Kamis, 06 Agustus 2020

Facebook Sensor Unggahan Trump yang Sebut Anak-anak Kebal COVID-19

Media sosial Facebook mengaku sengaja menyensor unggahan dari halaman milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Facebook menyebut unggahan berisi video dari Trump yang menyebut anak-anak kebal terhadap virus Corona COVID-19 sebagai informasi menyesatkan mengenai COVID-19 yang berbahaya.
Dalam unggahan tersebut, Donald Trump diketahui sedang berbicara mengenai rencana pembukaan sekolah. Trump berdalih sudah waktunya sekolah dibuka karena anak-anak tidak terdampak oleh penyakit ini.

"Bila Anda melihat anak-anak, mereka hampir - dan saya bilang nyaris bisa dipastikan kebal dari penyakit ini," kata Trump.

"Anak-anak tidak memiliki masalah, mereka sama sekali tidak bermasalah," lanjutnya.

Seorang juru bicara untuk Facebook mengakui bahwa pihaknya sengaja menyensor unggahan tersebut karena telah melanggar kebijakan "penyebaran informasi keliru".

"Video itu berisi klaim palsu bahwa ada kelompok orang yang memiliki kekebalan terhadap COVID-19. Ini melanggar kebijakan kita terkait informasi keliru COVID-19 yang membahayakan," ungkapnya seperti dikutip dari BBC, Kamis (6/8/2020).

Berbagai studi sudah melihat meski anak-anak secara umum lebih sedikit kasusnya, bukan berarti mereka kebal dari infeksi COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memberi peringatan tentang kemunculan sindrom peradangan yang mirip seperti kondisi langka penyakit Kawasaki pada anak-anak terinfeksi COVID-19.

Peneliti dari University of Texas Health Science Center melihat dari 7.780 anak yang terinfeksiCOVID-19, sekitar 3,3persennya mengalami gejala parah sampai harus dirawat diICU dan 7 anak meninggal dunia.

3 Dampak Kelamaan Main Internet Selama Pandemi Corona

Begitu banyak aktivitas fisik yang dibatasi selama pandemi Corona, dari bekerja hingga bersekolah. Berbagai macam aktivitas tersebut kini harus dilakukan melalui internet.
Internet memang memiliki manfaat yang begitu besar selama pandemi, tetapi bermain internet terlalu lama justru bisa berdampak pada masalah kesehatan.

Bahkan menurut sebuah studi, durasi penggunaan internet di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi Corona, yakni 11,6 jam per hari pada remaja dan 10 jam per hari pada orang dewasa. Studi ini dilakukan kepada 2.933 remaja dan 4.734 orang dewasa berusia 20-40 tahun di 33 provinsi Indonesia.

Lantas dampak apa saja yang bisa terjadi jika terlalu lama menggunakan internet?

Gangguan psikologis
Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa dari Siloam Hospitals Lippo Village, dr Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ, terlalu lama bermain internet bisa berpengaruh pada kondisi psikologis seseorang. Salah satunya adalah jam tidur menjadi terganggu.

"Secara psikologis ada namanya gangguan depresi dan gangguan tidur," ujar dr Kristiana dalam sebuah diskusi online, Rabu (5/8/2020).

Kecanduan internet
dr Kristiana menjelaskan, salah satu faktor risiko seseorang bisa kecanduan internet adalah karena terlalu lama bermain internet. Misalnya, bermain game online atau media sosial selama berjam-jam hingga tidak ingat waktu.

"Apabila penggunaan internetnya lebih dari 11 jam sehari atau mereka menggunakan media sosialnya lebih dari 3 jam sehari. Ini adalah remaja yang cenderung untuk mengalami kecanduan internet," jelasnya.

Sistem kekebalan tubuh menurun
dr Kristiana mengatakan, biasanya saat orang sedang asyik bermain internet, mereka akan cenderung lebih sedikit bergerak dan mengonsumsi makan makanan instan, sehingga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.

