Kamis, 09 April 2020

Anjing Siberian Husky Antarkan Makanan untuk Lansia Saat Corona

Pemilik belasan Siberian Husky tak tinggal diam saat pandemi corona. Dia melatih anjing-anjingnya mengantarkan bahan makanan untuk para lansia agar mereka tak tertular Corona.
Seorang gadis asal Caribou, Maine, Amerika Serikat bernama Hannah Lucas (22) mempunyai terobosan setelah melihat para lansia kesulitan belanja. Lucas, yang merupakan pegawai di Circle K, toko yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, melihat dengan mata kepalanya langsung saat lansia itu kesulitan berbelanja saat pandemi.

"Saya melihat orang tua datang dan membeli makanan dalam jumlah sedikit, seperti susu, telur, atau buah," kata Lucas sebagaimana diwartakan Insider.

"Saya hanya ingin membantu mereka meminimalisir risiko dari pandemi yang saat ini sedang terjadi,"ujarnya.

Selain bekerja sebagai pegawai toko, Lucas punya hobi balapan kereta luncur anjing. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk berlatih balapan bersama kelompok Notrhlane Siberian Huskies dan Seppala Siberian Sled Dog Team.

Lucas kemudian berpikir bahwa timnya saat ini bisa dikerahkan untuk membantu para lansia agar kebutuhan mereka tetap terpenuhi tanpa harus pergi ke ruang publik.

"Saya tak mengira kegiatan ini bisa menjadi terkenal,"katanya.

Mulanya ia hanya melakukan pengiriman untuk komunitas di sekitar tempat tinggalnya. Kegiatan itu dimulai pada 5 Maret dimana hari itu ia melakukan 2 kali pengiriman.

Keesokan harinya, mereka mendapatkan pesanan tiga kali lipat.

Saat ini, ia bersama temannya beserta 12 anjing yang dibagi menjadi 2 tim melakukan pengiriman barang sebanyak 4 sampai 6 kali setiap hari.

Mereka mendapatkan pesanan melalui telepon atau Facebook. Mereka juga memetakan rute di sepanjang Sistem Jalan Interkoneksi Maine. Para lansia ini akan bertemu mereka di pembukaan jalan.

"Banyak orang senang melihat anjing-anjing ini dan mereka selalu berterima kasih ketika melihat kami datang dengan belanjaan mereka," ujar Lucas.

Sementara itu, anjing-anjing juga senang bisa membantu.

"Mereka menyukainya. Begitu kami mulai membuka kandang, mereka tahu bahwa mereka mendapatkan kesempatan keluar dan bersenang-senang," kata dia.

Dalam beberapa minggu ke depan, suhu udara di Maine akan menghangat sehingga es dan salju di sana akan mencair. Lucas mengatakan ia akan menghentikan layanan pengantaran menggunakan kereta luncur anjing. Namun, ia tetap ingin membantu lansia di masa depan.

"Saya harap, saya masih bisa mengirimkan bahan makanan di masa yang akan datang, tidak hanya saat pandemi ini berlangsung," katanya.

Negara Lain Belum Terbebas dari Lockdown, Denmark Segera Membuka Diri

Denmark mulai melonggarkan lockdown dengan berencana membuka sekolah dan penitipan anak pada 15 April 2020. Sementara itu, negara lain belum usai bertarung dengan virus Corona.
Langkah ini merupakan tahapan awal pelonggaran lockdown yang sudah 3 minggu mereka lakukan untuk menghalau penyebaran virus Corona atau COVID-19. Hal tersebut disampai Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, pada Rabu (8/4/2020).

Negara nordik itu merupakan negara pertama di Eropa yang menutup negaranya akibat virus Corona. Usaha tersebut berbuah hasil dimana angka pasien dan kematian akibat COVID-19 berangsur menurun.

Saat ini Denmark tengah berupaya untuk menstabilkan keamanan populasi dan risiko ekonomi setelah resesi hebat yang tak hanya mereka alami sendiri melainkan seluruh negara di dunia.

"Ini mungkin seperti berjalan di atas tali. Jika kita berdiri diam di sepanjang jalan, kita bisa jatuh dan jika kita berjalan terlalu cepat, itu bisa salah. Oleh karena itu, kita harus mengambil satu langkah dengan hati-hati pada satu waktu," kata Frederiksen dalam konferensi pers sebagaimana diwartakan Reuters.

Sebelumnya, Denmark mengumumkan untuk menutup sekolah, tempat penitipan anak, restoran, kafe dan gym, dan menutup seluruh pintu masuk untuk turis asing.

Pada pelonggaran lockdown tahap pertama ini, penitipan anak dan sekolah sampai kelas 5 SD akan dibuka pada 15 April. Selain itu para orang tua juga diizinkan melakukan aktivitas normal.

