Senin, 09 Maret 2020

Jelajah Asyik Korea Selatan

Jelajah Kota Seoul dan Incheon di Korea Selatan akan memberikan pengalaman asyik untuk wisatawan. Banyak hal seru untuk dikunjungi di sana.

Korea Selatan tampaknya merupakan salah satu negara yang menarik untuk dikunjungi, banyak hal tentang Korea Selatan yang membuat para wisatawan ingin menjelajahi Negeri Gingseng tersebut, mulai dari segi budaya, sejarah, fashion, Kpop, Kdrama dan yang pasti berbagai macam kuliner lokal. Berikut beberapa rekomendasi tempat yang patut dikunjungi di Kota Seoul dan Incheon ketika Anda mengunjungi Korea Selatan.

I Seoul U, sebuah ikon dan slogan yang dibuat oleh pemerintah Korea Selatan untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Korea Selatan. Para traveler dapat menemukan ikon ini di Hangang Park, Yeuido, selain berfoto di ikon I Seoul U para traveller bisa menikmati pemandangan yang indah dan bersantai di sekitar Taman Sungai Han sambil mencicipi beberapa jajanan khas Korea seperti tteokbokki dan odeng yang dijual di sekitar lokasi tersebut, dan banyak pula warga lokal yang menyewakan karpet bagi para pengunjung untuk duduk bersantai di pinggiran Sungai Han dengan harga 1.000 Won per karpetnya. Untuk menuju Hangang Park para traveler bisa menggunakan subway line 5 kemudian berhenti di Stasiun Yeounainaru dan keluar melalui exit 2 atau 3.

Tidak afdhol rasanya apabila mengunjungi Korea Selatan tanpa menelisik sejarah dan kebudayaannya. Adalah Gyeongbokgung Palace yang merupakan istana kerajaan Korea Selatan terletak tepat di depan Gwanghwamun Square. Istana ini merupakan salah satu penginggalan sejarah yang sudah dibangun sejak tahun 1395 pada masa Dinasti Jeoson. Sebelum memasuki Gyeongbokgung Palace para traveler bisa menyewa hanbok (baju tradisional Korea) di beberapa tempat penyewaan hanbok di sekitar Gyeongbokgung Palace.

Nah, ada kabar gembira bagi para pengunjung yang datang dengan memakai hanbok, jika berkeliling Istana dengan mengenakan hanbok para pengunjung akan dibebaskan dari biaya masuk. Tak diragukan lagi pengalaman berkeliling Gyeongbokgung Palace akan terasa semakin menyenangkan jika memakai hanbok layaknya berpenampilan seperti putri dan pangeran Dinasti Jeoson. Untuk menuju Gyeongbokgung Palace para traveler bisa menggunakan subway line 3 kemudian berhenti di Stasiun Gyeongbokgung dan keluar melalui pintu exit 3.

Walaupun bukan negara dengan penduduk mayoritas Muslim tahukah Anda bahwa Korea Selatan mempunyai daerah yang ramah Muslim? Ya, Itaewon. Itaewon merupakan daerah yang ramah Muslim di Korea Selatan. Di sini para traveler bisa menemukan banyak rumah makan halal mulai dari jenis makanan Timur Tengah, Indonesia maupun makanan khas Korea Selatan itu sendiri, di Itaewon terdapat Masjid Pusat Kota Seoul sebagai salah satu tempat ibadah umat Muslim di Korea Selatan, di lingkungan masjid ini terdapat pula sekolah yang dikhususkan bagi warga Muslim yaitu Prince Sultan Islamic School. Untuk menuju Itaewon para traveller dapat menggunakan subway line 6 kemudian berhenti di Stasiun Itaewon dan keluar melalui exit 3.

Kapanpun kata Incheon disebutkan, pasti yang terpikirkan oleh para traveler adalah Bandara Korea Selatan. Namun, tahukah anda bahwa Incheon sebenarnya salah satu kota terbesar ketiga setelah Seoul dan Busan yang memiliki beberapa tempat wisata. Di daerah Incheon para traveler bisa berwisata menjelajahi Pulau Wolmido, di sini terdapat  taman hiburan dan taman pinggir laut yang disebut Wolmi Theme Park. Selain itu, traveler dapat menemukan berbagai macam jajanan khas Korea serta seafood yang dijual di sekitar Wolmido. Traveler juga dapat menikmati sunset di pinggiran laut sambil memberi makan burung laut yang berterbangan ketika mendekati waktu matahari terbenam tiba.

