Senin, 11 Januari 2021

Menyoal Pesawat Kelamaan Parkir dan Risiko Kecelakaan Penerbangan

 Sejumlah ahli mewanti-wanti ratusan pesawat yang kembali beroperasi usai dilarang terbang selama berbulan-bulan karena pandemi COVID-19. Hal itu menyusul jatuhnya pesawat Boeing milik Sriwijaya Air tak lama setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menegaskan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau seribu tak ada kaitannya dengan usia pesawat.


"Walaupun pesawat usianya sudah 26 tahun, tapi asal perawatannya baik tidak ada masalah. Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang," kata Alvin yang dikutip Sabtu, (9/1/2021) dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.


Tapi maskapai diminta berhati-hati saat menghidupkan kembali armada pesawatnya. Usai berbulan-bulan dikandangkan, tidak hanya pesawat tetapi juga sumber daya manusia (SDM).


Dicuplik Reuters, Minggu (10/1/2021) potensi bahaya yang muncul setelah armada pesawat lama tak dioperasikan di antaranya; pilot rustiness (menurunnya keterampilan sebab jarang terbang), kesalahan perawatan, dan bahkan serangga yang membuat sarang hingga bisa memblokir sensor-sensor utama pesawat.


Menurut data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendaratan yang tak mulus di suatu bandara pada tahun ini. Hal ini dapat mengakibatkan pendaratan yang keras, landasan pacu melampaui batas (pesawat tergelincir keluar) atau bahkan tabrakan.


Selain itu, Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) telah melaporkan "tren yang mengkhawatirkan" dalam jumlah laporan pembacaan kecepatan dan ketinggian yang tidak sesuai selama penerbangan pertama setelah pesawat meninggalkan penyimpanan. Dalam beberapa kasus pesawat batal terbang atau harus kembali ke pangkalan.


Beberapa kejadian menunjukkan bahwa data kecepatan dan ketinggian tidak sesuai. Ini disebabkan sensor yang kotor lantaran serangga atau kotoran lain yang menghambat pitot tube (tabung pitot).


Dalam laporan Reuters, sarang serangga yang tidak terdeteksi dalam tabung pitot pesawat --instrumen berlubang di bagian luar pesawat yang berguna untuk mengukur kecepatan udara-- bisa membahayakan pesawat. Bagi tawon, tabung pitot adalah rongga yang sempurna untuk membangun sarang.


Sementara menurut Bloomberg, pesawat yang diparkir tetap dirawat dengan memanaskan mesin secara berkala, serta menyalakan sistem perangkat elektronik untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Jika tidak, mesin dan sensor harus tetap tertutup untuk melindunginya dari debu dan pasir.

https://movieon28.com/movies/the-secret-in-their-eyes/


Maskapai mungkin memutuskan untuk menyimpan bahan bakar di tangki pesawat agar tetap terlumasi. Selain itu harus meletakkan cairan hidrolik pada roda pendaratan untuk mencegah karat, dan memutar roda pesawat setiap beberapa minggu dengan menariknya di sekitar landasan atau mendongkrak dan memutarnya.


Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis.


"Pesawat kehilangan ketinggian secara drastis pada ketinggian 10 ribu kaki, sedangkan kecepatan vertikal atau kecepatan turunnya mendekati 30 ribu kaki per menit. Jadi kalau ada di ketinggian 10 ribu kaki, pesawat terhempas ke permukaan hanya butuh sepertiga menit atau 20 detik," imbuh Alvin.

Sriwijaya Air kehilangan ketinggian secara drastis

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis. Pada saat itu, menurut Alvin pesawat sudah tidak dapat dikendalikan. Jika ditanya soal kemungkinan penyebab pesawat jatuh, Alvin mengungkapkan kemungkinan cuaca buruk tidak dapat jadi alasan.


"Untuk unsur cuaca, rasa-rasanya nggak segitunya (pesawat sampai kehilangan ketinggian drastis) karena di saat yang sama banyak pesawat melakukan penerbangan di wilayah yang sama," jelasnya.


Kemungkinan lain, dikatakannya, pesawat mengalami masalah dengan sistem kendali. Kalau masalah terjadi pada mesin, kondisi jatuhnya pesawat tidak akan seperti yang dialami Sriwijaya Air SJ182.


