Selasa, 31 Desember 2019

Hai Anak Milenial! Ini Pesan dari Penjaga Naskah Asli Proklamasi

Menjaga Naskah Proklamasi yang asli ibarat menjaga sebuah harta karun bangsa. Para penjaganya punya pesan untuk anak milenial di Hari Kemerdekaan Indonesia.

Mereka yang merawat dan menjaga arsip naskah Proklamasi asli merasa haru dan bangga. Karena, beban menjaga harta negara itu ada di pundaknya. Kenapa demikian? Karena, lewat naskah inilah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tim detikcom diizinkan meliput secara eksklusif naskah asli Proklamasi beberapa waktu lalu. Bukan di Istana Negara, museum atau tempat lainnya, adalah Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berlokasi di Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan tempatnya.

"Kadang terharu dan bisa menangis. Nggak bisa berkata apa-apa. Karena Republik Indonesia itu kekuatannya dari sini. Sebelum ada ini, ya legalisasi secara internasional belum diakui," jelas Direktur Preservasi ANRI, Kandar.

"Walaupun dulu itu Belanda mengakui kemerdekaan kita tahun 1949," imbuh dia.

Tak hanya itu, ia juga merasa tanggung jawab atas nama negara. Semata-mata tidak hanya secarik kertas tapi negara.

"Negara Kesatuan Republik Indonesia itu eksistensinya ada di sini. Makanya yang terjaga di sini arsip terjaga atau arsip vital negara pengamanannya ekstra, perlindungan dan perawatan termasuk nyentuh harus memakai sarung tangan karena kadang mengandung minyak juga bakteri jamur dapat merusak kertas," urai dia.

Naskah Proklamasi asli juga disimpan dengan arsip Supersemar versi Dispen TNI AD, Sekretariat Presidium Biro Tata Usaha dan Sekretariat Negara. Ada pula Surat Sukarno dari Sukamiskin tahun 1930-an.

"Selama di penjara surat menyurat dengan pengadilan menggugat diadili anak bangsa karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang berbahasa Belanda," kata Kandar.

"Ada pula surat pengunduran diri Presiden Soeharto yang asli kita simpan di sini. Sudah dicetak tapi ada beberapa tulisan tangan tambahan," ujar dia menambahkan.

Bagi anak milenial yang ingin melihat arsip-arsip negara, kata Kandar dapat melihatnya di sini. ANRI memiliki diorama sejarah yang bisa dikunjungi generasi milenial supaya bisa lebih mencintai Indonesia.

Dalam momen Hari Kemerdekaan Indonesia, yuk kita lebih menghargai dokumen sejarah bangsa. Kata Kandar, ANRI adalah penyimpan dan perawat harta karun bangsa Indonesia.

"Ya bisa. Harta karun negeri kita ya ada di sini ini. Jadi melihat eksistensi Indonesia di masa lalu, bahkan arsip yang ada di sini kalau dibuka dipahami memiliki nilai luar biasa bisa untuk pembangunan masa kini dan visioner ke depan," jelas dia.

Bagi kamu, milenial, jangan hanya melihat arsip ini hanya kertas dari masa lalu saja ya. Karena, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah jati diri kita.

"Jadi semata-mata arsip itu jangan dilihat secarik kertas atau rekaman informasi masa lalu saja. Padahal ini mempunyai nilai yang luar biasa," kata Kandar.

Arsip ini adalah bukti manusia Indonesia eksis di masa silam dengan babak sejarahnya. Dengan bukti masa lalu ini, bangsa kita bisa melangkah mantap ke masa depan. Tanpa Naskah Proklamasi dan dokumen sejarah penting lainnya, kita akan menjadi bangsa yang amnesia.

"Memori kolektif, identitas dan jati diri bangsa ini dari arsip yang kita simpan. Sekali lagi, ANRI representasi dari negara bukan hanya lembaga saja," pungkas dia.

Kisah Naskah Proklamasi Versi Sjahrir & Tugu Kemerdekaan di Cirebon

Sejarah mencatat, Cirebon merdeka lebih dulu dari Jakarta dengan Naskah Proklamasi dari Sjahrir. Tugu Proklamasi Cirebon jadi saksi sunyi peristiwa itu.

Tanggal 15 Agustus 1945 merupakan hari bersejarah bagi Cirebon. Tepat 74 tahun lalu, tokoh nasional dr Soedarsono memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah dokter di RS Oranje yang sekarang bernama RSUD Gunung Jati.

