Selasa, 07 Januari 2020

Berbagai Atraksi yang Bisa Dikunjungi di Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival akan digelar mulai Jumat (2/8). Traveler yang mau ke sana, jangan lupa mengunjungi berbagai atraksi ini ya.

Komplek Candi Arjuna menjadi tempat perhelatan Dieng Culture Festival (DCF). Namun, masih banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi treveler saat berara di dataran tinggi Dieng.

Di antaranya adalah Kawah Sikidang, Telaga Merdada, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Sewiwi. Obyek wisata tersebut free bagi wisatawan yang sudah memiliki tiket DCF.

"Ada tiket terusan bagi wisatawan yang sudah memiliki tiket DCF. Bagi wisatawan umum, juga free untuk obyek wisata Candi Arjuna. Sedangkan wisata lain tetap bisa masuk dan ada petugas tiket yang berjaga," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara Dwi Suryanto di ruang kerjanya, Kamis (1/8/2019).

Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati bukit Pangonan yang berada di atas pemukiman warga Dieng. Di obyek wisata tersebut, wisatawan dapat melihat sunrise dan sunset.

"Selain itu, bukit pangonan merupakan padang sabana dan menjadi tempat yang biasanya paling tebal saat terjadi fenomena embun es. Jadi selain komplek Candi Arjuna, bukit pangonan juga sering beku saat suhu turun," terangnya.

Di sekitar Kawah Candradimuka juga terdapat telaga Dringo. Telaga ini kerap disebut sebagai Ranu Kumbolo-nya Jawa Tengah. Mengingat dua bukit yang terlihat di telaga seperti yang ada di Ranu Kumbolo Gunung Semeru, Jawa Timur.

Selain obyek wisata tersebut, wisatawan juga bisa menikmati penorama alam di Sikunir, Telaga Warna dan Gunung Prau. Obyek wisata tersebut secara geografis masuk dalam wilayah Kabupaten Wonosobo.

"Meski gelaran DCF adalah event Kabupaten Banjarnegara, namun kami dari Pemkab Wonosobo mendukungnya. Ada beberapa obyek wisata yang masuk Wonosobo yang bisa dikunjungi. Seperti Sikunir, Telaga Waran, Dieng Theater hingga Gunung Prau," Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wonosobo One Andang Wardoyo.

Koteka dari Papua, Tapi Tak Semua Orang Papua Pakai Koteka

Koteka merupakan pakaian tradisional Papua yang terancam punah. Namun ternyata, koteka punya banyak cerita.

Koteka kini jadi barang mahal yang bisa ditemui wisatawan jika ke Kepulauan Papua. Perubahan mengajari hal baru yang lebih baik, yakni pakaian modern.

Terlepas dari itu, tak semua orang papua mengenakan koteka yang terbuat dari labu. Karena satu dan lain hal, mereka menggantinya menggunakan bahan yang lain untuk menutupi alat kelaminnya, salah satu contohnya kulit kayu.

"Dalam budayanya suku-suku pesisir Papua, baik di pesisir utara, pesisir selatan, pesisir Kepala Burung atau suku-suku yang tinggal di pulau lepas pantai Papua, mereka tidak mengenakan koteka tetapi mereka mengenakan kulit kayu," kata Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, Jumat (2/8/2019).

Lalu ada Suku Marind yang mendiami Merauke sampai pesisir selatan Papua Nugini. Ada satu hal yang menarik tentang suku ini.

Kotekanya berbeda dengan yang mungkin sudah kamu tahu. Berbeda di Suku Marind, kotekanya terbuat dari tempurung kelapa dikarenakan sulit mencari labu di wilayah pesisir.

"Biasanya koteka yang dipakai orang-orang di Wamena itu dari labu dan panjang-panjang toh. Itu berbeda dengan suku Marind yang terbuat dari tempurung kelapa. Ya, tempurung kelapa akan menutupi (maaf) alat kelaminnya. Sebab, sulit cari labu di wilayah pesisir,"ujar Kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merauke, Kansius Paulus beberapa waktu lalu.

Mari kita mengenal koteka

Pertama dari Suku Dani di Lembah Baliem. Mereka membuat koteka dari buah labu (Melongena SP).

