Rabu, 22 Januari 2020

Desain Futuristik Pesawat KLM: Berbentuk Huruf V

Maskapai asal Belanda, KLM punya desain pesawat baru yang futuristik. Bentuknya seperti huruf V dan diklaim hemat bahan bakar sampai 20 persen.

KLM pun memberi nama pesawat ini sebagai 'Flying V Plane'. Dilansir detikcom dari CNN, Selasa (11/6/2019), nama pesawat ini diambil dari nama gitar listrik Gibson Flying V yang kebetulan memiliki bentuk yang sama dengan pesawat tersebut. Gitar Flying V dari Gibson ini diketahui pernah dipakai banyak musisi ternama dari Jimi Hendrix sampai Keith Richards.

Desain pesawat Flying V ini dirilis sebagai bagian dari Perayaan Hari Ulang Tahun ke-100 KLM. Pesawat berbentuk huruf V ini mampu menampung hingga 314 orang penumpang.

Dengan kabin bercabang seperti huruf V dan masing-masing dibekali mesin turbofan, pesawat KLM mengklaim desain pesawat ini mampu menghemat bahan bakar sampai 20 persen bila dibandingkan dengan pesawat Airbus A350.

KLM rencananya akan memberikan pendanaan guna mewujudkan proyek ambisius ini. Desain awal dari pesawat ini dibuat oleh Justus Benad, mahasiswa Technical University of Berlin, sebelum akhirnya dikembangkan oleh tim peneliti dari Delft University of Technology di Belanda.

Project Leader dari TU Delft, Roelof Vos mengatakan pesawat baru ini masih dalam proses menjalani berbagai macam tes untuk membuktikan bahwa teknologinya bisa menghemat bahan bakar secara lebih efisien.

Diharapkan pesawat ini akan siap mengudara di tahun 2040. Sementara untuk segi desain interior pesawat ini, KLM siap merilisnya tahun depan.

Tren Baru Open Trip Bareng Artis, Ada Lucinta Luna ke Australia

Operator tur semakin kreatif mengembangkan paket wisata. Model open trip pun berani mengajak artis untuk menggaet konsumen.

Biasanya, liburan bareng artis adalah paket liburan travel agent besar atau travel umrah dengan konsep paket wisata ekslusif atau spesial. Namun kini, liburan dengan label open trip pun mulai memakai artis untuk menarik calon wisatawan.

Salah satu yang viral adalah open trip bersama artis Lucinta Luna. Penyedia layanannya adalah OTe (Open Trip & Explorer) atau PT Bagus Trans Wisata. Mereka menawarkan salah satu promosi ke Australia bersama Lucinta pada bulan Agustus mendatang.

"Kebetulan kita sama Lucinta itu ke Australia, bulan Agustus. Kita akan ke Sydney, Canberra kemudian berakhir di Melbourne," ujar Teddy Andri, CEO OTe saat dihubungi detikcom Senin (10/6/2019).

Teddy mengatakan, aktivitas yang ditawarkan pun secara umum seperti open trip ke Australia yakni mengunjungi tempat-tempat ikonik. Seperti Opera House di Sydney atau Darling Harbour.

"Aktivitasnya kita nanti seperti biasa, di masing-masing kota kita akan mengunjungi sightseeing-nya, lokasi-lokasi wisata. Kaya di Sydney misalnya Opera House, Darling Harbour, lalu Blue Mountain. Seperti itinerary umum ke Australia, berakhirnya di Melbourne. Nanti digunakan bus privat juga," tambah Teddy.

Teddy menambahkan, perjalanan tersebut akan memakan waktu 10 hari dengan total biaya Rp 21 juta. Harga tersebut sudah termasuk akomodasi, transportasi selama perjalanan serta termasuk pesawat dan bagasi 30 kilogram.

"Durasinya total sama perjalanan 10 hari, berangkat Jumat (9 Agustus 2018), sampai Minggu sore (18 Agustus 2019) minggu depannya. Harganya ditawarkan Rp 21 juta sudah termasuk tiket, akomodasi, transportasi sepanjang perjalanan," tambah Teddy.

Teddy juga mengatakan bahwa tarif Rp 21 juta pun sama seperti harga perjalanan ke Australia yang ia tawarkan tanpa public figure. "Harganya pun segitu, nggak ada Lucinta juga segitu kok. Tapi ada info ke peserta bahwa akan ada artis datang malah antusias," tambah Teddy.

Kapan Lagi Intim Bareng Artis?

Tipe wisata open trip digandrungi masyarakat karena harganya yang lebih murah dari tur privat. Apalagi, dengan iming-iming bersama artis.

Tidak jarang, penyedia layanan wisata kini menjadikan public figure bukan sebagai media promosi biasa. Tetapi, menawarkan pengalaman berbeda untuk lebih dekat dengan para seleb dengan berwisata. Sebenarnya, seberapa efektifkah cara ini untuk mencari animo traveler?

detikcom menghubungi Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Program Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia sekaligus traveler, mengenai fenomena ini. Menurut Devie, hal ini karena industri selebriti yang semakin meluas, sehingga efektif untuk menjadi 'magnet' sebuah produk untuk menggaet para konsumen agar menggunakan jasa atau produk tersebut.

