Kamis, 16 Januari 2020

Berbagai Cara Seru Menikmati Dubai Ala Warga Lokal

 Dubai bukan hanya soal tempat mewah dan aktivitas inovatif. Ternyata, banyak cara ala warga lokal yang bisa dicoba agar traveling makin seru.

Emirati merupakan sebutan untuk penduduk lokal. Meski terkenal dengan gelimang kemewahan, ternyata ada sejumlah cara menikmati Dubai selain sebagai turis. Mulai dari atraksi, kuliner hingga sejumlah aktivitas lainnya.

Mulai dari belajar budaya, mencoba memakai henna, hingga bersantap roti khas Timur Tengah. Tentunya, bakal jadi pengalaman yang berbeda dan berkesan ketika traveling ke Dubai.

Berdasarkan siaran pers dari Dubai Tourism, Kamis (4/7/2019) ada sejumlah cara untuk menikmatinya. Berikut selengkapnya:

Aneka tempat menarik

Balapan kuda mungkin sudah biasa. Bagaimana kalau balapan unta? Inilah salah satu acara yang biasa dinikmati warga Dubai. Musim balap biasanya berlangsug antara Oktober dan April, dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu pagi. Traveler bisa menuju ke Al Marmoum Camel Racetrack, rumah dari Dubai Camel Racing Club. Trek tersebut berjarak setengah jam berkendara dari kota.

Selain itu, traveler bisa juga melihat berbagai jejak perdagangan DUbai di Al Fahidi Historical Neighborhood. Di sini ada menara angin, bangunan batu gips dan karang yang ikonik. Ada juga sejumlah galeri seni dengan berbagai karya seperti kaligrafi hingga seni modern.

Bersantap ala warga lokal

Menikmati tempat baru tidak lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Traveler bisa menuju sejumlah tempat seru yang sangat memberikan kesan lokal di Subai.

Misalnya saja Deira Waterfront Market yang berdiri sejak tahun 2017 untuk membeli ikan segar, Frying Pan Adventures dengan pengalaman makan interaktif bersama pelayan dan koki, Al Reef Bakery dengan roti Lebanon lezat, atau mencicipi kopi Gahwa, kopi Arab dengan cita rasa rempah-rempah yang lazis!

Kalau mau mencari berbagai makanan yang esegar dan tradisional, cobalah singgah ke Seven Sands. Traveler bisa mencoba pengalaman kuliner lokal yang unik, berlangsung setiap hari Selasa pagi dari jam 10 pagi sampai jam 12 malam, dengan berbagai hal tentang masakan Emirat lokal.

Berbagai aktivitas seru

Belajar budaya adalah salah satu cara menikmati sebuah tempat yang lokal banget. Cobalah singgah ke Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding (SMCCU), di sana ada sejumlah sejarah Dubai dari masa ke masa.

Ingin belajar seni Kaligrafi ala Timur Tengah? Traveler bisa berkunjung ke eL Seed Studio, rumah bagi seniman " calligraffiti " dan proyek seni publik yang memadukan kaligrafi Arab tradisional dengan gaya dan warna grafiti. Traveler juga dapat melihat ruang publik dan galeri yang unik.

Mencoba seni henna atau pacar sangat erat dengan nuansa Timur Tengah. Traveler bisa mencoba seni henna ke sejumlah seniman di Dubai, seperti di Heritage for Henna dan Rachna Salon.

Jangan lupa juga untuk berbelanja ya! Suvenir yang terkenal di dubai adalah liontin emas yang dibuat eksklusif untuk pembeli. Traveler bisa ke Cara Jewellers di Gold Soul, atau Gold and Diamond Park. Di sejumlah pasar tradisional, traveler bisa juga membeli tekstil atau pakaian ala Timur Tengah yang khas.

Menikmati pantai di Dubai, kenapa tidak? cobalah singgah ke Black Palace Beach, pantai yang tenang dan tidak banyak dikunjungi turis. Hamparan pantai yang tertutup ini terletak di antara Dubai Media City dan istana kerajaan di Al Sufouh, dengan perairan biru jernih yang sempurna untuk bermain air dan paddling, serta memiliki pemandangan matahari terbenam menakjubkan yang juga menampilkan pemandangan Palm Jumeirah.

Kalau liburan gratis ke Dubai, mau nggak? Klik di sini ya!

Cerita Orang Jalan Kaki 17 Bulan Menyusuri Tembok Besar China

Siapa yang tidak tahu Great Wall alias Tembok Besar di China? Tapi kalau cerita orang yang menyusurinya berjalan kaki selama 17 bulan, mungkin kamu belum tahu.

Dilansir dari CNN Travel, Kamis (4/7/2019) inilah kisah Dong Yao-hui dan dua temannya, Wu De-yu dan Zhang Yuan-hua. Di tahun 1984, mereka bertiga membuat sejarah. Mereka menjadi orang-orang pertama yang berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China.