Kisah Manusia Misterius di Gunung Bukit Raya Kalimantan (2)

Untuk menuju pintu masuk hutan Kalimantan, kita bisa melewati Desa Rantau Malam di Kabupaten Sintang. Yakni sebuah desa paling ujung dan terpencil di hulu Sungai Serawai. Untuk mencapai desa ini kita butuh waktu minimal 2 hari perjalanan. Saya berangkat dari Jakarta menuju Bandara Supadio Pontianak kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan bus menuju Nanga Pinoh semalaman. Pagi harinya kami menggunakan jasa kapal motor membelah Sungai Melawi dan Serawai untuk menuju desa terakhir sekitar 7 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan khas sungai Kalimantan yakni pepohonan hijau yang rimbun dan beberapa satwa seperti burung elang, bangau, monyet ekor panjang, serta beragam aktivitas warga kampung adat di sepanjang bibir sungai. Ketika masuk wilayah sungai yang dangkal airnya, kapal motor yang kami tumpangi sempat oleng sehingga sopir menyarankan kepada kami agar beralih menggunakan perahu klotok yang terbuat dari kayu. Akhirnya kami menyewa perahu klotok dari warga setempat.

Saat tiba di Rantau Malam, warga desa menyambut kami dengan upacara adat Ngukuih Hajat. Ketua adat memimpin upacara adat dengan memotong seekor ayam. Ayam yang telah dipotong tadi kemudian dibagikan kepada kami untuk dimakan. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar di desa tersebut dengan menyisipkan motivasi semangat belajar ke jenjang lebih tinggi meski harus menempuh jarak cukup jauh ke ibukota kecamatan. Bangunan di sekolah ini terbuat dari papan kayu yang bila diinjak akan berbunyi 'ngik-ngik'.

Esok harinya, pagi-pagi buta kami bersiap menyusuri hutan Kalimantan. Daerah yang akan kami lewati selanjutnya hanya bisa diakses dengan jalan kaki yaitu Pos Pintu Rimba, Hulu Menyanoi, Sungai Mangan, Hulu Rabang, Linang dan Soa Badak. Di Soa Badak ini terdapat tugu perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam Bukit Raya.

Luar biasa indah, satwa liar di hutan Kalimantan ini begitu asri dan hampir tak tersentuh orang luar. Warga Desa Rantau Malam sangat menjaga hutan ini dengan tidak menebang pohon sembarangan dan berburu binatang langka. Kami menemukan pohon yang sangat besar yang kira-kira berdiameter lingkaran tangan beberapa orang dewasa. Selain itu keberadaan mitos Manusia Purba Uuud yang hidup di pelosok Kalimantan membuat warga enggan untuk merusak alam. Uuud yang dikenal warga selama ini digambarkan sebagai manusia setinggi 2 meter jalannya sangat cepat, misterius, menghindari kontak langsung dengan manusia modern, dan biasanya keluar ketika hari mulai gelap. Adapun larangan lainnya untuk warga adalah dilarang membunuh Kelempiau atau monyet ekor panjang sehingga dengan larangan ini sekaligus dapat menjaga alam tetap lestari.

Saat di Soa Badak, seorang teman kami mengalami gejala hypothermia dan masuk angin. Semalaman dia hanya merintih dan mengigau, seolah tak sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Padahal Puncak Kakam sedikit lagi terlihat. Terpaksa kami bermalam satu malam di Soa Badak sambil menggigil kedinginan karena seharian diguyur hujan.  Beruntung setiap saya melakukan perjalanan ekspedisi, tidak lupa untuk membawa obat dan saya berikan juga kepada seorang teman yang masuk angin sehingga esok harinya bugar kembali dan bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam.

Esok harinya rombongan langsung sehat kembali dan dapat melanjutkan ke puncak tertinggi Kalimantan, Puncak Kakam Bukit Raya. Dari sini kami bisa melihat betapa elok dan hijaunya hutan Kalimantan sejauh mata memandang. Dan yang menarik lagi di puncak ini, kita bisa menemukan tempat sesembahan warga lokal yang masih percaya dengan penunggu gunung. Banyak warga lokal yang masih meminta pada roh halus agar terpenuhi hajatnya.

Adapun bentuk tempat sesembahan itu seperti rumah-rumahan kecil yang disangga dengan batang kayu. Di sekitarnya terdapat patung kayu dilengkapi manik-manik. Menyenangkan sekali di setiap perjalanan menjelajah hutan belantara Kalimantan ini. Terlebih warga lokal yang menemani kami bercerita banyak tentang adat dan istiadat serta mitos-mitos yang menyelemuti kawasan hutan ini sehingga menambah wawasan yang menarik.