Selasa, 14 April 2020

Diidap Glenn Fredly Sebelum Meninggal, Begini Meningitis Ditularkan

Kabar duka kembali terdengar, musisi Glenn Fredly meninggal dunia pada Rabu (8/4/2020) di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan. Menurut perwakilan dari pihak keluarga, Glenn meninggal karena meningitis yang dideritanya.
"Akibat meningitis," kata perwakilan keluarga, Mozes Latuihamalo, dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2020).

Sama seperti penyakit lainnya, meningitis atau radang selaput otak bisa menular antarmanusia. Dokter bedah saraf dari RS Mayapada, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, mengatakan meningitis bisa menular melalui droplet atau percikan yang keluar dari mulut saat batuk atau bersin.

"Penularan bisa terjadi karena kontak langsung, bisa karena droplet dari batuk dan bersin. Jadi sama seperti penyakit lainnya yang karena virus dan bakteri," kata dr Ryu kepada detikcom, Kamis (9/4/2020).

dr Ryu juga menjelaskan saat seseorang batuk atau bersin, droplet yang dikeluarkan tak hanya mengandung virus tetapi juga bakteri.

"Jadi dalam droplet itu bisa keluar virus, bakteri, mikroba bakteri dan kalau sudah sampai masuk ke selaput otak itu komplikasinya bisa mcam-macam bahkan kematian," tuturnya.

Dua Ibu Hamil di Peru Positif Corona Lahirkan Bayi dalam Kondisi Sehat

Dua wanita yang tengah hamil di Paru dilaporkan positif virus Corona COVID-19. Sempat ada kekhawatiran bahwa bayi bisa tertular virus Corona COVID-19 dari ibunya.
Meski begitu, pasca persalinan tim medis setempat memeriksa kedua bayi tersebut. Hasilnya, kedua bayi ini dinyatakan negatif Corona.

Mengutip Reuters, kabar baik ini disampaikan oleh Rumah Sakit Rebagliati, di Peru pada Selasa (7/4/2020). Bayi pertama lahir pada 27 Maret sedangkan bayi kedua lahir pada 31 Maret.

Kedua bayi tersebut diketahui lahir melewati operasi caesar. Hal ini berdasarkan saran dokter untuk menghindari komplikasi.

"Untungnya, belum ada penularan vertikal, itu berarti tidak ada penularan dari ibu ke bayi baru lahir," ujar Carlos Albretch, dokter di bagian unit keluarga RS Rebagliati.

Sementara sang ibu dikabarkan dalam kondisi sehat meski dinyatakan positif Corona. Keduanya pun masih menerima pengobatan untuk virus Corona COVID-19 yang mereka idap.

Kisah Para Pasien yang Tak Kena Corona Tapi Ikut Rasakan Dampak Pandemi

 Wabah virus Corona COVID-19 membebani layanan kesehatan di Indonesia akibat terus bertambahnya kasus infeksi. Para pasien dengan berbagai kondisi yang biasanya harus kontrol rutin ke fasilitas kesehatan turut merasakan dampaknya.

Sebagai contoh seorang ibu hamil, Eva Aprilia (24), mengaku kini hanya bisa datang sendiri untuk periksa kehamilan di klinik dekat rumahnya daerah Cipayung, Jakarta Timur. Sang suami yang biasa menemani harus menunggu di luar karena klinik hanya mengizinkan pasien masuk.

"Ada susternya gitu jaga di depan pintu. Pas baru dateng di meja depan udah disiapin hand sanitizer terus disuruh pakai sebelum masuk, abis itu dicek suhu. Yang boleh masuk yang sakit aja, yang nganter disuruh tunggu di luar," kata Eva pada detikcom, Kamis (9/4/2020)

"Khusus untuk ibu hamil yang boleh periksa usia kandungannya harus di atas 30 minggu. Di bawah itu gak boleh check-up," lanjutnya.

Sementara itu pasien kanker Radian Nyi Sukmasari (28) bercerita rumah sakit tempatnya biasa kontrol mulai mempersingkat waktu kunjungan. Wanita yang akrab disapa Dian ini masih menjalani terapi untuk kanker payudara yang metastasis ke tulang belakang.

