Senin, 13 Januari 2020

Mie Atep: Kaya Rempah, Dicintai Wisatawan

Kehidupan pulau yang tenang, ditambah kuliner lezat jadi daya tarik pulau kecil di barat Indonesia. Mie Belitung pun jadi salah satu kuliner yang wajib dicoba.

Salah satu kedai mie paling legendaris di Belitung adalah Mie Atep. Terletak di Jalan Sriwijaya nomor 27, Tanjung Pandan. Jika dari Bandara HAS Hanandjoedin, dapat ditempuh sekitar 15-20 menit perjalanan.

Kedai yang sudah buka sejak tahun 1973 ini hanya memiliki satu tempat di Belitung. Meski, di Jabodetabek ada sejumlah cabang yang bisa dijajal wisatawan di Ibukota.

Sebut saja public figure Deddy Corbuzier hingga pakar kuliner mendiang Bondan Winarno pernah mampir ke sini. Pantas saja, jadi kuliner legendaris Belitung.

detikcom pun berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Kebetulan, sang pemilik, Ibu Atep sedang berada di toko. Ia memang tidak melayani langsung, namun ia duduk di bagian kasir. Bertugas melayani pelanggan yang membayar saat selesai bersantap.

Wajah ramah terpancar sejak saya menghampiri Bu Atep. Ia bercerita, kedainya memang sudah lama berdiri puluhan tahun silam. "Sudah 46 tahun, sejak 1973," ujarnya.

"Saya gemar berfoto. Ini (menunjuk saya) cucu nih, cucu saya," ujar dia. Ternyata, keramahan bu Atep benar-benar nyata sampai ke pelanggannya. Ia pun mengajak saya berfoto bersama.

Setelah berbincang hangat, Ia menjelaskan bumbu-bumbu yang digunakan. Mulai dari kandungan kuah, hingga potongan tambahan yang diberikan sebagai pelengkap hingga rasa Mie Belitung tetap asli terjaga.

"Pakai lengkuas, bawang merah dan putih, serta lada di mie," ujar dia.

Tentu saja, Belitung memiliki potensi rempah lada yang berkualitas. Hal ini pun menjadi ciri khas makanan-makanan yang kaya rasa, serta gurih dan nikmat untuk lidah Indonesia.

Komposisi mie Belitung pun bisa dibilang unik. Mulai dari rempah, mie yang ringan hingga potongan bakwan dan udang. Lengkap dengan emping yang renyah di atasnya.

Ibu Atep mengatakan, bahwa ia meracik bumbunya sendiri. Soal mie, ia membelinya dari seorang teman.

"Kalau mie beli dari orang, teman. Bumbu kita racik sendiri, masak sendiri," paparnya.

Menjadi kuliner khas, Mie Atep pun diincar banyak wisatawan. Tidak heran, saat mulai membuka kedai sudah banyak orang yang datang, tidak lupa dengan warga lokal.

"Mulai buka jam 8 pagi hingga malam. Biasanya ramai sarapan. Tapi banyak yang datang, sehari bisa mencapai 200 porsi lah," tambah dia.

Dagangannya ternyata menjadi tradisi sampai ke anaknya. Ia menceritakan, sejumlah cabangnya di Jabodetabek diurus oleh anaknya.

"Di Jakarta diurus anak. Tapi beda harganya, kalau di sini Rp 18 ribu di sana (Jakarta) 25 ribu. Sewa tempatnya di sana lebih mahal," ungkapnya.

Menu yang ditawarkan pun sederhana. Hanya mie dan nasi tim. "Dulu pernah jual beberapa menu, tapi tidak terurus. Jadi fokus 2 saja," tambah Bu Atep.

Tetapi, ada juga beberapa makanan ringan dijual di sini. Mulai dari kerupuk sampai sirup jeruk kunci khas Belitung yang khas. Cocok untuk oleh-oleh kerabat di rumah.

Mau Main Paddle Board Seperti Bu Susi? ke Purwakarta Saja

 Baru-baru ini, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti menantang Bos Facebook Mark Zuckerberg adu Paddle Board. Kamu yang mau coba juga, bisa ke Purwakarta lho.

