Jumat, 10 Januari 2020

Bukan Chernobyl atau Fukushima, Ini Pulau dengan Radiasi Nuklir

Penelitian terbaru mengungkap bahwa tempat paling terpapar radiasi nuklir bukanlah Chernobyl dan Fukushima. Adalah Kepulauan Marshall jawabannya.

Temuan studi terbaru menyatakan ada bagian dari Kepulauan Marshall yang lebih radioaktif daripada Chernobyl dan Fukushima. Seperti dilansir CNN, Rabu (24/7/2019), tingkat radiasinya ada di seluruh bagian Kepulauan Marshall, Oseania, Samudra Pasifik.

Kenapa demikian? Karena, Kepulauan Marshall jadi tempat Amerika Serikat menguji bom nuklir selama Perang Dingin. Itu mengakibatkan tingkat radiasinya lebih tinggi daripada daerah yang juga terkontaminasi oleh bencana nuklir, Chernobyl dan Fukushima.

Dari tahun 1946 hingga 1958, pemerintah AS melakukan 67 uji coba nuklir di beberapa pulau kecil atau atol di Kepulauan Marshall. AS juga merelokasi seluruh penduduk namun tetap membuat orang lain terkena kanker karena radiasi itu.

Lebih dari 60 tahun kemudian, para peneliti dari Universitas Columbia mengatakan radiasi pada empat atol di sana tetap sangat tinggi. Di beberapa daerah bahkan sepuluh hingga 1.000 kali lebih tinggi daripada daerah radioaktif dekat pembangkit listrik Chernobyl yang meledak pada tahun 1986, dan Fukushima karena efek gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.

Saat menganalisis sampel tanah, para peneliti menemukan konsentrasi americium-241, cesium-137, plutonium-238 dan plutonium-239.240 di 11 pulau di empat atol daerah utara. Populasi Kepulauan Marshall relatif kecil.

Beberapa atol dan pulau hanya memiliki beberapa ratus orang. Enewtak Atoll adalah rumah bagi 664 penduduk dalam sensus pada tahun 2011. Atol Enewtak dan Bikini oleh para peneliti digambarkan sebagai ground zero untuk uji coba nuklir.

Uji coba nuklir di lokasi itu memang terbilang kecil, yakni ada 1.054 total tes nuklir yang dilakukan oleh AS dari tahun 1946 hingga 1992. Karang atol di Kepulauan Marshall mampu bertahan, kata para peneliti.

Bikini adalah tempat uji bom hidrogen terbesar AS yang dikenal sebagai Castle Bravo pada tahun 1954, Ledakannya 1.000 kali lebih kuat dari yang dijatuhkan di Jepang selama Perang Dunia II.

Pulau Bikini memiliki tingkat radiasi tertinggi dari yang pernah dipelajari, dan mereka merekomendasikan agar Pulau Bikini tetap tidak berpenghuni. Penduduk Bikini dipindahkan secara paksa pada tahun 1946 dan dikirim ke beberapa pulau yang berbeda karena sumber makanan dan air.

Para peneliti mengatakan beberapa orang Bikini kembali ke Pulau Bikini pada akhir 1960-an. Itu setelah pemerintah AS menyatakan Bikini aman untuk permukiman kembali, tapi mereka keluar kembali dari pulau itu karena paparan radiasi tingkat tinggi.

Setelah pendudukan AS selama Perang Dunia II, pulau-pulau tersebut menjadi wilayah AS hingga akhir 70-an. Sekarang Kepulauan Marshall menjadi negara merdeka tapi memiliki Compact of Free Association dengan AS.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS, paparan radiasi tingkat tinggi seperti yang terjadi di dekat ledakan atom dapat menyebabkan luka bakar kulit dan sindrom radiasi akut, itulah penyakit radiasi. Efek kesehatan jangka panjang adalah kanker dan penyakit kardiovaskular.

Asyiknya Naik Sepeda Air di Sungai Oya Bantul (2)

Sepeda itu berupa 2 unit sepeda yang dilas dengan beberapa potongan besi sehingga saling berhubungan. Sedangkan agar bisa dikendarai di atas air, sebuah kincir air dari bahan fiber terpasang di bagian belakang sepeda.

Nantinya, kincir tersebut akan bergerak jika pedal sepeda dikayuh, hal itu karena rantai sepeda tersebut telah terhubung dengan kincir air. Sedangkan untuk kaki-kakinya, sepeda berwarna hijau ini menggunakan 2 buah pipa berukuran besar yang terpasang pada sisi kanan dan kiri sepeda.

