Jumat, 03 Juli 2020

Pegawai Starbucks Ngintip, Ini Dampak Kejiwaan yang Bisa Dialami Korban

 Viral video pegawai Starbucks di media sosial ketahuan sedang mengintip payudara pelanggan lewat CCTV. Pihak Starbucks Indonesia mengaku telah melakukan investigasi dan memecat karyawan terkait.
"Perilaku tersebut tidak dapat kami toleransi dan individu yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi bersama PT Sari Coffee Indonesia," kata Senior General Manager Corporate PR and Communications PT Sari Coffee Indonesia, Andrea Siahaan, kepada detikcom, Kamis (2/7/2020).

Terkait kasus viral video pegawai Starbucks tersebut, Nuzulia Rahma Tristinarum psikolog klinis dari Pro Help Center sekaligus penulis menilai kasus ini termasuk pelecehan. Rahma menjelaskan ada beberapa dampak psikologis yang bisa terjadi pada korban terkait kasus tersebut termasuk trauma dan munculnya rasa tidak berharga.

"Bagi korban, tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pelecehan. Pelecehan dapat menimbulkan trauma di kemudian hari," jelas Rahma saat dihubungi detikcom, Kamis (2/7/2020).

"Bentuk gangguannya bisa bermacam macam. Bisa dalam bentuk pikiran yang selalu muncul, mimpi buruk, perasaan tidak berharga dan lainnya. Bentuknya bisa berbeda beda antara orang yang satu dan lainnya," lanjut Rahma.

Jika kondisi tersebut selalu timbul dan mengganggu aktivitas sehari-hari, Rahma mewajibkan untuk segera mengunjungi ahli. Terlebih jika kondisinya terus berlarut lebih dari satu bulan.

"Jika dalam waktu lebih dari 1 bulan, korban masih merasa terganggu dengan adanya pengalaman tersebut, sebaiknya konsultasi dengan ahlinya, misalnya psikolog, agar dibantu penanganannya," pungkasnya.

Penyakit, Ciri-Ciri dan Gejala Virus Flu Babi G4

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mewanti-wanti bahwa virus flu babi G4 harus diwaspadai penyebarannya. Menurut WHO, kalau tak diawasi dengan ketat virus ini berpotensi bisa menjadi pandemi selanjutnya setelah COVID-19.
Berdasarkan laporan Xiunhua, seorang pakar WHO menjelaskan bahwa flu babi hasil strain H1N1 yang baru dipublikasi ini bukan termasuk dalam virus baru. Bahkan, penyakit ini telah dalam pengawasan ketat bertahun-tahun di Cina.

"Saya pikir, penting untuk meyakinkan orang bahwa ini bukan virus baru, ini adalah virus yang sedang diawasi. Ini adalah temuan dari pengawasan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun," jelas Dr Michael Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO dalam sebuah konferensi pers.

Berikut fakta terkait penyakit, ciri-ciri dan gejala virus flu babi G4:

1. Penyebab
Dikutip dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, flu babi adalah penyakit pernapasan babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Virus ini memiliki genetik yang mirip dengan virus flu babi H1N1 sehingga diberi kode G4 EA H1N1 atau G4.

Virus flu babi pada dasarnya telah menjadi umum atau endemik di antara populasi babi di Amerika Serikat atau industri. Biasanya, hal ini terjadi di musim gugur dan dingin tetapi bisa terjadi sepanjang tahun juga.

Sejak tahun 1930 virus flu babi H1N1 telah menyebar di populasi babi. Kemudian ada virus H3N2 yang diperkenalkan ke populasi babi dari manusia. Namun, sejak saat itu virus H3N2 yang beredar di babi telah berubah dan berbeda dengan virus yang beredar pada manusia.

Menurut peneliti, saat ini virus ini bisa menular dari hewan ke manusia dan belum ada bukti bisa menular antarmanusia. Adapun, flu babi ini menyerang sistem pernapasan manusia.

2. Gejala
Para peneliti menyebutkan orang yang terjangkit virus flu babi G menunjukkan gejala seperti bersin, mengi, batuk, dan penurunan berat badan maksimal antara 7,3 % hingga 9,8 % dari massa tubuh.

