Kamis, 09 Januari 2020

Besok, Menteri Pariwisata Akan Buka Banyuwangi Ethno Carnival

Karnaval megah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali hadir. Menteri Pariwisat Arief Yahya dijadwalkan akan membuka acara ini Sabtu (27/7) esok.

Satu di antara Top 10 Event Pariwisata Nasional tersebut bakal tersaji kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi besok Sabtu (27/7/2019), mulai pukul 12.00. Menteri Pariwisata Arieh Yahya dijadwalkan membuka perhelatan ini.

Mengangkat tema 'The Kingdom of Blambangan', 120 talent menyajikan kostum indah dan megah. Bukan hanya sedap dipandang, kostum yang terbagi dalam sepuluh sub tema itu sarat makna historis tentang kejayaan Kerajaan Blambangan, cikal bakal Banyuwangi.

Para talent bakal berparade di jalan-jalan pusat Kota Banyuwangi. Tepatnya dari jalan Veteran, kawasan Taman Blambangan, lantas menuju jalan PB Sudirman, dan finish di Stadion Diponegoro melalui jalan Jaksa Agung Suprapto.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, BEC merupakan salah satu atraksi wisata budaya daerah yang dibalut dalam kemegahan karnaval modern. "Tahun ini adalah penyelenggaraan BEC kali kesembilan. Event tahun ini kami kemas lebih atraktif dari tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

Tahun ini BEC mengangkat tema "Kingdom of Blambangan". Tema besar King of Blambangan ini lalu dipecah menjadi 10 sub tema yang dituangkan dalam 120 busana etnik. "Setiap sub tema akan dibuatkan satu panggung yang tersebar di sepanjang rute yang dilalui. Jadi, penonton bisa mengeksplorasi setiap sub tema yang ditampilkan, bisa menjelajah satu panggung ke panggung lainnya," kata Anas kepada detikcom, Jumat (26/7/2019).

Kemeriahan parade busana etnik kontemporer ini akan diwarnai penampilan istimewa. Acara dibuka dengan sendratari berkisah tentang "Amuke Satria Blambangan". Selanjutnya menyusul parade talent kehormatan yang dibawakan antara lain oleh Putri Pariwisata Indonesia 2018 dan Miss Toursm and Culture Indonesia Tahun 2019.

Barisan selanjutnya ada parade ratusan talent yang menggambarkan tema The Kingdom of Blambangan. Mereka ini membawakan kostum yang dibawakan dalam 10 tematik. Sepuluh sub tema tersebut adalah kedhaton (kerajaan), raja, putri, resi sapta manggala, pusaka kerajaan, pelabuhan Loh Pampang, pura agung Blambangan, kapal Jong Blambangan, setinggil, dan nelayan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Muhammad Yanuarto Bramuda menambahkan, event BEC yang sekaligus menjadi ajang promosi wisata Banyuwangi ini sangat menarik perhatian para wisatawan domeatik dan mancanegara.

"Karnaval megah ini akan disaksikan ribuan wisatawan. Para penonton bisa menyaksikan parade ini pada 10 panggung yang disediakan di sepanjang jalur yang dilewati," pungkasnya.

Homestay Bertambah, Penyengat Semakin Ramah untuk Turis

Paket wisata budaya Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau sedang menjalani uji trail. Namun, paket tersebut diyakini telah siap dilepas untuk wisatawan, terutama dari amenitas Pulau Penyengat yang semakin baik.

Dalam masa uji trail yang dilangsungkan 24-27 Juli itu, sedikitnya ada 8 konten yang diujikan. Di antaranya Tradisional Dress Experience (TraDE), Bentor/Cycling Historical Tour (BenCHiT), dan Tour The Sites.

"Tidak ada masalah dengan uji trail paket wisata. Apalagi, amenitas Pulau Penyengat sudah siap. Ada banyak homestay yang sudah aktif dan bisa dipilih para wisatawan. Menginap di Pulau Penyengat tentu menjadi experience terbaik. Sebab, nuansanya sangat khas. Ada banyak spot dengan nilai sejarah besar di sini," tutur Ketua HPI Tangjungpinang Raja Farul, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/7/2019).

Sedikitnya, Pulau Penyengat memiliki 17 homestay yang lokasinya tersebar merata di setiap sudut pulau. Harga sewa yang ditawarkan beragam, sesuai grade fasilitasnya. Beberapa mematok harga Rp 300 ribu per malam. Untuk extra bed, dikenakan tambahan biaya Rp 50 ribu per malam.

