Kamis, 07 Mei 2020

Korsel Ungkap Taktik Jitu Melawan Virus Corona

 Korea Selatan membeberkan strategi mereka dalam menanggulangi pandemi virus corona (Covid-19), setelah berhasil melewati puncak penyebaran dan menekan angka penularan hingga nihil kasus baru dalam beberapa waktu terakhir.

Perwakilan Korean Foundation untuk urusan Diplomasi Kesehatan, Dr. Youngmee Jee, menuturkan Korsel sudah mulai mempersiapkan langkah penanganan dan menghitung kebutuhan logistik negara dalam menghadapi penyebaran corona sekitar awal Januari 2020. Mereka mengonfirmasi kasus virus corona pertama pada 20 Januari lalu.

Dalam webinar yang digagas Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Jee menuturkan bahwa pemerintah Korsel sudah membentuk komisi pusat darurat terkait corona sekitar 3 Januari.


Tiga hari setelah dibentuk, kata Jee, komisi tersebut langsung mulai melacak pasien-pasien penyakit gangguan pernapasan yang merupakan salah satu gejala corona, dan memiliki riwayat perjalanan dari China.

"Itu semua dilakukan sebelum Korsel mengonfirmasi kasus corona pertama. Tanggapan awal yang cepat dan tepat merupakan kunci utama pengendalian penularan corona," kata Jee pada Rabu (6/5).

Sejak kasus corona pertama terkonfirmasi, Jee mengatakan pemerintahan Presiden Moon Jae-in langsung menetapkan zona khusus bagi setiap wilayah kluster penularan corona seperti Kota Daegu.

Pemerintah Korsel, paparnya, juga langsung menerapkan kebijakan pemeriksaan corona massal terutama di wilayah zona khusus. Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan swasta lantas mempercepat persiapan peralatan pemeriksaan Covid-19 dan alat medis penunjang lainnya.

Tak hanya itu, Korsel bahkan membuka tempat pemeriksaan drive through sehingga mempermudah warga melakukan tes corona dengan cara yang lebih aman.

Jee mengatakan Korsel juga memperbanyak tempat laboratorium pemeriksaan pemerintah dan swasta hingga mampu menguji 30-40 ribu sampel per hari.

"Hingga 5 Mei, pemerintah Korsel telah melakukan pemeriksaan corona terhadap lebih dari 640 ribu orang. Pemeriksaan massal sangat membantu pemerintah siapa yang harus diisolasi atau dikarantina. Ini termasuk pasien positif corona tanpa gejala," ujar Jee.

Setelah menerapkan pemeriksaan massal, Korsel juga memperkuat sistem pelacakan orang yang diduga kuat terinfeksi corona. Jee menuturkan pemerintah Korsel memanfaatkan teknologi aplikasi dan sistem GPS sehingga mudah melacak pergerakan orang-orang terutama para pelanggar kebijakan karantina.

Jee juga menuturkan pemerintah Korsel terus menerus memperbarui data statistik kasus corona dan angka kematian lengkap dengan kluster daerahnya kepada masyarakat melalui pesan singkat.

Dalam kebijakan perawatan, Jee mengatakan Korsel berupaya mengelompokkan para pasien corona berdasarkan tingkat keparahan kasus.

"Otoritas kesehatan menempatkan pasien corona dengan gejala ringan di pusat-pusat komunitas perawatan. Hal ini dilakukan demi meminimalisir sumber daya rumah sakit kewalahan dan juga memberikan kesempatan RS agar terfokus merawat pasien dengan gejala parah," papar Jee.

Selain itu, Jee mengatakan pemerintah juga berupaya mengelompokkan rumah sakit menjadi dua yakni RS yang terfokus menangani pasien corona dan RS yang merawat pasien non-corona di setiap daerah.

"Selain reaksi pemerintah yang cepat dan tepat, kemudahan akses terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya juga merupakan kunci bagi kami bisa mengendalikan penularan corona relatif cepat," kata Jee.

Berdasarkan statistik Worldometer per hari ini, Korsel tercatat memiliki 10.806 kasus corona dengan 255 kematian. Negara tersebut juga memiliki angka kematian rendah virus corona.

Padahal, Korsel sempat menjadi salah satu negara yang sangat terdampak penyebaran wabah corona di masa awal penyebaran pandemi itu. Korsel pernah menjadi negara dengan kasus corona tertinggi di luar China, tempat virus Covid-19 pertama kali terdeteksi dan menyebar.

Namun, pemerintahan Presiden Moon dianggap cepat dan tepat menanggulangi penyebaran virus serupa SARS tersebut bahkan tanpa menerapkan penguncian wilayah atau lockdown.

Kebijakan penanganan Korea Selatan pun banyak dipuji dan dicontoh negara lain.

