Sabtu, 17 Oktober 2020

Peneliti Sebut Pasien Reinfeksi COVID-19 Sakit Lebih Parah, Kok Bisa?

  Seorang pria di Amerika Serikat mengalami reinfeksi COVID-19 dan mengembangkan gejala yang lebih parah dari sebelumnya. Kasus ini adalah reinfeksi pertama di AS dan reinfeksi kelima yang dilaporkan di seluruh dunia.

Dalam laporan di jurnal medis The Lancet, pria berusia 25 tahun tersebut awalnya dinyatakan positif COVID-19 pada April dengan gejala batuk dan mual. Pada Mei, ia akhirnya dinyatakan negatif COVID-19.


Hanya saja, di akhir Mei, pria tersebut mengunjungi UGD karena mengalami gejala batuk, demam, dan pusing. Awal Juni, ia kembali dinyatakan positif COVID-19.


Saat terinfeksi kedua kalinya, pria tersebut mengalami hipoksia atau kadar oksigen rendah dan sesak napas sehingga memerlukan bantuan oksigen.


"Temuan kami menandakan bahwa infeksi sebelumnya mungkin tidak selalu melindungi terhadap infeksi di masa depan. Infeksi ulang dapat memiliki implikasi signifikan bagi pemahaman kita tentang kekebalan Covid-19," kata Dr Mark Pandori, dari University of Nevada, dikutip dari BBC.


Sebelumnya kasus reinfeksi dengan gejala parah juga dialami oleh pasien COVID-19 di Ekuador dan Belanda. Pasien di Belanda bahkan dinyatakn meninggal setelah alami reinfeksi.


Ada alasan mengapa reinfeksi menyebabkan pasien COVID-19 sakit lebih parah. Menurut ahli, bisa jadi mereka terpapar virus pada tingkat yang lebih tinggi untuk kedua kalinya.


Hanya saja sulit untuk memastikan kasus di mana seseorang terinfeksi dua kali. Ilmuwan harus memiliki usapan hidung dari infeksi pertama dan kedua untuk membandingkan genom dari kedua sampel virus.

https://indomovie28.net/simcheong-yasa-2/


4 Alasan untuk Tidak Makan Sambil Berdiri


Makan sambil berdiri rupanya bukan saja tidak enak dilihat. Secara anatomi, juga memberikan sejumlah dampak negatif salah satunya jadi cepat gemuk.

Banyak orang menganggap makan sambil berdiri dapat membakar kalori, sehingga bisa menurunkan berat badan. Padahal, makan sambil berdiri bisa bikin nafsu makan tidak terkontrol.


Selain itu, menurut Times of India, ini 4 alasan mengapa makan sambil berdiri tidak dianjurkan untuk kesehatan:


1. Mempengaruhi sistem pencernaan

Postur tubuh saat makan sangat memengaruhi sistem pencernaan. Makan sambil berdiri rupanya dapat mengosongkan perut lebih cepat. Sebelum diproses untuk dipecah menjadi partikel yang sangat halus, makanan akan langsung memasuki usus. Hal ini mengakibatkan meningkatnya tekanan di usus, sehingga terjadilah masalah pencernaan.


2. Mendorong makan berlebihan

Saat berdiri sambil makan, proses pencernaan akan bekerja lebih cepat. Akibatnya, otak tidak pernah tahu apakah perut sudah kenyang atau belum. Hal ini mendorong perilaku makan berlebihan. Berbeda dengan makan sambil duduk yang dapat membuat proses pencernaan menjadi lambat, sehingga mampu meningkatkan perasaan kenyang.


3. Cepat merasa lapar

Cara termudah untuk mengetahui apakah masih lapar atau kenyang adalah dengan merasakan berapa banyak makanan yang ada di perut. Menurut para ahli, makan dalam posisi berdiri dapat membuat sistem pencernaan 30 persen lebih cepat dalam mencerna makanan. Hal ini akan menimbulkan rasa lapar hanya setelah beberapa jam makan.


