Rabu, 05 Februari 2020

Menpar Bentuk Tim Percepatan untuk 1st Asean Gastronomy Fair Bangkok

Gastronomi menjadi salah satu daya tarik wisata yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Pariwisata. Hal tersebut dikarenakan tren regional dan global menjadikan wisata gastronomi sebagai kendaraan untuk membangun destinasi berkelanjutan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya yang sejak awal jeli menangkap pergerakan tren motivasi wisatawan dunia. Sehingga ia langsung membentuk Tim Percepatan khusus untuk menyikapi dan memposisikan Indonesia di peta pariwisata gastronomi dunia, serta memimpin di regional.

"Untuk meraih hasil yang luar biasa, maka perlu dilakukan usaha yang tidak biasa. Itu sebabnya mengapa saya membentuk Tim Percepatan dan memilih professional yang tepat untuk membuat terobosan dan memperluas jaringan demi kepentingan promosi pariwisata kita," ungkap Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (12/4/2019).

Arief menegaskan, ASEAN Gastronomy Network pun datang dari inisiatif Indonesia yang disampaikan di Gastronomy Conference ATF 2018 yang kemudian terus ditindaklanjuti bersama dengan Thailand yang menjadi penanggungjawab.

"Saya bangga dengan capaian kita dalam mengembangkan wisata gastronomi. Ini perlu ditingkatkan terus hingga menjadi salah satu motivasi kedatangan wisatawan ke Indonesia," ujarnya.

Selain itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, komitmen ASEAN dalam membangun dan mempromosikan wisata Gastronomi tertuang dalam join deklarasi para Menteri Pariwisata dari 10 negara ASEAN, di ASEAN Tourism Forum (ATF) di Chiangmai Thailand, Januari 2018 silam.

"Persiapan dan kajian telah didiskusikan pada ATF 2019, dan dimulai dengan dilaksanakannya ASEAN Gastronomy Fair & Forum pertama di C-ASEAN, Bangkok tanggal 9-10 April kemarin," ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu inisiator terbentuknya ASEAN Gastronomy Network (AGN) yang berperan aktif sejak ATF 2018, turut ambil bagian di acara tersebut. Bukan saja menjadi pembicara di sesi utama forum, tetapi juga tampil di fair yang dirancang dengan konsep pasar tradisional, dan mengikuti kaidah pembangunan berkelanjutan atau sustainable development.

Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Vita Datau juga menegaskan Indonesia harus eksis di event gastronomi regional dan global. Hal tersebut karena Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dan ini harus dipromosikan.

"Sebagai negara yang baru 5 tahun membicarakan terminology gastronomi, saya sangat bangga karena penampilan Indonesia di forum-forum internasional selalu mendapat pujian dari para partisipan. Indonesia dianggap sangat maju dalam hal ilmu gastronomi," kata Vita Datau yang juga inisiator dan founder Indonesia Gastronomy Network.

Asisten Deputi Pemasaran I Regional I Dessy Ruhati menatakan, keikutsertaan Kemenpar di acara tersebut bukan saja untuk menarik turis kuliner di salah satu Target HUB yang ditetapkan Menpar yaitu Thailand, Singapore dan Malaysia, tetapi juga memperkuat jaringan melalui stakeholders gastronomi ASEAN dan global. Tentunya juga untuk kepentingan promosi melalui wisata gastronomi. Menurutnya, segala cara perlu diusahakan untuk pencapaian target wisatawan mancanegara di tahun 2019.

Perlu diketahui, 1st ASEAN Gastronomy Fair & Forum dibuka oleh Menteri Pariwisata Thailand Mr Weerasak Kowsurat dan dihadiri oleh Direktur Regional UNWTO untuk Asia Pasifik Mr Xu Jing. Dalam sambutannya, Menteri Pariwisata Thailand menggarisbawahi 3 hal yang penting yaitu gastronomi sebagai pendorong sektor pertanian yang menjadi tulang punggung bagi ekonomi kerakyatan meliputi gastronomi memberikan manfaat bagi stakeholders dan masyarakat lokal, serta gastronomi memberikan gambaran mendalam tentang identitas destinasi, bukan hanya tentang makanan.

Pada kesempatan itu, Indonesia mengajak mitra Co-Branding Wonderful Indonesia, yaitu JAVARA Indonesia, yang membawa produk lokal organik dan ramah lingkungan. JAVARA telah membina lebih dari 50.000 petani dan mengangkat produk pertanian lokal serta mengangkat kembali tanaman-tanaman yang hampir punah.

