Jumat, 23 Oktober 2020

Ahli: Vaksin Tidak Diuji untuk Tekan Angka Kematian Corona

 Salah satu ahli kesehatan masyarakat terkemuka mengatakan uji coba vaksin COVID-19 saat ini tidak dirancang untuk membantu mengurangi angka kematian pasien yang rentan.

Pakar sekaligus asisten profesor penelitian layanan kesehatan farmasi di Sekolah Farmasi Universitas Maryland, Peter Doshi, mengatakan uji coba vaksin COVID-19 yang sedang dilakukan saat ini hanya dilakukan untuk mengevaluasi kasus ringan.


"Tidak ada uji coba vaksin yang dirancang untuk mendeteksi penurunan signifikan pasien rumah sakit, yang mendapatkan perawatan intensif, atau kematian," tulis Doshi dalam jurnal medis BMJ, yang dikutip dari CNA News, Kamis (22/10/2020).


"Studi ini tampaknya dirancang untuk menjawab pertanyaan termudah dalam waktu yang singkat, bukan pertanyaan yang paling relevan secara klinis," lanjutnya.


Doshi mengatakan, ini mungkin bergantung pada jumlah orang yang terlibat di dalam uji coba. Menurutnya, uji coba ini menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi terdiri dari gejala ringan atau tanpa gejala.


Jika ada, mungkin hanya sedikit dari uji coba ini yang dirancang untuk mencari tahu apakah ini bisa bermanfaat pada lansia atau orang-orang yang berisiko.


Menurut Doshi, jika relawan yang rentan dan berusia lanjut tidak dilibatkan ke dalam uji coba, hanya akan mendapatkan sedikit bukti dasar soal vaksin tersebut. Bahkan manfaat dari vaksin itu pun akan diragukan lagi untuk mengurangi angka perawatan dan kematian.


Banyaknya orang yang dikecualikan dari uji coba ini mungkin akan membuat vaksin tidak bisa memahami bagaimana COVID-19 ini berkembang dengan cara yang berbeda di antara individu.


"Setelah vaksinasi influenza yang secara rutin direkomendasikan untuk orang yang berusia 65 tahun atau lebih di Amerika Serikat, kami masih belum tahu apakah vaksinasi itu berhasil menurunkan angka kematian,"


"Tanpa adanya bukti uji coba acak yang pasti, perdebatan akan terus berlanjut. Kecuali, jika kita bertindak sekarang, kita berisiko mengulangi keadaan yang menyedihkan ini dengan vaksin COVID-19."


Di tengah banyak negara yang berharap vaksin segera tersedia, Doshi hanya berharap dan menunggu bahwa mereka bisa mengakhiri pandemi.

https://indomovie28.net/hollow-creek-2016/


12 Wilayah RI dengan Kasus Aktif di Atas Seribu, Bogor-Depok-Bekasi Masuk


 Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan data kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki kasus aktif Corona di atas 1.000 kasus. Disebutkan, totalnya ada 12 kabupaten dan kota.

"Meskipun perkembangan kasus aktif di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan, perhatian pada 12 kabupaten/kota di atas 1.000 ini perlu kita sampaikan," kata Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam siaran pers BNPB melalui kanal YouTube, Kamis (22/10/2020).


Beberapa kabupaten/kota tersebut di antaranya adalah Kota Pekanbaru, Jakarta Selatan, Bogor, dan Kota Bekasi. Wiku pun menjelaskan, sudah berminggu-minggu lamanya kasus aktif Corona di 12 wilayah tersebut berjumlah di atas 1.000 kasus.


"12 kabupaten/kota ini masuk dalam kategori kota-kota besar yang aktivitas sosial ekonominya sudah berjalan. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana protokol kesehatan dapat benar-benar dijalankan dalam setiap aktivitas masyarakatnya," jelas Wiku.


Kasus aktif sendiri artinya adalah orang-orang yang masih dianggap sakit atau masih dalam perawatan dari total kasus terkonfirmasi.


Berikut daftar 12 kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki kasus aktif Corona di atas 1.000 kasus per 18 Oktober 2020.


Kota Pekanbaru: 2.909

Kota Padang: 2.816

Jakarta Timur: 2.781

Jakarta Barat: 2.023

Kota Jayapura: 1.959

Jakarta Selatan: 1.952

Kota Depok: 1.897

Bogor: 1.484

Kota Bekasi: 1.410

Jakarta Utara: 1.343

Jakarta Pusat: 1.211

Bekasi: 1.039

https://indomovie28.net/king-streets-2012/

#Cokelathitamdanalmond #Telurrebus #Sardenkalengan #Edamame #camilansehat

Fakta-fakta Terkait Relawan Uji Klinis Vaksin COVID-19 AstraZeneca yang Meninggal

  Seorang relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil meninggal dunia. Informasi ini disampaikan oleh para pejabat setempat pada Rabu (21/10/2020).

