Senin, 20 Januari 2020

Sisi Lain Irak yang Tak Melulu Perang

Negara Irak identik dengan perang. Namun rupanya, seorang fotografer di sana memperlihatkan kehidupan yang sesungguhnya dan terpesona akan alam serta budaya.

Seperti dilansir CNN, Kamis (20/6/2019), negara Timur Tengah telah lama identik dengan konflik atau kekacauan perang. Tapi fotografer Norwegia Christian Lindgren melakukan hal itu, terbang ke Irak untuk liburan yang tidak biasa, berkeliling ke tempat-tempat bersejarah negara itu, bertemu penduduk setempat dan mencoba makanan lezat.

Lindgren memotret pengalamannya itu dan berbagi foto di media sosial juga situs webnya. Dia berharap orang-orang akan melihatnya dan berpikir ulang tentang Irak.

"Orang dapat melihat bahwa negara ini bergerak maju. Situasinya jauh lebih baik akhir-akhir ini, karena apa yang Anda lihat di media hanyalah sisi buruk negara ini," kata dia pada CNN.

Pengurusan visa

Perjalanan pesawat ke Baghdad berjalan mulus dan cepat? Wisatawan berbagai negara perlu mengajukan permohonan visa dan prosesnya rumit.

Lindgren memang suka pergi ke negara yang tak biasa. Ia muak dengan keruwetan membludaknya turis dan meninggalkan sampah saat berkunjung.

Ia pernah menghabiskan waktu di Suriah dan berkeliling Korea Utara. Situs webnya, Unusual Traveller, memberikan tips dan trik cara mengunjungi negara seperti di atas.

"Saya pernah ke semua negara sekitarnya. Jadi aku tahu sejarahnya dengan baik dan aku selalu ingin pergi ke sana, tetapi situasinya belum cukup baik untuk mengunjunginya kemarin," kata Lindgren.

"Negara ini dengan urusan visa paling sulit di dunia saat ini," imbuh dia.

Lindgren menjelaskan bahwa diperlukan komunikasi baik dengan warga lokal yang bisa menyerahkan aplikasi visa ke departemen luar negeri di Baghdad. "Kemudian akan diperiksa latar belakangmu dan jika alasan kunjunganmu bagus dibutuhkan waktu tiga atau empat bulan untuk disetujui," jelas Lindgren.

Lindgren berteman dengan beberapa pengungsi Irak di Norwegia yang mengarahkannya saat mengurus visa. Dia juga melakukan kontak dengan penduduk setempat melalui internet.

Saat di Irak

"Ketika Anda pergi ke Irak, Anda diharuskan memiliki pemandu berlisensi pemerintah yang ada di dekatmu setiap saat," katanya.

"Kamu bisa berjalan-jalan di sekitar kota sendirian, tetapi kamu harus memiliki pemandu untuk bepergian antar kota dan kamu juga harus tinggal di hotel resmi. Sangat ketat," imbuh dia menjelaskan.

Kata Lindgren, ia tak kekurangan stok foto di sana. Tidak ada batasan militer hingga pemotretan di tempat bersejarah.

Warga setempat, katanya, sangat ramah dan senang untuk mengirim foto bagi dia. Bahkan tentara pun demikian.

"Saya punya gambar seorang prajurit di Samarra dan dia benar-benar berpose. Itu salah satu tempat yang sangat aman di negara ini," jelas dia.

Orang-orang imigrasi bandara yang ditemui Lindgren pun menyambutnya. Lebih dari itu, mereka juga sangat terkejut karena telah melihat visa turis untuk keenam kalinya.

Lindgren mengatakan harapannya soal kehidupan sehari-hari di Irak yang jauh dari kenyataan pemberitaan itu. Yakni Irak negara yang liberal, santai sehingga perlu dijaga keamanan militer di setiap sudut jalan hingga hidup terus berjalan untuk semua restoran hingga kedai kopinya.

"Bahkan pada larut malam di jalanan Kota Baghdad, orang-orang sangat ramah, meminta saya untuk meminum teh dan kopi. Mereka mengundang saya untuk makan malam bersama," kata dia.

"Saya hanya tidak berharap terlalu bebas, yakni pergi ke toko dan membeli alkohol," imbuh dia.

Foto-foto Lindgren menggambarkan Baghdad sebagai kota yang hidup, bersejarah, dan berbudaya. Dia mengambil gambar sebuah bianglala di Taman Rekreasi Al Zawra'a Baghdad, di dalam kebun binatang yang dibangun kembali.

Dia mengambil foto di dalam rumah teh tradisional, di mana penduduk setempat berkumpul untuk mengobrol dan bersantai. Tak luput foto Suasana Pasar Baghdad yang ramai.

Memang masih ada mobil-mobil lapis baja di mana-mana. Tapi Lindgren mengakui bahwa dia terbiasa dengan hal ini karena dia berpengalaman dalam mengunjungi tempat-tempat dengan keamanan yang tinggi.