Penasihat Pemerintah Inggris Mundur Usai Langgar Pembatasan

 Seorang ahli epidemiologi yang tergabung dalam tim penasihat pemerintah Inggris, Profesor Neil Ferguson, mengundurkan diri setelah mengaku melanggar aturan pembatasan pergerakan demi mencegah penularan virus corona (Covid-19).

Ferguson merupakan salah satu ahli penyakit menular dalam tim penasihat penanganan pandemi corona Perdana Menteri Boris Johnson. Ia juga yang menyarankan Inggris melakukan pembatasan pergerakan demi membendung penularan Covid-19.

Ferguson mundur setelah media lokal melaporkan dirinya mengizinkan wanita mengunjungi rumahnya di tengah pembatasan sosial. Padahal, ia juga tengah menjalani isolasi mandiri selama dua minggu setelah dinyatakan positif terinfeksi corona.

"Saya bertindak seperti itu dengan keyakinan bahwa saya kebal, karena telah menjalani tes corona dengan hasil positif dan menjalani isolasi mandiri secara menyeluruh hampir dua pekan lamanya sejak merasa mengalami gejala corona," kata Ferguson seperti dilansir AFP pada Rabu (6/5).

Ferguson mengaku mundur dari perannya dalam Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat Inggris. Seorang juru bicara pemerintah Inggris membenarkan pengunduran diri Ferguson tersebut.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

"Saya menerima bahwa saya membuat kesalahan dan mengambil tindakan yang salah. Saya sangat menyesal dengan tindakan saya yang melanggar aturan menjaga jarak untuk mengendalikan epidemi yang menghancurkan ini," ucap Ferguson.

Inggris, yang memiliki angka kematian corona tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat, mulai memberlakukan peraturan berdiam diri di rumah hingga penguncian wilayah (lockdown) sejak akhir Maret lalu.

Pemerintah Inggris menerapkan aturan ketat pembatasan pergerakan setelah penelitian Ferguson dan rekan-rekannya di Imperial College London memperingatkan penularan dan kematian corona akan meningkat di Inggris jika tanpa tindakan ekstrem dari pemerintah.

Per hari ini, Inggris mencatat memiliki hampir 200 ribu kasus corona. Angka kematian pasien Covid-19 di Inggris telah mencapai 32.313 orang berdasarkan data pemerintah yang dirilis pada Selasa (5/5).

Jumlah itu melampaui angka kematian corona di Italia sebanyak 29.315 orang dalam periode yang sama. Data angka kematian baru itu dirilis oleh Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) dan badan kesehatan regional.

Statistik baru itu belum dimasukkan dalam angka harian pemerintah pusat yang saat ini masih mencatat 29.427 kematian.

Korsel Ungkap Taktik Jitu Melawan Virus Corona

 Korea Selatan membeberkan strategi mereka dalam menanggulangi pandemi virus corona (Covid-19), setelah berhasil melewati puncak penyebaran dan menekan angka penularan hingga nihil kasus baru dalam beberapa waktu terakhir.

Perwakilan Korean Foundation untuk urusan Diplomasi Kesehatan, Dr. Youngmee Jee, menuturkan Korsel sudah mulai mempersiapkan langkah penanganan dan menghitung kebutuhan logistik negara dalam menghadapi penyebaran corona sekitar awal Januari 2020. Mereka mengonfirmasi kasus virus corona pertama pada 20 Januari lalu.

Dalam webinar yang digagas Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Jee menuturkan bahwa pemerintah Korsel sudah membentuk komisi pusat darurat terkait corona sekitar 3 Januari.


Tiga hari setelah dibentuk, kata Jee, komisi tersebut langsung mulai melacak pasien-pasien penyakit gangguan pernapasan yang merupakan salah satu gejala corona, dan memiliki riwayat perjalanan dari China.

"Itu semua dilakukan sebelum Korsel mengonfirmasi kasus corona pertama. Tanggapan awal yang cepat dan tepat merupakan kunci utama pengendalian penularan corona," kata Jee pada Rabu (6/5).

Sejak kasus corona pertama terkonfirmasi, Jee mengatakan pemerintahan Presiden Moon Jae-in langsung menetapkan zona khusus bagi setiap wilayah kluster penularan corona seperti Kota Daegu.

Pemerintah Korsel, paparnya, juga langsung menerapkan kebijakan pemeriksaan corona massal terutama di wilayah zona khusus. Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan swasta lantas mempercepat persiapan peralatan pemeriksaan Covid-19 dan alat medis penunjang lainnya.

Tak hanya itu, Korsel bahkan membuka tempat pemeriksaan drive through sehingga mempermudah warga melakukan tes corona dengan cara yang lebih aman.

Jee mengatakan Korsel juga memperbanyak tempat laboratorium pemeriksaan pemerintah dan swasta hingga mampu menguji 30-40 ribu sampel per hari.