Minggu, 12 April 2020

Sama-sama Disebabkan Virus Corona, Ini Perbandingan SARS, MERS dan COVID-19

Saat ini seluruh dunia sedang berjibaku menghadapi pandemi COVID-19. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini telah menginfeksi lebih dari 1,6 juta penduduk di seluruh dunia dan menyebabkan sekitar 100 ribu orang meninggal dunia.
Sebelum COVID-19 mewabah, sudah ada dua penyakit yang juga disebabkan oleh virus corona yakni SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome). Kedua penyakit tersebut juga menimbulkan peradangan paru. Infeksi virus corona pada manusia dapat bermenifestasi sebagai flu biasa hingga bronkitis atau pneumonia sampai sindrom pernapasan akut.

Tapi seberapa mirip kah virus corona SARS, MERS, dan COVID-19? Berikut penjelasannya dikutip dari Medical News Today.

SARS
Sindrom pernapasan akut ini disebut juga SARS-CoV. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelompok kasus SARS pertama terjadi di provinsi Guangdong, China, November 2002. Penelitian telah mengidentifikasi kelelawar tapal kuda sebagai reservoir alami SARS-CoV. Musang dan hewan di pasar basah juga kemungkinan berkontribusi terhadap virus yang berpindah dari hewan ke manusia.

WHO pertama kali diberitahu adanya 100 kematian akibat penyakit menular baru pada 10 Februari 2003. Setelah itu, otoritas kesehatan China membuat laporan resmi 300 kasus dan lima kematian akibat sindrom pernapasan akut. Lalu pada 12 Maret 2003, WHO mengeluarkan peringatan kedaruratan kesehatan global karena pneumonia atipikal.

Selang tiga hari setelahnya, WHO mengeluarkan nama resmi SARS dan berbagai saran perjalanan serta meminta para pelancong mengetahui gejala-gejala kondisi tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa penyakit itu menyebar ke seluruh dunia oleh orang-orang yang menggunakan transportasi udara.

Sebuah makalah yang diterbitkan 15 Mei 2003 dalam The New England Journal of Medicine mengidentifikasi virus corona baru sebagai patogen yang mendasarinya. WHO secara resmi mendeklarasikan epidemi SARS untuk diatasi pada 5 Juli tahun itu.

Ringkasan:

Patogen: SARS-CoV
Total jumlah kasus: 8.439, 21 persen di antaranya menjangkiti petugas layanan kesehatan
Total kematian: 812
Tingkat kefatalan: 9,6 persen
Cara penularan: droplet saat batuk, bersin, bernapas atau berbicara
Masa inkubasi rata-rata: 5 hari
Gejala utama: batuk kering, demam, dan diare pada minggu pertama
Kelompok berisiko: orang dengan kondisi medis
Vaksin: tidak ada vaksin

MERS
Pada 20 September 2012, Program Pemantauan Penyakit yang Muncul (Program for Monitoring Emerging Diseases) melaporkan kasus virus corona baru yang ditemukan dari sampel dahak seorang pria Arab Saudi usia 60 tahun yang telah meninggal 3 bulan sebelumnya.

Dalam bulan berikutnya, jumlah kasus MERS yang dikonfirmasi naik menjadi 9 dengan lima kematian. Kasus paling awal terjadi pada April 2012. Di seluruh dunia, 27 negara telah melaporkan kasus MERS sejak 2012, tetapi sekitar 80 persen kasus terjadi di Arab Saudi.

MERS-CoV adalah virus zoonosis, artinya sebagian besar kasus infeksi menular dari hewan ke manusia. Menurut WHO, kontak langsung atau tidak langsung dengan unta adalah sumber penularan paling umum.

Ringkasan

Patogen: MERS-CoV
Total jumlah kasus: 2.519
Total kematian: 866
Tingkat kefatalan: 34,3 persen
Cara penularan: tetesan droplet unta ke manusia
Gejala utama: demam, batuk, sesak napas.
Kelompok berisiko: Pria di atas usia 60, terutama mereka yang memiliki kondisi medis yang mendasari seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan gagal ginjal
Vaksin: tidak ada vaksin

COVID-19
Coronavirus SARS-CoV-2 adalah patogen yang menyebabkan COVID-19. Virus ini sangat mirip dengan SARS-CoV. Kasus COVID-19 pertama dilaporkan di Wuhan, China, pada bulan Desember 2019.

Pada tanggal 5 Januari 2020, WHO menerbitkan berita pertama tentang wabah yang tidak diketahui penyebabnya. Pada akhir Januari, WHO telah menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Nama COVID-19 secara resmi diciptakan, oleh WHO, pada 11 Februari. Tepat 1 bulan kemudian, organisasi menyatakan pandemi. Sampai saat ini, kasus COVID-19 telah dilaporkan di setiap benua kecuali Antartika.

