Kamis, 07 Mei 2020

Warga Jepang Protes Aturan Bersikap Selama Darurat Corona

 Aturan baru tentang perilaku masyarakat yang disahkan pemerintah Jepang untuk menekan penyebaran virus corona ditentang penduduk setempat karena dinilai menggurui.

Peraturan tersebut disahkan pada Senin (4/5) lalu, ketika Jepang memperpanjang status darurat negara hingga 31 Mei.

Dilansir CNN, Rabu (6/5), dalam jumpa pers, seorang pakar panel mengatakan kasus baru virus corona di Jepang telah menurun, tetapi tindakan darurat akan tetap berlaku dan pedoman baru harus dijadikan norma.


Norma baru yang disarankan berupa kewajiban mengenakan masker di luar ruangan, menjaga jarak sekitar dua meter di antara kerumunan, memberlakukan kerja jarak jauh sebanyak mungkin, menghindari ruang penuh sesak, dan rutin mencuci tangan dengan sabun.

Selain itu, orang-orang yang bersantap di restoran harus duduk di luar, serta berdampingan sambil menjaga jarak ketika mengobrol. Hal ini semakin menambah reaksi negatif dari masyarakat.

Peraturan tersebut memicu kritik di media sosial. Sebagian penduduk Jepang mengatakan hal itu bersifat menggurui.

Salah satu pengguna Twitter menulis, "Aku tercengang. Tidak ada para ahli di dunia yang mendesak nasihat semacam ini, hanya para ahli di Jepang. Sepertinya mereka mempelajari virus, bukan perilaku manusia. Apa yang lebih menakutkan daripada virus adalah orang-orang tidak tahu yang memberikan panduan kepada masyarakat tentang cara menanganinya".

Sementara seorang pengguna Twitter lain mengunggah gambar orang-orang yang sedang bersantap seorang diri di luar ruangan, dan anak-anak di sekolah dasar makan siang di meja dengan pelindung di sekitar mereka.

"Taiwan dan Korea Selatan mengalahkan virus corona dan mereka sudah menerapkan tindakan dalam foto-foto (itu). Kami mungkin juga (akan) melakukan hal yang sama, mengenakan masker atau makan sendirian tidaklah sulit dan juga tidak melanggar hak asasi manusia," sindir pengguna Twitter itu.

Menurut stasiun televisi Jepang, NHK, pada Selasa kemarin pemerintah setempat mengatakan akan mengevaluasi kembali kondisi setiap pekan terkait pemberlakuan situasi darurat nasional.

Tak Dibelikan Lamborghini, Bocah AS Larikan Mobil Orang Tua

Seorang bocah berusia lima tahun di Amerika Serikat dihentikan kepolisian Utah karena nekat mengemudikan kendaraan milik orang tuanya menuju California.

Dilansir CNN, Rabu (6/5), ketika dihentikan anggota patroli jalan bebas hambatan kepolisian Utah, bocah tersebut mengatakan nekat membawa kabur kendaraan jenis sport utility vehicle (SUV), setelah marah kepada ibunya karena tidak dibelikan mobil mewah Lamborghini.

Menurut polisi, mereka curiga karena kendaraan tersebut berjalan dengan kecepatan sekitar 21 kilometer per jam di jalan bebas hambatan antarnegara bagian (Interstate Highway) 15.


Ketika menghentikan kendaraan tersebut, mereka menduga pengemudinya adalah seorang difabel. Namun, identitasnya baru terungkap setelah ditanyai polisi.

"Usia kamu berapa? Umur kamu lima tahun?," kata opsir Rick Morgan sembari terheran seperti terekam dalam kamera.

"Wow. Di mana kamu belajar mengemudi?," ujar Rick.


Utah Highway Patrol
✔
@UTHighwayPatrol
One of our Troopers in Weber Co. initiated a traffic stop on what he thought was an impaired driver. Turns out it was this young man, age 5, somehow made his way up onto the freeway in his parents' car. Made it from 17th and Lincoln in Ogden down to the 25th St off-ramp SB I-15.

View image on Twitter
3,747
2:00 AM - May 5, 2020
Twitter Ads info and privacy
2,286 people are talking about this


Rick bahkan membantu bocah tersebut mengarahkan kendaraan itu ke sebuah taman.

"Dia duduk di ujung kursi depan supaya bisa kakinya bisa mencapai pedal rem supaya mobil itu tetap berhenti ketika saya berdiri di sana," ujar Rick.

Rick mengatakan anak itu hendak menuju California untuk membeli Lamborghini. Namun, di sakunya hanya ada uang US$3.

Wabah Corona, Kondisi Putri Saudi yang Dipenjara Jadi Sorotan

Kondisi seorang putri Kerajaan Arab Saudi, Putri Basmah binti Saud (56), yang dipenjara tanpa sangkaan apapun kini menjadi sorotan di tengah merebaknya wabah virus corona.

