Selasa, 07 Januari 2020

Kisah Wanita Hebat, Tak Sengaja Pecahkan Rekor Dunia di Antartika

 Cerita ini tentang petualang yang melakukan ekspedisi solo di Antartika atau Kutub Selatan. Tak disangka, rekor dunia pun dipecahkannya.

Melansir CNN, Jumat (2/8/2019), adalah Johanna Davidsson yang melakukannya. Ia seorang diri menjelajah Benua Antartika.

"Ya Tuhan, apa yang telah saya lakukan?" kata dia.

Saat itu tahun 2016 dan perawat asal Swedia itu ingin memenuhi impiannya yang dibekap selama satu dekade, yakni berjalan menggunakan ski solo di Kutub Selatan. Perjalanannya dimulai dari Hercules Inlet di Antartika Barat.

Di depan membentang gurun es sejauh 1.130 kilometer dan harus dilaluinya. Davidsson melakukan ekspedisi ini tanpa bantuan dengan hanya membawa kereta luncur berbobot 243 kilogram.

Masalah kecil apapun dapat dengan cepat menjadi masalah besar ketika berada dalam cuaca dingin. Bersyukur, semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

Meski perjalanannya hanya bisa melihat latar cakrawala putih, namun Davidsson merindukan kesederhanaan dari alam. Ia bisa makan, bermain ski, tidur dengan hangat, tidak ada ponsel, tidak ada internet hingga tidak ada email yang bikin kehidupannya lebih mudah.

Selama bertahun-tahun Davidsson telah menjalani kehidupan 'ganda', ia seorang perawat di pusat medis Tromso Legevakt dan seorang petualang terkemuka. Dia pernah berkayak 3.660 kilometer di sekitar garis pantai Swedia dan Finlandia, mendaki puncak El Capitan di Yosemite AS, mengendarai paralayang di Greenland selatan ke utara melintasi Samudra Hindia.

Ia tertarik pada tempat yang tak terlalu ramai. Serta, ia merasa istimewa ketika sendirian di lokasi yang dituju.

Tekad bulat

Kembali ke Antartika, populasi puncak di sana hanya 5.000 orang yang tersebar di lahan seluas 14,2 juta kilometer persegi. Pada 15 November 2016, setelah 18 bulan masa perencanaan dan penggalangan dana, Davidsson mendarat di pinggiran benua itu.

Begitu pesawat pergi, dia mulai berjalan menggunakan ski. Selama tujuh sampai 12 jam ia menyeret kereta luncurnya di sepanjang es, rata-rata 30 kilometer sehari.

Dalam cuaca yang cerah dia menavigasi dengan bantuan cahaya matahari. Ketika cuaca bekabut dan sejenis dalam jarak pandang sangat rendah, ia seperti dalam bola pingpong.

Salah satu ketakutannya adalah kegagalan di peralatan yang dibawa atau kondisi tubuhnya. Perjalanan di Antartika ini dilakukan setiap hari selama berminggu-minggu berturut-turut dan tekad adalah kuncinya.

Ketika mulai berjalan di pagi hari, ia membiarkan pikirannya mengembara. Ia melamun dan memikirkan orang yang dicintai, seperti keluarga hingga temannya.

Ketika merasa lelah, ia hanya berhenti sejenak selama lima menit dan melanjutkan perjalanan yang tersisa sesuai waktunya. Ia tidak terlalu memikirkan Kutub Selatan dan lebih suka fokus pada tujuan hingga ulang tahunnya (yang ke-33) saja dirayakan selama perjalanan.

Pada Malam Natal, setelah berjalan selama 38 hari 23 jam 5 menit, ia muncul di bagian lain Kutub Selatan. Itulah rumah bagi Stasiun Kutub Selatan Amundsen-Scott, sebuah basis penelitian ilmiah yang dihuni beberapa manusia.

Davidson tidak menginjakkan kaki di Antartika dengan tujuan untuk memecahkan rekor dunia. Tapi, ia menjadi wanita tercepat yang berjalan menggunakan papan ski sendiri.

Ia juga tidak didukung bantuan dari pantai Antartika menuju titik Kutub Selatan. Dia mengalahkan rekor sebelumnya, sembilan jam lebih cepat.

Tidak tahu seberapa cepat dia berjalan dengan papan ski, Davidsson mengepak persediaan selama 50 hari. Dari titik Kutub Selatan, ia balik ke pantai menggunakan paralayang di mana ia diturunkan oleh pesawat.

Ia dibantu oleh angin dan tiba kembali di Hercules Inlet 12 hari kemudian. Untuk kembali ke kerumunan orang-orang ia perlu penyesuaian, ia merasa sedikit kesepian ketika menyelesaikan semuanya hingga menunggu satu hari untuk dijemput.

Namun kesepian itu tidak berlangsung lama. Davidsson pulang ke rumah dan disambut bak seorang pahlawan,
"Wanita Swedia memecahkan rekor," kata Smithsonian Magazine. Davidsson memenangkan Shackleton Award untuk ekspedisinya yang dipersiapkan dengan sangat cermat dan untuk kedua kalinya di Adventurer of the Year Swedia.

Kembali ke Antartika

Semenjak ekspedisinya memecahkan rekor, Davidsson ia tak hanya menjadi perawat, ia berbicara sebagai motivator dan menerbitkan buku yang menceritakan ekspedisi Antartikanya.

Dia belum selesai dengan benua itu dan mengambil perannya sebagai pemandu. Dalam dua musim ekspedisi, ia bekerja untuk perusahaan wisata Antarctic Logistics & Expedition dan kembali ke Kutub Selatan untuk ketiga kalinya meski dengan jarak yang lebih dekat.