Selasa, 04 Februari 2020

Sensasi Lari Menembus Awan di Bukittinggi (2)

Perjuangan kini beralih ke sebuah jalan setapak menyusuri saluran sungai yang berkelok-kelok bagai ular raksasa di dasar lembah. Jalan datar dengan kerikil dan pasir berbatu kini jadi santapan para pelari.

Namun ternyata tak seberapa jauh jalur datar ini memanjakan para peserta lari. Aba-aba dari panitia lomba sudah mengarahkan peserta kepada sebuah jalur maut di depan mata, inilah dia Jenjang Seribu, jalur ekstrim yang akan menguji nyali dan daya tahan pelari.

Sesuai dengan namanya, jenjang Seribu ini adalah jalur pejalan kaki yang terdiri dari ratusan atau bahkan mungkin saja mencapai seribu buah anak tangga, sesuai dengan namanya, yang menaiki atau mendaki dinding tebing Ngarai Sianok dari dasar lembah menuju kembali ke Kota Bukittinggi di atas tebing.

Tak sedikit peserta lari yang tertegun sejenak menyaksikan tingginya tebing dan banyaknya anak tangga yang mesti didaki. Peluh sudah bercucuran, nafas pun terasa sesak ngos-ngosan. Berbeda dengan saat berlari menyusuri jalan raya menurun curam tadi, dimana para peserta nyaris sulit mengendalikan kecepatan larinya, maka kini yang terjadi sebaliknya.

Hanya diawal-awal anak tangga para peserta masih terlihat berlari. Sesampai di pertengahan atau di pinggang tebing, para pelari seakan-akan sudah kompak untuk tak lagi berlari. Semuanya terlihat tertib berjejer pelan mendaki satu-persatu anak tangga, sambil tangan memegang erat pagar railing besi yang jadi pengaman agar para peserta tak terpeleset dan terjun ke dalam jurang.

Semakin naik mendaki, kecepatan pelari semakin jauh menurun. Tak sedikit yang berhenti terduduk mengatur nafas yang tersengal-sengal.

Bobot tubuh sepertinya sangat berpengaruh, yang berbadan kecil dan ramping terlihat lebih lincah menanjak. Namun malang bagi yang berbobot lebih terpak sa harus bersabar untuk menanjak mendaki ratusan anak tangga.

Ada juga peserta yang kreatif untuk melawan kepenatan. Disela-sela tarikan nafas dan kaki yang linu menapak anak tangga, mereka tak lupa menghitung jumlah bilangan anak tangga yang sudah didaki.

Mungkin mereka penasaran ingin memastikan bahwa anak tangga yang terletak persis di tepi tebing di bibir jurang Ngarai Sianok ini memang berjumlah 1000 buah anak tangga seperti namanya, Jenjang seribu.

Dan klimaks rute perlombaan ini pun tercapai tatkala anak tangga terakhir berhasil didaki dengan sisa-sisa tenaga dan helaan nafas panjang yang terasa lega menyadari bahwa kaki telah kembali menapak diatas Kota Bukittinggi yang asri.

Meski masih ada jarak beberapa kilometer lagi menuju garis finis di lokasi yang sama dengan tempat Start tadi, namun keberhasilan menaklukkan tantangan Jenjang Seribu terasa sebagai sebuah kenikmatan kemenangan yang tersendiri.

Fokus jadi terbelah dua, antara keinginan untuk berhenti sejenak menikmati keindahan alam Ngarai Sianok dengan deretan tebing-tebing curam yang terbentang didepan mata, atau terus fokus berlari untuk memenangkan perlombaan.

Langkah kaki yang tadi terasa berat mengayun di awal perlombaan, kini malah jadi terbalik. Sulit untuk menahan langkah kaki yang semakin lama semakin cepat karena dorongan gravitasi di jalan raya yang menurun tajam nyaris 45 derajat ini, memang lebih besar ketimbang tenaga sendiri untuk berlari mengayunkan kaki.

Kecepatan kaki mulai tak terkendali, tubuh bagai terdorong tak tertahan lagi. Mau tak mau, peserta lomba kali ini tak lagi memacu larinya, bahkan sebaliknya berusaha melakukan pengereman dan menahan tubuh agar tak terus terdorong dan huyung ke bawah.

Kalau tak ditahan, maka bisa saja jungkir balik badan ini dibuatnya, terhenyak atau harus rela menggelinding di jalanan menukik tajam sepanjang 1-2 kilometer itu sampai di bawah lembah.

Lomba ngerem ini akhirnya berakhir juga tatkala para pelari sampai didasar lembah ngarai sianok yang termasyhur namanya itu. Didasar lembah yang hijau yang konon kabarnya terbentuk akibat pergeseran lempeng tektonik sesar Sumatera itu, para peserta lomba kembali berpacu secara normal dan berlomba jadi yang tercepat.