Minggu, 05 Juli 2020

Samsung Kembangkan Casing Ponsel Antimikrobial

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir membuat banyak perusahaan terus berinovasi untuk mengembangkan produk yang bisa menghambat penyebaran virus Corona. Salah satunya Samsung yang disebut tengah mengembangkan casing ponsel anti mikrobial.
Hal ini diketahui dari pendaftaran paten 'Antimicrobial Coating' yang didaftarkan Samsung pada 30 Juni lalu. Pendaftaran paten ini dilakukan Samsung di sejumlah negara, seperti Inggris, Spanyol, Italia, dan Swiss.

Dalam deskripsi paten tersebut dijelaskan kalau teknologi ini dibuat untuk casing pelindung dan lapisan untuk ponsel dan tablet, demikian dikutip detikINET dari Letsgodigital, Sabtu (4/7/2020).

Jika diasumsikan, casing ini bakal mempunyai lapisan antimikrobial yang bisa menghambat penyebaran virus corona. Dari penelitian yang sebelumnya sudah ada disebutkan kalau lapisan antimikrobial akan terbebas dari virus tersebut selama 90 hari.

Dari pendaftaran paten tersebut, Samsung memperlihatkan gambar sebuah tameng dengan tiga objek di luarnya yang tampaknya mengacu pada virus Corona. Tak ada penjelasan lain mengenai pendaftaran paten ini.

Selain itu, permukaan yang dilapisi antimikrobial bisa membunuh 90% virus setelah 10 menit, dan mencapai 99,9% setelah dua jam diberi lapisan.

Jadi lapisan antimikrobial semacam ini sangat cocok untuk digunakan di benda-benda yang dipakai sehari-hari, salah satunya ponsel. Karena ponsel adalah salah satu benda yang sering dipegang, dan permukaannya tentu bisa menjadi sarana penyebaran virus Corona.

Teknologi di balik Antimicrobial Coating ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah dipakai di rumah sakit sejak lama untuk melawan penyebaran infeksi. Lapisan ini bekerja dengan memecah protein dari virus dan menyerang lapisan pelindung lemaknya.

Samsung sendiri bakal meluncurkan ponsel flagship terbarunya dalam waktu dekat, yaitu Galaxy Note 20. Bukan tak mungkin ponsel ini akan jadi ponsel pertama mereka yang dilengkapi casing antimikrobial ini.

Pakistan Larang Warganya Main PUBG Mobile

 Pakistan resmi melarang warganya memainkan PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) Mobile. Pelarangan sementara ini dilakukan berdasarkan alasan kesehatan.
Dikutip dari Times Now News, Pakistan Telecommunication Authority (PTA) menerima banyak laporan dan keluhan terkait dengan game tersebut. Para pelapor mendesak PTA menangguhkan sementara game tersebut di Pakistan.

"Mencermati berbagai keluhan yang diterima dari berbagai segmen masyarakat, PTA memutuskan untuk menangguhkan sementara game Battlegrounds (PUBG) PlayerUnknown," kata PTA.

Para pelapor menyebutkan PUBG bersifat adiktif dan berefek merugikan kesehatan fisik dan psikologis pemain, terutama pada pemain yang masih anak-anak.

Melihat langkah yang dilakukan Pakistan, negara tetangganya, India, juga mendesak pemerintahnya melakukan pelarangan yang lebih luas. Sebenarnya, salah satu negara bagian India, Gujarat, sudah melarang PUBG Mobile pada Maret 2019.

Pemerintah setempat menyebutkan game tersebut terlalu membuat ketagihan dan mengandung kekerasan. Beberapa orang yang ketahuan memainkan game ini pun ditangkap.

Langkah ini sebenarnya tidak mengejutkan, karena ini bukan pertama kalinya sebuah negara melarang game yang diterbitkan Tencent Games tersebut karena alasan kesehatan.

PUBG juga sudah lama menjadi kontroversi dan keriuhan ini sepertinya belum akan berhenti dalam waktu dekat. Di sisi lain, situasi yang memanas di antara India dan China--PUBG Mobile diterbitkan oleh Tencent Games asal China--bisa memperburuk pertahanan PUBG untuk bertahan di Pakistan dan India.