Dong mengisahkan, kala itu dia berusia 25 tahun dan bekerja sebagai teknisi listrik di Kota Qinhuangdao, Provinsi Hebei. Dong mengaku, dia tertarik dengan Tembok Besar China dan sering melihatnya. Tetapi, informasinya tentang bangunan bersejarah itu sangat sedikit.

"Siapa yang membangunnya? Pakai apa? Bagaimana caranya? Itu semua terlintas di benak saya dan sayangnya tidak ada informasi. Bahkan sepertinya, ya hanya sebagai bangunan tua bersejarah yang tidak terurus," terang Dong.

Tembok Besar China dibangun sekitar tahun 770 SM (Sebelum Masehi) hingga 476 SM. Tiap dinasti menambahkan panjang temboknya untuk melindungi wilayahnya hingga terhenti di abad ke-17. Kala itu, panjangnya sudah mencapai 21 ribu kilometer yang melintasi 5 provinsi, 97 prefektur, dan 404 kabupaten.

Sayangnya seiring berjalan waktu, banyak bagian Tembok Besar China yang rusak. Entah karena peperangan atau vandalisme, seperti kala komunis menguasai China di tahun 1940-an dan Revolusi Kebudayaan tahun 1960-an.

Perjalanan yang Mengubah Hidup Dong

Kembali ke cerita Dong, dia bersama dua temannya melakukan persiapan selama 2 tahun untuk menyusuri Tembok Besar China. Misinya disambut suka cita oleh elemen masyarakat, seperti komunitas pendaki gunung di China. Bahkan, Dong diberikan ransel dan perlengkapan dari Asosiasi Pendaki Gunung China yang digunakan selama ekspedisi ke Everest.

Perjalanan Dong dimulai dari Laolongtou alias Si Kepala Naga Tua di Shanhai Pass. Mereka bergerak ke barat menuju rangkaian pegunungan di provinsi Hebei sampai ke Jiayu Pass.

"Itu adalah perjalanan menanjak dan menurun yang tanpa henti. Ekspedisi pertama manusia berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China," kata Dong.

"Kami merasakan teriknya panas hingga dinginnya salju. Kami mendokumentasikan apa yang kami lihat," kenang Dong.

Dong bersama dua temannya di tahun 1984 saat berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China (CNN Travel)Dong bersama dua temannya di tahun 1984 saat berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China (CNN Travel)

Total, mereka menghabiskan waktu sampai 17 bulan untuk menyusuri Tembok Besar China sepanjang 8 ribu kilometer. Rute yang mereka lewati adalah rute peninggalan Dinasti Ming (600 tahun lalu).

"Kami tidak menggunakan peta, hanya jalan terus mengikuti dinding. Saat malam, kami biasanya tidur di gerbang atau di benteng dinding yang secara fisik terpisah dari struktur utama Tembok Besar China. Sekalian mendokumentasikannya juga," terang Dong.

Perjalanan Dong menyusuri Tembok Besar China, yang awalnya bermula dari rasa penasaran telah berubah menjadi perjalanan jiwa. Perjalanan yang mengubah hidup Dong, yang menjadikannya ahli pemerhati Tembok Besar China sekaligus menerbitkan buku 'Ming Dynasty Great Wall Expedition'.

"Ketika saya berbicara dengan perwakilan pemerintah di tiap daerah, mereka sangat antusias. Tapi, mereka tidak pernah menanggapi permasalahan pada Tembok Besar China secara serius. Sedih sekali rasanya," tutur Dong.

Tahun 2014, Dong mendirikan sebuah organisasi bernama Great Wall Society. Tujuannya untuk memelihara Tembok Besar China, sekaligus mengedukasi kepada masyarakat untuk menjaga peninggalan mahakarya tersebut.

Dalam penelitian Great Wall Society, tercatat hanya 8,2 persen struktur bangunan Tembok Besar China yang masih baik. Usut punya usut, rupanya di zaman dulu banyak masyarakat China yang menggerogoti Tembok Besar China untuk dijadikan bahan bangunan mereka.

Dong kini fokus untuk memelihara Tembok Besar China. Dirinya tak henti menyebarkan informasi dan meminta pemerintah China untuk terus merawat Tembok Besar China.

Tembok Besar China menurutnya lebih dari sekadar sejarah. Ada nilai-nilai budaya dan pariwisata, yang bisa terus dirasakan masyarakat China hingga saat ini.

"Tembok Besar China benar-benar hidup. Ini bukan hanya tembok batu. Ketika kamu meletakkan telapak tanganmu di dindingnya, kamu berpegangan tangan dengan leluhur (yang membangun tembok besar ini) yang tak terhitung jumlahnya selama bertahun-tahun," pungkas Dong.