Rabu, 06 Mei 2020

Satgas COVID-19 DPR Jawab Tudingan Impor Jamu China

Satgas Lawan COVID-19 DPR RI sempat dicecar soal impor obat tradisional atau jamu asal China. Kritik dilayangkan oleh DPP Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi VI DPR RI beberapa waktu lalu.

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi kala itu menuding Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19 DPR RI mengimpor obat tradisional asal China untuk mengobati pasien Corona.

"Saya melihat Satgas DPR RI mengimpor jamu dari luar secara besar, sehingga saya orang Indonesia Ketua GP Jamu saya terus terang keberatan dengan hal ini, karena yang saya tahu formula yang ada di dalam jamu impor itu yang diberikan oleh Satgas DPR RI itu juga kami bisa buat," kata dia Senin (27/4/2020).

Akhirnya kedua belah pihak bertemu untuk saling mengklarifikasi terkait maraknya pemberitaan negatif tentang penyaluran Herbavid-19, obat herbal untuk pasien positif COVID-19 yang dianggap diimpor dari Tiongkok.
Pertemuan yang dipimpin oleh Ketua Satgas Lawan Covid-19 DPR RI yang juga merupakan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad itu juga dihadiri oleh para Anggota SATGAS Lawan Covid-19 DPR RI seperti Andre Rosiade, Habiburokhman, Emanuel Melkiades Laka Lena, Wihadi Wiyanto, serta Arteria Dahlan.

Dalam pertemuan tersebut, Sufmi Dasco menjelaskan bahwa selama ini telah terjadi kesalahpahaman atas dugaan impor besar-besaran obat herbal dari Tiongkok yang dilakukan oleh SATGAS Lawan Covid-19 DPR RI. Ia menegaskan Herbavid-19 adalah produk dalam negeri.

"Ada kesalahpahaman yang disampaikan GP Jamu yang menyebut bahwa satgas covid 19 DPR itu memasukkan atau mengimpor besar-besaran jamu berbentuk kapsul. Padahal yang mengimpor dalam bentuk kapsul itu bukan kami," kata Sufmi Dasco dalam pertemuan tersebut di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Andre menambahkan telah terjadi kesalahpahaman atas dugaan impor besar-besaran obat herbal dari Negeri Tirai Bambu oleh Satgas Lawan Covid-19 DPR RI. Dia menegaskan Herbavid-19 adalah produk dalam negeri.

"Ada kesalahpahaman yang disampaikan GP Jamu yang menyebut bahwa satgas COVID-19 DPR itu memasukkan atau mengimpor besar-besaran jamu berbentuk kapsul. Padahal yang mengimpor dalam bentuk kapsul itu bukan kami," kata Andre dalam pertemuan tersebut.

Pada pertemuan tersebut, lanjut Andre, pihak GP Jamu mengklarifikasi bahwa tidak ada bahan berbahaya dan terlarang dalam kandungan Herbavid-19. Jadi tak seperti yang ramai diperbincangkan.

"Ibu Ranny juga sudah mengklarifikasi bahwa Herbavid-19 tidak diimpor," sebut Andre.

Respons pengusaha jamu

Terlepas dari isu yang beredar, Andre menjelaskan Satgas Lawan Covid-19 DPR juga menyampaikan dukungan kepada GP Jamu. Kedua belah pihak juga membahas rencana kolaborasi untuk memerangi penyebaran COVID-19 dengan menggenjot produksi jamu herbal di dalam negeri.

"Jadi tadi ada masukan dari kedua belah pihak yang harapannya nanti produksi jamu ini tumbuh dan berkembang di kita," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum DPP GP Jamu mengakui adanya kesalahpahaman terkait informasi yang menyebut adanya impor jamu dari Tiongkok untuk penyembuhan pasien COVID-19. Dia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada DPR.

"Memang kemarin terjadi kesalahpahaman, karena yang saya lihat itu foto dan belum dapat klarifikasi. Saya tidak menyangka menjadi viral. Tapi ya sudah terjadi, dan kita sudah saling sepaham. Hal yang tidak tepat sudah saya sampaikan dengan klarifikasi dan saya mohon maaf," sebutnya.

