Sabtu, 28 Desember 2019

My Trip My Adventure: Pesona Bangka Tiada Dua

Bangka memiliki pesona alam yang luar biasa indah. Penasaran bagaimana serunya My Trip My Adventure menjelajah ke sana?

Dalam episode kali ini, My Trip My Adventure akan mengeksplor Bangka bersama Delano Daniel dan Marshall Sastra. Mereka akan bermain jetski dan menikmati pantai yang cantik.

Mereka juga akan mengunjungi Danau Kaolin yang legendaris. Serta melihat pemandangan Pantai Matras di sore hari dengan panorama indahnya. Tidak lupa, mereka juga akan mencoba kuliner khas. Yakni otak-otak dan Kopi Tung Tao yang Lezat. Pasti nikmat banget!

Nah, bagi traveler yang penasaran, jangan lupa saksikan episode MTMA episode Bangka tayang Sabtu, 31 Agustus 2019 pukul 08.30 WIB.

Wisata Religi ke Masjid Unik Berbentuk Perahu di Jakarta

Jelang perayaan Tahun Baru Islam, kamu bisa berkunjung ke masjid unik ini. Inilah Masjid Al Munada Baiturrahman yang berbentuk perahu dekat Kota Kasablanka.

Berlokasi cukup tersembunyi di balik megahnya Jakarta, ada satu masjid dengan bentuk yang tak biasa. Masjid ini bisa jadi destinasi wisata religi buat traveler jelang perayaan Tahun Baru Islam.

Masjid unik yang dimaksud adalah Masjid Agung Al Munada Darussalam Baiturrahman, atau lebih terkenal dengan sebutan Masjid Perahu. Disebut demikian, karena bentuk bangunan masjid ini memang menyerupai perahu.

Masjid unik ini dibangun oleh KH Abdurrahman Massum. Bangunan perahu dan masjidnya dibangun bersamaan pada tahun 1962 silam. Bangunan berbentuk kapal tersebut terinspirasi oleh bahtera Nabi Nuh.

Lokasi Masjid Perahu ini ada di Jl Casablanca No 38, Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Diapit gedung pencakar langit, Masjid Perahu hanya bisa diakses menggunakan motor atau jalan kaki saja.

Masjid Perahu memiliki banyak keunikan lain, yakni ada Al Quran raksasa 2X1 meter, kayu gelondongan sebagai tiang, ukiran Al Quran kayu jati, koleksi batu giok, emas 3 kg di atap masjid dan ada batu di depan pintu yang tak diubah semenjak dulu.

Traveler bisa berkunjung ke Masjid Perahu ini menjelang peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram. Selain bisa berwisata religi ke Masjid Perahu, traveler juga bisa berkunjung ke Jakarta Muharram Festival.

Festival ini bakal digelar di Bundaran Hotel Indonesia pada Sabtu, 31 Agustus 2019. Acara ini akan dimeriahkan oleh artis-artis Tanah Air seperti Kotak, Opick, Pasha, Wali, Bimbo, Fatin, dan masih banyak lagi.

Saksikan Jakarta Muharram Festival live di Trans TV mulai pukul 20.00 dan live streaming di detikcom pukul 17.00 WIB.

Pulau Penyengat Kini Sudah Menerapkan Wisata Digital

Pulau Penyengat tidak hanya sekedar sejarah saja tetapi sudah modern. Karena sudah mengikuti perkembangan zaman dengan penerapan wisata digital.
Kota Tanjungpinang terkenal dengan budaya dan sejarahnya, salah satunya Pulau Penyengat. Pulau yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Melayu. Dari Kota Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan kapal tradisonal. Yakni pompong. Sebutan warga lokal di sana.

Biasanya, kapal pompong akan berangkat setelah jumlah penumpang mencapai 15 orang. Harga naik transportasi tradisional ini per orang hanya dikenakan biaya Rp 7.500 sekali jalan. Kapalnya memang terlihat kecil, tetapi aman. Jangan kuatir, disediakan jaket pelampung untuk keselamatan diri. Terombang-ambing di lautan dan mendengar deru suara kapal pompong, karena mesinnya sangat berisik tidak menyurutkan keinginan untuk pergi ke Pulau Penyengat. Perjalanan di dalam kapal tradisional itu hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Begitu sampai ke Dermaga Pulau Penyengat, nampak warna kuning di sepanjang jalan. Teman-teman bisa memilih ingin berjalan kaki mengelilingi Pulau Penyengat atau menggunakan bentor (becak motor). Kalau tidak salah ingat untuk becak motornya sekitar Rp 40.000 per jam.

