Selasa, 22 Desember 2020

Nasib Vaksinasi COVID-19 pada Mereka yang Alami Reaksi Serius Pasca Disuntik

 Beberapa waktu lalu, dua tenaga kesehatan di Amerika Serikat mengalami reaksi alergi serius pasca disuntik vaksin COVID-19. Bagaimana nasib kelanjutan vaksinasi COVID-19 pada mereka yang mengalami alergi ini?

Dikutip dari Reuters, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS tengah memantau laporan reaksi alergi terhadap vaksinasi COVID-19, khususnya dengan riwayat alergi.


"Siapa pun yang memiliki reaksi parah terhadap vaksin COVID-19 tidak boleh mendapatkan dosis kedua," tegas CDC, menanggapi kondisi beberapa orang yang mengalami reaksi parah karena membutuhkan obat epinefrin atau perawatan di RS.


"Orang yang mengalami reaksi alergi parah terhadap bahan apa pun dalam vaksin COVID-19 harus menghindari formulasi vaksin yang mengandung bahan tersebut," lanjut CDC.


Dua vaksin COVID-19 kini telah disetujui di AS dengan izin penggunaan darurat, yaitu vaksin Corona Pfizer dan Moderna. Namun, orang yang mengalami reaksi alergi parah pada vaksin Corona harus segera berkonsultasi dengan dokter terkait suntikan vaksin Corona.


Lebih lanjut, CDC mengatakan orang yang memiliki riwayat alergi pada makanan, hewan peliharaan, atau lateks dan kondisi lingkungan serta alergi obat oral masih bisa menerima vaksin Corona. BPOM AS kini tengah menyelidiki sekitar lima reaksi alergi yang terjadi usai orang-orang menerima vaksin Corona Pfizer-BioNTech di AS minggu ini.


Regulator medis Inggris juga menegaskan bahwa siapa pun dengan riwayat anafilaksis, atau reaksi alergi parah terhadap obat atau makanan, tidak boleh diberi vaksin Corona Pfizer-BioNTech.


Beberapa orang yang mengalami reaksi alergi usai disuntik vaksin Corona mengidap gejala ruam hingga sesak napas dan detak jantung meningkat. Namun, kondisi mereka kini dikabarkan stabil.

https://kamumovie28.com/movies/remember-me/


Kenali Manfaat Susu yang Berasal dari Sapi A2 untuk Anak!


Menjaga asupan nutrisi merupakan salah satu kunci untuk membuat tubuh tetap sehat, yakni dengan menerapkan pola makan sehat setiap harinya. Caranya adalah dengan makan makanan beragam dengan jumlah porsi yang sesuai dengan usia. Mulai dari jenis karbohidrat, protein, lemak serta vitamin dan mineral.

Salah satu sumber protein hewani yang nilai gizinya tinggi adalah susu. Produk susu yang sering dikonsumsi anak, umumnya dianggap minuman padat nutrisi yang mengandung protein, kalsium, dan nutrisi penting lainnya seperti magnesium, kalium, fosfor, seng, dan vitamin B. Di dalam susu juga terdapat dua jenis protein, yakni whey dan casein. Namun, tahukah Anda casein merupakan kelompok protein terbesar dalam susu, yang membentuk sekitar 80% dari total kandungan protein dalam susu?


Melansir jurnal teknologi pangan berjudul 'A1- and A2-Milk and Their Effect on Human Health', ternyata ada perbedaan susu yang berasal dari sapi biasa dan susu yang berasal dari sapi A2. Susu sapi biasa pada umumnya terdiri dari kandungan protein utama A1 Beta-kasein dan A2. Sementara susu dari sapi A2 ini hanya mengandung A2 Beta-kasein saja.


Beta-kasein yang terkandung pada susu yang dari sapi A2 tidak terurai atau pecah saat dicerna oleh tubuh. Sementara itu beta-kasein dari susu sapi A1 akan pecah dan melepaskan peptida beta casomorphin-7 (BCM-7).


Oleh karena itu, Anda perlu mengenali susu yang berasal dari sapi A2 dengan kandungan protein beta-casein A2. Susu dengan protein beta-casein A2 juga mudah dicerna karena tidak menyebabkan gangguan pencernaan sehingga baik untuk pertumbuhan anak karena mudah terserap oleh pencernaan.


Apabila sistem pencernaan si kecil sehat dan nyaman, si kecil pun dapat beraktivitas dengan lebih nyaman termasuk dalam proses belajarnya di masa pertumbuhannya, sehingga si kecil dapat bereksplorasi tanpa hambatan!