"Waktu berobat lebih terbatas dan pendek. Selebihnya sama aja," ungkap Dian.

Nggak Selalu Asik, Ini Alasan WFH Lebih Melelahkan Secara Fisik dan Mental

 Pandemi virus Corona telah membuat perubahan besar dalam bekerja. Adanya arahan untuk jaga jarak dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mengakibatkan pusat perkantoran ditutup dan karyawan diminta bekerja di rumah atau WFH.
Saat ini semakin banyak orang yang bekerja di rumah. Bahkan menurut Global Workplace Analytics terjadi peningkatan 159 persen dalam pekerjaan jarak jauh terlebih saat wabah virus corona.

Arahan bekerja dari rumah membuat banyak orang bersorak. Siapa sih yang nggak pengin tetap produktif dan bekerja di rumah saja? Tapi jangan salah ternyata WFH lebih melelahkan baik secara fisik maupun mental. Berikut alasannya dikutip detikcom dari berbagai sumber.

1. Jam kerja terasa lebih lama
Ketika di kantor, ada jam-jam yang telah ditentukan dan segalanya terlihat lebih terstruktur baik itu untuk makan siang atau jam pulang. Saat bekerja dari rumah, kadang sulit untuk mengkondisikan jam kerja. Waktu kerja yang terlalu 'fleksibel' juga membuat tidak adanya batasan kapan harus bekerja dan kapan istirahat dan sulit untuk komunikasi tatap muka menjadikan beberapa pekerjaan tidak selesai pada waktunya.

2. Terlalu banyak gangguan
Saat bekerja di rumah, gangguan kecil yang dihadapi adalah harus membersihkan rumah atau mengurus anak sembari selalu standby di depan komputer. Belum lagi jika koneksi internet putus yang membuat meeting dengan klien harus tertunda.

Oh jangan lupa juga dengan godaan rebahan sambil bekerja. Bisa-bisa kerjaan nggak beres karena tergoda untuk tidur siang yang harusnya hanya 30 menit malah jadi 2 jam.

3. Sulit fokus
Terlalu banyak gangguan saat Work From Home menjadikan banyak pekerja sulit fokus sehingga membuat energi menjadi habis dan cepat lelah. Manajemen waktu yang buruk saat self isolated juga membuat bekerja dari rumah terasa lebih melelahkan daripada bekerja di kantor.

4. Kurang bergerak
Tidak bisa dipungkiri bekerja dari rumah membuat seseorang kurang bergerak. Kurang gerak menyebabkan otot dan sendi menjadi kaku sehingga mudah terasa sakit. Menghabiskan waktu 24 jam di rumah tanpa disadari membuat banyak orang tidak lagi bisa jogging atau ngegym yang biasanya dilakukan sepulang kerja.

Untuk itu, disarankan melakukan olahraga intensitas ringan meski di rumah. Sekadar kardio 30 menit dengan alat-alat sederhana di rumah bisa membantu.

Diidap Glenn Fredly Sebelum Meninggal, Begini Meningitis Ditularkan

Kabar duka kembali terdengar, musisi Glenn Fredly meninggal dunia pada Rabu (8/4/2020) di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan. Menurut perwakilan dari pihak keluarga, Glenn meninggal karena meningitis yang dideritanya.
"Akibat meningitis," kata perwakilan keluarga, Mozes Latuihamalo, dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2020).

Sama seperti penyakit lainnya, meningitis atau radang selaput otak bisa menular antarmanusia. Dokter bedah saraf dari RS Mayapada, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, mengatakan meningitis bisa menular melalui droplet atau percikan yang keluar dari mulut saat batuk atau bersin.

"Penularan bisa terjadi karena kontak langsung, bisa karena droplet dari batuk dan bersin. Jadi sama seperti penyakit lainnya yang karena virus dan bakteri," kata dr Ryu kepada detikcom, Kamis (9/4/2020).

dr Ryu juga menjelaskan saat seseorang batuk atau bersin, droplet yang dikeluarkan tak hanya mengandung virus tetapi juga bakteri.

"Jadi dalam droplet itu bisa keluar virus, bakteri, mikroba bakteri dan kalau sudah sampai masuk ke selaput otak itu komplikasinya bisa mcam-macam bahkan kematian," tuturnya.