Senin, 14 Desember 2020

3 Faktor Pemicu Pasien COVID-19 Mengalami Delirium, Apa Saja?

 Saat ini, banyak peneliti yang mengungkapkan berbagai gejala baru yang berkaitan dengan COVID-19. Bahkan sejumlah penelitian baru menemukan bahwa virus Corona ini bisa menyebabkan delirium, yang banyak dialami kelompok pasien usia lanjut (lansia).

Menurut akademisi sekaligus praktisi klinis Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, delirium menjadi gejala pertama yang bisa menyebabkan seseorang harus pergi ke rumah sakit.


"Delirium bisa menjadi gejala pertama yang membawa pasien datang ke rumah sakit. Pasien COVID-19 yang mengalami gangguan pada sistem saraf pusat bisa datang dengan sakit kepala hebat disertai delirium dan pasien COVID-19 bisa datang gangguan jiwa (psikotik)," kata Prof Ari melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Senin (14/12/2020).


"Tentu hal ini harus menjadi perhatian bagi para dokter yang bekerja di gawat darurat, karena bisa saja pasien datang dengan kondisi seperti ini. Begitu pula buat pasien dan anggota keluarga perlu mengenal gejala ini sebagai bagian dari gejala penyakit COVID-19," lanjutnya.


Prof Ari menjelaskan, delirium pada pasien COVID-19 sebenarnya menunjukkan bahwa pasien tengah mengalami kondisi yang berat akibat virus Corona. Bahkan ada tiga hal yang menyebabkan pasien COVID-19 mengalami delirium, yaitu:


Pertama, pasien dengan COVID-19 bisa mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) darah, sehingga pengiriman oksigen ke organ di dalam tubuh menjadi terganggu. Otak kita sangat sensitif akan kekurangan oksigen menyebabkan pasien mengalami gangguan kesadaran berupa delirium.

Kedua, penyebab pasien COVID-19 mengalami delirium berhubungan dengan sindrom badai sitokin yang bisa terjadi sebagai komplikasi dari infeksi COVID-19. Tubuh akan memproduksi sel- sel radang yang bisa menyebabkan berbagai lanjutan komplikasi, seperti terjadinya peningkatan kekentalan darah dan peradangan di berbagai organ termasuk organ otak.

Ketiga, kemungkinan virus akan melewati sawar darah otak atau jembatan antara sirkulasi darah dan otak, sehingga menyebabkan kerusakan otak.

"Hal ini memang harus menjadi perhatian kita semua bahwa infeksi COVID-19 ini menyebabkan berbagai komplikasi termasuk komplikasi ke otak. Apabila pasien bisa kembali sehat, efek samping jangka panjang sebagai gejala sisa akibat infeksi ini juga dapat terjadi yang kita sebut sebagai long Covid," jelas Prof Ari.

https://movieon28.com/movies/titus-mystery-of-the-enygma/


Ilmuwan Ungkap 5 Gen yang Membuat Virus Corona Makin Berbahaya


Para ilmuwan menunjukkan lima gen yang membuat virus Corona COVID-19 menjadi lebih berbahaya. Pada penelitian yang sama, mereka juga menunjukkan beberapa obat yang bisa digunakan untuk mengobati orang paling berisiko akibat COVID-19.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mempelajari DNA dari 2.700 pasien COVID-19 di 208 unit perawatan intensif di seluruh Inggris. Mereka menemukan bahwa terdapat lima gen yang terlibat dalam proses peradangan paru-paru yang menyebabkan kasus COVID-19 semakin parah.


"Hasil kami segera menyoroti obat mana yang harus ditempatkan pada daftar teratas untuk diuji klinis," kata Kenneth Baillie, seorang konsultan akademis dalam pengobatan perawatan kritis di Universitas Edinburgh sekaligus pemimpin penelitian ini.


Dikutip dari Reuters, lima gen yang disebut bisa membuat virus Corona menjadi lebih berbahaya yaitu IFNAR2, TYK2, OAS1, DPP9, dan CCRW2. Baillie mengatakan, sebagian gen membuat orang menjadi sakit parah akibat COVID-19, tetapi yang lainnya mungkin tidak berpengaruh.

https://movieon28.com/movies/love-like-the-falling-rain/

5 Negara Ini Gratiskan Vaksin COVID-19 untuk Warganya, Bagaimana di Indonesia?

 Vaksin COVID-19 menjadi salah satu cara yang disebut efektif mengakhiri pandemi Corona yang saat ini telah menginfeksi lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia.