Meski PUBG baru-baru ini merilis fitur 'Gameplay Management System' untuk mempromosikan perilaku bermain game yang sehat, masih terjadi kasus anak-anak bunuh diri dan mengalami gangguan kesehatan mental dan fisik yang diduga kuat terkait dengan game ini.
https://cinemamovie28.com/cast/moon-ga-young/

Demi Regenerasi, Anak Muda Tajir Ini Lepas Jabatan CEO dan Saham

Baru saja kekayaannya melebihi Jack Ma, tetapi Colin Huang secara mengejutkan melepaskan jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Pinduoduo, startup e-Commerce yang didirikannya.
Tak hanya soal mundurnya Huang. Kabar menggemparkan lainnya, ia melepaskan kepemilikan perusahaan sebesar USD 14,3 miliar atau setara Rp 207,5 triliun dengan saham kepemilikannya di Pinduoduo yang tadinya 43,3% kini menjadi 29,3% saja.

Kendati begitu, seperti dilansir dari Nikkei Asian Review, Sabtu (4/7/2020) Huang masih mempertahankan posisinya sebagai ketua dewan dan punya hak suara mayoritas perusahaan sebesar 80,7%.

Jabatan CEO yang ditinggalkan Huang beralih ke tangan Chen Lei yang sebelumnya menempati peran sebagai Co-Founder dan Chief Technology Officer (CTO) Pinduoduo. Perombakan struktur kepemimpinan perusahaan, yakni bergabungnya Ma Jing yang sebelumnya memegang bisnis Chanel China.

"Saya mengambil langkah mundur dari manajemen sehari-hari yang terkait operasional perusahaan dan bekerja dengan tim yang relevan dan dewan direksi pada strategi jangka panjang dan struktur perusahaan kami," ujarnya.

"Saya berharap bahwa melalui perubahan manajemen, kita dapat secara bertahap menyerahkan lebih banyak tugas dan tanggungjawab manajerial kepada kolega muda kita, memberi ruang, dan peluang bagi tim untuk tumbuh dan mendorong Pinduoduo jadi perusahaan yang lebih matang dengan kewirausahaan yang berkelanjutan," tuturnya.

Menudurnya Huang dari CEO Pinduoduo terbilang mengejutkan. Bagaimana tidak, belum lama ini atau pada pertengahan Juni kemarin, pria berusia 40 tahun itu memilik kekayaan yang melampaui Jack Ma.

Huang adalah orang terkaya kedua di China dengan total kekayaan bersih USD 45,4 miliar, di belakang bos Tencent, Ma Huateng. Posisi itu sebelumnya dipegang pendiri Alibaba, Jack Ma, yang kini hartanya USD 43,9 miliar.

Samsung Kembangkan Casing Ponsel Antimikrobial

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir membuat banyak perusahaan terus berinovasi untuk mengembangkan produk yang bisa menghambat penyebaran virus Corona. Salah satunya Samsung yang disebut tengah mengembangkan casing ponsel anti mikrobial.
Hal ini diketahui dari pendaftaran paten 'Antimicrobial Coating' yang didaftarkan Samsung pada 30 Juni lalu. Pendaftaran paten ini dilakukan Samsung di sejumlah negara, seperti Inggris, Spanyol, Italia, dan Swiss.

Dalam deskripsi paten tersebut dijelaskan kalau teknologi ini dibuat untuk casing pelindung dan lapisan untuk ponsel dan tablet, demikian dikutip detikINET dari Letsgodigital, Sabtu (4/7/2020).

Jika diasumsikan, casing ini bakal mempunyai lapisan antimikrobial yang bisa menghambat penyebaran virus corona. Dari penelitian yang sebelumnya sudah ada disebutkan kalau lapisan antimikrobial akan terbebas dari virus tersebut selama 90 hari.

Dari pendaftaran paten tersebut, Samsung memperlihatkan gambar sebuah tameng dengan tiga objek di luarnya yang tampaknya mengacu pada virus Corona. Tak ada penjelasan lain mengenai pendaftaran paten ini.

Selain itu, permukaan yang dilapisi antimikrobial bisa membunuh 90% virus setelah 10 menit, dan mencapai 99,9% setelah dua jam diberi lapisan.

Jadi lapisan antimikrobial semacam ini sangat cocok untuk digunakan di benda-benda yang dipakai sehari-hari, salah satunya ponsel. Karena ponsel adalah salah satu benda yang sering dipegang, dan permukaannya tentu bisa menjadi sarana penyebaran virus Corona.

Teknologi di balik Antimicrobial Coating ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah dipakai di rumah sakit sejak lama untuk melawan penyebaran infeksi. Lapisan ini bekerja dengan memecah protein dari virus dan menyerang lapisan pelindung lemaknya.

Samsung sendiri bakal meluncurkan ponsel flagship terbarunya dalam waktu dekat, yaitu Galaxy Note 20. Bukan tak mungkin ponsel ini akan jadi ponsel pertama mereka yang dilengkapi casing antimikrobial ini.
https://cinemamovie28.com/cast/john-bradley/