Apalagi jika susu pertumbuhan untuk anak yang berasal dari sapi A2 mengandung nutrisi lainnya seperti DHA, Kolin, Omega 3, Omega 6, Sphingomyelin, dan Phospolipid. Menarik bukan manfaat dari susu yang berasal dari sapi A2 untuk anak?

https://kamumovie28.com/movies/mother/

Ragu Kena Corona? Ini Beda Gejala COVID-19 dengan Flu dan Alergi

 Ada berbagai macam gejala COVID-19 yang bisa dialami pasien ketika terinfeksi virus Corona. Namun, kerap kali gejalanya mirip seperti sedang terkena flu atau pun alergi, sehingga membuat banyak orang menjadi bingung.

Jika hidung meler atau mata terasa gatal, itu bukan berarti kamu sedang terinfeksi virus Corona. Namun, jika kamu mengalami batuk, kelelahan, dan demam, mungkin saja kamu terkena COVID-19.


Lantas apa bedanya gejala COVID-19 dengan flu dan alergi?


Beda gejala COVID-19 dan flu

"Tak semua gejala (penyakit) diciptakan sama. Meski tampaknya kamu sedang terinfeksi virus Corona, tapi bisa jadi kamu hanya mengalami alergi musiman atau influenza," kata Lindsey Elmore, spesialis farmakoterapi kepada Healthline.


Kepala bagian farmasi dari layanan SingleCare, Ramzi Yacoub pun mengaku cukup sulit untuk membedakan gejala COVID-19 dengan penyakit seperti flu atau pilek. Pasalnya, mereka memiliki gejala yang mirip.


"Mereka semua (COVID-19, pilek, dan flu) disebabkan oleh virus. Tetapi, setiap infeksi ini virusnya berbeda," kata Yacoub.


"Namun, ada satu perbedaan utama di antara ketiganya, yakni gejala virus Corona adalah sesak napas," tambahnya.


Yacoub menjelaskan, sesak napas adalah tanda umum COVID-19 sebelum berkembangnya pneumonia. Umumnya, flu dan pilek tidak menyebabkan sesak napas, kecuali jika sudah berkembang menjadi pneumonia.

https://kamumovie28.com/movies/the-first-time-4/


Sementara itu, Subinoy Das selaku kepala petugas medis di Tivic Health pun berpendapat bahwa flu biasa jarang menyebabkan sesak napas setelah demam berkembang.


"Influenza sangat mirip dengan COVID-19. Tetapi, sesak napas yang muncul biasanya tidak separah COVID-19," ucap Das.


Lebih lanjut, kata Das, orang yang terkena COVID-19 umumnya akan mengalami sesak napas setelah merasakan gejala demam.


Lantas bagaimana perbedaan gejala COVID-19 dengan alergi? Klik halaman selanjutnya.


Beda Gejala COVID-19 dan alergi

COVID-19, flu, dan pilek merupakan penyakit akut yang gejalanya muncul secara cepat atau tiba-tiba. Namun, alergi biasanya bersifat kronis atau penyakit yang diderita dalam kurun waktu lama.

"Gejala (alergi) hilang dan muncul dan terus terjadi secara terus-menerus selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun," kata Dr David M Cutler, dokter pengobatan keluarga di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, California, kepada Healthline.


Cutler menjelaskan, COVID-19 atau pilek cenderung memiliki gejala umum, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Sedangkan alergi biasanya hanya mempengaruhi saluran pernapasan saja.


"Gejala alergi cenderung membaik dengan antihistamin dan obat khusus alergi lainnya. Pilek lebih mungkin merespons dekongestan, asetaminofen, cairan, dan istirahat," jelas Cutler.


Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menyebut bahwa sesak napas, batuk, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan bisa jadi merupakan gejala COVID-19 atau alergi.


Selanjutnya, mata gatal dan bersin umumnya hanya gejala alergi. Demam, nyeri otot, hilang indra penciuman dan perasa, mual, dan diare biasanya berhubungan dengan COVID-19 dan bukan alergi.


Berikut 11 gejala utama COVID-19 yang telah dicatat oleh CDC.


Demam atau kedinginan

Batuk

Sesak napas

Kelelahan

Nyeri otot atau tubuh

Sakit kepala

Sakit tenggorokan

Hilang indra penciuman dan perasa

Hidung tersumbat atau meler

Mual atau muntah

Diare.

https://kamumovie28.com/movies/elektra-luxx/