Jumat, 17 Januari 2020

Menggapai Mimpi Liburan ke Jepang dengan Biaya Pas-pasan

Jepang rasanya bagai mimpi traveler, sebagai destinasi yang ingin dituju. Meski biaya pas-pasan, beginilah cerita menggapai mimpi tersebut.

Saat masih sekolah menengah, aku pernah bermimpi suatu saat ingin bisa jalan-jalan ke Jepang dengan uang sendiri. Keinginan itu muncul karena saat itu aku sangat tergila-gila dengan komik Jepang. Bahkan aku mengikuti ektrakulikuler Ju Jitsu hanya karena bela diri itu berasal dari Jepang.

Tidak hanya itu, kegilaanku tentang Jepang membuatku memilih untuk mengambil kuliah Satra Jepang walau harus bertengkar dulu dengan orang tua. Harapanku adalah jika aku mengambil kuliah tentang Jepang, maka peluangku untuk bisa traveling ke Jepang lebih besar. Alasan yang klise memang. Namun itu sudah merupakan tekadku. Setidaknya sekali seumur hidup aku harus pernah bisa pergi ke Jepang.

Saat teman-temanku mulai banyak yang mendapat beasiswa dan pertukaran pelajar ke Jepang, aku mulai pesimis karena nilaiku tidak pernah cukup baik untuk bisa menembus seleksinya. Aku pun mulai melupakan impian untuk bisa pergi ke Jepang. Aku menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Kuliah, kerja sambil mengerjakan skripsi, lulus kuliah lalu mencari pekerjaan seadanya walau tidak sesuai jurusan. Bagiku yang penting bekerja dulu.

Aku sempat mencicipi keindahan Indonesia dari pekerjaanku yang sebelumnya, namun masih belum menghilangkan anganku untuk ke Jepang. Namun setelah merasakan bagaimana rasanya bisa menghasilkan uang yang lumayan, mimpiku untuk traveling mulai tumbuh kembali. Berawal dari iseng aku curhat ke sahabatku yang sedang kuliah master di Jepang, ia menyemangatiku untuk mewujudkan mimpi yang awalnya kuanggap mustahil. Dari situlah aku diam-diam menabung, membuat paspor dan mengurus visa sendiri. Sambil tetap berkonsultasi dengan sahabatku untuk memaksimalkan travelling dengan dana yang minim.

Tetapi perjalananku tak semudah yang kubayangkan. Untuk mengurus visa, ternyata aku harus mempunyai saldo dua puluh juta rupiah di bank. Aku langsung down, karena tabunganku hanya cukup untuk perjalanan seminggu di sana, sementara orang tuaku tidak punya uang sebanyak itu. Saudara pun tidak ada yang punya uang segitu. Tetapi mengingat aku sudah membeli tiket perjalanan pulang-pergi dengan kredit enam bulan, aku tidak mau menyerah begitu saja.

Aku pun mencari cara lain agar bisa lolos visa. Untungnya temanku berani menjaminku selama ada di sana sehingga visaku lolos. Betapa leganya hatiku saat itu, membayangkan sebentar lagi aku bisa menginjakkan kaki di Jepang. Segala persiapan traveling sudah kupersiapkan termasuk jadwal perjalanan dan lain sebagainya.

Di loket imigrasi bandara aku sempat deg-degan karena ini adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri sendirian. Dengan membawa sebuah koper berisi oleh-oleh titipan sahabatku, dan sepasang baju yang kupakai beserta sebuah jaket dan sepatu semi boot. Sengaja aku hanya membawa pakaian yang menempel di tubuhku. Hal ini kulakukan untuk memangkas biaya bagasi pesawat. Ini adalah trik untuk traveler mancanegara yang low budget sepertiku. Biaya bagasi hanya saat pulang saja.

Melihat Taman Air Mancur Kelas Dunia di Purwakarta

Taman Air Sri Baduga menjadi salah satu atraksi menarik di Purwakarta. Berawal dari danau kecil, atraksi ini sudah menjadi kelas dunia.