"Pulau Penyengat memang potensial. Selain atraksinya yang luar biasa, destinasi ini memiliki fasilitas yang bagus. Homestay tentu menjadi daya tarik lain. Sebab, para wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Posisi amenitas ini juga menjadi pilar penting dalam uji trail paket wisata ini," kata Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani.

Noken Raksasa Setinggi 30 Meter Bakal Pecahkan Rekor MURI di FLB 2019

Pelaksanaan Festival Lembah Baliem (FLB) 2019 akan terasa istimewa. Sebab, berbagai kekayaan budaya Papua akan mewarnai festival yang akan di gelar 7-10 Agustus ini. Festival ini akan memecahkan rekor MURI pembuatan noken raksasa setinggi 30 meter. Noken adalah tas khas masyarakat Papua. Menurut Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi, Don Kardono, pemecahan rekor ini sangat prestisius bagi masyarakat Papua.

"Noken bukanlah tas biasa. Bagi masyarakat suku Hubula dan masyarakat di wilayah pegunungan tengah pada umumnya (Suku Lanny, Suku Yali dan suku Ngalik), noken memiliki nilai adat yang sangat tinggi. Maka sangat wajar jika noken dijadikan sebagai ikon pada pelaksanaan Festival Lembah Baliem ke-30 ini," kata Don dalam keterangannya, Jumat (26/7/2019).

Sementara itu, Kadisbudpar Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan ada 2 jenis noken yang akan dipecahkan. Pertama adalah Noken Lakulik, sebuah noken yang berfungsi sebagai pembayaran adat. Seperti bayar denda, bayar kepala, bayar mas kawin, bayar duka, atau pun persembahan pada upacara adat bagi yang maha kuasa (Ap tugure).

Kedua ada Noken Apugut. Noken ini berfungsi sebagai pelengkap bagi kaum wanita. Digunakan di kepala kaum wanita saat menghadiri acara pesta adat, tari-tarian, saat melakukan perjalanan atau menggendong anak.

"Saya sendiri telah meninjau kesiapan pembuatan kedua noken tersebut. Untuk Noken Lakulik telah mencapai panjang 22 meter yang dibuat oleh ibu-ibu dari Asitipo. Sedangkan untuk Noken Apugut pengerjaannya telah mencapai 98% yang dikerjakan oleh ibu-ibu perajin di Waga-waga Distrik Kurulu," terangnya.

Noken dalam bahasa suku Hubula di sebut Su atau sebuah harta yang digunakan sebagai nilai kehidupan sosial. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan dan juga nilai kekuatan.

Noken atau Su juga dijadikan sebagai dasar alat pembayaran, alat pernyataan kehormatan dan alat persembahan bagi para arwah leluhur atau yang maha kuasa. Noken juga berfungsi sebagai alat kehormatan bagi seorang wanita, harta benda adat yang harus di jaga. Selain itu juga sebagai tempat penyimpanan benda berharga, benda sakral, benda sumber kekuatan dan juga benda kehormatan.

"Noken bukanlah tas biasa. Banyak falsafah yang terkandung di dalamnya. Selain itu, noken pun bisa menjadi sebuah kerajinan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh wisatawan. Dengan diangkatnya kerajinan ini, akan semakin menambah nilai jual noken ke wisatawan. Imbasnya tentu peningkatan perekonomian masyarakat terutama para pengrajin Noken," papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani.

Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management CoE, Esthy Reko Astuti ikut angkat suara. Menurutnya, Festival Lembah Baliem menjadi sebuah festival yang wajib dikunjungi. Eksistensinya sudah tidak diragukan dan telah dilaksanakan selama 30 tahun lamanya. Bahkan merupakan festival tertua di Papua. Dengan itu dapat dipastikan jika festival ini akan sensasional.

"Tahun lalu, FLB mampu menyedot 3.000 wisatawan, 1.000 di antaranya merupakan turis mancanegara. Ini merupakan bukti betapa bakal menariknya FLB nantinya. Makanya banyak yang beranggapan jika belum ke Baliem berarti belum sah menginjakkan kaki di Papua," kata wanita berhijab itu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun mengungkapkan hal yang senada. Menurut Arief, selama 30 tahun, perjalanan pagelaran budaya ini terus berkembang menjadi ikon pariwisata Papua. Perhelatannya selalu kolosal dan megah dan menjadi buruan wajib traveler dunia. Kehadirannya mampu memberikan gambaran eksotisnya alam serta kebesaran budaya Papua.