Senin, 09 Maret 2020

Wisata Unik di Ciamis, Hanya Buka Sebulan Sekali

Ada destinasi wisata yang menarik dikunjungi di Ciamis, namanya Sirnarasa. Objek wisata ini hanya buka sebulan sekali.

Sebuah pondok pesantren di Dusun Cisiri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat membuat sebuah terobosan menggabungkan wisata religi dan wisata alam yang buka setiap satu bulan sekali. Salah satunya dengan membangun destinasi digital Sirnarasa.

Di lokasi wisata yang berada di kaki gunung ini disediakan beberapa tempat untuk swafoto yang instagramable dan kekinian. Terdapat pula aneka wisata kuliner dan beberapa saung yang bisa digunakan untuk bersantai.

Namun wisata yang sepenuhnya dikelola oleh para santri ini dibuka hanya satu bulan sekali, saat diadakan pengajian Manaqib Kubro oleh pihak ponpes. Manaqib sendiri sering dihadiri warga dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung dan lain sebagainya.

Setelah mengikuti pengajian dengan salah satu penceramahnya KH Jujun Junaedi, traveler bisa bersantai di wisata alam yang baru beberapa bulan dibangun itu.

"Konsep awalnya sederhana, melihat potensi yang ada kita ingin mengkombinasikan antara wisata religi dan wisata alam. Peluang itu bisa diciptakan dan bisa berjalan, kondisi wilayah berada di kaki gunung sangat cocok untuk wisata," ujar Ketua Yayasan Sirnarasa, Dadang, saat ditemui detikTravel, Kamis (17/1/2019).

Dadang menjelaskan ada 1 hektar luas lahan yang akan dibangun untuk wisata alam tersebut. Namun saat ini baru 20 persennya. Walau begitu, pengunjung sudah antusias datang dan berfoto.

"Di sini ada 38 saung untuk santai, ada wisata kuliner jajanan khas dan yang kekinian juga ada, tempat untuk selfie dan foto-foto yang instagramable. Ini belum selesai sepenuhnya, nanti akan ada wisata yang memiliki nilai edukasi," jelas Dadang.

Pengunjung yang ingin membeli makanan diwajibkan menggunakan koin khusus, yang dapat ditukar terlebih dulu di kasir. Hal ini dilakukan karena salah satu konsepnya adalah destinasi digital. Ada tiga warna koin khusus yang terbuat dari kayu, warna merah nilainya Rp 10.000, warna kuning Rp 5.000 dan hijau Rp 2.500.

"Ini konsepnya digital, jadi ke depan kita akan kerjasama dengan bank, nantinya pembayaran untuk jajan di sini itu menggunakan uang digital," katanya.

Selain itu, tersedia panggung khusus bagi para jemaah maupun ikhwan yang ingin menampilkan keterampilan atau bakatnya, seperti kesenian, musik tradisional ataupun berbagai seni lainnya.

Kapak Wiro Sableng Sungguhan Ada, Tapi Disimpan di Malaysia

Wiro Sableng adalah tokoh cerita silat legendaris Indonesia bersenjata kapak. Siapa sangka kapaknya sungguhan ada di dunia nyata, tapi disimpan di Malaysia.

Tempat untuk melihat kapak Wiro Sableng adalah di Muzium Negara Malaysia di Jalan Damansara, Kuala Lumpur. detikTravel pergi ke sana beberapa pekan lalu. Ini adalah museum nasional milik Negeri Jiran itu.

Museum ini dibangun tahun 1906, pernah hancur lebur saat Perang Dunia II tahun 1945. Museum ini dibangun ulang dari 1959-1963 dan sejak itu menjadi museum utama Malaysia.

Museum ini terdiri dari 2 lantai dan dibagi menjadi 4 galeri. Galeri A adalah sejarah awal, Galeri B adalah kerajaan-kerajaan Melayu, Galeri C adalah era kolonial dan Galeri D adalah Malaysia masa kini.

Kapak Wiro Sableng ini ada di Galeri B area B2 yaitu kerajaan-kerajaan Melayu di Nusantara. Di area tersebut banyak artefak kuno berupa perhiasan dan persenjataan.

Nah, salah satu barang yang menarik perhatian adalah senjata bernama Wiro Sableng. Namanya sungguhan Wiro Sableng lho!

Keterangan resmi museum menyebutkan, "Wiro Sableng: Senjata yang berbentuk tombak ini berusia lebih dari 100 tahun. Bahagian pangkalnya berbentuk seperti mata kapak dan bersarung. Digunakan dalam adat istiadat diraja di Tanah Jawa."

Sungguh menarik mengetahui kalau Wiro Sableng adalah nama sebuah senjata kapak dari Jawa, yang kini menjadi koleksi Muzium Negara Malaysia. Apakah kebetulan namanya sama? Atau dulu Bastian Tito, pengarang Wiro Sableng mendapat inspirasi cerita dari senjata kapak-tombak ini?

Selain Kapak Wiro Sableng, museum ini masih punya banyak koleksi menarik lainnya. Ada replika tulang manusia purba dari berbagai tempat di Asia Tenggara. Ada pula diorama kehidupan manusia purba di wilayah Malaysia. Ada juga beberapa artefak megalitikum yang menarik di museum ini.

Barang berharga lainnya adalah patung Avalokitesvara yang menjadi Artefak Warisan Kebangsaan Malaysia. Patung perunggu ini ditemukan di tambah timah di Perak tahun 1936 diduga dari abad ke 7-12 masehi.

