Kamis, 23 Januari 2020

Menikmati Ramadan di Belitung

Belitung jadi destinasi wisata seru yang dapat dikunjungi. Apalagi saat Bulan Ramadan lalu.
Gugusan batu granit raksasa yang menghias pantai-pantainya menjadi ciri khas Pulau Laskar Pelangi, Belitung. Sejak Andrea Hirata menulis kisah tentang perjuangan sepuluh anak SD hebat dengan latar tempat di salah satu pelosoknya, nama Belitung melejit, seperti roket satelit yang meluncur mengitari antero bumi. Sampai sekarang, satelit tersebut masih aktif mengorbit bumi, menyebarkan informasi destinasi-destinasi seru yang bisa dikunjungi tiap ada waktu.

Awal puasa lalu, aku berkesempatan mengunjungi Belitung untuk sekedar menyejukkan pikiran barang sebentar. Bentang alamnya yang unik menjadi alasan kenapa aku memilih dia. Tapi itu alasan kedua, alasan utamanya adalah karena cerita Laskar Pelangi yang kubaca sebelas tahun lalu. Andrea Hirata mendeskripsikan tempat itu dengan sangat baik dalam bentuk cerita. Mira Lesmana menunjukkannya keindahannya di layar kaca.

Hari pertama aku sampai di Belitung kebetulan adalah hari pertama puasa. Sebagai orang yang tidak berpuasa, aku merasa agak khawatir. Apalagi momen puasa lepas dari perhitunganku. Dalam perjalanan dari bandara ke hotel, tak kulihat satu tempat makan pun yang buka. Kekhawatiranku memuncak ketika perut sudah mulai mengirimkan sinyal lapar. Kutilik warung-warung makan di sekitar, tak ada tanda-tanda buka. Sampai akhirnya ada seorang pemilik resto dekat hotel yang berbaik hati membuatkan semangkuk mie rebus lengkap dengan telornya. Tak hanya itu, beliau juga menyuguhkan sepiring kepiting dan rajungan yang kebetulan ia masak dengan cuma-cuma.

Kekhawatiranku tentang makanan ternyata tak berlanjut. Di Belitung, warung makan akan tutup di hari pertama puasa saja, selebihnya mereka akan beroperasi seperti biasa. Bahkan, di jam sebelas siang, sudah ramai risoles, pisang goreng, nagasari dan teman-temannya dijajakan di stand-stand pinggir jalan. Destinasi kuliner terkenalnya, seperti Mie Atep dan Kopi Kong Djie pun tetap bisa dinikmati tanpa perlu khawatir mereka tutup.

Sebagai traveler yang suka kulineran, Belitung ternyata tetap nyaman dikunjungi ketika bulan puasa. Hari itu aku juga sempat berkunjung ke Pantai Penyabong di Belitung Barat. Kudengar ada cumi goreng tepung lezat di sana. Jelas itu ingin kucoba. Sempat khawatir juga, jangan-jangan mereka tak buka. Setelah satu jam setengah perjalanan dari Tanjung Pandan, rasanya lega melihat asap mengepul dari jauh di tempat makan yang kutuju. Sepaket hidangan seafood lezat pun masih bisa kunikmati dengan puas. Rasanya aku tak salah memilih Belitung sebagai destinasi liburanku kali ini.

Selain bentang alamnya yang menawan, Belitung ternyata juga termasuk tempat berlibur yang nyaman dikunjungi kapan saja, bahkan di bulan puasa. Oh ya satu lagi, keramah-tamahan warga Belitung patut diacungi dua jempol sehingga selain nyaman, para traveler juga pasti merasa aman. Termasuk untuk solo traveler perempuan sepertiku. Jika mungkin di tempat lain akan banyak tips untuk traveling di bulan puasa, khususnya bagi yang tidak berpuasa, di Belitung tipsnya cuma satu, jadilah traveler yang menyenangkan bagi tuan rumah, sehingga mereka bisa membantumu tanpa sungkan.

