Minggu, 12 April 2020

Viral Ajakan RI Berhenti Total 3 Hari, Ini Kata Jubir Penanganan Corona

Di media sosial viral ajakan soal Indonesia berhenti total selama tiga hari untuk melawan wabah virus Corona COVID-19. Disebut hal ini mulai berlaku mulai hari Jumat (10/4/2020) hingga Minggu (12/4/2020).

"Virus tidak bisa pindah kecuali dipindahkan, dan jika dalam 24 jam tidak dipindahkan, virus mati sendiri," tulis pesan tersebut.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menegaskan ajakan tersebut tidak jelas sumbernya.

"Tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Achmad Yurianto pada detikcom, Kamis (9/4/2020).

Satu hal yang jelas pemerintah sudah mulai menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah. Di Jakarta misalnya PSBB akan diterapkan mulai Jumat (10/4/2020).

Menurut Permenkes 9 tahun 2020 PSBB ini dilakukan selama masa inkubasi terpanjang yaitu 14 hari. Namun penerapan dapat diperpanjang tergantung dari laporan kasus konfirmasi terakhir.

Ada enam hal yang dibatasi atau diatur dalam PSBB yaitu sekolah, tempat kerja, kegiatan keagamaan, fasilitas umum, transportasi massal, hingga kegiatan sosial dan budaya.

Peneliti China Ungkap Virus Corona Mampu Menyebar hingga 4 Meter

Baru-baru ini, sebuah studi menyebut virus Corona COVID-19 menyebar melebihi jarak aman yang selama ini direkomendasikan. Virus Corona COVID-19 disebut menyebar sampai 4 meter jauhnya melebihi batas aman physical distancing.
Studi ini memeriksa sampel udara dari bangsal rumah sakit pada pasien Corona. Mereka pun mengatakan kalau sejumlah kecil virus yang ditemukan ini belum tentu berisiko menular.

Awal dari investigasi peneliti China ini dimuat pada Jurnal Emerging Infectious Disease dari CDC, Jumat (10/4/2020). Hasil penelitian ini membuat perdebatan panjang terkait dengan bagaimana virus Corona COVID-19 ditularkan.

Studi yang dipimpin oleh tim di Akademi Ilmu Kedokteran Militer, Beijing, menguji sampel permukaan dan udara dari unit perawatan intensif dan ruangan pasien Corona di Rumah Sakit Houshenshan di Wuhan. Ruangan tersebut menampung sebanyak 24 pasien antara 19 Februari dan 2 Maret.

Hasil menunjukkan virus Corona tersebut paling banyak ditemukan di lantai ruangan rumah sakit. "Mungkin karena gravitasi dan aliran udara yang menyebabkan sebagian besar tetesan virus jatuh ke lantai," kata peneliti tersebut dikutip dari AFP.

Selain itu, virus Corona COVID-19 juga ditemukan pada permukaan yang sering disentuh seperti mouse komputer, tempat sampah, sisi tempat tidur, dan kenop pintu.

"Selanjutnya, setengah dari sampel ini juga terdapat dari sol sepatu staf medis ICU yang dites positif," tulis tim itu. "Karena itu, sol sepatu staf medis mungkin bisa disebut sebagai pembawa."

Komunitas Meditasi Ini Ciptakan 'Vaksin' dan Frekuensi Penangkal Corona

Meningkatnya jumlah kasus virus Corona COVID-19 di Indonesia membuat komunitas Samadhi (meditasi) yaitu, Samadhi Chakra Mandhala membuat ramuan penangkal COVID-19. Selain itu, membuat suara dengan frekuensi khusus untuk merusak sel virus dalam tubuh manusia.
Pendiri Samadhi Chakra Mandhala, Detik Wicaksono mengatakan, bahwa pihaknya sengaja membuat riset untuk ramuan dan suara tersebut untuk menekan kasus COVID-19 di Indonesia. Mengingat saat ini jumlah kasus positif COVID-19 setiap harinya mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

"Kalau bicara idenya bukan ide pribadi ya, kan di Jawa sudah ada catatan-catatan sebelumnya dalam menangani pageblug (munculnya wabah). Karena itu saya minta tolong teman-teman untuk tracking ilmu-ilmu leluhur kita," katanya saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Sabtu (11/4/2020).

Setelah melakukan tracking, ternyata para leluhur menggunakan 7 bahan baku untuk membuat ramuan herbal. Di mana ramuan itu ternyata dapat berfungsi untuk melemahkan bahkan mungkin sampai mematikan COVID-19, khususnya kepada orang yang sudah terkena dampak COVID-19.

"Jadi 7 bahan itu ada kapulaga, ada cengkeh, jahe, kunyit, asem Jawa, madu dan kayu manis. Nah, masing-masing ada khasiatnya dan 7 ramuan itu sudah ada sejak lama," ucapnya.