Kegiatan yang masih dilarang dilakukan adalah pertemuan yang melibatkan lebih dari 10 orang. Kegiatan ini boleh dilakukan mulai 10 Mei. Sementara pertemuan dalam jumlah lebih besar dilarang dilakukan sampai Agustus.

Frederiksen juga mengimbau segala aktivitas yang akan kembali dilakukan masyarakat harus tetap mematuhi aturan pemerintah seperti menjaga jarak dan kebersihan.

Plesiran ke Titik Kilometer Nol, Memetik Makna dari Sabang Sampai Merauke (2)

Tak banyak wkatu lagi untuk menikmati Sabang. Saya juga sudah ingin sekali rebahan agar esok bbisa mengelilingi wilayah ini dengan bugar.

Esok hari saya mengelilingi kota Sabang yang sejak pagi. Kota dengan penduduk 40.000 orang itu masih memiliki banyak monyet liar.

Menikmati pagi ini, saya bablas ke Kilometer Nol, prasasti tanda titik terujung Indonesia sebelah barat. Tak jauh, cuma ditempuh sekitar 45 menit dari hotel dengan sepeda motor. 

Sesampainya di Kilometer Nol Sabang hati saya tidak karuan, seperti mimpi rasanya bisa menginjakan kaki di titik terujung Indonesia.

Rasanya, otomatis nyanyian Dari Sabang sampai Merauke terngiang-ngiang di telinga. Rasanya amat bangga bisa menjejakkan kaki di sini. Saya merasa bangga bisa berada di ujung barat Indonesia. Prestisenya beda dengan mereka yang melancong ke Bali.

Tapi kesombongan saya itu langsung dibayar tuntas oleh seornag ibu penjual minuman.

Sebelum pulang saya menyempatkan untuk membeli minuman yang dijual oleh warga setempat. Saya sekaligus mengajak ibu penjual minuman itu berbincang-bincang.

Setelah beberapa menit kami mengobrol ternyata saya baru tahu bahwa ibu itu asli dari Banda Aceh. Beliau mengungsi ke kota Sabang sejak kecil.

Ya, mengungsi. Saya merasa aneh kenapa beliau harus mengungsi dari kota Banda Aceh ke Sabang.

Dia mengisahkan cerita tentang GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Itu ditambah tahun 2004 banyak saudaranya yang terkena bencana Tsunami besar di Banda Aceh. Kota Sabang memang berada di Ujung Indonesia tetapi kota ini merupakan daratan yang tinggi jadi kota Sabang ini selamat di lewati dari Tsunami.

Ibu itu bercerita banyak tentang kehidupan di Aceh, lebih banyak bercerita tentang memori buruk tentang GAM dan Tsunami. Setelah saya mengobrol dengan ibu itu saya merasa malu untuk menyombongkan diri teah sampai di titik Kilometer Nol ini dan mengejek mereka yang lebih senang plesiran ke Bali.

Saya merasa belum menjadi Indonesia seutuhnya karena apa yang saya perjuangkan tidak ada, berbeda dengan ibu penjual minum tadi dan masyarakat Aceh, trauma mendalam akan GAM ditambah trauma tragedi akibat Tsunami.

Sementara saya, di masa kecil nyaman tinggal di Bandung.

Saya pun memaknai lebih mendalam perjalanan kali ini, juga makna Dari Sabang sampai Merauke. Tidak peduli dari mana asalmu, tidak peduli apa agamamu, tidak peduli berapa banyak uangmu. Yang kami harus peduli adalah kita sama-sama Indonesia, kita harus peduli bahwa kita akan sama-sama menjaga dan merawat Indonesia.

Kita harus peduli bahwa Indonesia bisa pemerataan pembangunan tidak hanya di Pulau Jawa, kita harus peduli bahwa Indonesia bisa membuat pendidikan yang merata, menjaga kerukunan antarumat beragama, ras, dan suku. Kita harus peduli bahwa Indonesia bisa membantu saudara-saudara kita dari Sabang sampai Merauke.

Setelah melewati jalanan antara pelabuhan dan penginapan, saya menjadi sedikit tak mempercayai cerita Ishak. Sebab, kondisi yang saya temui berbeda dengan kisah manisnya. Tidak ada laut biru, karena kanan kiri hutan, tidak ada kehidupan sama sekali, jalan kosong bak pulau tak ber penghuni.

Rupanya, di menit ke-20 dalam perjalanan saya dengan sepeda motor, lah cerita Ishak menemukan faktanya. Saya menjumpai pantai dan perkampungan.

Rasa gembira itu membuat saya bersemangat untuk segera mencari penginapan. Saya mengecek aplikasi rekomednasi penginapan. Dari eberapa hotel yang ditawarkan, saya memutuskan untuk menginap di Pade Dive Resort Sabang.