Rabu, 06 Mei 2020

RI Bakal Produksi Ventilator Sendiri

Indonesia sebentar lagi bakal memproduksi ventilator atau alat bantu pernapasan sendiri. Sebab, sebanyak 4 ventilator yang dikembangkan baik perguruan tinggi dan swasta telah melewati uji alat. Saat ini, 4 ventilator itu masuk uji klinis.
Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menjelaskan, saat ini ada sekitar 28 usulan pembuatan ventilator. Dari 28 itu, sebanyak 4 ventilator telah menyelesaikan uji alat dan berlanjut ke uji klinis.

Sebanyak empat usulan yakni berasal dari Universitas Indonesia. Kedua dari ITB, Unpad, dan Salman. Ketiga berasal dari Dharma Group. Keempat berasal dari BPPT.

"Dari sekitar 28 usulan untuk pembuatan ventilator, 4 itu sudah bisa dikatakan menyelesaikan pengujian di BPFK Kemenkes. Jadi uji alatnya alat termasuk endurance sudah dilakukan. Saat ini yang sedang berlangsung uji klinis," katanya dalam rapat gabungan dengan DPR, Selasa (5/5/2020).

"Meskipun yang sekarang dikembangkan belum menyentuh kebutuhan ventilator ICU namun ke depan melakukan upaya penelitian sehingga akhirnya Indonesia bisa memproduksi ventilator yang digunakan untuk ruang ICU," sambungnya.

Bambang mengatakan, uji klinis ini diharapkan selesai minggu ini, sehingga pekan depan bisa diproduksi.

"Kami harapkan uji klinis bisa selesai minggu ini sehingga minggu depan diharapkan sudah mulai produksi," ungkapnya.

Lanjutnya, kapasitas produksi ventilator ini cukup tinggi. Untuk yang dikembangkan BPPT misalkan, bisa memproduksi 100 ventilator per minggu.

"Kapasitas produksi cukup tinggi untuk kerjasama yang BPPT misalkan, bisa produksi 100 unit ventilator per minggu per pabrik," ungkapnya.

Butuh 'Kelonggaran' Buat Kembangkan Alkes

Bambang mengatakan, dalam pengembangan alat kesehatan diperlukan sejumlah kelonggaran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Khususnya hasil riset dan inovasi dalam penangan Corona.

"Beberapa usulan kepada Kementerian Kesehatan yang tentunya juga partisipasi dalam raker gabungan kali ini. Dalam salah satu ratas Presiden sudah memberikan instruksi untuk mengurangi bahkan menyetop alat kesehatan yang dihasilkan dalam negeri," katanya.

"Pengertian dihasilkan, juga sudah melalui pengujian unsur safety tentunya dikedepankan," tambahnya.

Menurut Bambang, dibutuhkan semacam relaksasi dalam pengembangan alat kesehatan ini. Salah satunya, syarat pengujian di mana ia meminta adanya alternatif dari syarat Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB).

Menurutnya, hal itu akan sulit dipenuhi bagi industri yang selama ini belum pernah membuat alat kesehatan. Ia mencontohkan seperti PT Pindad (Persero) dan PT Len Industri (Persero).

"Kita sudah koordinasi Pak Menkes, Pak Menkes dibuatkan semacam SOP sebagai pengganti atau alternatif CPAKB," ujarnya.

Dia juga meminta protokol khusus dalam pengujian dalam keadaan darurat. Selanjutnya, penetapan alasan tertentu untuk alat kesehatan hasil riset dan inovasi yang ditetapkan Menteri Kesehatan agar masuk dalam pengecualian yang harus ada izin edar.

"Mengingat yang kami lakukan sekarang bukan semata-mata untuk komersial," ujarnya.

Misteri Hewan Perantara yang Tularkan Corona ke Manusia

 Virus Corona COVID-19 diduga kuat berasal dari kelelawar, tapi menular ke manusia melalui hewan perantara. Nah, spesies hewan tersebut sejauh ini masih misterius dan mungkin sukar ditemukan.
Dikutip detikINET dari BBC, Rabu (6/5/2020) belum pula jelas apakah binatang itu termasuk yang dijual di pasar hewan Wuhan, lokasi awal wabah Corona. Namun memang perdagangan hewan liar dinilai sebagai potensi besar sumber 'bocornya' COVID-19 ke manusia.