Waduk Jatiluhur adalah tempat wisata di Purwakarta yang masih jadi primadona wisata di Jawa Barat. Sampai saat ini, danau buatan yang memiliki luas sekitar 8.300 hektare itu masih memiliki daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Bahkan di akhir pekan, Perum Tasa Tirta II telah menambahkan spot baru di kawasan Danau Jatiluhur dengan menggelar The 1st Stand Up Paddle and Kayak Exhibition.

Menurut Dirut PJT II, U Saefudin Noer Kegiatan ini merupakan upaya untuk mendongkrak Pengunjung yang berwisata ke Jatiluhur khususnya dan ke kabupaten Purwakarta pada umunya. Dengan digelarnya event bertaraf nasional sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

"Stand up paddle adalah upaya untuk meningkatkan destinasi wisata Jatiluhur, mengenalkan perum Jasa Tirta sebagi BUMN yang berpotensi mengembangkan pariwisata, line, sekaligus listrik dan air sekaligus mengangkat kearifan lokal UMKM, ekonomikreatif untuk bersama kita angkat ke permukaan," ujar Dirut Di Waduk Jatilihur, Sabtu (13/07/2019) lalu.

Sejauh ini, banyak wahana yang disiapkan di kawasan tersebut. Sebut saja salah satunya, wahana air dan fasilitas khusus olahraga air. Jadi, pengunjung juga bisa merasakan adrenalinnya terpacu, misalnya ketika menaiki perahu tradisional maupun speed boat yang bisa disewa untuk kepentingan rekreasi.

Selain berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air dan kebutuhan air irigasi. Dari sisi wisata air, Danau Jatiluhur layak dijadikan tempat bermain paddle board atau stand up paddle dan kayak.

Saat ini juga telah tersedia fasilitas penunjang lainnya. Semisal, dermaga terapung serta hotel baru yang rencananya akan di launching tahun ini. Dengan begitu, di Waduk Jatiluhur sekarang sudah banyak variasi spot-spot untuk berwisata.

Sementara menurut Ketua Komunitas Stand Up Paddle Indonesia, Hery Yanto, Paddle board ini adalah gabungan olahraga dari papan seluncur dan dayung seperti kano atau kayak. olahraga ini mulai dikenal sekitar tahun 1990-an di Hawaii dan mulai diajarkan di beberapa sekolah surfing.

Mau Main Paddle Board Seperti Bu Susi? ke Purwakarta SajaAda banyak wisatawan yang mencoba (Dian Firmansyah/detikcom)

Masuk di Indonesia pada awal tahun 2010-an, namun yang memainkan bukan warga Indonesia, melainkan beberapa wisatawan asing datang bawa Paddle board dan bermain di sejumlah destinasi di Indonesia.

"Indonesia sebenarnya banyak banget tempat bermain stand up paddle, Sekitar tahun 2014, kita-kita yang suka olahraga outdoor mencoba bermain stand up paddle diawali di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Lalu tahun 2015 mulai dikenalkan di acara outdoor festival, nah di situ membentuk komunitas stand up paddle Indonesia," ujar Hery di lokasi.

Hery menambahkan, Jatiluhur yang merupakan waduk terbesar dengan beberapa pulau-pulau yang cukup bagus, bisa menajdi spot bagus untuk destinasinya para pedayung.

"Komunitas stand up paddle Indonesia dan kayak Indonesia mencoba mengundang komunitas yang kebetulan difasilitasi oleh pihak PJT II agar bisa main disini, kedepannya ini akan menjadi tempat bermain untuk olahraga dayung ini. Kami akan membuat sejumlah event di sini untuk stand up paddle," ungkapnya.

Olah raga ini cukup mudah dan cepat dipelajari, terlihat banyak wisatawan yang berkunjung untuk mencoba dan belajar bermain stand up paddle. Salah satunya Muhammad Dwi Arya, anak berusia 11 tahun warga Jatiluhur. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia sudah lancar hingga mahir bergaya di atas papan paddle.

"Belajar baru-baru ini, mau ikutan atlet akan daftar, belum ikutan kejuaraan, baru nyoba hari ini," ujarnya.