Tekad Purwakarta untuk menghidupkan ekonomi kreatif dan pariwisata lokal menjadi alasan untuk membangun air mancur kelas dunia di kota ini. Dan pada tahun 2017, hal itu terwujud dengan bisa dinikmatinya atraksi air mancur menari dengan sinar laser berwarna-warni yang sekaligus menjadikannya sebagai air mancur terbesar se-Asia Tenggara. Yang juga istimewa, atraksi ini bisa dinikmati secara gratis.

Taman Air Sri Baduga ini pada awalnya merupakan sebuah danau kecil yang disebut dengan Situ Buleud. Dalam bahasa Sunda, Situ artinya danau, buleud artinya bulat.

Danau yang berada di tengah kota dan memiliki luas kurang lebih 2 hektar ini memang berbentuk bulat. Air mancur Taman Sri Baduga kini memiliki kurang lebih 100 pipa yang dapat memancarkan air setinggi 10 meter.

Tidak sulit untuk mencapai tempat ini. Hanya sekitar 1 jam dari kota Bandung, kita bisa melalui Tol Purbaleunyi dan keluar di pintu tol Jatilihur atau km 84. Dari pintu keluar tol belok kiri, dan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di lokasi air mancur ini.

Saya sampai di kawasan Taman air mancur sekitar jam 7 malam dan jalanan di sekitarnya sudah penuh dengan kendaraan yang parkir. Demi mengakomodasi banyaknya kendaraan, lahan-lahan seperti lapangan sekolah pun dipakai untuk parkir.

Dilihat dari plat nomor kendaraan yang parkir, pengunjung tidak hanya berasal dari dalam kota Purwakarta, tapi juga dari Bandung, Jakarta bahkan Cirebon. Tidak sedikit juga bis pariwisata yang membawa rombongan wisatawan lokal.

Atraksi ini berlangsung hanya pada Sabtu malam. Di depan pintu masuk, para pengunjung sudah bergerombol menunggu giliran masuk. Ya karena untuk menonton pertunjukan ini, kita harus bergantian.

Pertunjukan pertama sudah berlangsung saat saya datang dan saya menunggu untuk pertunjukan kedua. Karena besarnya antusiasme pengunjung dan tidak ada jalur antrian yang disediakan, ratusan orang berjubel di depan pintu masuk menunggu pintu dibuka.

Keluarga yang membawa anak-anak perlu ekstra hati-hati karena dengan suasana seperti itu asupan udara menjadi berkurang.

Sekitar jam 8 pintu masuk dibuka dan pengunjung berebut masuk. Kawasan air mancur ini memiliki kapasitas untuk ribuan pengunjung sehingga sebenarnya pengunjung tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat duduk karena di sekeliling danau, disediakan 4 baris bangku panjang 4 untuk menonton pertunjukan, 2 di bagian depan dan 2 lagi di belakang.

Pertunjukan dimulai pukul 8.30. Selama kurang lebih 20 menit, pengunjung disuguhkan pancaran air mancur dengan efek laser warna-warni. Diiringi alunan musik, air mancur pun meliuk-liuk dan menari.

Tak jarang decak kagum pengunjung terdengar saat pertunjukan, terlebih saat air mancur muncul dari depan kursi penonton bagian depan di sekeliling danau. Boleh dibilang, atraksi yang disuguhkan tak kalah dengan atraksi air mancur di Singapura.

Setelah pertunjukan selesai pengunjung dipersilakan keluar dari pintu di sisi yang berbeda. Jangan khawatir kelaparan setelah menonton pertunjukan. Di kawasan ini, berbagai jajanan mulai dari batagor, bakso, bapau hingga es duren bisa kita nikmati.

Pertunjukan air mancur ini bisa dinikmati segala generasi, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Cocok menjadi pilihan wisata di akhir pekan.