Kamis, 02 Juli 2020

Bangkrut, Pemegang Waralaba Pizza Hut Ajukan Pailit

NPC International, pemegang waralaba 1.200 gerai Pizza Hut dan nyaris 400 restoran cepat saji Wendy's di Amerika Serikat, mengajukan pailit. Perusahaan mengaku bisnisnya tertekan pandemi virus corona, sehingga membuat beban utangnya meningkat hampir US$1 miliar.
Belum lagi, kenaikan biaya operasional, biaya tenaga kerja, dan bahan makanan yang harus ditanggung perusahaan. Berdasarkan situs perusahaan, pekerjanya mencapai 40 ribu orang di 27 negara bagian di AS.

Kendati demikian, NPC International mengaku akan tetap beroperasi di tengah pengajuan pailit tersebut.

"Kami mendukung tingkat investasi yang lebih besar untuk NPC, dan memperkuat kesehatan keuangan dan kinerjanya untuk jangka panjang," tutur juru bicara Pizza Hut.

Mengutip CNN.com, Kamis (2/7), manajemen Pizza Hut mengatakan mendukung NPC, 
Pizza Hut, yang dimiliki oleh Yum! Brands, menunjukkan penjualan mulai pulih dari posisi terendah mereka pada Maret lalu. Secara total, ada 7.100 restoran Pizza Hut di Amerika Serikat.

"Kami akan mengevaluasi dan mengoptimalkan portofolio restoran kami, sehingga kami ada di posisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan konsumen," terang CEO NPC divisi Pizza Hut Jon Weber.

Sementara, untuk waralaba merek Wendy's, NPC hanya mengoperasikan sebagian kecil dari total restoran sebanyak 6.500 di AS. Juru bicara Wendy's mengatakan restoran-restoran yang dipegang oleh NPC umumnya memiliki kinerja sangat baik.

"Pewaralaba pun tetap mematuhi kewajiban keuangan mereka," jelas manajemen.

Karenanya, ia berharap NPC tetap menjadi anggota keluarga Wendy's yang produktif untuk bergerak maju bersama.

NPC adalah perusahaan AS terbaru yang mengajukan kebangkrutan selama pandemi covid-19. Perusahaan induk Chuck E. Cheese, GNC, Fitness 24 Jam, Neiman Marcus, J. Crew semua telah mengajukan pailit dalam 2 bulan terakhir.

"Ini pekerjaan yang sangat penting dilakukan bekerja sama dengan pusat kolaborasi WHO di China CDC, pusat kolaborasi lain di seluruh dunia, termasuk pusat kolaborasi WHO untuk influenza di US CDC, di Atlanta, dan sekali lagi menunjukkan pentingnya vital dari sistem pengawasan dan respons influenza global," tambah Ryan.

Studi yang diterbitkan oleh jurnal AS, Prosiding National Academy of Sciences (PNAS) mengatakan, meskipun para ahli meyakini tidak ada ancaman serius terkait virus G4 bencana di masa depan belum bisa dikesampingkan.

"Mengingat pandemi COVID-19 masih terus berkembang dan galur Sars-CoV-2 terus berkembang, kita perlu terus memantau dan mengevaluasi kemungkinan babi untuk menjadi inang perantara pandemi masa depan," tulis tim China dalam penelitian tersebut, seperti dikutip dari South China Morning Post (SCMP).

Pasien Corona Tanpa Gejala Juga Bisa Alami Kerusakan Paru Permanen

Virus Corona menimbulkan gejala yang beragam pada tiap pasien. Beberapa mungkin hanya mengidap kondisi ringan namun lainnya lebih buruk sehingga harus mendapat bantuan oksigen atau ventilator.
Tapi ada beberapa kelompok yang tidak menunjukkan gejala COVID-19 sama sekali saat terinfeksi yang disebut pasien asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG). Meski tampak 'sehat', sebuah pemeriksaan menunjukkan banyak OTG memiliki kerusakan paru jangka panjang sama seperti pasien dengan kondisi parah.

Dikutip dari Medical Daily, para ilmuwan di Scripps Research Institute menemukan penemuan mengejutkan bahwa OTG, yang tidak menunjukkan gejala Corona, juga berisiko mengalami kerusakan paru-paru yang fatal.