Uniknya Liburan di Pangandaran, Bisa Barter Novel Langka

Jika liburan akhir pekan ke Pangandaran, ada destinasi yang unik untuk para traveler. Ada toko buku dengan sistem barter, MM Book Shop namanya.

Sebuah toko buku unik berdiri di Pangandaran sejak 1987. Mempunyai ribuan koleksi, toko buku ini menjadi buruan wisatawan penggemar buku untuk menjual, membeli atau menukar buku mereka.

MM Book Shop, nama toko buku ini, berada di Jalan Pasanggrahan, kawasan wisata Pantai Pangandaran. Fasilitas ini dirintis Masrudin (52), seorang pemandu wisata.

Berbagi cerita kepada detikTravel, Kamis (17/1/2019) Masrudin menyampaikan, saat ini ia memiliki lebih-kurang 5 ribu koleksi buku berbagai bahasa, yang terdiri dari novel, panduan perjalanan dan buku-buku non-fiksi lainnya.

Koleksi terbanyak, menurut dia, adalah buku berbahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis dan Jepang. Belakangan, kata dia, koleksi buku Bahasa Indonesia juga bertambah.

Ia menjelaskan, buku-buku tersebut ia kelola dengan sistem jual-beli, barter atau tukar-tambah dengan para pelancong. Selain itu, tak jarang juga ia mendapatkan hibah dari para turis yang menjadi kliennya.

Buku-buku yang dijual di tempatnya, menurut Masrudin, dibanderol harga Rp 35 ribu sampai Rp 75 ribu. Untuk tukar-tambah atau barter, menurut Masrudin, harga menyesuaikan dengan kualitas buku.

Lebih dari sekedar toko buku, tempat ini menjadi saksi bisu pasang-surut industri pariwisata Pangandaran. Ribuan koleksi buku dalam belasan bahasa dunia ini merekam data kunjungan wisatawan asing yang datang ke kawasan wisata andalan Provinsi Jawa Barat ini.

Lebih dari 30 tahuh menjaga toko buku, Masrudin menyimpan berbagai kesan dan pengalaman unik. Salah satu hal yang mengesankan buat dia adalah minat baca turis-turis dari negara luar.

Ia mencontohkan, meski pun zaman telah berubah karena perkembangan teknologi, minat baca bangsa-bangsa dari negara maju tidak pernah surut.

"Kayaknya lima tahun ke belakang ya, ada tren mereka (turis asing) tidak membawa buku fisik, tapi mereka menyiapkan e-book di gadget mereka untuk menemani rekreasi mereka," kata ayah dua anak ini.

Karena perkembangan teknologi pula, Masrudin mengaku bisnisnya sempat lesu. Namun begitu, setahun terakhir ini tren membaca buku fisik kembali menguat.

"Mereka bilang rindu memegang buku. Ada yang sudah bawa e-book, tapi pas lewat dan lihat buku, mereka membeli buku," kata Masrudin.

Hal menarik lainnya, Masrudin menyaksikan geliat minat baca di kalangan masyarakat Indonesia, terutama sejak tahun 2000-an. Belakangan, kata dia, ada juga turis lokal yang meminati buku-buku berbahasa asing, khususnya Inggris.

Melihat tumbuhnya minat baca masyarkat Indonesia, terutama warga lokal, adalah kebahagiaan tersendiri bagi Masrudin. Atas dasar ini juga, kini Masrudin menyediakan lebih banya koleksi buku berbahasa Indonesia.

Wisata Unik di Ciamis, Hanya Buka Sebulan Sekali

Ada destinasi wisata yang menarik dikunjungi di Ciamis, namanya Sirnarasa. Objek wisata ini hanya buka sebulan sekali.

Sebuah pondok pesantren di Dusun Cisiri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat membuat sebuah terobosan menggabungkan wisata religi dan wisata alam yang buka setiap satu bulan sekali. Salah satunya dengan membangun destinasi digital Sirnarasa.

Di lokasi wisata yang berada di kaki gunung ini disediakan beberapa tempat untuk swafoto yang instagramable dan kekinian. Terdapat pula aneka wisata kuliner dan beberapa saung yang bisa digunakan untuk bersantai.

Namun wisata yang sepenuhnya dikelola oleh para santri ini dibuka hanya satu bulan sekali, saat diadakan pengajian Manaqib Kubro oleh pihak ponpes. Manaqib sendiri sering dihadiri warga dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung dan lain sebagainya.

Setelah mengikuti pengajian dengan salah satu penceramahnya KH Jujun Junaedi, traveler bisa bersantai di wisata alam yang baru beberapa bulan dibangun itu.

"Konsep awalnya sederhana, melihat potensi yang ada kita ingin mengkombinasikan antara wisata religi dan wisata alam. Peluang itu bisa diciptakan dan bisa berjalan, kondisi wilayah berada di kaki gunung sangat cocok untuk wisata," ujar Ketua Yayasan Sirnarasa, Dadang, saat ditemui detikTravel, Kamis (17/1/2019).

Dadang menjelaskan ada 1 hektar luas lahan yang akan dibangun untuk wisata alam tersebut. Namun saat ini baru 20 persennya. Walau begitu, pengunjung sudah antusias datang dan berfoto.

"Di sini ada 38 saung untuk santai, ada wisata kuliner jajanan khas dan yang kekinian juga ada, tempat untuk selfie dan foto-foto yang instagramable. Ini belum selesai sepenuhnya, nanti akan ada wisata yang memiliki nilai edukasi," jelas Dadang.