Selasa, 22 September 2020

Dianggap Gagal Kendalikan Corona, Menkes Ceko Mundur

  Menteri KesehatanCeko, Adam Vojtech secara tak terduga mengumumkan pengunduran dirinya. Disebutkan bahwa alasan terbesar pengunduran dirinya diakibatkan karena banyaknya kritikan terhadapnya atas kasus COVID-19 di Ceko yang terus naik.

Vojtěch telah digantikan oleh mantan asistennya yang juga ahli epidemiologi, Roman Prymula.


"Banyak hal yang berubah dalam tiga tahun ini. Saya ingin berterima kasih kepada Perdana Menteri atas kepercayaan yang telah dia berikan kepada saya dan karena telah mempercayakan saya dalam menangani (wabah COVID-19) ini," kata Vojtech dalam konferensi pers dikutip dari Expats Cz.


Vojtěch mengatakan bahwa dia telah melakukan yang terbaik untuk mengelola epidemi COVID-19 di Republik Ceko, dan dia bangga dengan perubahan dalam perawatan kesehatan yang telah terjadi selama dia menjabat sebagai Menteri Kesehatan.


Lonjakan kasus di Republik Ceko telah menjadi yang tercepat kedua di Eropa dalam dua minggu. Terlebih, sebelum dimulainya musim panas, pemerintah Ceko mencabut hampir semua pembatasan yang diberlakukan selama gelombang pertama pandemi.


Jumlah infeksi meningkat dua kali lipat bulan ini dan tumbuh pada tingkat tercepat kedua di Eropa dalam beberapa pekan terakhir, di belakang Spanyol. Pada hari Senin (21/9), total kasus meningkat melewati 50.000, naik dua kali lipat dari 24.618 pada akhir Agustus.

https://cinemamovie28.com/haunted-campus/


Heboh CDC Salah Posting, WHO: Belum Ada Bukti COVID-19 Menyebar Lewat Udara


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengubah kebijakannya tentang penularan aerosol dari virus Corona. Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Mike Ryan menegaskan belum ada bukti baru mengenai risiko penularan COVID-19 lewat udara.

"Kami yakin belum melihat bukti baru (penularan COVID-19 lewat udara) dan posisi kami dalam hal ini tetap sama," kata Ryan dalam sebuah konferensi pers, dikutip dari Reuters, Selasa (22/9/2020).


Ryan mengatakan WHO hingga kini masih meyakini COVID-19 menyebar melalui droplet, tetapi di ruang tertutup dan padat dengan ventilasi yang tidak memadai, penularan secara aerosol sangat mungkin terjadi.


"Kami masih, berdasarkan bukti, yakin bahwa ada berbagai metode transmisi," katanya.


Komentar WHO ini datang setelah CDC Amerika Serikat mengubah panduannya tentang penularan virus Corona. Sebelumnya, laman CDC pada Jumat (17/9) menuliskan 'ada bukti yang berkembang bahwa droplet dan partikel COVID-19 dapat tetap berada di udara dan terhirup oleh orang lain dalam jarak kurang dari 2 meter'.


Belakangan, panduan tersebut direvisi karena disebut salah posting.


"Versi draft dari usulan perubahan tentang rekomendasi tersebut terunggah secara tidak sengaja ke website resmi. CDC saat ini memperbaharui rekomendasinya terkait penularan SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19) secara airborne," tulis CDC di situsnya.


Kondisi Ini Tingkatkan Risiko Kematian Akibat Corona, Apa Saja?


 Studi baru yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan orang yang mempunyai penyakit tidak menular akan lebih rentan menjadi sakit parah dan meninggal akibat virus Corona COVID-19.

WHO mengungkapkan data bahwa lebih dari 40 juta orang meninggal akibat penyakit tidak menular dalam satu tahun. Sebanyak 7 dari 10 kematian global disebabkan oleh penyakit jantung, kanker, diabetes, pernapasan dan penyakit tidak menular lainnya.


Dari jumlah tersebut, data menunjukkan sekitar 17 juta orang meninggal pada usia dini, sebagian besar antara umur 30 dan 70 tahun. Sebagian besar kematian terjadi di negara berpendapatan rendah.