Iajuga dua kali mendaki puncak Gunung Vinson Massif, puncak tertinggi Antartika, 4.892 mdpl. Dan, dia akan kembali lagi tahun ini.

Koteka dari Papua, Tapi Tak Semua Orang Papua Pakai Koteka

Koteka merupakan pakaian tradisional Papua yang terancam punah. Namun ternyata, koteka punya banyak cerita.

Koteka kini jadi barang mahal yang bisa ditemui wisatawan jika ke Kepulauan Papua. Perubahan mengajari hal baru yang lebih baik, yakni pakaian modern.

Terlepas dari itu, tak semua orang papua mengenakan koteka yang terbuat dari labu. Karena satu dan lain hal, mereka menggantinya menggunakan bahan yang lain untuk menutupi alat kelaminnya, salah satu contohnya kulit kayu.

"Dalam budayanya suku-suku pesisir Papua, baik di pesisir utara, pesisir selatan, pesisir Kepala Burung atau suku-suku yang tinggal di pulau lepas pantai Papua, mereka tidak mengenakan koteka tetapi mereka mengenakan kulit kayu," kata Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, Jumat (2/8/2019).

Lalu ada Suku Marind yang mendiami Merauke sampai pesisir selatan Papua Nugini. Ada satu hal yang menarik tentang suku ini.

Kotekanya berbeda dengan yang mungkin sudah kamu tahu. Berbeda di Suku Marind, kotekanya terbuat dari tempurung kelapa dikarenakan sulit mencari labu di wilayah pesisir.

"Biasanya koteka yang dipakai orang-orang di Wamena itu dari labu dan panjang-panjang toh. Itu berbeda dengan suku Marind yang terbuat dari tempurung kelapa. Ya, tempurung kelapa akan menutupi (maaf) alat kelaminnya. Sebab, sulit cari labu di wilayah pesisir,"ujar Kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merauke, Kansius Paulus beberapa waktu lalu.

Mari kita mengenal koteka

Pertama dari Suku Dani di Lembah Baliem. Mereka membuat koteka dari buah labu (Melongena SP).

Tanaman labu ini ditanam di kebun atau pekarangan honai. Hanya laki-laki saja yang boleh menanam labu ini, merawat hingga memanennya.

Tanaman labu ini tumbuh organik, dibiarkan merambat pada sandaran terbuat dari kayu setinggi satu hingga tiga meter sebagai penopang. Tidak hanya itu, kadang koteka juga dibuat dari buah labu yang tumbuh liar.

Cara membuat koteka yaitu buah labu yang sudah tua dipotong pada bagian ujung, kemudian dikeluarkan isinya. Untuk memudahkan mengeluarkan isi, maka buah labu dibakar sebentar dalam perapian.

Setelah itu, buah labu yang sudah bersih dari isi, dikeringkan di atas perapian. Pada bagian ujung labu yang sudah kering ini dilubangi menggunakan tulang kuskus atau tulang babi yang tajam. Lubang ini untuk tali pengikat pinggang.

Secara tradisional, suku-suku di Papua yang mengenakan koteka yaitu Suku Dani, Suku Lani, Suku Yali, Suku Mee dan Suku Amungme. Suku Dani menyebut koteka dengan istilah holim. Suku Mee menyebutnya bobee, Suku Amungme menyebutnya sanok.

Saat ini koteka hanya dipakai pada saat Festival Budaya Lembah Baliem, atraksi kunjungan turis atau pada acara adat lainnya. Untuk kehidupan sehari-hari mereka sudah mengenakan pakaian modern.

Kisah Wanita Hebat, Tak Sengaja Pecahkan Rekor Dunia di Antartika

 Cerita ini tentang petualang yang melakukan ekspedisi solo di Antartika atau Kutub Selatan. Tak disangka, rekor dunia pun dipecahkannya.

Melansir CNN, Jumat (2/8/2019), adalah Johanna Davidsson yang melakukannya. Ia seorang diri menjelajah Benua Antartika.

"Ya Tuhan, apa yang telah saya lakukan?" kata dia.

Saat itu tahun 2016 dan perawat asal Swedia itu ingin memenuhi impiannya yang dibekap selama satu dekade, yakni berjalan menggunakan ski solo di Kutub Selatan. Perjalanannya dimulai dari Hercules Inlet di Antartika Barat.

Di depan membentang gurun es sejauh 1.130 kilometer dan harus dilaluinya. Davidsson melakukan ekspedisi ini tanpa bantuan dengan hanya membawa kereta luncur berbobot 243 kilogram.

Masalah kecil apapun dapat dengan cepat menjadi masalah besar ketika berada dalam cuaca dingin. Bersyukur, semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

Meski perjalanannya hanya bisa melihat latar cakrawala putih, namun Davidsson merindukan kesederhanaan dari alam. Ia bisa makan, bermain ski, tidur dengan hangat, tidak ada ponsel, tidak ada internet hingga tidak ada email yang bikin kehidupannya lebih mudah.

Selama bertahun-tahun Davidsson telah menjalani kehidupan 'ganda', ia seorang perawat di pusat medis Tromso Legevakt dan seorang petualang terkemuka. Dia pernah berkayak 3.660 kilometer di sekitar garis pantai Swedia dan Finlandia, mendaki puncak El Capitan di Yosemite AS, mengendarai paralayang di Greenland selatan ke utara melintasi Samudra Hindia.

Ia tertarik pada tempat yang tak terlalu ramai. Serta, ia merasa istimewa ketika sendirian di lokasi yang dituju.