Rabu, 08 Januari 2020

Miris! Jangkar Yacht Mewah Rusak Terumbu Karang di Gili Trawangan

 Kejadian miris tentang rusaknya terumbu karang kembali terjadi. Kali ini di Gili Trawangan, gugusan karang itu hancur akibat jangkar kapal yacht mewah.

Beberapa waktu lalu, heboh peristiwa hancurnya gugusan terumbu karang di Kepulauan Kri, Raja Ampat akibat kandasnya Kapal Pesiar Inggris bernama Caledonian Sky. Kali ini kejadian serupa kembali terjadi, namun lokasinya di Gili Trawangan, NTB.

Gugusan terumbu karang cantik di dive spot bernama Deep Turbo rusak akibat jangkar kapal yacht bernama The Michela Rose. Potongan video di Instagram yang diambil oleh diver bernama Philip Christoff, pun memperlihatkan detik-detik saat jangkar dengan rantai sepanjang 50 meter itu melilit terumbu karang di dive site tersebut.

"Ya, benar. Kami menyelam di sana (Deep Turbo -red) pada 14.30 di hari Sabtu (27/7) kemarin. Terumbu karang itu ada di kedalaman 25-30 meter," kisah Philip lewat pesan kepada detikcom, Senin (29/7/2019).

Philip mengaku sudah memperingatkan kapal tersebut, tapi mereka seperti tidak mempedulikan peringatan Philip. Kapal Michaela Rose itu malah pergi di malam harinya, dan sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadaannya.

"Kapal tersebut pergi malam harinya di hari yang sama," imbuhnya.

Soal kerusakan terumbu karang di dive site tersebut, Philip tidak bisa memberikan estimasi. Dia harus menyelam lagi untuk bisa memastikan berapa luas area kerusakannya.

"Rantai jangkar kapal itu sepanjang 50 meter, jadi tergantung bagaimana rantai tersebut bergerak saat mereka menarik rantai tersebut. Saya juga belum tahu sebelum saya pergi ke sana lagi dan melihatnya langsung," imbuh Philip.

Mengenai kejadian ini, Philip sudah melaporkan kepada pihak yang berwajib. Menurut Philip, saat ini mereka sedang melakukan investigasi.

"Saat ini mereka sedang mengukur kerusakan yang terjadi. Semua sudah dilaporkan ke otoritas yang berwenang saat itu juga," jelas Philip.

Kisah Kota yang 20 Tahun Berjuang Dapatkan Udara Bersih

Polusi udara menjadi masalah besar bagi Jakarta. Tampaknya, perjuangan untuk mendapat udara bersih tidak bisa instan. Lihat saja, Kota Brisbane di Australia ini.

Jakarta menjadi kota paling berpolusi di dunia versi AirVisual pagi ini. Jakarta menempati peringkat teratas dengan kondisi udara tidak sehat.

Dilansir AirVisual di situsnya, Senin (29/7/2019) pukul 06.10 WIB, Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 188. Artinya kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Ranking polusi ini tidak tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Mari kita mengenal Kota Brisbane di Australia. Ibukota negara bagian Queensland dengan sekitar 2 juta penduduk ini selalu masuk dalam daftar kota-kota dengan udara terbersih sedunia.

Melansir website Brisbane City Council, Senin (29/7/2019) butuh perjuangan tak sebentar bagi Brisbane untuk melawan polusi di negaranya. Semua bermula di tahun 1996, yang jerih payahnya dirasakan pada tahun 2016. Kala itu, Brisbane dinobatkan sebagai kota dengan udara terbersih di Australia versi Clean Air Society of Australia and New Zealand.

Tak puas sampai di situ, Brisbane melanjutkan program 'Clean, Green, Sustainable 2017-2031'. Menariknya, Brisbane punya tim khusus untuk memantau kebersihan udaranya, yakni Brisbane Clean Air Strategy.

Apa yang dilakukan Brisbane untuk menjadi kota dengan udara terbersih?

Pertama, adalah menggalakkan warganya naik transportasi umum. Pemerintah Kota Brisbane menyediakan dan menambah jalur-jalur transportasi umum. Transportasi umumnya pun begitu nyaman dan bersih. Sehingga, tampaknya tidak ada alasan bagi warganya untuk tidak memakai transportasi umum.

Bahkan, pemerintah Kota Brisbane pun memakai bahan bakar yang ramah lingkungan. Tak tanggung-tanggung, 80 persen armada transportasi umumnya memakai bahan bakar tersebut!

Pariwisata Bantu Ekonomi Dunia, Tapi Sumbang Polusi Juga

Pariwisata membantu perekonomian dunia. Tapi ternyata, pariwisata juga menyumbang polusi untuk Bumi kita.

Konteks pariwisata sering dikaitkan dengan plesiran, mempelajari hal baru, mengunjungi tempat menyenangkan bahkan membangun bisnis yang kuat untuk membangun ekonomi agar manusia tetap dapat tumbuh sejahtera. Pernahkah terpikirkan oleh Anda, dampaknya bagi alam?

