Kamis, 17 Desember 2020

Dukung UMKM Go Digital, OCA Indonesia Luncurkan Program OCA UMKM

 OCA Indonesia meluncurkan program OCA UMKM untuk menggandeng UMKM agar dapat terdigitalisasi. Hal tersebut didorong adanya kondisi pandemi yang membatasi ruang gerak masyarakat dan menyebabkan perilaku konsumen berubah sehingga menuntut UMKM untuk segera go digital.

Chief Marketing Officer OCA Indonesia, Tiffany Krisnandya mengatakan saat ini pelaku bisnis mulai mengubah proses bisnisnya menjadi digital. Biaya yang lebih murah dan kemampuan menjangkau konsumen yang lebih luas lagi dinilai menjadi hal yang sangat dibutuhkan masyarakat.


"Penggunaan omni channel communication seperti OCA juga mampu memberikan pelaku usaha real time conversion sehingga pelaku dapat secara langsung mengukur keberhasilan pemasarannya. Dalam realitanya, tentu UMKM membutuhkan penyesuaian untuk bisa terdigitalisasi sepenuhnya," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020).


Seperti diketahui, UMKM adalah salah satu penopang perekonomian nasional di tengah keadaan ekonomi global yang rawan krisis. Bahkan Kemenkop UKM menargerkan ada 10 juta UMKM yang terdigitalisasi hingga akhir 2020.


Dengan pendekatan melalui program OCA UMKM, pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan layanan untuk meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, meningkatkan awareness dan engagement konsumen dengan berbagai format melalui email, hingga pesan suara otomatis yang bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk keperluan pemasaran hingga customer service.


Sementara itu Deputy EVP Digital Exploration Telkom Indonesia, Ery Punta Hendraswara mengatakan UMKM harus berani untuk meninggalkan cara lama dalam berbisnis agar dapat bertahan. Menurutnya dengan bentuk layanan OCA, satu UMKM tetap bisa memabngun hubungan dengan pelanggan atau tetap produktif mencari calon pelanggan baru.


"Sehingga, walaupun di masa sulit seperti ini, UMKM akan tetap dapat mengembangkan bisnis dan meningkatkan penjualan. OCA Telkom Indonesia berharap dengan diluncurkannya produk OCA UMKM dan berbagai pelatihan daring yang rutin diadakan melalui webinar dan Instagram OCA Indonesia, UMKM mampu berkontribusi dalam percepatan digitalisasi," katanya.


Sebagai informasi, OCA Indonesia adalah salah satu inkubasi bisnis Telkom Indonesia yang menyediakan layanan omni channel communication seperti email blast, SMS blast, IVR call, dan WhatsApp blast.

https://kamumovie28.com/movies/doa-cari-jodoh/


Bill Gates: Butuh 3.000 Ahli untuk Lawan Pandemi Berikutnya


Saat memberikan TED Talk pada tahun 2015, Bill Gates meramal akan ada penyakit menular yang lebih mengancam manusia ketimbang perang nuklir. Kini di tengah pandemi COVID-19, Gates meminta pemerintah dunia bersiap menghadapi pandemi selanjutnya.

"Kita harus melihat apa yang telah kita pelajari dari epidemi ini, karena akan ada epidemi lainnya yang akan datang," kata Gates dalam wawancara dengan CNN, seperti dikutip dari CNBC, Kamis (17/12/2020).


Gates kemudian ditanya apa yang harus dilakukan pemerintahan Joe Biden untuk menghadapi pandemi berikutnya dengan lebih baik. Dedengkot Microsoft ini menekankan dibutuhkan kelompok global yang beranggotakan ahli penyakit menular.


"Kita membutuhkan tim ahli, sekitar 3.000 dari mereka di seluruh dunia, yang menangani penyakit menular. Ketika ada tanda pandemi, mereka akan, dengan kemampuan penuhnya bergeser dan fokus pada hal itu," jelasnya.


