Selasa, 07 Juli 2020

Gempa Banten Terasa di Jakarta, Kenapa Banyak yang Pusing-Mual Sesudahnya?

 Guncangan gempa terasa kencang di Jakarta. Dari informasi BMKG, Selasa (7/7/2020), gempa berkekuatan magnitudo 5,4 pukul 11.44 WIB terjadi di Rangkasbitung, Banten.
Beberapa orang yang berada di gedung tinggi mulai merasa pusing dan mual beberapa saat setelah gempa yang sebenarnya lazim dialami. Kondisi ini disebut phantom earthquakes atau jishin-yoi dalam bahasa Jepang.

Mereka yang mengalami phantom earthquakes seringkali merasa adanya goyangan meski gempa tersebut telah berakhir. Selain itu, ada beberapa teori yang menjelaskan keluhan pusing dan mual setelah gempa terjadi.

Pertama adalah kondisi ini serupa dengan mabuk atau motion sickness. Saat guncangan terjadi, gerakan yang dialami tubuh dan yang teramati tidak sinkron sehingga muncul berbagai keluhan.

Ada beberapa yang mengalami phantom earthquakes hanya sekejap saja dan ada pula yang bertahan sampai berhari-hari. Daliah Wachs seorang dokter dari Las Vegas, mengatakan perasaan ketidakseimbagan biasanya akan menghilang selama beberapa hari seperti halnya mabuk perjalanan.

Namun dalam kasus yang parah, mereka yang mengalami phantom earthquakes harus mendapatkan pengobatan seperti pereda mabuk atau antihistamin. Biasanya kondisi ini terjadi pada mereka yang mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Tak Harus Secanggih Masker Istri KSAD, untuk Medis N95 Dinilai Sudah Cukup

Baru-baru ini ramai soal masker transparan yang dipakai istri Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono. Dikutip dari CNNIndonesia.com, masker ini disebut-sebut masker buatan Clean Space Technology seri Halo di mana masker ini tergolong dalam respirator.
Disebutkan bahwa kemampuan masker bisa menyaring partikel debu dan kotoran lain termasuk virus dan bakteri. "Respirator Clean Space memanfaatkan teknologi perangkat medis terbaru untuk perlindungan dan kinerja tinggi, dibandingkan respirator pelindung perawatan kesehatan tradisional. Desain yang intuitif dan ergonomis membuat pengguna mudah menggunakannya," kata Birrell CEO Clean Space Technology, Selasa (7/7/2020).

"Masker ini sangat penting digunakan oleh para tim petugas kesehatan," imbuhnya.

Benarkah masker ini yang paling cocok untuk tenaga medis?
Meskipun masker respirator ini disebut cocok untuk tenaga medis, praktisi kesehatan dr Halik Malik dari Merial Health menilai masker bedah dan masker N95 pun cukup untuk tenaga medis.

"Masker bedah dan masker N95 yang standar cukup sih untuk kebutuhan tenaga medis," jelas dr Halik Malik.

"Masker respiratori sendiri ada berbagai tipe, sesuai peruntukannya ada untuk medis, industri, dan lainnya, sebaiknya digunakan sesuai dengan tujuan dan prioritas masing-masing," lanjut dr Halik.

Meski begitu, menurutnya masker respirator yang memiliki teknologi Powered Air Purify Respirator (PAPR) disebut lebih baik untuk tenaga kesehatan. Karena kemampuan filtrasi dari masker tinggi.

"Masker jenis respiratori dengan teknologi PAPR (Powered Air Purify Respirator) tentu lebih baik bagi tenaga medis. Masker dengan kemampuan filtrasi hingga 99 persen ini jauh lebih protektif untuk menunjang pelayanan di ruang isolasi," pungkasnya.
https://nonton08.com/cast/coco-soren/

Misteri di Balik Rendahnya Angka Kematian Jepang dan Dugaan 'Kebal' Corona

Jepang dikabarkan memiliki kekebalan superior terhadap wabah virus Corona COVID-19. Padahal negeri sakura ini disebut memiliki banyak kondisi yang membuatnya rentan terhadap paparan dari virus Corona COVID-19.
Ketika dunia menutup pintu untuk para pelancong dari China, Jepang menjaga perbatasan untuk tetap terbuka. Jepang juga tidak pernah menerapkan kebijakan seperti aturan lockdown untuk menangani virus Corona.

