Mengawali hari kedua kunjungan kerjanya ke NTT, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta jajarannya menuju Pulau Rinca. Dia melihat komodo di sana.
Presiden dan rombongan berangkat dari dermaga hotel tempatnya menginap dengan menggunakan kapal cepat sekitar pukul 08.00 WITA, Kamis (11/7/2019). Jokowi didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat.
Pulau Rinca terletak di sebelah barat Pulau Flores, yang dipisahkan oleh Selat Molo. Pulau Rinca beserta Pulau Komodo dan Pulau Padar merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Setibanya di Pulau Rinca, Jokowi dan rombongan disambut Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang N dan Direktur Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Kemenhub Chandra Irawan.
Di sini, Jokowi meninjau fasilitas yang ada dalam menunjang kegiatan pariwisata. Tak hanya itu, dia sekaligus membahas rencana pengembangan Taman Nasional Komodo untuk dijadikan wisata bersegmentasi premium.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Jokowi juga akan meninjau rencana pengembangan di Dermaga Philemon Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Seusai santap siang, Presiden juga diagendakan akan menuju kawasan Batu Cermin, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Jokowi Mau Jadikan Labuan Bajo Sebagai Tempat Wisata Premium
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Labuan Bajo, NTT sejak Rabu (11/7) kemarin. Dia mau menjadikan Labuan Bajo sebagai tempat wisata premium.
"Segmentasi yang mau kita ambil di sini beda," katanya kepada awak media di Puncak Waringin, Labuan Bajo.
"Segmentasi yang premium, oleh sebab itu penataan kawasan di Labuan Bajo penting sekali," jelas Jokowi.
Soal penataan kawasan Labuan Bajo, Jokowi menyinggung pembangunan fasilitas penunjuang pariwisata seperti bandara dan trotoar. Supaya, wisatawan yang datang ke sana semakin merasa nyaman.
"Yang ingin kita percepat pertama bandara, terminal akan kita besarkan, runway diperpanjang, maksimal tahun depan rampung semua. Kemudian pengelolaan akan dilelang, terutama kita ingin agar yang mengelola airport ini yang memiliki jaringan pariwisata internasional, sehingga yang datang ke sini turis-turis yang diharapkan meningkatkan devisa," paparnya.
"Kita akan buat trotoar, tahun ini mulai sampe ke ujung, sehingga turis bisa menikmati view yang ada di depan sana. Juga berkaitan kekurangan supply air juga akan dikerjakan," ujar Jokowi.
Labuan Bajo sendiri merupakan salah satu 10 Destinasi Prioritas pemerintah. Artinya, pembangunan dan pengembangan pariwisatanya bakal lebih diperhatikan, supaya lebih memudahkan wisatawan dalam dan luar negeri.
Saksi Bisu Kedatangan Charlie Chaplin di Bandung
Siapa tak mengenal sosok Charlie Chaplin dengan kumis khasnya? Ternyata aktor legendaris ini pernah traveling ke Indonesia dan singgah di Bandung.
Bangunan Hotel Grand Prenger yang berada di Grotee Postweg (Jalan Raya Pos) atau yang kini dikenal dengan nama Jalan Asia Afrika merupakan saksi bisu perjalanan sejarah kota bandung.
Belum banyak yang mengetahui jika ternyata hotel yang sudah ada sejak tahun 1897 ini memiliki sebuah museum kecil yang bernama Museum Preanger di lantai dasar bangunan lama hotel ini. Di museum inilah tersimpan jejak Charlie Chaplin saat singgah di Kota Bandung tahun 1932.
Jejak Charlie Chaplin yang diabadikan di Museum ini adalah sebuah kursi berwarna merah yang pernah diduduki oleh Charlie Chaplin saat singgah di Hotel Grand Prenger pada tahun 1932. Di sebelah kursi itu terdapat keterangan mengenai Charlie Chaplin lengkap dengan gambar aktor legendaris tersebut menggunakan pakaian khasnya yakni jas kesempitan, celana panjang kebesaran, dan sebuah topi serta tongkat.
Dijelaskan bahwa kedatangannya untuk traveling ke Indonesia yang saat itu masih merupakan Hindia Belanda disambut secara besar-besaran saat tiba di Batavia. Charlie Chaplin menuliskan kunjungan singkatnya di Hotel Grand Preanger untuk mandi itu dalam bukunya yang berjudul 'Comedian Sees The World'.
Selain Charlie Chaplin ada satu nama lagi yang mendapat tempat khusus di museum ini, yaitu Amelia Earhart. Ia merupakan seorang pelopor penerbangan, penulis, dan pejuang hak perempuan di Amerika. Earhart hilang secara misterius di Samudera Pasifik dekat Pulau Howland dalam usaha untuk melakukan penerbangan keliling dunia tahun 1937 dan misteri hilangnya masih tetap berlanjut hingga saat ini. Konon dalam penerbangan tersebut, Earthart sempat mampir ke Bandung untuk perawatan rutin pesawat. Terdapat beberapa foto dan dokumen menunjukan bahwa ia pernah menginap di Hotel Grand Preanger.