Primadona di Atas Bukit Kota Istanbul, Turki

Sebuah masjid di Turki jadi daya tarik utama karena keindahannya dan letaknya berada di atas bukit. Tahu apa Masjid tersebut?
Pembangunan masjid baru yang megah ini diprakarsai oleh Presiden Turki, Recep Erdogan ditahun 2012, dibangun tahun 2013, diresmikan bulan Mei 2019 dan kini tampil megah diatas bukit disisi benua asia.

Belum lama ini, Qori dari NTB - Syamsuri Firdaus yang berusia 20 tahun menjadi juara pertama di MTQ Internasional ke 7 diadakan dimasjid Agung Camlica, Istanbul - Turki. Dan foto Presiden Turki - Recep Tayyip Erdogan memeluk Qori Indonesia dari NTB tersebut memenuhi jagad raya digital. Masjid Agung Camlica kini menjadi trend bagi masyarakat Turki, masjid tersebut digadang untuk dibangun dari tahun 2012 atas prakarsa Erdogan.

Dibangun diatas puncak bukit Camlica dan tepat berada di Turki benua Asia, kembaran masjid biru ini menjadi tetenger terbaru dikota Istanbul. 6 buah menara yang tinggi menjadi salahsatu penanda bahwa masjid baru yang megah tersebut sudah berdiri dengan kokoh disisi benua Asia, bukan dibenua Eropa. Yang unik masjid ini dibangun oleh dua arsitek wanita dari Turki yang bernama Bahar Mirzak dan Hayriye Gul Totu serta menghabiskan biaya sebesar 150 juta Lira atau sekitar 66,6 juta USD. Sungguh sebuah dana yang amat luar biasa besar bagi Turki. Masjid Agung ini mulai dibangun tahun 2012 dan baru saja diresmikan tanggal 4 Mei 2019 oleh Presiden Erdogan.

Ada yang menentang pembangunannya, tetapi Erdogan tetap membangunnya sebagai salahsatu keingin besarnya untuk menghidupkan kekhilafahan Islam di Turki yang dari tahun 1922 telah dipadamkan oleh Kemal Ataturk dan penjajahan Inggris. Empat buah menara dimasjid Camlica tersebut memiliki tinggi 107,1 meter sebagai penghormatan terhadap kemenangan tentara Turki di kota Seljuk dari tentara romawi byzantium.

Masjid Agung Camlica ini bisa menampung 63,000 jemaah yang ingin sholat dan merupakan masjid terbesar saat ini di Turki. Dilengkapi dengan ruang pertemuan yg bisa menampung 1.100 orang, perpusatakaan seluas 3,500 meter persegi dan museum seni Islam seluas 11.000 meter persegi. Dan yang paling unik, mimbar untuk sang khotib berada diketinggian 48 anak tangga sehingga perlu dilengkapi dengan lift.

Kubah utama masjid agung ini berdiameter 72 meter persegi sebagai lambang 72 negara yang tinggal dikota Istanbul dan kubah kedua yaitu 34 meter sebagai lambang plat kendaraan kota Istanbul. Masjid agung ini tepat berada dibukit Camlica dengan pemandangan lepas menuju ke selat Bosphorus yang indah, dari kejauhan tampak jembatan selat bosphorus yang menghubungkan antara benua asia dan eropa.

Untuk menuju kemasjid ini belum ada transportasi umum seperti MRT, tetapi bisa ditempuh dengan moda bus yg melewati selat bosphorus dan menaiki tangga menuju ke bukit Camlica atau yang paling mudah dengan naik taksi langsung menuju kemasjid agung ini. Setiap akhir pekan, dipenuhi oleh para masyarakat lokal dan turis asing, tidak jarang warga lokal membawa alas dan makanan serta minuman sambil menunggu waktu berbuka di masa Ramadhan ini. Bukit Camlica dengan masjid agungnya yang megah tersebut menjadi primadona saat ini.ÂÂ