"Mereka cenderung makan-makanan instan, seperti misalnya mi instan atau makanan-makanan snack yang tidak bergizi, yang mengakibatkan lelah sepanjang hari dan sistem imun menjadi turun," tuturnya.
https://indomovie28.net/resident-evil-the-final-chapter/

Studi Ini Ungkap Kemungkinan Ruam Kulit Jadi Salah Satu Gejala COVID-19

Timbulnya ruam kulit pada pasien Corona hingga kini masih dicurigai sebagai salah satu gejala COVID-19. Sebab, beberapa pasien COVID-19 mengalami ruam kulit dan perubahan warna, seperti jari kaki berubah jadi warna merah atau ungu, gatal-gatal, dan timbul benjolan pada jari.
Lantas apakah benar ruam kulit adalah salah satu gejala COVID-19?
"Banyak infeksi virus yang dapat memicu ruam kulit, jadi ketika Anda membuat laporan terkait kasus ini, Anda harus memiliki data lain. Apakah pasien sempat menjalani pengobatan selama seminggu sebelum ruam muncul? Apakah ada kemungkinan penyebab lain?" kata profesor dermatologi di Pusat Medis Universitas Rochester, New York, Dr Art Papier, dikutip dari CNN.

Sebelumnya beberapa studi terkait kasus ini memang telah diterbitkan di jurnal medis dan yang paling terbaru menunjukkan, empat pasien Corona berusia 40-80 tahun dengan gejala parah di New York mengalami perubahan warna kulit serta lesi yang disebut retiform purpura.

Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien ternyata mengalami kelainan pada pembuluh darahnya.

Dalam studi tersebut, para peneliti dari Weill Cornell Medical College menuliskan perubahan warna kulit pada pasien dapat menandakan adanya penyumbatan pembuluh darah. Sedangkan retiform purpura dapat mewakili kemungkinan terjadinya penyumbatan penuh di pembuluh darah.

Hal ini menunjukkan, ruam dan perubahan warna kulit bisa menjadi petunjuk klinis akan adanya kemungkinan pembekuan darah dalam tubuh. Bahkan sejak awal pandemi, sebagian dokter telah memperhatikan bahwa COVID-19 dengan gejala parah dapat menyebabkan pembekuan darah yang tidak normal pada pasien.

Meski begitu, studi tersebut masih memiliki kekurangan, peneliti belum bisa memastikan kapan pertama kali gejala ruam kulit muncul pada pasien. Diperlukan juga lebih banyak lagi penelitian untuk memastikan apakah temuan serupa akan muncul di antara kelompok pasien Corona yang jauh lebih besar.

Facebook Sensor Unggahan Trump yang Sebut Anak-anak Kebal COVID-19

Media sosial Facebook mengaku sengaja menyensor unggahan dari halaman milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Facebook menyebut unggahan berisi video dari Trump yang menyebut anak-anak kebal terhadap virus Corona COVID-19 sebagai informasi menyesatkan mengenai COVID-19 yang berbahaya.
Dalam unggahan tersebut, Donald Trump diketahui sedang berbicara mengenai rencana pembukaan sekolah. Trump berdalih sudah waktunya sekolah dibuka karena anak-anak tidak terdampak oleh penyakit ini.

"Bila Anda melihat anak-anak, mereka hampir - dan saya bilang nyaris bisa dipastikan kebal dari penyakit ini," kata Trump.

"Anak-anak tidak memiliki masalah, mereka sama sekali tidak bermasalah," lanjutnya.

Seorang juru bicara untuk Facebook mengakui bahwa pihaknya sengaja menyensor unggahan tersebut karena telah melanggar kebijakan "penyebaran informasi keliru".

"Video itu berisi klaim palsu bahwa ada kelompok orang yang memiliki kekebalan terhadap COVID-19. Ini melanggar kebijakan kita terkait informasi keliru COVID-19 yang membahayakan," ungkapnya seperti dikutip dari BBC, Kamis (6/8/2020).

Berbagai studi sudah melihat meski anak-anak secara umum lebih sedikit kasusnya, bukan berarti mereka kebal dari infeksi COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memberi peringatan tentang kemunculan sindrom peradangan yang mirip seperti kondisi langka penyakit Kawasaki pada anak-anak terinfeksi COVID-19.

Peneliti dari University of Texas Health Science Center melihat dari 7.780 anak yang terinfeksiCOVID-19, sekitar 3,3persennya mengalami gejala parah sampai harus dirawat diICU dan 7 anak meninggal dunia.
https://indomovie28.net/hot-neighbors-2/