Dia kemudian menjadi Mendagri pada Kabinet Sjahrir II. dr Soedarsono juga merupakan ayah dari mantan Menteri Pertahanan (Menhan) era Presiden SBY, Juwono Soedarsono.

Pembacaan naskah Proklamasi dilakukan di Alun-alun Kejaksan Cirebon pada 15 Agustus 1945, dua hari sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tanda dari pembacaan proklamasi itu adalah sebuah Tugu Proklamasi di perempatan Kejaksan, Cirebon. Sebuah tugu yang pelan-pelan juga dilupakan oleh orang Cirebon sendiri.

detikcom mengunjungi tugu itu, Jumat (16/8/2019). Hampir tidak ada tanda bahwa itu adalah monumen yang sangat penting. Sebuah prasasti terpasang di sana, sepertinya menunjukan pengakuan Presiden Sukarno pada tahun 1946, terhadap apa yang dilakukan dr Soedarsono dan tokoh pemuda di Cirebon.

"Batoe pertama diletakkan pada tanggal 17-VIII-1946 Djam 10.30 oleh P. Toean Presiden Bersama Ketua Dewan Perdjoeangan Daerah Tjirebon sebagai lambang persatoean antara pemerintah dan ra'jat dalam perdjoeangan menegakkan Republik Indonesia yang 100 % merdeka," begitu tulisan pada prasasti.

Sejarawan dan budayawan Cirebon, Nurdin M Moer menyebutkan Soedarsono tergabung dalam kelompok Sutan Sjahrir. Memang waktu itu terjadi pergolakan-pergolakan untuk memproklamasikan bangsa Indonesia.

"Kemudian, muncul dari kelompok Sjahrir yang mendelegasikan Soedarsono untuk membacakan Naskah Proklamasi di Alun-alun Cirebon, sekarang jadi Alun-alun Kejaksan," kata Nurdin saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Perumnas Cirebon, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Nurdin menyebutkan sejumlah literatur juga menyebutkan adanya pembacaan proklamasi di Cirebon, yang lebih awal dibandingkan proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Nurdin menyebutkan Soedarsono membacakan Naskah Proklamasi setelah mendapatkan kabar dari Sjahrir tentang pemberitaan Jepang yang menyerah kepada sekutu.

"Soedarsono melakukan hal itu setelah menerima berita dari Syahrir, bahwa Radio BBC London memberitakan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945," kata Nurdin.

Selain sejumlah literatur, Nurdin juga mengaku saat remaja pernah diceritakan tentang terjadinya pembacaan naskah proklamasi yang dilakukan Soedarsono oleh ayahnya, Moch Hasyim. Saat itu, lanjut Nurdin, ayahnya tinggal tak jauh dari Alun-alun Kejaksan.

"Kebetulan saksi mata bapak saya sendiri. Tinggalnya 200 meter dari alun-alun, ya sehingga bisa cerita kepada saya. Hanya dihadiri puluhan orang," katanya.

Selain memproklamirkan kemerdekaan di Alun-alun Kejaksan, kelompok Syahrir juga membacakan naskah Proklamasi di Alun-alun Ciledug Cirebon. Nurdin menyayangkan Naskah Proklamasi versi Sjahrir yang dibacakan Soedarsono itu hilang.

"Sekarang tidak tahu, apakah naskah versi Syahrir atau sama seperti yang Sukarno bacakan. Kita pernah cari tahu tapi tidak ketemu, kita cari di Arsip Nasional dan daerah tak ketemu," katanya.

Selain kehilangan naskah, dikatakan Nurdin untuk membuktikan secara detil pembacaan naskah tersebut juga sulit karena kehilangan saksi hidup. Terlebih lagi, teks Proklamasi yang dibacakan Soedarsono itu tak begitu mendapat sambutan dari masyarakat.

"Ini terjadi karena Proklamasi tersebut lahir dalam friksi ideologis di kalangan pemuda pergerakan dan ketidakberdayaan Sjahrir untuk membujuk Bung Karno dan Bung Hatta mempercepat Proklamasi. Di samping itu juga pamor Bung Karno di mata rakyat lebih kuat dibandingkan Sjahrir. Sehingga, Proklamasi di Cirebon tidak bergema di seluruh Nusantara," katanya.

Wisatawan yang mengisi libur HUT Kemerdekaan RI di Cirebon, coba yuk mampir melihat tugu proklamasi Cirebon ini. Letaknya dekat sekali dengan Masjid Agung At Taqwa dan Alun-alun Kejaksan. Tinggal mendekat ke lampu merah, tugu itu berdiri sendirian di sana, menunggu untuk kembali dikenali oleh para anak bangsa.