Sabtu, 28 Desember 2019

Pulau Penyengat Kini Sudah Menerapkan Wisata Digital

Pulau Penyengat tidak hanya sekedar sejarah saja tetapi sudah modern. Karena sudah mengikuti perkembangan zaman dengan penerapan wisata digital.
Kota Tanjungpinang terkenal dengan budaya dan sejarahnya, salah satunya Pulau Penyengat. Pulau yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Melayu. Dari Kota Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan kapal tradisonal. Yakni pompong. Sebutan warga lokal di sana.

Biasanya, kapal pompong akan berangkat setelah jumlah penumpang mencapai 15 orang. Harga naik transportasi tradisional ini per orang hanya dikenakan biaya Rp 7.500 sekali jalan. Kapalnya memang terlihat kecil, tetapi aman. Jangan kuatir, disediakan jaket pelampung untuk keselamatan diri. Terombang-ambing di lautan dan mendengar deru suara kapal pompong, karena mesinnya sangat berisik tidak menyurutkan keinginan untuk pergi ke Pulau Penyengat. Perjalanan di dalam kapal tradisional itu hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Begitu sampai ke Dermaga Pulau Penyengat, nampak warna kuning di sepanjang jalan. Teman-teman bisa memilih ingin berjalan kaki mengelilingi Pulau Penyengat atau menggunakan bentor (becak motor). Kalau tidak salah ingat untuk becak motornya sekitar Rp 40.000 per jam.

Namun, bagi yang pertama kali berkunjung ke Pulau Penyengat dan tidak mau pusing dengan lokasi tempat yang wajib dikunjungi, naik becak motor ada manfaatnya juga. Sebab, teman akan dibawa ke tempat lokasi wisata antara lain Masjid Sultan Riau, gedung mesiu, Bukit Kursi, komplek makam Raja Abdurrahman, komplek makam Raja Ali Haji, istana kantor, melihat replika rumah adat di Balai Adat, dan menikmati spot photo Instagram di Pulau Penyengat.

Apalagi kalau datang akhir pekan, khususnya hari Minggu bisa melihat pasar warisan Pulau Penyengat yang menjual kuliner khas Melayu di Bukit Kursi. Penasaran kan? Aku saja baru sekali mengecap air dohot di Pasar Warisan Pulau Penyengat dan jatuh hati dengan cita rasa minuman air dohot ini. Harga per gelasnya kalau tidak salah ingat hanya Rp 8.000 saja.

Segarnya air dohot ini membuat aku ingin mencoba lagi, kalau liburan ke Pulau Penyengat. Perpaduan asam dan manis, serta buah-buahan antara lain kurma merah, buah dohot, kismis dan beberapa lainnya menciptakan cita rasa yang unik, namun ngangenin. Bagi teman yang beragama muslim, menikmati waktu salat di Masjid Penyengat akan membawa sensasi tersendiri.

Bangunan masjid yang penuh dengan sejarah. Di mana masjid ini dibangun dengan menggunakan pencampuran putih telur. Ada beragam versi cerita terkait proses pembangunan Masjid Penyengat ini. Bahkan arsitetur bangunan Masjid Raya Sultan Riau ini mengadopsi bentuk bangunan Melayu, Arab, India dan Turkey. Tidak percaya? Silahkan datang sendiri saja.

Bagi teman yang tidak suka berkunjung ke makam, teman bisa bicara terlebih dahulu ke pengemudi becak motor agar tidak dibawa ke makam tokoh Melayu dan Raja Melayu. Namun, teman jangan melewatkan berkunjung ke Gedung Mesiu, Bukit kursi. Sebab, pemandangan benteng bukit kursi sangat mempesona. Teman bisa melihat pemandangan laut dan juga melihat meriam peninggalan Kesultanan Riau pada tahun 1700-an.

Yang paling menyenangkan lagi, ketika berada di replika rumah adat di Balai Adat. Selain bisa melihat dekorasi pengantin Melayu, teman juga bisa mencoba baju adat Melayu dengan membayar biasa uang sewa sekitar Rp 25.000 pada masa aku menggunakan baju adat Melayu dan mengambil beberapa photo dalam rumah maupun di kamar pengantin. Seru!

Tidak jauh dari sana, ada juga spot foto yang patut menjadi bagian koleksi ketika berkunjung ke Pulau Penyengat. Ada satu kota yang ingin banget aku kunjungi yakni Dubai. Alasannya, aku ingin merasakan melihat mobil terbang dengan menggunakan helikopter, atau menelusuri pantai yang ada AC-nya. Meski cuaca pantai panas, di bawah naungan payung ada AC yang membuat kita merasa sejuk. Unik banget kan Negara Dubai itu? Selain itu, melihat gemerlap malam Dubai dari gedung tertinggi, bakalan jadi pengalaman tak terlupakan. Kalau teman ingin ke Dubai ingin merasakan wisata seperti apa?