Mereka mengetahui ini setelah memeriksa CT Scan pasien COVID-19 tanpa gejala dari kapal pesiar Diamond Princess. Peneliti juga memperhatikan bahwa pasien OTG ini mengalami kerusakan paru yang cukup parah walau tak menunjukkan gejala sama sekali.
https://nonton08.com/2019/04/

WHO Sebut Virus G4 yang Berpotensi Jadi Pandemi Bukan Virus Baru

- Virus G4 atau yang diklaim jenis baru virus flu babi asal China diwaspadai berpotensi menjadi pandemi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun akan mengawasi ketat perkembangan studi dari China.
Dikutip dari Daily Star, WHO menanggapi temuan tersebut membuat pengawasan terhadap influenza, flu burung, langsung ditingkatkan selama masa pandemi Corona. "Kami akan membaca dengan cermat studi tersebut untuk memahami apa yang baru," kata WHO, Christian Lindmeier, pada konferensi singkat di Jenewa.

Xinhua melaporkan seorang pakar WHO mengatakan pada hari Rabu, bahwa virus flu babi yang baru-baru ini dipublikasikan di Tiongkok bukanlah hal baru dan sedang dalam pengawasan ketat.

"Saya pikir, penting untuk meyakinkan orang bahwa ini bukan virus baru, ini adalah virus yang sedang diawasi," kata Dr Michael Ryan, direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, pada konferensi pers.

"Ini adalah temuan dari pengawasan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun," lanjutnya.

Disebutkan WHO, virus flu babi sudah diawasi sejak 2011 lalu, tetapi pengawasan tetap diperketat seiring dengan temuan baru dari studi China soal potensial menjadi pandemi. WHO bekerja sama bersama otoritas China terkait antisipasi akan virus G4.

"Virus influenza babi H1N1 yang mirip unggas Eurasia telah diawasi oleh otoritas China dan oleh jaringan pengawasan influenza global di seluruh dunia, dan pusat-pusat kerja sama WHO," kata Ryan.

"Sudah di bawah pengawasan sejak 2011 dan pada kenyataannya, publikasi terbaru adalah publikasi dari semua data pengawasan dari waktu ke waktu dan jelas melaporkan baik tentang evolusi virus ini dalam populasi babi," jelas Ryan.

Sebuah tim peneliti China telah memeriksa virus influenza yang ditemukan pada babi dari tahun 2011 hingga 2018 dan menemukan varian genotipe 4 virus H1N1 yang menyerupai burung Eurasia (G4 EA H1N1).

"Kami terus-menerus harus tetap waspada. Kami perlu terus melakukan pengawasan yang sangat sangat baik pada virus G4 ini dan kami berharap itu akan terus berlanjut dalam beberapa bulan dan tahun mendatang," Ryan menekankan.

Bangkrut, Pemegang Waralaba Pizza Hut Ajukan Pailit

NPC International, pemegang waralaba 1.200 gerai Pizza Hut dan nyaris 400 restoran cepat saji Wendy's di Amerika Serikat, mengajukan pailit. Perusahaan mengaku bisnisnya tertekan pandemi virus corona, sehingga membuat beban utangnya meningkat hampir US$1 miliar.
Belum lagi, kenaikan biaya operasional, biaya tenaga kerja, dan bahan makanan yang harus ditanggung perusahaan. Berdasarkan situs perusahaan, pekerjanya mencapai 40 ribu orang di 27 negara bagian di AS.

Kendati demikian, NPC International mengaku akan tetap beroperasi di tengah pengajuan pailit tersebut.

"Kami mendukung tingkat investasi yang lebih besar untuk NPC, dan memperkuat kesehatan keuangan dan kinerjanya untuk jangka panjang," tutur juru bicara Pizza Hut.

Mengutip CNN.com, Kamis (2/7), manajemen Pizza Hut mengatakan mendukung NPC, 
Pizza Hut, yang dimiliki oleh Yum! Brands, menunjukkan penjualan mulai pulih dari posisi terendah mereka pada Maret lalu. Secara total, ada 7.100 restoran Pizza Hut di Amerika Serikat.

"Kami akan mengevaluasi dan mengoptimalkan portofolio restoran kami, sehingga kami ada di posisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan konsumen," terang CEO NPC divisi Pizza Hut Jon Weber.

Sementara, untuk waralaba merek Wendy's, NPC hanya mengoperasikan sebagian kecil dari total restoran sebanyak 6.500 di AS. Juru bicara Wendy's mengatakan restoran-restoran yang dipegang oleh NPC umumnya memiliki kinerja sangat baik.

"Pewaralaba pun tetap mematuhi kewajiban keuangan mereka," jelas manajemen.

Karenanya, ia berharap NPC tetap menjadi anggota keluarga Wendy's yang produktif untuk bergerak maju bersama.

NPC adalah perusahaan AS terbaru yang mengajukan kebangkrutan selama pandemi covid-19. Perusahaan induk Chuck E. Cheese, GNC, Fitness 24 Jam, Neiman Marcus, J. Crew semua telah mengajukan pailit dalam 2 bulan terakhir.
https://nonton08.com/2019/12/