Senin, 07 September 2020

Kombinasikan Obat Ini, Dokter di Thailand Klaim Pasien Virus Corona Membaik

Berbagai cara tengah dilakukan untuk memerangi virus corona yang kini menyebar ke berbagai negara. Namun, para dokter di Thailand mengatakan telah berhasil merawat dua pasien virus corona dengan kombinasi obat antivirus.

Hal ini dibuktikan oleh salah satu dokter dari Rumah Sakit Rajavithi di Bangkok, Dr Kriangsak Atiporwanich. Ia mengatakan telah merawat seorang pasien wanita berusia 71 tahun dari Tiongkok dengan kombinasi obat yang digunakan untuk perawatan HIV dan flu.

"Saya telah merawat seorang pasien yang kondisinya sudah parah dengan kombinasi obat tersebut, dan hasilnya sangat memuaskan. Kondisinya semakin membaik dengan sangat cepat dalam waktu 48 jam," jelasnya yang dikutip dari CNN.

"Dari hasil tesnya juga sudah menunjukkan perubahan, dari positif menjadi negatif dalam waktu yang sama," lanjutnya.

Dari hasil tersebut, pada pejabat di Kementerian Kesehatan juga mengatakan tes laboratorium juga menunjukkan tidak ada lagi jejak virus di sistem pernapasan pasien virus corona.

Selain itu, rumah sakit di Beijing juga melaporkan menggunakan obat antivirus untuk HIV dan AIDS sebagai pengobatan virus corona. Meskipun belum jelas hasilnya berhasil dengan baik atau tidak.

Sebelumnya, Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di Institut Kesehatan Nasional AS, mengatakan belum ada obat yang terbukti efektif untuk mengatasi virus ini.

Pertama Kalinya, Virus Corona Ditemukan di Feses Bukan di Pernapasan

Tak hanya menyebar lewat sistem pernapasan, wabah virus corona bahkan disebut bisa menyebar melalui feses orang yang menderitanya. Hal ini dibuktikan dengan terdeteksinya virus corona di dalam feses pria 35 tahun, yang sedang dirawat di Pusat Medis Regional Providence Everett di Washington.
Dikutip dari Bloomberg, hal itu sebelumnya juga telah diteliti para ilmuwan di bidang tersebut.

"Virus SARS dan corona sama-sama mengikat reseptor protein dalam tubuh. Itu terjadi dikeluarkan melalui paru-paru dan usus. Itu sebabnya kedua organ itu bisa menyebarkan virus tersebut," kata Fang Li, seorang profesor ilmu kedokteran hewan dan biomedis di Universitas Minnesota.

Ahli epidemiologi negara untuk penyakit menular di Departemen Kesehatan Washington, Scott Lindquist mengatakan penemuan ini sangat menarik dan menambah pengetahuan tentang penyebaran virus corona tersebut. Ternyata tidak hanya dikeluarkan melalui sistem pernapasan, tapi pada sistem pencernaan juga.

Menurut John Nicholls profesor patologi klinis di Universitas Hong Kong, penyebaran virus corona melalui feses bisa jadi disebabkan karena toilet jongkok yang umum di China tidak memiliki penutup.

"Selain itu, bisa juga menular dari kebiasaan tidak mencuci tangan dengan air dan sabun setelah keluar dari kamar mandi," kata Nicholls.

Kini Nicholls dan rekannya di Universitas Hong Kong tengah menguji jaringan yang manusia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui di mana dan bagaimana virus corona itu bereplikasi di dalam tubuh, selain melalui pernapasan.

Wakil direktur jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Zi Jian Feng mengaku memang ada beberapa kasus virus corona yang tidak menampakkan tanda khas, seperti demam, batuk, bahkan pneumonia.

