Senin, 09 Maret 2020

Kisah Manusia Misterius di Gunung Bukit Raya Kalimantan

Pedalaman Kalimantan Barat banyak tempat yang perlu dijelajahi. Gunung Bukit Raya di Sintang punya cerita mitos manusia misterius.

Gunung Bukit Raya merupakan salah satu Seven Summit Indonesia dimana menurut penuturan warga lokal terdapat mitos manusia purba 'Uuud' yang keberadaannya sangat misterius dan bersembunyi di balik rimbanya hutan Kalimantan.

Salah satu wisata menarik di Kalimantan Barat bagi pendaki gunung adalah Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka. Gunung dengan ketinggian 2.278 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Kalimantan dan satu di antara 7 (Seven) Summit Indonesia. Maka tidak heran jika banyak pendaki gunung Indonesia yang bermimpi untuk menaklukan gunung ini tak terkecuali wisatawan mancanegara.

Untuk menuju pintu masuk hutan Kalimantan, kita bisa melewati Desa Rantau Malam di Kabupaten Sintang. Yakni sebuah desa paling ujung dan terpencil di hulu Sungai Serawai. Untuk mencapai desa ini kita butuh waktu minimal 2 hari perjalanan. Saya berangkat dari Jakarta menuju Bandara Supadio Pontianak kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan bus menuju Nanga Pinoh semalaman. Pagi harinya kami menggunakan jasa kapal motor membelah Sungai Melawi dan Serawai untuk menuju desa terakhir sekitar 7 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan khas sungai Kalimantan yakni pepohonan hijau yang rimbun dan beberapa satwa seperti burung elang, bangau, monyet ekor panjang, serta beragam aktivitas warga kampung adat di sepanjang bibir sungai. Ketika masuk wilayah sungai yang dangkal airnya, kapal motor yang kami tumpangi sempat oleng sehingga sopir menyarankan kepada kami agar beralih menggunakan perahu klotok yang terbuat dari kayu. Akhirnya kami menyewa perahu klotok dari warga setempat.

Saat tiba di Rantau Malam, warga desa menyambut kami dengan upacara adat Ngukuih Hajat. Ketua adat memimpin upacara adat dengan memotong seekor ayam. Ayam yang telah dipotong tadi kemudian dibagikan kepada kami untuk dimakan. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar di desa tersebut dengan menyisipkan motivasi semangat belajar ke jenjang lebih tinggi meski harus menempuh jarak cukup jauh ke ibukota kecamatan. Bangunan di sekolah ini terbuat dari papan kayu yang bila diinjak akan berbunyi 'ngik-ngik'.

Esok harinya, pagi-pagi buta kami bersiap menyusuri hutan Kalimantan. Daerah yang akan kami lewati selanjutnya hanya bisa diakses dengan jalan kaki yaitu Pos Pintu Rimba, Hulu Menyanoi, Sungai Mangan, Hulu Rabang, Linang dan Soa Badak. Di Soa Badak ini terdapat tugu perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam Bukit Raya.

Luar biasa indah, satwa liar di hutan Kalimantan ini begitu asri dan hampir tak tersentuh orang luar. Warga Desa Rantau Malam sangat menjaga hutan ini dengan tidak menebang pohon sembarangan dan berburu binatang langka. Kami menemukan pohon yang sangat besar yang kira-kira berdiameter lingkaran tangan beberapa orang dewasa. Selain itu keberadaan mitos Manusia Purba Uuud yang hidup di pelosok Kalimantan membuat warga enggan untuk merusak alam. Uuud yang dikenal warga selama ini digambarkan sebagai manusia setinggi 2 meter jalannya sangat cepat, misterius, menghindari kontak langsung dengan manusia modern, dan biasanya keluar ketika hari mulai gelap. Adapun larangan lainnya untuk warga adalah dilarang membunuh Kelempiau atau monyet ekor panjang sehingga dengan larangan ini sekaligus dapat menjaga alam tetap lestari.

Saat di Soa Badak, seorang teman kami mengalami gejala hypothermia dan masuk angin. Semalaman dia hanya merintih dan mengigau, seolah tak sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Padahal Puncak Kakam sedikit lagi terlihat. Terpaksa kami bermalam satu malam di Soa Badak sambil menggigil kedinginan karena seharian diguyur hujan.  Beruntung setiap saya melakukan perjalanan ekspedisi, tidak lupa untuk membawa obat dan saya berikan juga kepada seorang teman yang masuk angin sehingga esok harinya bugar kembali dan bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam.