Kita mulai dari hal positifnya. World Travel and Tourism Council (WTTC) dalam laporannya Travel and Tourism Economic Impact 2019 menjabarkan bahwa 10,4 persen aspek GDP secara internasional berasal dari pariwisata. Bahkan di tahun 2019, pertumbuhannya mencapai 3,9 persen.

Fakta yang mungkin cukup mencengangkan, bahwa 319 juta pekerjaan didukung oleh pariwisata dan kegiatan traveling lainnya. Dalam persentase, artinya 10 persen dari total pekerjaan yang ada di dunia ini memiliki pondasi dari pariwisata dan kegiatan perjalanan.

Anda belanja suvenir saat traveling? Tentu itu membantu. Jajan di warung lokal, menghidupi masyarakatnya. Hal sesederhana itu membantu perekonomian yang mungkin dapat memberikan dampak berkelanjutan. Sekali lagi, dampak itu berguna bagi kesejahteraan secara finansial.

Kepedulian orang-orang saat ini juga perlu diacungi jempol untuk alam. Lihat saja, berapa kafe yang Anda temui di kota-kota besar yang sudah menggunakan sedotan stainless atau kayu dengan landasan mengurangi sampah plastik? Atau mulai mengedukasi pelaku wisata di berbagai wilayah untuk mengolah limbah hasil wisatawan.

Namun ternyata, pariwisata juga punya dampak negatif. Bukan sekadar vandalisme di tempat wisata, membuang sampah, atau mencemarkan lingkungan yang dengan sengaja dilakukan.

Dampak negatif lain dari pariwisata adalah polusi. Polusi ini adalah ekses dari kegiatan penerbangan. Terpikirkah oleh Anda?

Friends of the Earth, LSM yang bergerak di bidang lingkungan asal Amsterdam, Belanda mengemukakan dalam sebuah esai berjudul 'Aviation and Global Climate Change' bahwa perjalanan penerbangan menghasilkan karbondioksida yang berasal dari bahan bakar pesawat yakni avtur.

Dalam esai tersebut juga dijelaskan bahwa peningkatan besar dalam polusi dari pesawat sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat dalam lalu lintas udara. Peningkatan ini hampir 2,5 kali dari rata-rata pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1960.

Diperkirakan, jumlah orang yang terbang hampir dua kali lipat dalam 15 tahun ke depan. Artinya, akan ada peningkatan kapasitas bandara, lebih banyak frekuensi penerbangan, polusi, dan wilayah udara yang semakin ramai.

Dilansir dari Deutsche Welle, banyak perkiraan menempatkan pangsa penerbangan dari emisi CO2 global hanya di atas 2 persen. Itulah angka yang diterima oleh industri itu sendiri.

Namun menurut Profesor Stefan Gossling dari Linnaeus University dan editor dari buku 'Climate Change and Aviation: Issues' mengatakan bahwa hal tersebut hanya setengahnya benar. Emisi penerbangan lain seperti nitrogen oksida (NOx), uap air, partikulat, dan jejak kondensasi (jejak uap air yang muncul dari sisa pembakaran mesin pesawat-red) memiliki efek pemanasan tambahan alias berdampak kepada pemanasan global.

Bukan cuma pemanasan global, turbulensi akan semakin parah. Pemanasan global bukan cuma jadi bom waktu bagi habitat makhluk hidup. Ternyata, ini menjadi bumerang bagi penerbangan itu sendiri. Dampak pemanasan global juga bisa berpotensi tinggi pada turbulensi penerbangan.

Dikutip dari The Guardian, hal ini karena daya angkat ke atas yang dilakukan pesawat diciptakan dengan mengalihkan di sekitar sayap saat pesawat hendak naik. Hal ini, akan sulit dicapai ketika udara sangat panas karena udara panas lbih tipis dibandingkan udara dingin.

Sedangkan, perubahan suhu yang terjadi dapat memberikan tekanan lebih terhadap ketidakstabilan udara pada ketinggian tertentu. Akibatnya, tekanan udara berpotensi besar menyebabkan turbulensi.

Sebenarnya, turbulensi memiliki sejumlah tingkatan yang tidak sepenuhnya mengerikan. Mulai dari goncangan yang kecil, sedang, hingga besar. Potensi pesawat jatuh karena turbulensi pun kecil, namun penumpang harus tetap hati-hati dan menggunakan sabuk pengaman agar tidak cidera selama guncangan berlangsung.

Dari semua faktor penyebab masalah ini, sebenarnya mengurangi penggunaan pesawat bisa meminimalisir pemanasan global. Namun, tentunya industri ini membantu sektor lain untuk tetap hidup.

Mau tidak mau, pariwisata kini menjadi sumber penghidupan banyak orang. Tidak sedikit yang mencari makan dan menghidupi diri dari plesiran atau perjalanan. Tentunya, menjadi kebutuhan yang sulit diputuskan untuk dikurangi.

Menurut kamu, bagaimana?