"Efektif banget (menggunakan public figure untuk menarik konsumen), dan itu bukan hal baru, sudah lama. Tapi sekarang kan definisi selebritis makin meluas. Kalau dulu yang biasa kita lihat di televisi sekarang kan menyebar ke blogger, vlogger, YouTuber. Jadi ini bagian dari pengembangan kultur selebriti, kemudian ini yang membangun celebrity industry. Ketika pada akhirnya selebriti bukan hanya sesosok public figure tetapi produk, jadi sudah terjadi dan ini sudah lama," papar Devie saat dihubungi detikcom Senin (10/6/2019) via telepon.

Hal ini pun berkaitan dengan daya tarik selebriti yang menjadi sesosok idola, kemudian digandrungi masyarakat. Inilah yang menjadi buah dari akar sifat manusia yang menjadikan idola tersebut sebagai pelarian untuk mencari hiburan kemudian menjadikan kehidupan sehari-harinya untuk diketahui lebih lanjut.

"Kenapa kemudian selebriti menjadi sangat penting, pada dasarnya manusia membutuhkan hiburan. Karena kehadiran sosok selebriti ini jadi pelarian dari kepenatan, ketidaknyamanan dan selebriti menjadi pelariannya. Makanya yang berkaitan dengan selebriti jadi menyenangkan, urusan gosip, pakaiannya, kukunya patah lah, dan sebagainya. Karena manusia butuh pelarian dari rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Tidak heran kalau produknya semakin meluas, termasuk dalam produk tawaran jasa wisata," tambah Devie.

Ketika selebriti tersebut menjadi idola, maka audiens pun tertarik mengetahui seluk beluknya lebih lanjut. Sehingga, wadah open trip atau perjalanan wisata terbuka bersama selebriti dilirik para idola yang ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana selebriti itu dari dekat, yang juga, menjadi potensi bisnis para penyedia layanan wisata.

"Makanya tawaran ketika bersama dengan selebriti itu menawarkan keintiman. Keintiman ini yang kemudian ditawarkan. Tapi apakah realisasinya bisa seintim itu, kan belum tentu, karena pasti ada batasan-batasan juga. Tapi imaji atau bayangan akan keintiman akan bisa mengeksplor lebih jauh, mengenal sesuatu yang selama ini diagungkan karena ada distance (jarak) itu membuat kita semakin mengangumi, semakin penasaran dan sebagainya. Ini yang membuat orang rela melakukan apa saja termasuk tadi, tawaran tur bersama selebriti menjadi sangat berharga sekali," tambah Devie.

Namun, hal ini tentu memiliki batasan yang harus dijaga oleh masing-masing pihak. Sang public figure, tentunya memiliki batasan untuk menjaga privasi agar reputasi dan citranya tetap terbentuk di masyarakat.

Begitu pun dengan penyedia layanan wisata yang berperan sebagai jembatan antara public figure dan pengguna jasa. Penyedia layanan juga harus menjamin, bagaimana tur berjalan sesuai kesepakatan yang diberikan baik kepada pihak si selebriti, maupun peserta tur.

"Pasti dalam hal ini saya yakin sudah ada SOP dan sang selebriti dengan kesadaran yang penuh juga menjaga hal-hal yang menurut dia akan kontraproduktif jika tidak mengelola penampilannya apabila pergi bersama fansnya. Bagi para traveler juga dengan serius meminta jaminan dari penawar jasa, yang misalnya dituangkan dalam perjanjian. Orang Indonesia lemahnya, karena kita masyarakat yang komunal, sangat sosial sehingga mudah sekali percaya dengan orang lain. sehingga hukum tidak diperhatikan. Seharusnya harus ada detail, traveler dapat apa, hak dan kewajibannya apa. Dituangkan dalam materai perjanjian dan sebagainya," ucap Devie.

Lanjut Devie, perjanjian ini pun untuk menjaga citra atau reputasi penyedia jasa dan sang artis yang memiliki dampak luas kepada masyarakat selanjutnya. Hal ini juga untuk mencegah masyarakat tidak terkena penipuan dengan penyedia layanan abal-abal atau palsu.

"Sehingga, bagi penawar promo juga tidak sembarangan. Alasannya jelas karena ini menyangkut nama baik semua orang, apalagi selebritis. Ini satu permintaan rasional yang seringkali penipuan berkedok travel sudah seringkali terjadi. Nah ini kemudian harus selalu diingatkan pada masyrakat kita yang literasi hukumnya masih sangat rendah. Jadi jangan merasa gengsi bertanya soal hukum, untuk belajar dari orang yang tertipu dan jadi bentuk tanggung jawab travel agent," kata dia.

detikTravel pun mengulas fenomena open trip bersama public figure dari berbagai sudut pandang. Traveler bisa membaca ulasan lengkapnya dengan klik di sini.