Seperti dilansir AFP, Rabu (6/5), Saudi dilaporkan menolak permohonan banding diajukan Basmah. Dia disebut menghilang dari pantauan masyarakat sejak Maret 2019.

Basmah dikenal sebagai aktivis perempuan dan aktivitasnya dianggap bertentangan dengan kerajaan.


Melalui akun Twitter, Basmah menyatakan diculik dan dipenjara bersama anak perempuannya yang berusia 28 tahun, Suhoud al-Sharif. Dia meminta bantuan kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman untuk membebaskannya.

Diduga Basmah ditahan di penjara Al-Ha'ir. Penjara itu dikenal sebagai tempat untuk menahan napi terorisme dan tahanan politik.

Kemunculan surat tersebut tidak lazim karena kehidupan para anggota kerajaan sangat rahasia. Hal itu menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi Basmah di penjara di tengah ancaman penyebaran wabah virus corona.

Meski begitu, beberapa jam kemudian cuitan itu mendadak hilang karena dihapus. Menurut sumber AFP, akun Twitter tersebut sudah diretas oleh pihak tertentu di Arab Saudi.

"Sejak cuitan itu muncul, tidak ada lagi kontak, tidak diketahui lagi keberadaan putri atau Suhoud. Tidak ada lagi telepon," kata sumber tersebut.

Sepekan sebelum menghilang, Suhoud mengabarkan kepada keluarganya bahwa pengelola penjara menyatakan mendeteksi ada kasus virus corona di antara narapidana.

Menurut pengakuan sipir, ada sejumlah napi di penjara Al-Ha'ir yang positif virus corona.

Sampai saat ini tercatat ada lebih dari 25 ribu kasus positif virus corona di seluruh Saudi. Pemerintah setempat belum memberikan tanggapan terkait kondisi Putri Basmah.

Basmah dilaporkan ditangkap pada Maret 2019 di kediamannya di Jeddah, ketika hendak berangkat untuk berobat ke Swiss menggunakan jet pribadi. Saat itu sejumlah lelaki yang mengaku bekerja untuk raja menjemputnya.

Mereka mengatakan Basmah diminta hadir dalam rapat tertutup dengan kerajaan. Namun, Suhoud memutuskan mendampingi ibunya. Ternyata mereka langsung dibawa ke penjara Al-Ha'ir.

Keluarga Putri Basmah mengatakan penangkapan itu diduga karena dia kerap mengkritik tentang kekerasan terhadap perempuan dan penyalahgunaan kekuasaan di Saudi.

Selain itu, Basmah yang merupakan anak bungsu mendiang Raja Saud bin Abdulaziz dikenal dekat dengan mantan putra mahkota, Pangeran Muhammad bin Nayef.

Nayef dan saudaranya, Pangeran Ahmed, ditahan sejak Maret karena dituduh hendak makar.

Putri Basmah juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, yakni osteoporosis dan pencernaan. Keluarganya melaporkan sudah meminta pengobatan di dalam penjara, tetapi ditolak. 

Warga Jepang Protes Aturan Bersikap Selama Darurat Corona

 Aturan baru tentang perilaku masyarakat yang disahkan pemerintah Jepang untuk menekan penyebaran virus corona ditentang penduduk setempat karena dinilai menggurui.

Peraturan tersebut disahkan pada Senin (4/5) lalu, ketika Jepang memperpanjang status darurat negara hingga 31 Mei.

Dilansir CNN, Rabu (6/5), dalam jumpa pers, seorang pakar panel mengatakan kasus baru virus corona di Jepang telah menurun, tetapi tindakan darurat akan tetap berlaku dan pedoman baru harus dijadikan norma.


Norma baru yang disarankan berupa kewajiban mengenakan masker di luar ruangan, menjaga jarak sekitar dua meter di antara kerumunan, memberlakukan kerja jarak jauh sebanyak mungkin, menghindari ruang penuh sesak, dan rutin mencuci tangan dengan sabun.

Selain itu, orang-orang yang bersantap di restoran harus duduk di luar, serta berdampingan sambil menjaga jarak ketika mengobrol. Hal ini semakin menambah reaksi negatif dari masyarakat.

Peraturan tersebut memicu kritik di media sosial. Sebagian penduduk Jepang mengatakan hal itu bersifat menggurui.

Salah satu pengguna Twitter menulis, "Aku tercengang. Tidak ada para ahli di dunia yang mendesak nasihat semacam ini, hanya para ahli di Jepang. Sepertinya mereka mempelajari virus, bukan perilaku manusia. Apa yang lebih menakutkan daripada virus adalah orang-orang tidak tahu yang memberikan panduan kepada masyarakat tentang cara menanganinya".