadi sebelum Wuhan," lanjutnya.

https://indomovie28.net/movies/the-whole-truth-3/


Awas! 4 Posisi Bercinta Ini Ternyata Bisa Membahayakan


Menentukan posisi yang pas tentunya merupakan salah satu hal umum yang kerap dilakukan sebelum bercinta bersama pasangan. Berbagai variasi posisi dalam berhubungan intim dengan pasangan dapat kamu coba agar dapat mencapai puncak kenikmatan dalam seks.

Namun, terdapat beberapa posisi bercinta yang umum dipilih oleh banyak pasangan tetapi ternyata dapat berbahaya bagi pria dan wanita. Dikutip dari laman News24, berikut 4 posisi berhubungan intim yang bisa membahayakan.


1. Woman on top

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh US National Institute of Health, posisi bercinta yang berbahaya bagi penis pria adalah posisi 'Woman on Top'. Hal ini dapat membahayakan pria karena saat wanita berada di atas pria saat bercinta, tidak terdapat cukup lubrikasi yang kemudian bisa membuat nyeri saat melakukan penetrasi.


Selain itu, saat wanita berada di atas, dorongan yang terjadi saat bercinta dapat menyebabkan cedera lantaran wanita lebih banyak mengontrol gerakannya, sehingga bisa berbahaya jika dilakukan dengan tidak benar.


2. Posisi missionary

Posisi bercinta yang dianggap paling membosankan ini ternyata dapat menyebabkan cedera pada penis pria, lho. Menurut artikel pada NZ Herald, peneliti Brazil mengungkapkan bahwa sebanyak 21 persen cedera pada penis terjadi saat pria tengah berusaha mencapai puncak klimaks. Ketika terjadi dorongan yang cukup cepat, hal ini memungkinkan pria memukul tulang panggul wanita tanpa disengaja.

https://indomovie28.net/movies/the-whole-truth-2/

Studi: Kena COVID-19, Jumlah Sperma Bisa Berkurang

 Sebuah studi terbaru menemukan bahwa seorang pria yang pernah terpapar COVID-19 memiliki risiko menghasilkan jumlah sperma dengan jumlah lebih rendah dalam jangka waktu pendek.

Para peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, dari University of Florence di Italia, telah meneliti sampel air mani dari 43 pria berusia 30 hingga 65 tahun selama satu bulan setelah mereka pulih dari COVID-19.


Peneliti menemukan sebanyak 25 persen pria yang dijadikan sampel memiliki jumlah sperma rendah dan hampir 20 persen mengalami azoospermia atau kondisi saat tidak terdapat sperma pada air mani pria.


Persentase tersebut lebih tinggi daripada total pengidap azoospermia secara umum pada populasi dunia, yakni sekitar 1 persen, sebagaimana menurut John Hopkins School of Medicine.


Lebih lanjut, menurut studi yang dipublikasikan pada 1 Februari oleh jurnal Human Reproduction, sampel yang mengalami gejala COVID-19 berat hingga harus dirawat di rumah sakit atau ICU (intensive care unit), memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami azoospermia setelah sembuh dari virus Corona, dibandingkan dengan sampel yang hanya mengalami gejala umum.


Namun, para peneliti menekankan bahwa penelitian yang dilakukan tidak membuktikan bahwa SARS-CoV-2 lantas berbahaya bagi kualitas sperma. Pasalnya, para peneliti tidak mengetahui jumlah sperma pria yang dijadikan sampel sebelum mereka terpapar COVID-19, sehingga mereka tidak bisa meyakini bahwa terjadi pengurangan jumlah sperma setelah mereka terinfeksi.

https://indomovie28.net/movies/the-whole-truth/


Selain itu, hal lain seperti pengobatan selama terpapar COVID-19, mulai dari pemberian antivirus hingga antibiotik dan kortikosteroid, juga dapat mempengaruhi jumlah sperma.


"Semakin sakit Anda, semakin banyak pula kondisi tubuh memiliki pengaruh," ujar Dr Ajay Nangia, seorang professor dari University of Kansas Medical Center, yang juga terlibat dalam penelitian.


Nangia menambahkan, bahwa para pria yang dijadikan sampel harus diteliti selama minimal 90 hari setelah terinfeksi untuk melihat efek jangka panjang yang ditimbulkan. Sebab, sperma membutuhkan waktu beberapa bulan hingga mereka benar-benar matang.


"Kami harus mengulangi penelitian pada orang-orang ini hingga 90 hari kedepan," lanjut Nangia.


COVID-19 dan kesuburan

Terdapat sebuah alasan mengapa SARS-CoV-2 dapat mempengaruhi produksi sperma pada pria. Sel testis memiliki tingkat reseptor ACE2 yang tinggi dan dapat membuat virus SARS-CoV-2 untuk masuk ke dalam sel.


Namun, hanya sejumlah studi yang menemukan virus SARS-CoV-2 pada air mani pria yang positif terinfeksi virus Corona. Studi tersebut menemukan bahwa ditemukan virus Corona pada air mani sejumlah pria yang menjadi sampel pada masa awal terinfeksi hingga pemulihan.


Setidaknya terdapat satu studi dari Cina yang dirilis pada Oktober 2020 pada jurnal EclinicalMedicine, yang juga menemukan bahwa terdapat penurunan jumlah sperma pada pria yang terinfeksi COVID-19. Namun, studi tersebut hanya melibatkan 23 pasien sebagai sampel.


Dalam studi terbaru, peneliti mengumpulkan sampel air liur, urine, dan air mani dari peserta setidaknya 30 hari setelah mereka dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah dua kali pengecekan.


Dari 43 pasien tersebut, 12 orang dirawat di rumah, 26 orang dirawat di rumah sakit, dan 5 orang dirawat di ICU. Secara keseluruhan, 8 pria mengalami azoospermia dan 3 lainnya mengalami oligospermia atau memproduksi sperma dalam jumlah rendah.


Risiko azoospermia juga dihubungkan dengan penyakit lainnya pada pria lantaran azoospermia ditemukan pada 4 dari 5 pasien yang dirawat ICU, 3 dari 26 pasien yang dirawat di rumah sakit, serta 1 dari sisanya yang dirawat di rumah.


Dari ke-43 sampel tersebut, hanya satu sampel air mani yang terdeteksi mengandung virus SARS-CoV-2. Peneliti juga menemukan bahwa terdapat sepertiga dari total pasien yang dirujuk ke ICU memiliki tingkat interleukin 8 (IL-8) yang tinggi.

https://indomovie28.net/movies/dr-strange/