Wisata Religi ke Masjid Unik Berbentuk Perahu di Jakarta

Jelang perayaan Tahun Baru Islam, kamu bisa berkunjung ke masjid unik ini. Inilah Masjid Al Munada Baiturrahman yang berbentuk perahu dekat Kota Kasablanka.

Berlokasi cukup tersembunyi di balik megahnya Jakarta, ada satu masjid dengan bentuk yang tak biasa. Masjid ini bisa jadi destinasi wisata religi buat traveler jelang perayaan Tahun Baru Islam.

Masjid unik yang dimaksud adalah Masjid Agung Al Munada Darussalam Baiturrahman, atau lebih terkenal dengan sebutan Masjid Perahu. Disebut demikian, karena bentuk bangunan masjid ini memang menyerupai perahu.

Masjid unik ini dibangun oleh KH Abdurrahman Massum. Bangunan perahu dan masjidnya dibangun bersamaan pada tahun 1962 silam. Bangunan berbentuk kapal tersebut terinspirasi oleh bahtera Nabi Nuh.

Lokasi Masjid Perahu ini ada di Jl Casablanca No 38, Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Diapit gedung pencakar langit, Masjid Perahu hanya bisa diakses menggunakan motor atau jalan kaki saja.

Masjid Perahu memiliki banyak keunikan lain, yakni ada Al Quran raksasa 2X1 meter, kayu gelondongan sebagai tiang, ukiran Al Quran kayu jati, koleksi batu giok, emas 3 kg di atap masjid dan ada batu di depan pintu yang tak diubah semenjak dulu.

Traveler bisa berkunjung ke Masjid Perahu ini menjelang peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram. Selain bisa berwisata religi ke Masjid Perahu, traveler juga bisa berkunjung ke Jakarta Muharram Festival.

Festival ini bakal digelar di Bundaran Hotel Indonesia pada Sabtu, 31 Agustus 2019. Acara ini akan dimeriahkan oleh artis-artis Tanah Air seperti Kotak, Opick, Pasha, Wali, Bimbo, Fatin, dan masih banyak lagi.

Saksikan Jakarta Muharram Festival live di Trans TV mulai pukul 20.00 dan live streaming di detikcom pukul 17.00 WIB.

Pulau Penyengat Kini Sudah Menerapkan Wisata Digital

Pulau Penyengat tidak hanya sekedar sejarah saja tetapi sudah modern. Karena sudah mengikuti perkembangan zaman dengan penerapan wisata digital.
Kota Tanjungpinang terkenal dengan budaya dan sejarahnya, salah satunya Pulau Penyengat. Pulau yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Melayu. Dari Kota Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan kapal tradisonal. Yakni pompong. Sebutan warga lokal di sana.

Biasanya, kapal pompong akan berangkat setelah jumlah penumpang mencapai 15 orang. Harga naik transportasi tradisional ini per orang hanya dikenakan biaya Rp 7.500 sekali jalan. Kapalnya memang terlihat kecil, tetapi aman. Jangan kuatir, disediakan jaket pelampung untuk keselamatan diri. Terombang-ambing di lautan dan mendengar deru suara kapal pompong, karena mesinnya sangat berisik tidak menyurutkan keinginan untuk pergi ke Pulau Penyengat. Perjalanan di dalam kapal tradisional itu hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Begitu sampai ke Dermaga Pulau Penyengat, nampak warna kuning di sepanjang jalan. Teman-teman bisa memilih ingin berjalan kaki mengelilingi Pulau Penyengat atau menggunakan bentor (becak motor). Kalau tidak salah ingat untuk becak motornya sekitar Rp 40.000 per jam.

Namun, bagi yang pertama kali berkunjung ke Pulau Penyengat dan tidak mau pusing dengan lokasi tempat yang wajib dikunjungi, naik becak motor ada manfaatnya juga. Sebab, teman akan dibawa ke tempat lokasi wisata antara lain Masjid Sultan Riau, gedung mesiu, Bukit Kursi, komplek makam Raja Abdurrahman, komplek makam Raja Ali Haji, istana kantor, melihat replika rumah adat di Balai Adat, dan menikmati spot photo Instagram di Pulau Penyengat.

Apalagi kalau datang akhir pekan, khususnya hari Minggu bisa melihat pasar warisan Pulau Penyengat yang menjual kuliner khas Melayu di Bukit Kursi. Penasaran kan? Aku saja baru sekali mengecap air dohot di Pasar Warisan Pulau Penyengat dan jatuh hati dengan cita rasa minuman air dohot ini. Harga per gelasnya kalau tidak salah ingat hanya Rp 8.000 saja.