Pakar penyakit umumnya sepakat virus ini awalnya melompat tak terdeteksi antar spesies. "Penyakit ini muncul lebih sering belakangan sebagai hasil gangguan manusia ke habitat liar dan meningkatnya kontak serta pemanfaatan hewan liar oleh orang," cetus Profesor Andrew Cunningham dari Zoological Society of London.

Kejadian semacam itu bukan hal baru, meskipun ada yang menduga atau menuding COVID-19 dibuat atau bocor dari laboratorium virus di Wuhan. Wabah seperti Ebola, Rabies, SARS dan MERS pun berasal dari populasi kelelawar liar.

Penyebaran COVID-19 banyak disebutkan dimulai di pasar hewan liar di Wuhan. Akan tetapi sumber virus ini, yaitu binatang dengan patogen tersebut di tubuhnya, tidak ditemukan di pasar tersebut.

"Klaster awal infeksi diasosiasikan dengan pasar itu, ini merupakan bukti tidak langsung. Infeksi bisa saja berasal dari tempat lain dan kebetulan, terpusat di sekitar orang di pasar itu," papar Profesor James Wood dari University of Cambdrigde.

Meski demikian, pasar hewan liar memang rentan membuat penyakit hewan menemukan 'rumah' baru. "Mencampurkan jumlah besar spesies dengan kondisi kotor serta spesies itu tidak biasanya berdekatan, menimbulkan peluang patogen melompat antar spesies," ujar Profesor Andrew.

Sebagian virus yang menular ke manusia berasal dari spesies kedua dari sumber asal, biasanya yang diburu atau dijual di sebuah pasar. "Virus SARS original menular ke populasi manusia melalui epidemi yang terjadi pada musang, yang diperdagangkan di selatan China untuk dimakan," tambah Profesor James.

Seperti disebutkan, sejauh ini hewan perantara yang membawa COVID-19 belum terdeteksi. Namun jelas untuk mencegah kejadian semacam ini muncul lagi, regulasi perdagangan hewan liar perlu diperketat.

"Mencoba memastikan bahwa kita tidak membawa kehidupan liar kontak langsung dengan kita atau dengan hewan domestik adalah bagian penting dari upaya ini," usul Profesor James.

RI Bakal Produksi Ventilator Sendiri

Indonesia sebentar lagi bakal memproduksi ventilator atau alat bantu pernapasan sendiri. Sebab, sebanyak 4 ventilator yang dikembangkan baik perguruan tinggi dan swasta telah melewati uji alat. Saat ini, 4 ventilator itu masuk uji klinis.
Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menjelaskan, saat ini ada sekitar 28 usulan pembuatan ventilator. Dari 28 itu, sebanyak 4 ventilator telah menyelesaikan uji alat dan berlanjut ke uji klinis.

Sebanyak empat usulan yakni berasal dari Universitas Indonesia. Kedua dari ITB, Unpad, dan Salman. Ketiga berasal dari Dharma Group. Keempat berasal dari BPPT.

"Dari sekitar 28 usulan untuk pembuatan ventilator, 4 itu sudah bisa dikatakan menyelesaikan pengujian di BPFK Kemenkes. Jadi uji alatnya alat termasuk endurance sudah dilakukan. Saat ini yang sedang berlangsung uji klinis," katanya dalam rapat gabungan dengan DPR, Selasa (5/5/2020).

"Meskipun yang sekarang dikembangkan belum menyentuh kebutuhan ventilator ICU namun ke depan melakukan upaya penelitian sehingga akhirnya Indonesia bisa memproduksi ventilator yang digunakan untuk ruang ICU," sambungnya.

Bambang mengatakan, uji klinis ini diharapkan selesai minggu ini, sehingga pekan depan bisa diproduksi.

"Kami harapkan uji klinis bisa selesai minggu ini sehingga minggu depan diharapkan sudah mulai produksi," ungkapnya.

Baca juga: 'Transformers' Mondar-mandir Uji Corona Mulai 20 Mei
Lanjutnya, kapasitas produksi ventilator ini cukup tinggi. Untuk yang dikembangkan BPPT misalkan, bisa memproduksi 100 ventilator per minggu.

"Kapasitas produksi cukup tinggi untuk kerjasama yang BPPT misalkan, bisa produksi 100 unit ventilator per minggu per pabrik," ungkapnya.