Selain itu, Mayo Clinic juga melaporkan ciri-ciri flu babi lainnya pada tubuh manusia, seperti demam (tidak selalu), panas dingin, sakit tenggorokan, hidung meler, mata berair atau merah, sakit kepala, pegal-pegal, kelelahan, diare, hingga mual dan muntah.
https://indomovie28.net/director/lee-do-si/

Sejumlah Pakar Anggap Virus Flu Babi G4 Tak Mengkhawatirkan, Ini Alasannya

Beberapa waktu lalu, peneliti di China menemukan jenis virus yang dikhawatirkan bisa berpotensi menjadi pandemi setelah COVID-19. Virus yang diberi kode G4 EA H1N1 atau G4 ini termasuk dalam varian dari virus flu babi H1N1.
Tapi, beberapa ahli kesehatan mengatakan virus G4 ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Profesor epidemiologi dan peneliti dari University of California, Amerika Serikat, Christine Johnson, VMD, MPVM, PhD, mengatakan penyakit zoonosis bisa muncul setiap saat.

"Untuk menentukan virus bisa menjadi pandemi adalah harus menular dari manusia ke manusia. Ini (virus G4) tidak akan menyebabkan pandemi, sementara hanya bisa ditularkan dari babi ke manusia saja," katanya yang dikutip dari Healthline, Kamis (2/7/2020).

Penularan penyakit zoonosis bervariasi, bisa dari babi ke manusia, kelelawar ke manusia, atau dari binatang buas lainnya. Menurut Johnson, sulit untuk memprediksi apakah virus itu bermutasi dan kapan bisa menular antarmanusia.

Menurut ahli virus sekaligus kepala departemen biologi di Texas A&M University-Texarakan, Benjamin Neuman, PhD, hewan babi dianggap sebagai 'wadah percampuran' virus. Ini karena sel inang babi bisa menggabungkan banyak virus, bahkan menghasilkan virus baru.

"Babi rentan terhadap beberapa virus seperti flu burung dan manusia hingga menghasilkan virus baru yang berpotensi menginfeksi manusia," ujar Neuman.

Neuman mengatakan, itulah pentingnya melacak babi-babi yang kemungkinan terinfeksi virus yang bisa memicu wabah di masa depan. Berdasarkan hasil pengawasan tim peneliti, mereka mengidentifikasi 179 virus flu babi pada hewan babi.

"Virus flu ini adalah potongan-potongan dari flu burung, H1N1, dan flu babi yang tampaknya akan tumbuh dengan baik di dalam sel manusia. Itu bisa berpotensi menyebabkan pandemi, tapi sampai saat ini kami belum menemukan bukti virus ini menyebabkan masalah yang nyata," jelas Neuman.

Direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan, dalam konferensi pers mengatakan bahwa virus G4 ini bukanlah virus baru, tapi tetap diawasi.

WHO menyebutkan bahwa virus flu babi sudah diawasi sejak 2011 lalu, bahkan pengawasannya pun tetap diperketat seiring dengan temuan studi China soal potensi menjadi pandemi. Bahkan WHO telah bekerja sama dengan otoritas China terkait antisipasi virus flu babi G4.

"Sudah di bawah pengawasan sejak 2011, dan pada kenyataannya publikasi terbaru adalah publikasi dari semua data pengawasan dari waktu ke waktu. Dan jelas melaporkan, baik tentang evolusi virus ini dalam populasi babi," jelas Ryan.

Selain itu, virolog dari Universitas Udayana, Bali, Prof Ngurah Mahardhika, mengatakan untuk tidak perlu galau dengan adanya virus dari babi ini. Menurutnya, virus ini tidak memiliki daya kejut untuk memicu pandemi.

Prof Ngurah Mahardhika mengatakan, agar sebuah virus dari hewan ke manusia bisa menjadi pandemi, virus itu harus benar-benar baru dan muncul secara tiba-tiba.

"Jika 10 persen orang yang di test sudah punya antibodi (virus flu babi), jumping species barrier sudah lama terjadi. Dan penularan human to human sudah lama terjadi. Begitu ilmu yang saya pelajari. Ini tidak merisaukan saya," jelasnya melalui postingan di akun Facebook miliknya.
https://indomovie28.net/star/shu-qi/