"Nah, pas percobaan pertama nggelempang (sepeda air terguling) karena paralonnya kurang panjang. Setelah itu ganti paralonnya dan akhirnya bisa digunakan untuk bersepeda di atas air," katanya.

Setelah berhasil, warga berkeinginan lagi untuk membuat sepeda air. Namun, untuk sepeda air kedua ini hanya menggunakan satu unit rangka sepeda kayuh saja.

"Untuk sepeda kedua ini hanya satu sadel dan tidak pakai paralon karena mahal, mengingat 1 paralon itu harganya Rp 300 ribu, beli 2 sudah Rp 600 ribu. Karena mahal itu terus kami ganti dengan galon, tapi untuk penggerak kincir anginnya ditambah 1 lagi jadi 2 kincir," ujarnya.

Menurut warga RT.4, Dusun Wunut, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul ini, total biaya yang dikeluarkan untuk membuat 2 unit sepeda air itu adalah Rp 3 juta. Dana tersebut berasal dari patungan warga setempat.

"Setelah itu baru buat wahana ini Mas, selain menyediakan sepeda air ada kano juga untuk menyusuri Sungai Oya. Untuk menyusuri Sungai Oya pakai sepeda atau kano ini hanya perlu bayar Rp 5 ribu per orang, untuk waktu tidak dibatasi, tapi kalau pas banyak pengunjung itu dibatasi satu kali bolak balik saja," ucap Ponijo.

"Biaya Rp 5 ribu per orang itu sudah termasuk sewa rompi pelampung," imbuhnya.

Ponijo menambahkan, bahwa wahana sepeda air ini buka dari pagi hingga menjelang Maghrib. Menurutnya, meski wahana sepeda air hanya beroperasi saat musim kemarau, ia mengaku sudah banyak wisatawan yang datang dan mencoba sepeda air di Sungai Oya.

"Setiap hari selalu ada yang datang, kebanyakan hanya mau foto-foto. Kalau pas akhir pekan seperti ini bisa sampai puluhan orang, wong dalam sehari kalau hari Sabtu-Minggu itu bisa dapat Rp 250 ribu," katanya.

"Dari pendapatan itu (wahana sepeda air) rencananya digunakan untuk pengembangan. Rencananya kami mau tambah 1 lagi untuk sepeda airnya, sepeda air yang ketiga ini 2 sadel dengan penggerak 2 kincir angin," ucapnya.

Salah seorang pengunjung, Wahyu Mahmudiyanto (28) mengatakan bahwa baru pertama kali mencoba wahana sepeda air. Menurutnya, menyusuri Sungai dengan bersepeda merupakan hal yang menyenangkan.

"Pertama itu lihat di Instagram, karema unik terus penasaran dan ingin mencoba. Setelah mencoba ternyata asyik dan seru juga, karena kan biasanya kalau susur sungai itu pakai kano atau perahu, nhah ini pakai sepeda," ujarnya.

Warga Kelurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman ini bahkan menilai wahana sepeda air ini sangat cocok untuk melepas penat setelah seminggu bekerja. Namun, ia menyangkan kurangnya unit sepeda air di wahana tersebut.

"Ya kalau bisa sepeda airnya ditambah lagi, jadi pengunjung tidak perlu mengantre lama untuk mau mencobanya (sepeda air di Sungai Oya)," kata Wahyu.

Cara ke Sana:

Untuk mencapai wahana baru itu, wisatawan hanya perlu melakukan perjalanan darat sejauh 26 km dari jantung Kota Yogyakarta ke arah selatan. Sesampainya Kecamatan Imogiri, pengunjung hanya perlu mengambil rute menuju SPN Selopamioro.

Menyusuri jalan tersebut, pengunjung akan menemukan simpang tiga yang berada di dekat SMP N 2 Imogiri. Sampai di simpang tiga itu, pengunjung diharap berbelok ke kiri menuju RT.4, Dusun Wunut, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Setelah beberapa menit menyusuri jalan tersebut, pengunjung akan menemukan sebuah jembatan bambu di pinggir jalan. Jembatan itu mengarah ke sungai Oya dan menjadi gerbang masuk ke wahana sepeda air.

Sesampainya di wahana itu, pengunjung akan dimanjakan dengan jernihnya air di Sungai Oya. Tampak pula beberapa kano dan 2 unit sepeda air yang terparkir di Sungai tersebut.