"Saya telah pergi ke tempat-tempat di mana penduduk setempat akan memberi tahu Anda, 'Jangan pergi ke daerah ini tidak aman, menjauhlah' dan itu terjadi di Irak juga. Tetapi secara umum, dalam perjalanan ke Irak, saya tidak memiliki masalah keamanan. Saya tidak pernah merasa tidak aman sama sekali," tegas dia.

Sang fotografer juga menuju ke ibu kota kuno Ctesiphon, ibu kota Persia terakhir di Irak. Dia juga naik kereta dari Basra, di Irak selatan ke Baghdad dengan pembukaan jalurnya pada tahun 2014.

Ditenggelamkan, Pesawat Lengkapi Taman Rekreasi Bawah Air Terbesar

Taman rekreasi bawah air terbesar dunia di Bahrain akan segera dibuka musim panas tahun 2019 ini. Yang terbaru, bekas pesawat ikut ditenggelamkan.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (20/6/2019), baru-baru ini sebuah bekas pesawat kenis Boeing 747 ditenggelamkan di laut dekat Bahrain seperti diberitakan media News Australia.

Sebelum ditenggelamkan, pihak berwenang pun telah memindahkan segala substansi berbahaya di dalam pesawat untuk memastikan agar tak merusak biota bawah laut yang ada.

Usut punya usut, bekas pesawat jadul buatan tahun 1981 itu sengaja ditenggelamkan untuk meramaikan taman rekreasi bawah air terbesar yang rencananya akan segera dibuka di Bahrain tahun ini.

Memiliki nama Dive Bahrain, nantinya taman rekreasi bawah air terbesar yng terletak sekitar 30 Km di sisi Utara Kota Amwaj itu akan menjadi surganya para pecinta selam atau diving.

Apabila sudah rampung, nantinya taman rekreasi bawah air seluas 100 meter persegi itu akan disertai dengan sejumlah aktivitas menarik serta patung yang sengaja ditenggelamkan.

Selain dibuat untuk memanjakan turis pecinta selam, nantinya taman rekreasi bawah air Dive Bahrain juga diperuntukkan demi keberlangsungan terumbu karang di Teluk Bahrain.

Menenggelamkan bekas pesawat ke dasar laut pun bukan barang baru. Sebelumnya, sebuah pesawat A C130 Hercules pernah ditenggelamkan di perairan Aqaba di Yordania untuk menarik turis.

Sisi Lain Irak yang Tak Melulu Perang

Negara Irak identik dengan perang. Namun rupanya, seorang fotografer di sana memperlihatkan kehidupan yang sesungguhnya dan terpesona akan alam serta budaya.

Seperti dilansir CNN, Kamis (20/6/2019), negara Timur Tengah telah lama identik dengan konflik atau kekacauan perang. Tapi fotografer Norwegia Christian Lindgren melakukan hal itu, terbang ke Irak untuk liburan yang tidak biasa, berkeliling ke tempat-tempat bersejarah negara itu, bertemu penduduk setempat dan mencoba makanan lezat.

Lindgren memotret pengalamannya itu dan berbagi foto di media sosial juga situs webnya. Dia berharap orang-orang akan melihatnya dan berpikir ulang tentang Irak.

"Orang dapat melihat bahwa negara ini bergerak maju. Situasinya jauh lebih baik akhir-akhir ini, karena apa yang Anda lihat di media hanyalah sisi buruk negara ini," kata dia pada CNN.

Pengurusan visa

Perjalanan pesawat ke Baghdad berjalan mulus dan cepat? Wisatawan berbagai negara perlu mengajukan permohonan visa dan prosesnya rumit.

Lindgren memang suka pergi ke negara yang tak biasa. Ia muak dengan keruwetan membludaknya turis dan meninggalkan sampah saat berkunjung.

Ia pernah menghabiskan waktu di Suriah dan berkeliling Korea Utara. Situs webnya, Unusual Traveller, memberikan tips dan trik cara mengunjungi negara seperti di atas.

"Saya pernah ke semua negara sekitarnya. Jadi aku tahu sejarahnya dengan baik dan aku selalu ingin pergi ke sana, tetapi situasinya belum cukup baik untuk mengunjunginya kemarin," kata Lindgren.

"Negara ini dengan urusan visa paling sulit di dunia saat ini," imbuh dia.

Lindgren menjelaskan bahwa diperlukan komunikasi baik dengan warga lokal yang bisa menyerahkan aplikasi visa ke departemen luar negeri di Baghdad. "Kemudian akan diperiksa latar belakangmu dan jika alasan kunjunganmu bagus dibutuhkan waktu tiga atau empat bulan untuk disetujui," jelas Lindgren.

Lindgren berteman dengan beberapa pengungsi Irak di Norwegia yang mengarahkannya saat mengurus visa. Dia juga melakukan kontak dengan penduduk setempat melalui internet.