"Fokus awal untuk mendeteksi pasien virus ini dengan demam dan pneumonia. Tapi, kami sekarang mengerti, bahwa ada beberapa pasien yang mungkin mengalami gejala (virus) gastrointestinal hingga diare," jelasnya.
https://cinemamovie28.com/hitozuma-chokyo-2/

Viral Produk Antiseptik Sehari-hari Bisa Basmi Virus Corona, Ini Faktanya

Sebuah foto botol antiseptik mendadak viral. Di bagian belakang produknya, tertulis "Human Coronavirus dan RSV". Beberapa netizen mengartikan, D****l bisa membunuh virus corona baru di Wuhan (2019-nCoV).
Keterangan terntang virus corona tersebut jadi makin viral karena banyak netizen mempertanyakan bagaimana produk ini bisa dibuat untuk mengatasi virus corona tersebut, mengingat virus ini baru muncul di akhir Desember 2019.

"D****l kills the Coronavirus how did D****l know if it's a new disease?" tulis netizen.

Menanggapi hal ini, para ilmuwan menegaskan tidak ada bukti kalau produk antiseptik tersebut dapat membunuh virus corona baru di Wuhan, yang memiliki nama resmi novel coronavirus (2019-nCoV).

Paul Hunter, Profesor Health Protection and Medicine, menjelaskan bahan aktif antiseptik ini adalah kloroksilenol yang digunakan sebagai disinfektan secara luas.

"Penggunaannya adalah sebagai disinfektan pada pada kulit dan luka. Ini juga dapat dimasukkan ke dalam sabun," jelasnya.

Profesor Hunter memperingatkan agar tidak menggunakan produk antiseptik ini selain untuk produk pembersih.

Kandungan chloroxylenol yang terdapat di dalamnya disebut bisa beracun jika tertelan. Menurut Prof Hunter, kandungan tersebut juga tidak boleh digunakan sebagai aerosol yang dapat dihirup orang.

Ia juga meyakini, produk ini tidak diuji untuk mengatasi virus corona baru di Wuhan.

"Saya tidak akan berpikir De**ol telah diuji untuk 2019-nCoV," jelas Paul Kellam, profesor genomik virus di Imperial College London, dikutip dari Daily Mail.

Dikutip dari situs resmi WHO, virus corona sebenarnya adalah nama famili virus yang jenisnya sangat beragam. Ada jenis virus corona yang menyebabkan flu dan banyak dijumpai dalam keseharian, hingga virus corona yang memicu penyakit parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).

Tampaknya produk ini tidak secara spesifik menyebut Novel Coronavirus (2019-nCoV), jenis virus corona terbaru yang mewabah di Wuhan, China. Karenanya, kehebohan ini sepertinya hanya salah paham saja.

Kombinasikan Obat Ini, Dokter di Thailand Klaim Pasien Virus Corona Membaik

Berbagai cara tengah dilakukan untuk memerangi virus corona yang kini menyebar ke berbagai negara. Namun, para dokter di Thailand mengatakan telah berhasil merawat dua pasien virus corona dengan kombinasi obat antivirus.

Hal ini dibuktikan oleh salah satu dokter dari Rumah Sakit Rajavithi di Bangkok, Dr Kriangsak Atiporwanich. Ia mengatakan telah merawat seorang pasien wanita berusia 71 tahun dari Tiongkok dengan kombinasi obat yang digunakan untuk perawatan HIV dan flu.

"Saya telah merawat seorang pasien yang kondisinya sudah parah dengan kombinasi obat tersebut, dan hasilnya sangat memuaskan. Kondisinya semakin membaik dengan sangat cepat dalam waktu 48 jam," jelasnya yang dikutip dari CNN.

"Dari hasil tesnya juga sudah menunjukkan perubahan, dari positif menjadi negatif dalam waktu yang sama," lanjutnya.

Dari hasil tersebut, pada pejabat di Kementerian Kesehatan juga mengatakan tes laboratorium juga menunjukkan tidak ada lagi jejak virus di sistem pernapasan pasien virus corona.

Selain itu, rumah sakit di Beijing juga melaporkan menggunakan obat antivirus untuk HIV dan AIDS sebagai pengobatan virus corona. Meskipun belum jelas hasilnya berhasil dengan baik atau tidak.

Sebelumnya, Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di Institut Kesehatan Nasional AS, mengatakan belum ada obat yang terbukti efektif untuk mengatasi virus ini.
https://cinemamovie28.com/my-young-master-2/