4. Menyebabkan kembung

Proses pencernaan yang cepat bisa berdampak buruk bagi perut. Sebab, usus hanya memiliki sedikit waktu untuk menyerap makanan. Hal ini dapat menghasilkan gas yang menyebabkan kembung. Terbukti bahwa ketika karbohidrat tidak dicerna dengan baik, mereka cenderung berfermentasi di usus dan menyebabkan gas dan kembung.

https://indomovie28.net/special-private-secretary/

Rabu, 14 Oktober 2020

Cristiano Ronaldo Positif Corona, Satu Lagi Bukti Bugar Tak Dijamin Kebal

 Bintang sepakbola Portugal dan Juventus, Cristiano Ronaldo, dinyatakan positif Corona. Hal ini disampaikan melalui pernyataan Federasi Sepak Bola Portugal di situs resminya.

Menurut pernyataan tersebut, Ronaldo dinyatakan tertular virus Corona setelah ia menjalani tes. Pesepakbola ini pun tidak memiliki gejala apapun saat tertular COVID-19.


"Ronaldo baik-baik saja, tanpa gejala dan dalam isolasi," tulis pernyataan tersebut yang dikutip dari CNN International, Selasa (13/10/2020).


Sebagai seorang atlet, Ronaldo pastinya mempunyai tubuh yang bugar. Tetapi, kenapa masih bisa terinfeksi virus Corona?


"Itu bisa dikatakan olahraganya terlalu berat, sehingga imunitas tubuhnya turun," jelas praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy, dr Michael Triangto SpKO, pada detikcom beberapa waktu lalu.


Orang-orang seperti Ronaldo yang sangat rutin berolahraga tidak menjamin imunitasnya selalu tinggi. Terutama bagi para atlet yang memang memiliki target yang harus dipenuhi, sehingga bisa saja menjadi salah satu faktor penyebab turunnya imunitas.


Pendek kata, olahraga bagi seorang atlet seperti Ronaldo punya tujuan lain di luar kebugaran. Ketika seseorang berolahraga untuk mencapai preforma atau prestasi tertentu, maka porsi latihannya akan sangat tinggi, tidak seperti olahraga yang dilakukan untuk jaga kebugaran.


Virus Corona akan menyerang sistem kekebalan tubuh. Semakin tinggi intensitas olahraga seseorang, maka akan semakin besar juga risiko daya tahan tubuh mereka turun dan mudah terinfeksi COVID-19.


"Kalau kita berolahraga berat, kemungkinan kita terinfeksi menjadi lebih besar daripada orang yang tidak berolahraga sama sekali," ujarnya.


"Banyak orang yang berpikir lebih banyak berolahraga akan semakin sehat. Tidak. Berolahraga berlebihan juga tidak sehat," imbuh dr Michael.

https://nonton08.com/mothers-job/


Begini Cara Tangani Anak yang Terinfeksi COVID-19


 Virus Corona COVID-19 bisa menginfeksi siapa saja termasuk anak-anak. Lantas bagaimana jika anak terinfeksi dan seperti apa penanganannya?

Dokter spesialis Anak dari RSUD Jati Padang, dr Charles, MSc, SpA, mengatakan, pada dasarnya perawatan anak yang terinfeksi COVID-19 tidak jauh berbeda dengan orang dewasa.


"Untuk beberapa kasus yang ringan dan tanpa gejala memang bisa dilakukan isolasi mandiri dan pengobatannya hanya suportif pada anak-anak. Jadi tidak hampir berbeda dengan orang dewasa," ujar dr Charles dalam siaran pers BNPB melalui kanal YouTube, Rabu (14/10/2020).


Meski begitu, dr Charles menjelaskan bahwa ada kesulitan tersendiri dalam penanganan anak yang harus isolasi mandiri di rumah sakit.


"Anak-anak kan tidak seperti orang dewasa. Jadi dia perlu didampingi, apakah didampingi oleh keluarga terdekatnya yang negatif (COVID-19) atau yang positif juga itu kan jadi kesulitan juga," jelasnya.


Namun, apabila isolasi mandiri dilakukan di rumah, dr Charles menegaskan protokol kesehatannya harus tetap dilaksanakan agar risiko penularan COVID-19 dari anak tidak terjadi.

https://nonton08.com/garoojigi-stud-the-beginning/