Apa yang dilakukan Jepang?
Pada awal April, pemerintah Jepang memerintahkan untuk menaikkan 'keadaan darurat'. Tetapi imbauan untuk tinggal di rumah masih bersifat sukarela yang diartikan kembali lagi ke masing-masing. Bisnis diminta untuk ditutup, namun tidak ada hukuman bagi mereka untuk yang menolak untuk tidak menutup bisnis.

Jepang, yang memiliki populasi lansia lebih banyak dibandingkan negara lain, juga tidak mengindahkan saran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk terus menguji tes virus Corona. Bahkan kini, total tes PCR hanya 348.000 atau 0,27 persen dari total 126.468.508 populasi Jepang.

Namun, lima bulan setelah kasus COVID-19 pertama dilaporkan, Jepang hanya memiliki kurang dari 20.000 kasus terjangkit dan kurang dari 1.000 kematian. Keadaan darurat pun telah diangkat dan kehidupan dengan cepat kembali normal seperti semula.

Ada juga bukti ilmiah yang berkembang bahwa Jepang sejauh ini benar-benar bisa menekan penyebaran virus Corona COVID-19. Perusahaan telekomunikasi raksasa, Softbank melakukan pengujian antibodi kepada 40.000 karyawan, dengan hasil menunjukkan bahwa hanya 0,24 persen yang terpapar virus Corona.

Pengujian acak terhadap 8.000 orang di ibu kota Tokyo dan dua prefektur lainnya telah menunjukkan tingkat paparan yang lebih rendah. Di Tokyo, hanya 0,1 persen yang positif COVID-19.

Ketika pengumuman pencabutan keadaan darurat berakhir bulan lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe bahkan dengan bangga mengenalkan "Model Jepang", mengisyaratkan bahwa negara-negara lain harus belajar dari Jepang dalam menangani pandemi.

Namun, apakah Jepang memiliki kebal terhadap paparan corona?
Profesor Tatsuhiko Kodama dari Universitas Tokyo, yang mempelajari bagaimana pasien Jepang bereaksi terhadap virus, percaya bahwa Jepang mungkin pernah terpapar virus dari keluarga coronavirus sebelumnya, sehingga meninggalkan "historical immunity".

Kodama menjelaskan, ketika virus memasuki tubuh manusia, sistem kekebalan menghasilkan antibodi yang menyerang patogen yang menyerang. Ada dua jenis antibodi, yakni IGM dan IGG. Cara mereka merespons dapat menunjukkan apakah seseorang pernah terkena virus serupa sebelumnya.

"Dalam infeksi virus primer (baru), respons IGM biasanya didahulukan," kata Kodama, dikutip dari laman BBC Internasional.

"Kemudian respons IGG muncul kemudian. Tetapi dalam kasus sekunder (paparan sebelumnya) limfosit sudah memiliki memori, dan hanya respons IGG yang meningkat dengan cepat," tambahnya.

Apa yang terjadi dengan pasiennya?
"Ketika melihat tes-tes kami heran, pada semua pasien, respons IGG datang dengan cepat, dan respons IGM kemudian dan lemah. Sepertinya mereka sebelumnya terkena virus yang sangat mirip," ujar Kodama.

Kodama berpikir ada kemungkinan virus sejenis coronavirus di wilayah tersebut sebelumnya, sehingga menimbulkan tingkat kematian yang rendah, tidak hanya di Jepang, tetapi juga di China, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Asia Tenggara.

Selain itu, orang Jepang sendiri sudah mulai mengenakan masker wajah lebih dari 100 tahun lalu, atau selama pandemi flu 1919 dan tetap menerapkan itu hingga kini. Bahkan jika sedang flu, batuk, pilek, masyarakat Jepang akan mengenakan masker guna melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Hingga kini Jepang memiliki 19.775 kasus infeksi Corona, 977 kasus kematian, dan 17.124 pasien berhasil sembuh per Selasa (7/7/2020), dikutip dari data Worldometers.
https://nonton08.com/cast/kristin-york/