Pihaknya menyambut positif untuk bersinergi dengan DPR dalam mendukung kemajuan produksi jamu lokal agar tidak mati tergerus zaman.

"Ada beberapa poin yang saya sampaikan agar kita sama-sama kita perbaiki kedepan. Yang terutama kita bersinergi untuk kepentingan dan kemajuan jamu Indonesia yang memang kami akan di-support oleh DPR RI khususnya komisi IX," tambahnya.

Semua Orang Sekarang Jadi Produsen Masker

Produsen masker jumlahnya meningkat drastis selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat angkanya melonjak lebih dari 200%.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Engko Sosialine Magdalene menjelaskan sebelum adanya wabah virus Corona, jumlah produsen masker hanya 26. Kini yang sudah mendapatkan izin menjadi 83 produsen.

"Perizinan sudah dilakukan dan ini terbukti seperti produsen masker. Di awal tahun hanya 26 produsen. Saat ini sudah berjumlah 83 produsen. Artinya terdapat peningkatan lebih dari 200%, adanya perizinan untuk produsen masker," kata dia dalam rapat kerja gabungan dengan Komisi VI, VII dan IX secara virtual, Selasa (5/5/2020).

Kata dia, hal serupa juga terjadi di produk alat pelindung diri (APD) serta ventilator. Pihaknya mencatat adanya peningkatan perizinan untuk memproduksi alat kesehatan (alkes) tersebut. Namun dia tak menyebutkan angkanya.

Selanjutnya, pihaknya juga menyampaikan adanya peningkatan izin edar produk kesehatan buatan dalam negeri. Contohnya adalah hand sanitizer.

"Sekarang sudah lebih dari 600 izin edar yang diterbitkan selama masa COVID-19 ini. Dan relaksasi-relaksasi juga tentu saja diberikan untuk terkait dengan perizinan ataupun izin edar ini," jelasnya.
Baca juga: Pengusaha di Banten Ngap-ngapan Bayar THR

Pihaknya berjanji untuk mempercepat perizinan di sektor alat kesehatan, tak hanya di masa pandemi saja melainkan untuk seterusnya.

Tentu diharapkan tidak ada penimbunan yang bikin masker langka.

Pemerintah telah menggencarkan penggunaan masker kain untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). Alhasil permintaan masker medis, yang sempat ditimbun, akhirnya anjlok.

Sekjen Perhimpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka (PPFPP) Yoyon mengatakan masker medis di Pasar Pramuka sudah tak laku lagi. Bahkan pihaknya belum lama ini membagikan masker secara gratis.

"Udah nggak laku sekarang (masker medis). Sudah banyak yang gratis, dibagiin (masker di pramuka) sudah nggak laku. Terakhir kita bagi-bagiin ke warga sekitar, ke pengunjung, nggak sempat kita data (berapa masker yang dibagikan) pokoknya sudah ada seminggu," katanya kepada detikcom, Rabu (29/4/2020).

Yoyon menjelaskan, hanya sebagian pedagang yang masih bertahan berjualan masker medis. Di saat harga masker medis masih tinggi, namun permintaan menurun sehingga banyak pedagang yang tak sanggup menjualnya.

"Masih ada yang jual (masker medis) 1-2 orang. Kalau ada 1-2 orang yang menjual itu paling stok yang lama," ujarnya.

Untuk itu, ia berpesan kepada para penimbun masker agar berhenti melakukan aksi jahatnya yang merugikan orang lain. Menurutnya, kejadian ini merupakan balasan untuk para penimbun karena masker medisnya sudah tak banyak diminati lagi.

"Untuk para penimbun masker yang bukan pedagang di (Pasar) Pramuka ya rasain aja sekarang. Dulu menyiksa rakyat Jakarta dan Indonesia, ya sekarang rasain aja mereka semua. Saya si amat sangat bersyukur dengan tidak lakunya masker-masker mereka lagi," ucapnya.