Rabu, 12 Agustus 2020

Normalkah Jika Suami Minta 'Jatah' Tiap Hari? Ini Kata Para Pakar

Beberapa wanita mungkin mempertanyakan mengapa para suami ingin melakukan hubungan seks setiap hari. Bahkan, mungkin muncul pertanyaan apakah hal ini bisa dikatakan normal?
Menurut sebuah studi tahun 2017 yang dimuat di Archives of Sexual Behavior rata-rata orang dewasa melakukan hubungan seks setidaknya seminggu sekali. Studi lain tahun 2015 bahkan mengaitkan frekuensi seks dengan kebahagiaan.

Para peneliti yang menulis dalam Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa pasangan yang berhubungan seks setidaknya sekali seminggu lebih bahagia dengan hubungan mereka daripada mereka yang jarang melakukannya.

"Pasangan sering membuat kesalahan dengan menggunakan angka tertentu untuk merasa nyaman dengan kehidupan seks mereka," jelas Raffi Bilek, konselor pasangan dan direktur Baltimore Therapy Center, mengatakan kepada Health.

"Sebenarnya apa pun yang nyaman bagi Anda dan pasangan adalah hal yang normal bagi Anda. Anda tidak perlu berhubungan seks lebih atau kurang dari yang Anda inginkan," lanjutnya.

Brian Jory, PhD, seorang profesor dan direktur studi Berry College di Georgia, mengatakan kepada Health ada beberapa faktor yang berpengaruh kepada seberapa sering berhubungan seksual. Mulai dari usia, gaya hidup, dorongan seks bawaan, kesehatan, dan yang terpenting kualitas hubungan.

Lalu mengapa suami ingin berhubungan seksual setiap hari?
Banyak hal yang menjadi kemungkinan penyebabnya, salah satunya pria secara umum memiliki libido yang lebih tinggi daripada wanita. Mereka ingin melakukan lebih banyak seks karena dorongan seks mereka yang lebih tinggi. Sebagian besar alasan ini bisa bersifat biologis. Ini karena hormon testosteron yang tinggi dan juga kebutuhan fisik.

Bagi wanita, dorongan seks mereka lebih rendah karena tubuh mereka tidak memiliki hormon yang sama atau setidaknya pada tingkat yang dimiliki pria. Hormon wanita berbeda sehingga kebutuhan mereka akan seks lebih sejalan dengan saat tubuh mereka dalam masa ovulasi atau masa subur.

4 Negara Ini Sukses Tangani COVID-19, Apa Saja Strateginya?

Kasus virus Corona global pekan ini menyentuh angka 20 juta kasus. Beberapa negara bahkan tengah menghadapi gelombang baru virus Corona COVID-19.
Namun, setidaknya ada empat negara yang dinilai sukses menangani wabah Corona. Salah satunya Selandia Baru yang kemarin mencatat 100 hari tanpa kasus Corona.

Selain Selandia Baru, berikut negara-negara yang sukses menangani wabah Corona dan strategi yang mereka lakukan, dikutip dari News.com.

1. Selandia Baru
Selandia Baru mencatat 100 hari tanpa kasus virus Corona COVID-19. Sebuah pencapaian yang disambut baik tetapi tetap membawa peringatan agar tidak berpuas diri.

Dikutip dari BBC, kasus terakhir penularan komunitas terdeteksi pada 1 Mei. Beberapa hari setelah Selandia Baru mulai melonggarkan pembatasan ketat.

"Mencapai 100 hari tanpa penularan komunitas adalah tonggak penting. Namun, seperti yang kita semua tahu, kita tidak bisa berpuas diri," kata Direktur Jenderal Kesehatan, Dr Ashley Bloomfield, Minggu.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern tetap menerapkan protokol kesehatan demi mencegah gelombang baru Corona. Selandia Baru menerapkan melakukan deteksi atau tes massal kemudian isolasi kasus, karantina, kampanye kebersihan massal dan menyediakan fasilitas kebersihan di ruang publik, serta menutup ruang-ruang publik.
https://cinemamovie28.com/beyond-the-gates/

Marak Klaim Obat Corona Abal-abal, YLKI Sentil Kalung Eucalyptus

 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendapati banyaknya aduan konsumen mengenai masalah alat kesehatan. Mulai dari masker dan hand sanitizer yang langka di awal pandemi COVID-19 hingga belakangan heboh soal antivirus dan obat Corona.
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, mengatakan banyaknya klaim obat Corona adalah efek dari buruknya penanganan pandemi COVID-19 yang dilakukan pemerintah.

"Sejak awal, pejabat publik memberikan contoh buruk dalam respons corona mulai dari nasi kucing anti Corona, doa qunut anti Corona, jamu pancasila sampai kalung eucalyptus dari Kementerian Pertanian," jelas Tulus dalam webinar Menyikapi Obat COVID-19, Senin (10/8/2020).

Karenanya, menurut Tulus, tidak mengherankan jika banyak yang akhirnya mengikuti 'jejak' pemerintah dalam menjajakan produk dengan klaim antivirus atau anti Corona.

Manajemen pemerintah dalam menangani pandemi yang sudah keliru sejak awal menimbulkan efek domino sehingga banyak klaim obat Corona yang akhirnya bermunculan.

"Selevel pejabat publik memberikan contoh yang kurang baik dan kurang mencerdaskan sehingga kalau saat ini ada klaim yang bermunculan, itu adalah efek dari sebelumnya. Jangan heran kalau muncul klaim obat COVID-19 di pasaran dengan jargon membunuh virus," terangnya.

Pemerintah juga dinilai terlalu fokus dalam pemulihan ekonomi di masa pandemi Corona. Hanya saja terlihat saat ini upaya pemerintah cenderung 'gagal' karena sektor perekonomian juga mengalami penurunan yang cukup dalam.

"Terbukti juga perekonomian nyungsep padahal dulu digadang-gadang kita aman toh ternyata minus dan kita di ambang resesi," ungkapnya.

Normalkah Jika Suami Minta 'Jatah' Tiap Hari? Ini Kata Para Pakar

Beberapa wanita mungkin mempertanyakan mengapa para suami ingin melakukan hubungan seks setiap hari. Bahkan, mungkin muncul pertanyaan apakah hal ini bisa dikatakan normal?
Menurut sebuah studi tahun 2017 yang dimuat di Archives of Sexual Behavior rata-rata orang dewasa melakukan hubungan seks setidaknya seminggu sekali. Studi lain tahun 2015 bahkan mengaitkan frekuensi seks dengan kebahagiaan.

Para peneliti yang menulis dalam Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa pasangan yang berhubungan seks setidaknya sekali seminggu lebih bahagia dengan hubungan mereka daripada mereka yang jarang melakukannya.

"Pasangan sering membuat kesalahan dengan menggunakan angka tertentu untuk merasa nyaman dengan kehidupan seks mereka," jelas Raffi Bilek, konselor pasangan dan direktur Baltimore Therapy Center, mengatakan kepada Health.

"Sebenarnya apa pun yang nyaman bagi Anda dan pasangan adalah hal yang normal bagi Anda. Anda tidak perlu berhubungan seks lebih atau kurang dari yang Anda inginkan," lanjutnya.

Brian Jory, PhD, seorang profesor dan direktur studi Berry College di Georgia, mengatakan kepada Health ada beberapa faktor yang berpengaruh kepada seberapa sering berhubungan seksual. Mulai dari usia, gaya hidup, dorongan seks bawaan, kesehatan, dan yang terpenting kualitas hubungan.
https://cinemamovie28.com/escobar-paradise-lost/