Namun, bagi yang pertama kali berkunjung ke Pulau Penyengat dan tidak mau pusing dengan lokasi tempat yang wajib dikunjungi, naik becak motor ada manfaatnya juga. Sebab, teman akan dibawa ke tempat lokasi wisata antara lain Masjid Sultan Riau, gedung mesiu, Bukit Kursi, komplek makam Raja Abdurrahman, komplek makam Raja Ali Haji, istana kantor, melihat replika rumah adat di Balai Adat, dan menikmati spot photo Instagram di Pulau Penyengat.

Apalagi kalau datang akhir pekan, khususnya hari Minggu bisa melihat pasar warisan Pulau Penyengat yang menjual kuliner khas Melayu di Bukit Kursi. Penasaran kan? Aku saja baru sekali mengecap air dohot di Pasar Warisan Pulau Penyengat dan jatuh hati dengan cita rasa minuman air dohot ini. Harga per gelasnya kalau tidak salah ingat hanya Rp 8.000 saja.

Batu Apung Raksasa yang Mungkin Jadi Penyelamat Terumbu Karang Dunia

Rakit raksasa dari bebatuan apung mengambang di Samudera Pasifik. Perannya nanti diyakini membantu penyembuhan terumbu karang Great Barrier Reef Australia.

Dilansir CNN, Rabu (28/8/2019), rakit batu apung yang dimaksud seukuran Pulau Manhattan, New York, AS. Nantinya batu apung ini dapat membantu memulihkan karang Great Barrier Reef yang separuhnya telah mati dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari perubahan iklim.

Para ahli mengatakan bahwa jika batu apung berhasil mencapai Great Barrier Reef, itu bisa membantu mengisi kembali beberapa kehidupan laut yang hilang. Rakit batu apung itu diyakini sebagai rumah bagi organisme seperti kepiting dan karang.

Batuan vulkanik pertama kali terlihat oleh para pelaut pada 9 Agustus, diyakini setelah beberapa hari gunung berapi bawah laut meletus. Lokasinya di dekat Pulau Pasifik, Tonga menurut NASA Earth Observatory.

Beberapa hari kemudian, para pelaut Australia yang menuju Vanuatu menemukannya. Batuan vulkanik itu sampai ukuran bola basket.

Awak kapal ROAM, Michael dan Larissa Hoult mengatakan bahwa mereka telah berada di laut selama 10 hari sebelum bertemu dengan bebatuan apung itu. Bahkan, bebatuan itu menutup air yang dilintasinya.

Batu apung mempunyai struktur berlubang dan mengapung seperti gunung es dengan sekitar 90% di bawah air dan 10% di atas air. Batu apung itu diperkirakan akan hanyut sampai ke pesisir Australia selama 7-10 bulan ke depan dan para ilmuwan percaya dampak positif pada mikroorganisme di sana.

Scott Bryan, seorang profesor di Queensland University of Technology dengan spesialisasi geologi dan geokimia, mengatakan rakit batu apung saat ini bergerak sekitar 10 hingga 30 kilometer per hari. Kecepatan dan arahnya digerakkan arus permukaan, gelombang dan angin.

Bryan mengatakan peristiwa seperti ini terjadi setiap lima tahun dan melibatkan triliunan batu apung. Pada 2012, penelitian serupa oleh Bryan dan lainnya menemukan bahwa kumpulan batu apung adalah salah satu cara agar laut dapat mendistribusikan kembali beragam kehidupan laut.

Letusan di bulan ini dapat memiliki efek positif yang serupa, kata Bryan, meski juga ada risiko adanya spesies yang invasif ke wilayah tersebut. Ketika batu apung menuju Great Barrier Reef, ada kehidupan laut yang dibawanya dan berpotensi membawa beragam koloni baru.

"Setiap potongan batu apung adalah kendaraan untuk sesuatu dan diangkut melintasi lautan. Kami akan memiliki jutaan hingga milyaran individu dari puluhan spesies berbeda yang semuanya tiba secara massal di sepanjang garis pantai kami, semuanya sehat dan berpotensi menemukan rumah baru," kata Bryan.

Bryan mengatakan ada tantangan dalam mengisi karang, karena mereka tidak bisa melompat dan menemukan habitat baru semudah seperti kepiting. Secara umum, kata Bryan, karang perlu mencapai usia reproduksi ketika mereka dapat mulai bertelur dan melepaskan larva di Great Barrier Reef.

Jika karang baru menumpang batu apung maka akhirnya dapat mengisi karang kembali. Saat batu apung tenggelam ke dasar laut, maka tanaman dan hewan dapat terus tumbuh dan tumbuh di lokasi baru ini.

Pada tahun 2016 dan 2017, gelombang panas laut yang disebabkan oleh perubahan iklim mengakibatkan pemutihan massal. Kejadian itu menewaskan sekitar setengah karang di Great Barrier Reef dan banyak lainnya di seluruh dunia.