Esok harinya rombongan langsung sehat kembali dan dapat melanjutkan ke puncak tertinggi Kalimantan, Puncak Kakam Bukit Raya. Dari sini kami bisa melihat betapa elok dan hijaunya hutan Kalimantan sejauh mata memandang. Dan yang menarik lagi di puncak ini, kita bisa menemukan tempat sesembahan warga lokal yang masih percaya dengan penunggu gunung. Banyak warga lokal yang masih meminta pada roh halus agar terpenuhi hajatnya.

Kapak Wiro Sableng Sungguhan Ada, Tapi Disimpan di Malaysia

Wiro Sableng adalah tokoh cerita silat legendaris Indonesia bersenjata kapak. Siapa sangka kapaknya sungguhan ada di dunia nyata, tapi disimpan di Malaysia.

Tempat untuk melihat kapak Wiro Sableng adalah di Muzium Negara Malaysia di Jalan Damansara, Kuala Lumpur. detikTravel pergi ke sana beberapa pekan lalu. Ini adalah museum nasional milik Negeri Jiran itu.

Museum ini dibangun tahun 1906, pernah hancur lebur saat Perang Dunia II tahun 1945. Museum ini dibangun ulang dari 1959-1963 dan sejak itu menjadi museum utama Malaysia.

Museum ini terdiri dari 2 lantai dan dibagi menjadi 4 galeri. Galeri A adalah sejarah awal, Galeri B adalah kerajaan-kerajaan Melayu, Galeri C adalah era kolonial dan Galeri D adalah Malaysia masa kini.

Kapak Wiro Sableng ini ada di Galeri B area B2 yaitu kerajaan-kerajaan Melayu di Nusantara. Di area tersebut banyak artefak kuno berupa perhiasan dan persenjataan.

Nah, salah satu barang yang menarik perhatian adalah senjata bernama Wiro Sableng. Namanya sungguhan Wiro Sableng lho!

Keterangan resmi museum menyebutkan, "Wiro Sableng: Senjata yang berbentuk tombak ini berusia lebih dari 100 tahun. Bahagian pangkalnya berbentuk seperti mata kapak dan bersarung. Digunakan dalam adat istiadat diraja di Tanah Jawa."

Sungguh menarik mengetahui kalau Wiro Sableng adalah nama sebuah senjata kapak dari Jawa, yang kini menjadi koleksi Muzium Negara Malaysia. Apakah kebetulan namanya sama? Atau dulu Bastian Tito, pengarang Wiro Sableng mendapat inspirasi cerita dari senjata kapak-tombak ini?

Selain Kapak Wiro Sableng, museum ini masih punya banyak koleksi menarik lainnya. Ada replika tulang manusia purba dari berbagai tempat di Asia Tenggara. Ada pula diorama kehidupan manusia purba di wilayah Malaysia. Ada juga beberapa artefak megalitikum yang menarik di museum ini.

Barang berharga lainnya adalah patung Avalokitesvara yang menjadi Artefak Warisan Kebangsaan Malaysia. Patung perunggu ini ditemukan di tambah timah di Perak tahun 1936 diduga dari abad ke 7-12 masehi.

Museum ini memberi ruang paling banyak terkait dengan Kesultanan Malaka yang menjadi cikal bakal Malaysia. Selain itu ada juga koin kuno dari Kesultanan Kelantan. Senjata lain yang menjadi koleksi museum adalah Sundang atau keris Melayu berukuran besar dari Kesultanan Sulu di wilayah Borneo Malaysia.

Era Kolonial dan modern menampilkan display sejarah yang mirip dengan Indonesia. Cerita penjajahan Portugis, Inggris, Jepang, tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Namun peta kuno dari kartografer Eropa bisa menjadi informasi menarik bagaimana wilayah Nusantara dulu dikenal oleh bangsa Eropa.

Tiket masuk dan cara ke sana:

Muzium Negara buka setiap hari pukul 09.00-18.00. Hanya tutup pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Harga tiketnya RM 5 (Rp 17.300) untuk wisatawan dewasa dan RM 2 (Rp 6.900) untuk anak 6-12 tahun. Museum ini berada di Jalan Damansara. Traveler bisa naik MRT dan turun di Stasiun Muzium Negara.

Yuk kita lihat Kapak Wiro Sableng yang asli!