Selasa, 14 Januari 2020

Apakah Pulau Komodo Tidak Ditutup, Tapi Jadinya Eksklusif?

Sejak awal tahun 2019, ramai isu penutupan Taman Nasional (TN) Komodo. Namun kini, apakah tidak jadi ditutup tapi jadinya eksklusif?

Di bulan Januari awal tahun 2019, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mencanangkan penutupan Taman Nasional (TN) Komodo. Alasannya, kondisi habitat komodo sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo.

"Pemerintah NTT akan melakukan penataan terhadap kawasan Taman Nasional Komodo agar menjadi lebih baik, sehingga habitat komodo menjadi lebih berkembang. Kami akan menutup Taman Nasional Komodo selama satu tahun," kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ketika ditemui di Kupang sebagaimana dikutip dari Antara (20/1).

"Kondisi tubuh komodo tidak sebesar dulu lagi, karena populasi rusa sebagai makanan utama komodo terus berkurang karena maraknya pencurian rusa di kawasan itu," lanjutnya menjelaskan.

Seiring berjalan waktu, setelah ada pertemuan antara pihak Pemprov NTT dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal ini oleh Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE), hanya Pulau Komodo saja yang ditutup. Bukan seluruh TN Komodo.

Namun, penutupan Pulau Komodo pun tentu hanya bisa dilakukan KLHK. Sebab, tanggung jawab dan pengelola taman-taman nasional di Indonesia merupakan tugas dari KLHK.

Untuk menutup suatu wilayah di taman nasional, diperlukan pertimbangan matang-matang. Segi konservasi dan kehidupan masyarakat di sekitarnya menjadi poin-poin terpenting.

Apakah Komodo jadinya tempat wisata eksklusif?

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ditemui awak media pada Rabu (10/7) sore kemarin mengatakan, rencananya akan ada pembatasan atau kuota bagi wisatawan ke Pulau Komodo. Pulau Komodo akan menjadi tempat wisata eksklusif.

"Betul, eksklusif," katanya.

Viktor mencontohkan Bhutan, negara kecil yang membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Apalagi menurutnya, Pulau Komodo punya pesona lebih dari itu.

"(Ke) Bhutan, kita tidak masuk sembarang, sekali masuk 2.500 orang dan kita lihat tebing doang. Di sini, kita lihat one and only komodo," ungkapnya.

Hari ini, Kamis (11/7/2019) Presiden Jokowi berkunjung ke Pulau Rinca. Awak media pun bertanya soal Pulau Komodo menjadi destinasi eksklusif.

"Ini yang mau kita putuskan nanti," ujar Jokowi.

Jokowi menjelaskan, komodo bisa dilihat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Jadi bisa saja, Pulau Komodo lebih eksklusif, sedangkan Pulau Rinca tidak.

"Kelihatannya seperti itu, kelihatannya mungkin Pulau Komodonya yang eksklusif, kemudian di Pulau Rinca yang tidak, tapi tetap ada kuotanya. Rinca pun punya ada hitungan daya dukung, berapa turis yang datang, nggak mungkin kita buka (begitu saja) silakan silakan, nggak seperti itu," paparnya.

Jokowi nantinya akan lebih membahas lebih lanjut soal pariwisata Labuan Bajo termasuk isu Pulau Komodo dalam rapat terbatas. Tersirat, Pulau Komodo sepertinya bukan masalah penutupan lagi. Namun, soal pembatasan turis dan konservasi.

"Saya tadi sudah sampaikan ke kepala balai untuk betul-betul dihitung daya dukungnya. Jangan sampai kita lost, bukan hanya urusan tourism tapi tidak juga melihat bahwa ini adalah kawasan konservasi," tegas Jokowi.

Gara-gara Minta Wine, Pilot Ribut Sama Awak Kabin

Ada masalah pada maskapai Korean Air. Dalam suatu penerbangan, pilot minta wine tapi tidak dikasih oleh awak kabin. Jadinya saling adu mulut!

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Kamis (11/7/2019) peristiwa tersebut terjadi pada akhir tahun 2018 kemarin. Setelah masalahnya diproses berkali-kali, akhirnya ditetapkan bahwa manajer awak kabin yang bersalah.

Ceritanya begini, maskapai Korean Air akan terbang dari Seoul di Korea Selatan menuju Amsterdam di Belanda. Saat di lounge bandara sebelum masuk pesawat, pilot pada penerbangan tersebut mau minum sampanye.

Namun, seorang awak kabin yang juga nantinya akan terbang pada penerbangan yang sama menghalanginya. Awak kabin itu menjelaskan, jangan minum minuman alkohol takutnya mabuk.

Kemudian di tengah penerbangan kala pesawat mengudara, pilot itu meminta secangkir wine pada awak kabin. Awak kabin lagi-lagi menolak dan melaporkan kepada atasannya, sang manajer awak kabin.

Dari situlah muncul adu mulut antara pilot dan manajer awak kabin. Beruntung, penerbangannya sendiri lancar-lancar saja dan pesawat mendarat dengan selamat di Amsterdam.

Barulah pihak maskapai Korean Air turun tangan menangani masalah tersebut. Akhirnya ditetapkan, manajer awak kabin yang bersalah dan di-skors.

"Manajer awak kabin mengeluarkan kata-kata menghina yang tidak pantas dan mengungkapkan masalah internal," tulis pernyataan Korean Air.

Korean Air menolak memberi pernyataan lebih lanjut, mengenai apa yang terjadi setelahnya. Kabarnya, sang pilot sendiri terbebas dari sanksi.

Apakah Pulau Komodo Tidak Ditutup, Tapi Jadinya Eksklusif?

Sejak awal tahun 2019, ramai isu penutupan Taman Nasional (TN) Komodo. Namun kini, apakah tidak jadi ditutup tapi jadinya eksklusif?

Di bulan Januari awal tahun 2019, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mencanangkan penutupan Taman Nasional (TN) Komodo. Alasannya, kondisi habitat komodo sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo.

"Pemerintah NTT akan melakukan penataan terhadap kawasan Taman Nasional Komodo agar menjadi lebih baik, sehingga habitat komodo menjadi lebih berkembang. Kami akan menutup Taman Nasional Komodo selama satu tahun," kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ketika ditemui di Kupang sebagaimana dikutip dari Antara (20/1).

"Kondisi tubuh komodo tidak sebesar dulu lagi, karena populasi rusa sebagai makanan utama komodo terus berkurang karena maraknya pencurian rusa di kawasan itu," lanjutnya menjelaskan.

Seiring berjalan waktu, setelah ada pertemuan antara pihak Pemprov NTT dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal ini oleh Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE), hanya Pulau Komodo saja yang ditutup. Bukan seluruh TN Komodo.

Namun, penutupan Pulau Komodo pun tentu hanya bisa dilakukan KLHK. Sebab, tanggung jawab dan pengelola taman-taman nasional di Indonesia merupakan tugas dari KLHK.

Untuk menutup suatu wilayah di taman nasional, diperlukan pertimbangan matang-matang. Segi konservasi dan kehidupan masyarakat di sekitarnya menjadi poin-poin terpenting.