Seperti yang diketahui, ada beberapa kandidat vaksin Corona yang terbukti efektif mencegah penularan. Dengan terbitnya hasil akhir dari uji klinis fase 3 dari vaksin COVID-19, banyak negara berbondong-bondong memesan untuk disuntikan kepada warganya.


Sederet negara dilaporkan akan menggratiskan vaksin COVID-19 untuk seluruh warganya. Bagaimana di Indonesia?


Pemerintah Indonesia membuat dua skema pemberian vaksin COVID-19 yakni vaksin program untuk kelompok tertentu yang akan diberikan secara gratis dan vaksin Corona mandiri atau berbayar.


Untuk vaksin program, sasaran penerima sekitar 32 juta orang. Kelompok penerima vaksin ini adalah tenaga kesehatan, pelayan publik termasuk TNI/Polri, dan peserta BPJS Kesehatan PBI. Mereka yang berada dalam kelompok ini tidak dibebankan biaya vaksinasi.


Untuk program vaksinasi mandiri yang kelompok penerimanya adalah masyarakat dan pelaku ekonomi, jumlah orang yang nantinya akan disuntik vaksin berada di angka 75 juta orang.


Di samping itu, ada beberapa negara yang sudah memastikan akan memberikan vaksin COVID-19 secara gratis kepada seluruh warganya. Berikut daftar negara yang memberikan vaksin COVID-19 gratis seperti dirangkum detikcom dari berbagai sumber.


1. Jepang

Jepang telah menyetujui undang-undang terkait pemberian vaksin COVID-19 secara gratis pada semua warganya. Pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga akan menanggung semua biaya vaksin untuk 126 juta penduduk.


Meski begitu, pemerintah Jepang akan tetapi memberikan izin pada mereka untuk menolak vaksinasi, jika efektivitas dan keamanan vaksin tersebut belum terbukti. Jika vaksin menunjukkan efek samping yang serius, pihak pemerintah juga bersedia menanggung biaya pengobatan dan cacat.


Saat ini, pihak Jepang sudah menyetujui vaksin dari beberapa perusahaan farmasi besar yaitu Pfizer, Moderna Inc, dan AstraZeneca. Vaksin juga diprediksi akan cukup untuk 145 juta penduduk.


Prancis hingga Bangladesh juga menggratiskan vaksin COVID-19 untuk warganya. Selengkapnya di halaman berikut.


2. Prancis

Prancis akan memastikan vaksinasi COVID-19 gratis untuk semua dalam sistem jaminan sosialnya dan telah mengalokasikan sekitar 1,5 miliar euro (US$ 1,82 miliar) dari anggaran jaminan sosial tahun depan untuk menutupi biaya tersebut.

"Mendapatkan vaksin juga tentang melindungi orang lain. Ini adalah pilihan kepercayaan, kami harus sebanyak mungkin mendapatkan vaksin," ujar Perdana Menteri Jean Castex.

https://movieon28.com/movies/janin/


3. Brasil

Pemerintah Brasil memastikan akan memberikan vaksin corona secara gratis kepada seluruh warganya. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Brasil Jair Bolsonaro melalui akun twitter resminya pada 8 Desember 2020.


"Setelah disertifikasi oleh @anvisa_official (BPOM Brasil), @govbr (pemerintah Brasil) akan menawarkan vaksin untuk semua, gratis dan tidak ada kewajiban (vaksinasi)," tulisnya.


Jair Bolsonaro menambahkan vaksin gratis yang diberikan merupakan vaksin yang telah terbukti efektivitasnya dan terdaftar di Anvisa.


4. Belgia

Belgia mengatakan akan memberikan vaksin virus Corona secara gratis untuk sekitar 70 persen dari populasi penduduk yang jumlahnya sekitar delapan juta.


"Tujuannya untuk memvaksinasi setidaknya 70 persen dari populasi. Kelompok prioritas akan ditentukan berdasarkan opini ilmiah dan debat sosial. Vaksinasi gratis untuk setiap warga negara," kata Menteri Kesehatan Frank Vandenbroucke saat konferensi kesehatan antar kementerian yang dikutip dari AFP.


5. Bangladesh

Pemerintah Bangladesh pada hari Senin mengumumkan distribusi gratis 30 juta dosis vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca yang diharapkan tersedia pada bulan Januari. Pendistribusian akan dilakukan sesuai dengan protokol Organisasi Kesehatan Dunia yang menentukan siapa yang akan mendapatkan vaksin terlebih dahulu, katanya.


Pemerintah Bangladesh telah mengalokasikan sekitar US$ 87 juta untuk membeli vaksin.


"Orang akan mendapatkannya secara gratis," kata Sekretaris Kabinet negara Khandker Anwarul Islam.

https://movieon28.com/movies/buku-harianku/