Karena jumlah infeksi dan kematian akibat COVID-19 terus meningkat, para peneliti bekerja untuk mengidentifikasi perawatan dan vaksin yang sesuai untuk mengekang pandemi.

Ringkasan

Patogen: SARS-CoV-2
Total jumlah kasus: 1.6 juta (kemungkinan masih akan terus bertambah)
Total kematian: lebih dari 100 ribu jiwa
Tingkat kefatalan: 1,38 persen hingga 3,4 persen
Cara penularan: droplet saat batuk, bersin, atau berbicara
Masa inkubasi rata-rata: 5 hari
Gejala utama: demam, batuk kering, napas pendek
Kelompok berisiko: orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, dan orang-orang dari segala usia dengan kondisi medis yang mendasarinya
Vaksin: Tidak ada vaksin, meskipun beberapa kandidat vaksin sedang dalam pengembangan

Ilmuwan Temukan Enam Jenis Virus Corona Baru pada Kelelawar

Peneliti yang tergabung dalam Smithsonian's Global Health Program telah menemukan enam jenis virus corona baru pada kelelawar di Myanmar. Studi selanjutnya akan mengevaluasi potensi penularan lintas spesies untuk lebih memahami risiko terhadap kesehatan manusia. Disebutkan oleh penulis, virus corona baru yang ditemukan tersebut tidak terkait langsung dengan SARS, MERS, atau COVID-19.
Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE akan membantu memahami keanekaragaman virus corona pada kelelawar sebagai upaya global untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons penyakit menular yang dapat mengancam kesehatan masyarakat, mengingat adanya pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung.

"Pandemi virus ini mengingatkan kita betapa dekatnya kesehatan manusia dengan kesehatan satwa liar dan lingkungan. Di seluruh dunia, manusia berinteraksi dengan satwa liar dengan frekuensi yang semakin meningkat, jadi semakin kita mengerti tentang virus ini pada hewan, apa yang memungkinkan mereka untuk bermutasi dan bagaimana mereka menyebar ke spesies lain, maka semakin besar potensi mengurangi risiko pandemi," kata Marc Valitutto, dokter hewan satwa liar di Program Kesehatan Global Smithsonian dan penulis utama penelitian ini, dikutip dari Science Daily.

Para ahli mendeteksi virus-virus baru ini saat melakukan biosurveillance terhadap hewan dan manusia untuk lebih memahami penyebaran penyakit sebagai bagian dari proyek PREDICT, sebuah inisiasi yang didanai oleh USAID, yang mendukung penemuan global dan pengawasan patogen yang berpotensi menyebar dari manusia ke hewan.

Tim PREDICT di Myanmar terdiri dari para ilmuwan dari Smithsonian, Universitas California, Davis; Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Irigasi Myanmar; Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar; dan Kementerian Sumber Daya Alam dan Konservasi Lingkungan Myanmar. Mereka memfokuskan penelitian di situs-situs yang memungkinkan adanya pajanan satwa liar pada manusia.

Sejak Mei 2016 hingga Agustus 2018, mereka mengumpulkan lebih dari 750 air liur dan sampel tinja dari kelelawar di daerah ini. Para ahli memperkirakan bahwa ribuan coronavirus - banyak di antaranya belum ditemukan - ada pada kelelawar.

Para peneliti menguji dan membandingkan sampel dengan virus corona yang telah diketahui dan mengidentifikasi enam coronavirus baru untuk pertama kalinya. Tim itu juga mendeteksi coronavirus yang telah ditemukan di tempat lain di Asia Tenggara, tetapi tidak pernah sebelumnya di Myanmar. Penelitian di masa depan diperlukan untuk mengevaluasi potensi penularannya ke spesies lain untuk lebih memahami risiko terhadap kesehatan manusia.

Para penulis mengatakan temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan untuk penyakit zoonosis seperti yang terjadi pada satwa liar. Hasilnya akan memandu pengawasan populasi kelelawar di masa depan untuk lebih mendeteksi potensi ancaman virus terhadap kesehatan masyarakat.

"Banyak jenis coronavirus mungkin tidak menimbulkan risiko bagi manusia, tetapi ketika kita mengidentifikasi penyakit ini sejak dini pada hewan, pada sumbernya, kita memiliki peluang berharga untuk menyelidiki potensi ancaman," kata Suzan Murray, direktur Program Kesehatan Global Smithsonian dan penulis penelitian ini.

"Pengawasan, penelitian, dan pengetahuan serta kewaspadaan adalah alat terbaik yang kita miliki untuk mencegah pandemi sebelum terjadi," pungkas Murray.
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4973936/ilmuwan-temukan-enam-jenis-virus-corona-baru-pada-kelelawar?tag_from=wp_nhl_26&_ga=2.149807285.24203771.1585784119-1119048753.1553472993