Selain tim ahli penyakit menular yang lebih kuat, Gates mengatakan meningkatkan jumlah tes bisa membantu Amerika Serikat dan negara lainnya untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.

https://kamumovie28.com/movies/d-o-a-4/

Orang Terkaya Dunia Diprediksi Bakal Bangkrut Karena 3 Hal

 CEO Amazon Jeff Bezos menjadi orang terkaya dunia berkat pundi-pundi yang dihasilkan dari perusahaannya. Namun, pakar retail Doug Stephens memprediksi Amazon bisa jatuh dalam dekade mendatang, bahkan bangkrut.

Di halaman website Business of Fashion miliknya, pendiri Retail Prophet dan penasihat sejumlah merek ternama di dunia ini meramalkan akhir perjalanan Amazon.


"Saya pikir dalam sepuluh tahun bisnis Amazon akan menurun dan ini hanya beberapa alasannya," tulis Stephens seperti dikutip dari Entrepreneur. Berikut ini tiga hal yang diprediksinya akan membuat Amazon dan Jeff Bezos bangkrut.


Amazon ikuti jejak Walmart


Salah satu alasan kemungkinan bangkrutnya raksasa ritel online ini adalah karena mengikuti pola yang sama dengan perusahaan lain. Stephens memberi contoh pada Walmart.


"Antara 1962 dan awal 2000-an, Walmart memimpin bisnis ritel, mengalahkan puluhan pesaing besar dan kecil. Pada 2010, Walmart secara mengejutkan telah membuka 4.393 toko. Lebih dari 3.000 di antaranya dibuka setelah tahun 1990," jelas Stephen.


Namun kemudian, setelah mengalami penurunan besar dalam penjualan pada tahun 2015, Walmart gagal lepas landas di ranah ritel online.


"Penurunan yang dialami sang raksasa yang dulunya tak bisa ditembus, telah menunjukkan bahwa bahkan perusahaan paling besar pun bisa jatuh," kata Stephens.

https://kamumovie28.com/movies/doa-dead-or-alive/


Amazon tawarkan efisiensi, tapi bukan pengalaman berbelanja


Sang pakar menganggap berbahaya jika Bezos berniat mempertahankan model operasional yang sama untuk jangka panjang.


"Dalam bisnis ritel, kita tahu bahwa pelanggan menginginkan harga murah, dan saya tahu hal itu benar adanya 10 tahun dari sekarang. Mereka menginginkan pengiriman cepat, mereka menginginkan banyak pilihan," ujarnya.


Namun, Stephens percaya bahwa orang tak hanya membeli karena mereka menginginkan produknya secepat mungkin. Mereka juga menginginkan pengalaman berbelanja yang lengkap seperti keluar rumah, menyentuh produk, membandingkan satu sama lain, mencoba hal baru atau mendapatkan inspirasi. Artinya, Amazon terbatas pada efisiensi pembelian online tapi tidak menawarkan pengalaman berbelanja yang diinginkan konsumen.


Fokus pada layanan pelanggan hilang


Ketika sebuah perusahaan memiliki pemimpin yang kuat seperti Jeff Bezos, artinya perusahaan tidak akan berfungsi tanpa dia. Stephen memprediksi bahwa saat Amazon melanjutkan ekspansinya, sosok Bezos bisa tenggelam atau menghilang.


Maka, bisa jadi Amazon kehilangan misi awalnya, yaitu kepuasan pelanggan, untuk memprioritaskan optimalisasi proses berdasarkan angka dan data. Stephen juga memperkirakan perusahaan akan lebih sedikit berinovasi.


"Energi, ketika diarahkan untuk meningkatkan bisnis, akan habis hanya untuk bekerja memelihara infrastruktur organisasi," kata Stephens.


Dia juga menyebut alasan lain dari potensi kejatuhan Amazon, seperti lingkungan kerja yang toxic menurut sejumlah laporan dan migrasi sejumlah mitra saat ini ke platform pengiriman lain yang lebih ramah pengguna.


Menurutnya, kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan Amazon menderita kerugian selama dekade berikutnya dan digantikan oleh perusahaan serupa lainnya yang menawarkan kondisi yang lebih baik bagi mitra, pekerja, dan pelanggan.

https://kamumovie28.com/movies/d-o-a-3/