Kepala Satuan Tugas PBB bagian penyakit tidak menular, Nick Banatvala, mengatakan penyakit tidak menular dan faktor risikonya, telah meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus Corona COVID-19.


Kondisi ini dapat berakibat buruk, termasuk pada anak muda. Menurut Nick, penelitian akademik di beberapa negara menunjukkan besarnya masalah tersebut.

https://cinemamovie28.com/museum/

5 Gejala COVID-19 yang Banyak Dirasakan Pasien Meski Sudah Sembuh

  Gejala virus Corona COVID-19 terkadang bisa bertahan selama berbulan-bulan, bahkan dirasakan meski pasien telah dinyatakan bebas dari virus tersebut. Pada beberapa orang, COVID-19 dapat merusak paru-paru, jantung, dan otak, yang meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang.

Kebanyakan orang yang terinfeksi COVID-19 sembuh total dalam beberapa minggu. Tetapi kelompok lain, bahkan mereka yang memiliki versi ringan penyakit tersebut, masih terus mengalami gejala setelah pemulihan awal mereka.


Orang tua dan orang dengan banyak kondisi medis serius paling mungkin mengalami gejala COVID-19 yang menetap. Dikutip dari Mayo Clinic, tanda dan gejala paling umum yang bertahan dari waktu ke waktu meliputi:


- Kelelahan

- Batuk

- Sesak napas

- Sakit kepala

- Nyeri sendi


Meskipun COVID-19 dipandang sebagai penyakit yang terutama menyerang paru-paru, penyakit ini juga dapat merusak banyak organ lain. Kerusakan organ ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.


Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan para peneliti di Irlandia juga menyampaikan gejala paling umum yang bisa dirasakan para penyintas COVID-19 adalah rasa lelah berkepanjangan. Hal ini diketahui setelah peneliti melakukan survei pada 128 pasien.


Bahkan, pada beberapa pasien rasa lelah ini bisa terus menghantui lebih dari 10 minggu.


Banyak yang masih belum diketahui tentang bagaimana COVID-19 akan memengaruhi orang dari waktu ke waktu. Namun, para peneliti merekomendasikan agar dokter memantau dengan cermat orang-orang yang pernah menderita COVID-19 untuk melihat bagaimana organ mereka berfungsi setelah pemulihan.

https://cinemamovie28.com/doraemon-nobitas-secret-gadget-museum/


Dianggap Gagal Kendalikan Corona, Menkes Ceko Mundur


 Menteri KesehatanCeko, Adam Vojtech secara tak terduga mengumumkan pengunduran dirinya. Disebutkan bahwa alasan terbesar pengunduran dirinya diakibatkan karena banyaknya kritikan terhadapnya atas kasus COVID-19 di Ceko yang terus naik.

Vojtěch telah digantikan oleh mantan asistennya yang juga ahli epidemiologi, Roman Prymula.


"Banyak hal yang berubah dalam tiga tahun ini. Saya ingin berterima kasih kepada Perdana Menteri atas kepercayaan yang telah dia berikan kepada saya dan karena telah mempercayakan saya dalam menangani (wabah COVID-19) ini," kata Vojtech dalam konferensi pers dikutip dari Expats Cz.


Vojtěch mengatakan bahwa dia telah melakukan yang terbaik untuk mengelola epidemi COVID-19 di Republik Ceko, dan dia bangga dengan perubahan dalam perawatan kesehatan yang telah terjadi selama dia menjabat sebagai Menteri Kesehatan.


Lonjakan kasus di Republik Ceko telah menjadi yang tercepat kedua di Eropa dalam dua minggu. Terlebih, sebelum dimulainya musim panas, pemerintah Ceko mencabut hampir semua pembatasan yang diberlakukan selama gelombang pertama pandemi.


Jumlah infeksi meningkat dua kali lipat bulan ini dan tumbuh pada tingkat tercepat kedua di Eropa dalam beberapa pekan terakhir, di belakang Spanyol. Pada hari Senin (21/9), total kasus meningkat melewati 50.000, naik dua kali lipat dari 24.618 pada akhir Agustus.

https://cinemamovie28.com/it-chapter-two/