Alvin menjelaskan jika mesin bermasalah, pesawat masih bisa melayang, begitu pula jika dua mesin mati. Pesawat masih bisa melayang dan dikendalikan untuk mendarat darurat.


Alvin juga sempat mengecek tidak ada may day call atau panggilan darurat. Pilot pun tidak melaporkan kerusakan atau kondisi darurat ke pihak air traffic controller (ATC) atau pengatur lalu lintas penerbangan.


"Kemungkinan ini terjadi sedemikian cepat dan mendadak, sehingga pilot tidak sempat berbuat apa-apa," imbuhnya.

https://movieon28.com/movies/the-beauty-inside/

Minggu, 10 Januari 2021

Sriwijaya Air Hilang Kontak, Netizen Gaungkan Keselamatan #SJ182

 Pesawat Sriwijaya Air rute penerbangan Jakarta-Pontianak hilang kontak saat terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Sabtu (9/1/2021). Mendengar kabar tersebut, netizen mendoakan keselamatan dengan menggaungkan tagar #SJ182.

Tagar #SJ182 pun kini terpantau melesat jadi salah satu trending topic saat ini di Twitter. Topik yang berkaitan, seperti 'Sriwijaya Air' juga ramai dibahas netizen.

Diketahui, pesawat yang hilang kontak ini adalah Sriwijaya Air SJY 182/SJ 182 dengan registrasi PKCLC.


"Nomor penerbangannya SJY 182, nomor registrasinya PKCLC," kata Manajer Branch Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Haerul Anwar saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/1/2021).


Pesawat yang hilang kontak ini dikabarkan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menuju Pontianak. Haerul mengatakan pesawat Sriwijaya Air itu hilang kontak di sekitar Pulau Lancang, Kepulauan Seribu.

https://maymovie98.com/movies/star-wars-the-rise-of-skywalker/


Mengenal Boeing 737-524, Pesawat Sriwijaya Air yang Hilang Kontak


Pesawat Sriwijaya Air SJ182/SJY 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak. Pesawat itu merupakan buatan dari pabrikan Boeing di Amerika Serikat dengan jenisnya adalah 737-524.

Menurut FlightRadar 24, pesawat Sriwijaya Air ini penerbangan perdananya dilakukan pada bulan Mei 1994 alias berusia 26 tahun.


Mengutip berbagai sumber, pesawat jenis itu masuk dalam keluarga Boeing 737 Classic yang diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes dan merupakan generasi kedua dari Boeing 737-100/-200.


Pengembangannya dimulai pada tahun 1979 dan varian pertamanya, 737-300 pertama kali diterbangkan pada tahun 1984. Adapun 737-500 merupakan varian terkecilnya dan diterbangkan pertama kali pada tahun 1989 untuk kemudian mulai melayani penumpang pada tahun 1990.


Berdasarkan nomor serinya, Sriwijaya Air yang hilang kontak itu masuk dalam Boeing 737-500 tersebut. Varian ini merupakan yang paling kecil ukurannya jika dibandingkan dengan seri 737 Classic buatan Boeing lainnya.


Boeing 737-500 ditawarkan atas permintaan konsumen sebagai pengganti langsung dari 737-200. Meskipun lebih kecil dari seri 300 dan 400, seri 500 badan pesawatnya lebih panjang dari seri 200 dan bisa mengakomodasi sampai 140 penumpang. Mesinnya pun dirancang 25% lebih efisien bahan bakar dibanding 737-200.

Maskapai Southwest Airlines di Amerika Serikat adalah yang pertama kali memesan dan memakainya dan mereka terbangkan pertama kali pada tahun 1989 untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pesawat komersial di tahun 1990.


Pesawat ini juga jadi favorit di kalangan maskapai Rusia, antara lain dipakai oleh Nordavia, Rossiya Airlines, S7 Airlines, Sky Express, Transaero, UTair, dan Yamal Airlines yang membelinya dalam keadaan bekas untuk menggantikan pesawat buatan Rusia yang telah usang.


Jenis 737-500 ini dan juga varian lainnya mulai banyak dipensiunkan. Southwest Airlines menerbangkannya terakhir kali pada tahun 2016. Beberapa maskapai masih menggunakannya termasuk Sriwijaya Air.

https://maymovie98.com/movies/memoirs-of-a-geisha/