Tanaman labu ini ditanam di kebun atau pekarangan honai. Hanya laki-laki saja yang boleh menanam labu ini, merawat hingga memanennya.

Tanaman labu ini tumbuh organik, dibiarkan merambat pada sandaran terbuat dari kayu setinggi satu hingga tiga meter sebagai penopang. Tidak hanya itu, kadang koteka juga dibuat dari buah labu yang tumbuh liar.

Cara membuat koteka yaitu buah labu yang sudah tua dipotong pada bagian ujung, kemudian dikeluarkan isinya. Untuk memudahkan mengeluarkan isi, maka buah labu dibakar sebentar dalam perapian.

Setelah itu, buah labu yang sudah bersih dari isi, dikeringkan di atas perapian. Pada bagian ujung labu yang sudah kering ini dilubangi menggunakan tulang kuskus atau tulang babi yang tajam. Lubang ini untuk tali pengikat pinggang.

Bukit Pergasingan, Bikin Jatuh Hati

Sebelumnya, hanya melihat dari foto-foto yang beredar di dunia maya, sampai akhirnya aku datangi karena rasa penasaran. Sempurnanya Bukit Pergasing.
Pergasingan adalah salah satu daerah perbukitan di Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tempat ini sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu karena keindahannya yang super dan membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara beramai-ramai mengunjunginya.

Tepatnya di tahun 2015 lalu pertama kalinya aku dan teman menginjakkan kaki di tempat ini, karena ini pertama kalinya, maka kami menyewa jasa porter sebagai pemandu sekaligus membantu membawa beberapa barang dan perbekalan.

Bagi kami, ini adalah perjalanan yang cukup menguras waktu dan tenaga. Untuk sampai di Desa Sembalun saja membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari kota Mataram dengan kendaraan roda dua. Kemudian untuk sampai di puncak bukitnya, untuk ukuran kami dengan tenaga yang pas-pasan dan jarang olah raga ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam, dengan jalan santai dan banyak istirahat.

Jalur pendakian berupa jalan setapak yang sudah dibuat oleh warga sekitar, sangat memudahkan kami sebagai pengunjung pemula. Pada beberapa titik, ada lokasi untuk beristirahat sejenak. Dari setengah jalur pendakian saja, kita sudah bisa melihat pemandangan Desa Sembalun dengan daerah pertaniannya yang subur. Jadi makin penasaran kan gimana pemandangan dari puncak sana?

Singkat cerita, mulai mendaki sekitar jam 2 siang, sampailah kami di puncak Pergasingan. Pada saat matahari mulai terbenam dan udara dingin khas pegunungan menyambut, tampak beberapa rombongan pengunjung mulai mendirikan tenda, mulai mempersiapkan api unggun, berfoto-foto, dan lain-lain.

Menghangatkan tubuh di dekat api unggun, makan malam, ngobrol-ngobrol santai ditemani secangkir kopi, mengambil beberapa foto suasana malam di bukit Pergasingan adalah aktivitas yang kami lakukan sebelum beristirahat. Setelah melewati malam yang waktu itu cukup dingin, tibalah saat yang di nanti-nanti. Kabut tipis perlahan muncul, seiring matahari terbit. Aku siapkan kamera dan mulai menjelajah area perbukitan, mengabadikan setiap sisi perbukitan yang memang buatku tak boleh dilewatkan karena memang keindahannya membuatku terkagum-kagum.

Pengalaman pertama yang berkesan di Bukit Pergasingan membuatku ingin kembali lagi dan terhitung sudah 5 kali aku ke tempat ini karena memang keindahan dan suasananya bikin betah dan menenangkan.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kawan-kawan yang belum pernah ke bukit Pergasingan ini, dijamin nggak nyesel. Agar artikel ini bisa mengantarkan aku untuk mendapat kesempatan extraordinary traveling ke Dubai. Tempat yang ingin sekali aku kunjungi, ingin melihat langsung dan merasakan megah dan modern kotanya. Hal yang ingin aku lakukan yaitu hunting foto suasana kota, kehidupan masyarakat,lanskapnya dan lain-lain, karena aku hobi foto. Tentunya ini akan menjadi momen yang sangat berharga.