Di awal pembangunannya, Hotel Ryugyong di Korut digadang-gadang sebagai salah satu yang tertinggi dan termegah. Namun, bangunan ikonik itu tak kunjung usai..
Dibangun sejak era Kim Il Sung, Hotel Ryugyong menjadi simbol dari ambisi besar penguasa Korut dari masa ke masa. Memiliki desain futuristik yang jauh lebih maju dari zamannya, hotel itu diketahui telah dibangun dari tahun 1987 silam.
Tak main-main, hotel dengan desain tak biasa itu dibuat menjulang setinggi 330 meter. Jauh lebih tinggi dari gedung-gedung lain di Pyongyang.
Hanya saja dalam prosesnya, hotel itu tak pernah tuntas hingga sekarang. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (11/7/2019) bahkan hotel itu kerap dijuluki hotel bayangan hingga hotel kehancuran seperti diberitakan media News Australia.
Dari yang awalnya dimaksudkan jadi kebanggaan Korut, ternyata malah berujung terbengkalai dan jadi aib selama tiga generasi Kim. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un kini, keberadaan Hotel Ryugyong ibaratnya kutukan dari generasi terdahulu.
Situs berita online lokal, NK News pun pernah memberitakan perihal kondisi interior hotel tersebut yang tampak terbengkalai. Dari yang tadinya menyerupai Piramida dan roket, berubah jadi menara hantu.
Rencana awal, Hotel Ryugyong dibuat dengan kapasitas sejumlah 7.665 kamar serta 105 lantai. Sempat mangkrak lama di awal karena krisis ekonomi, sejumlah kaca sempat dipasang di tahun 2011.
Sedangkan di tahun 2016, sejumlah lampu mulai dipasang lagi di menara tersebut. Puncaknya, tahun lalu display LED dipasang di salah satu sisi menara dan menampilkan video propaganda serta pertunjukan cahaya.
Pihak Guinness Book of Records sendiri menyebut Hotel Ryugyong sebagai bangunan kosong tertinggi di dunia. Melihat kondisinya kini yang tak kunjung usai, sebutan itu tentu begitu relevan.
Archipelago Mulai Terapkan Fasilitas Ramah Lingkungan di Hotel
Masalah sampah, khususnya limbah plastik kini menjadi masalah dunia. Grup hotel Archipelago pun menanggapi masalah ini dengan serius.
Limbah plastik yang dihasilkan dari hotel mencapai jumlah besar. Mulai dari bekas produk sabun, sikat gigi, plastik hingga botol minum. Inilah yang mendasari grup hotel Archipelago untuk ikut menyelamatkan bumi.
"Saya membaca riset bahwa ada setidaknya sampah yang dihasilkan manusia mencapai 10 juta jumlahnya setiap tahun. Hal ini dilakukan untuk menjaga alam, khususnya laut," ujar Winston Hanes, Director of Operations Archipelago Hotel Group saat ditemui dalam peresmian favehotel Hasyim Ashari Tangerang, Rabu (10/7/2019).
Maka dari itu, sejumlah fasilitas hotel grup Archipelago kini menggunakan produk ramah lingkungan. Mulai dari kamar, amenitas hingga beberapa fasilitas lainnya.
"Misalnya saja air minum. Kita mengganti botol plastik dengan gelas dan jug besar. Di setiap lantai, kami sediakan dispenser untuk mengambil air. Begitupun wrapping plastik yang diminimalisir," tambah dia.
Beberapa amenitas pun juga menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan. Seperti sabun, shampoo, sisir bahkan sikat gigi.
"Kami juga sudah mengganti shampoo dan sabun menggunakan tube besar. Sikat gigi yang kami berikan pun terbuat dari bambu," tambah dia.
Menurut Winson, hal ini akan dilakukan bertahap. Pihak Archipelago masih akan terus bekerja sama dengan pihak-pihak profesional yang dapat membantu mengurangi limbah plastik.
Hal ini pun bisa dibilang positif untuk menjaga lingkungan. Terang saja, sampah plastik menjadi masalah serius yang dihadapi bumi. Sejumlah restoran pun kini sudah memberlakukan hal yang sama untuk meminimalisir penggunaan plastik yang tidak dapat terurai.
"Kedepannya, kami juga akan menggunakan sedotan yang terbuat dari singkong yang lebih ramah lingkungan. Karena sedotan plastik dapat berbahaya kedepannya, dan penggunaanya sangat banyak," imbuh dia.