Terpopuler: Viral Surat Terbuka Sebut AC Tingkatkan Risiko Corona, Ini Faktanya

Sempat viral di media sosial, sebuah surat terbuka yang menyebut air conditioner (AC) dapat memudahkan penularan virus Corona COVID-19 di dalam ruangan. Dalam surat tersebut, Prof dr Madarina Julia, Sp A (K), MPH, Ph, D, dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyampaikan usulannya terkait saran untuk mengurangi penggunaan AC di tempat-tempat umum.
Saat dikonfirmasi, Prof Madarina membenarkan pernyataan tersebut. Namun menurutnya pernyataan yang kemudian menjadi viral seolah melayangkan 'surat terbuka' ini keliru, karena awalnya itu hanya ditunjukkan kepada Deputi Menko Kesra, Prof Agus Sartono.

"Itu awalnya hanya obrolan biasa dengan Prof Agus, bukan surat terbuka ya. Saya juga tanya beliau kenapa bisa jadi ramai, mungkin karena beliau share di grup WhatsAppnya, ini hanya usulan pribadi saja, dan saya bukan bagian dari MMR ya," ungkapnya kepada detikcom Rabu (8/4/2020).

Lantas benarkah AC bisa meningkatkan risiko infeksi virus Corona?

Pakar Epidemiologi Penyakit Infeksi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr dr Hari Kusnanto Josef mengatakan hingga saat ini belum ada studi terkait AC bisa meningkatkan risiko penularan virus Corona COVID-19. Meski begitu pada beberapa studi lain mengungkapkan bahwa virus ini akan lebih mudah menular di lingkungan bersuhu dingin dan kering, dibandingkan jika berada di suhu panas dan kelembaban tinggi.

"Secara teoritis kemungkinan bisa, tetapi sampai sekarang belum ada penelitian terkait penularan COVID-19 dari penggunaan AC," katanya dalam keterang tertulis yang dikirim Humas UGM, Kamis (9/4/2020).

Menurutnya penelitian terkait penggunaan AC dengan penularan virus Corona baru dilakukan pada penyakit SARS. Hasilnya memang menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap penggunaan AC dengan penularan SARS.

"Kalau SARS sudah ada penelitiannya, ada penularan dari AC namun jarang sekali kejadiannya. Saat itu di Hotel Metro Hongkong," ujarnya.

Meski hingga kini belum ada studi terkait AC dan penyebaran virus Corona COVID-19, Prof Hari mengatakan bahwa ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang terbatas dapat meningkatkan risiko penyebaran virus.

"Di ruang tertutup dengan sirkulasi minim berisiko besar menyebarkan virus, terlebih ruang sempit dan AC hidup terus. Karenanya, diusahakan jendela-jendela dibuka sehingga ada pergantian udara, tidak hanya muter terus udaranya," jelasnya.

Tak hanya itu, Prof Hari juga menuturkan bahwa virus Corona tidak akan bisa bertahan hidup lama di udara. Karena rata-rata virus hanya bisa bertahan 30 menit di udara, tidak seperti di permukaan benda yang mampu bertahan selama berhari-hari.

"Jadi pakai AC di rumah itu tidak masalah. Tidak usah khawatir selama tidak ada keluarga yang positif ataupun melakukan kontak dengan yang terinfeksi COVID-19," kata Hari.

Viral Ajakan RI Berhenti Total 3 Hari, Ini Kata Jubir Penanganan Corona

Di media sosial viral ajakan soal Indonesia berhenti total selama tiga hari untuk melawan wabah virus Corona COVID-19. Disebut hal ini mulai berlaku mulai hari Jumat (10/4/2020) hingga Minggu (12/4/2020).

"Virus tidak bisa pindah kecuali dipindahkan, dan jika dalam 24 jam tidak dipindahkan, virus mati sendiri," tulis pesan tersebut.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menegaskan ajakan tersebut tidak jelas sumbernya.

"Tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Achmad Yurianto pada detikcom, Kamis (9/4/2020).

Satu hal yang jelas pemerintah sudah mulai menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah. Di Jakarta misalnya PSBB akan diterapkan mulai Jumat (10/4/2020).

Menurut Permenkes 9 tahun 2020 PSBB ini dilakukan selama masa inkubasi terpanjang yaitu 14 hari. Namun penerapan dapat diperpanjang tergantung dari laporan kasus konfirmasi terakhir.

Ada enam hal yang dibatasi atau diatur dalam PSBB yaitu sekolah, tempat kerja, kegiatan keagamaan, fasilitas umum, transportasi massal, hingga kegiatan sosial dan budaya.