Sebelumnya, uji klinis tahap 3 vaksin COVID-19 AstraZeneca memang sempat terhenti setelah seorang relawan di Inggris mengalami cedera tulang belakang. Namun, uji klinis tersebut kini sudah dilanjutkan kembali di Inggris dan Brasil.


Terkait hal ini, berikut sederet fakta tentang relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil yang meninggal dunia.


1. Disebut penerima plasebo

Menurut surat kabar Brasil O Globo, relawan yang meninggal tersebut bukanlah penerima suntikan vaksin COVID-19, melainkan penerima plasebo.


Plasebo adalah istilah obat yang dibuat tanpa bahan kimia atau biasa disebut sebagai obat kosong. Plasebo biasa digunakan dalam penelitian seperti uji klinis vaksin.


Saat melakukan uji klinis vaksin, relawan akan dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok penerima vaksin dan penerima plasebo. Hal ini dilakukan agar hasil uji klinis menjadi lebih objektif dan tidak bias. Relawan uji klinis pun tidak akan diberitahu akan masuk kelompok mana.


"Misalnya ada 100 orang, siapa yang akan mendapat plasebo atau obat sebenarnya, tidak ada yang tahu. Para peneliti maupun relawannya tidak boleh tahu," Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio.


2. Seorang dokter

Media lokal Brasil menyebut, relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca yang meninggal adalah seorang dokter bernama Dr João Pedro Feitosa (28). Disebutkan, Feitosa merupakan dokter yang bertugas merawat pasien COVID-19.


Dikutip dari Mirror UK, dokter muda yang tinggal di Rio de Janeiro itu baru saja lulus. Dikabarkan, ia meninggal karena komplikasi COVID-19 saat menjadi relawan vaksin AstraZeneca.


Namun, hingga kini belum diketahui dengan pasti bagaimana ia bisa tertular COVID-19. Feitosa pun disebut meninggal usai menerima plasebo dan bukan penerima vaksin COVID-19 AstraZeneca.


3. Uji klinis tetap dilanjutkan

Seorang juru bicara AstraZeneca mengatakan bahwa ia tidak dapat memberi komentar terkait meninggalnya Feitosa. Hal ini karena adanya persyaratan kerahasiaan dan aturan dalam uji klinis.


Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tidak ada suatu kekhawatiran yang membuat uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca untuk dihentikan sementara.


"Kami dapat mengonfirmasi bahwa semua proses peninjauan yang diperlukan telah diikuti," kata juru bicara AstraZeneca Brendan McEvoy.


"Semua peristiwa medis yang signifikan dinilai dengan cermat oleh penyelidik uji coba, komite pemantau keamanan independen, dan pihak berwenang. Penilaian ini tidak menimbulkan kekhawatiran tentang kelanjutan studi yang sedang berlangsung," lanjutnya.

https://indomovie28.net/finding-mr-right-2013/


Ahli: Vaksin Tidak Diuji untuk Tekan Angka Kematian Corona


Salah satu ahli kesehatan masyarakat terkemuka mengatakan uji coba vaksin COVID-19 saat ini tidak dirancang untuk membantu mengurangi angka kematian pasien yang rentan.

Pakar sekaligus asisten profesor penelitian layanan kesehatan farmasi di Sekolah Farmasi Universitas Maryland, Peter Doshi, mengatakan uji coba vaksin COVID-19 yang sedang dilakukan saat ini hanya dilakukan untuk mengevaluasi kasus ringan.


"Tidak ada uji coba vaksin yang dirancang untuk mendeteksi penurunan signifikan pasien rumah sakit, yang mendapatkan perawatan intensif, atau kematian," tulis Doshi dalam jurnal medis BMJ, yang dikutip dari CNA News, Kamis (22/10/2020).


"Studi ini tampaknya dirancang untuk menjawab pertanyaan termudah dalam waktu yang singkat, bukan pertanyaan yang paling relevan secara klinis," lanjutnya.


Doshi mengatakan, ini mungkin bergantung pada jumlah orang yang terlibat di dalam uji coba. Menurutnya, uji coba ini menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi terdiri dari gejala ringan atau tanpa gejala.

https://indomovie28.net/finding-mr-right-2-2016/

#Cokelathitamdanalmond #Telurrebus #Sardenkalengan #Edamame #camilansehat