Rabu, 25 Desember 2019

Liburan ke Yogyakarta, Wajib Main ke Lereng Merapi

Yogyakarta menawarkan banyak destinasi wisata yang menarik. Buat kamu yang suka petualangan, bisa coba wisata Merapi di lereng gunungnya.
Salah satu pemandangan yang membuat hati saya terkesan yaitu Gunung Merapi. Gunung ini sering kali disebut oleh banyak orang "Merapi tak pernah ingkar janji". Ya, memang Gunung Merapi tak pernah ingkar janji kepada saya soal keindahannya, soal keagungannya. Setiap kali saya datang kesini, saya selalu terkesima. Lokasi ini adalah Bunker Kaliadem dimana kita bisa menyaksikan gagahnya Gunung Merapi dari dekat.

Untuk mencapai Bunker Kaliadem ini jika ditempuh dari titik 0 km kurang lebih memakan waktu 60 menit dengan memakai sepeda motor. Untuk sampai ke Bunker ini memang hanya diperbolehkan naik motor saya, jika kalian membawa mobil maka terpaksa harus menyewa jeep untuk dapat sampai ke Bunker.

Jika kalian ingin mendapatkan view terbaik, maka saya sarankan kalian berangkat lebih pagi dari Yogyakarta karena jika kalian terlalu siang maka kemungkingan Gunung Merapi tertutup oleh awan lebih besar. Untuk yang ingin menjadi saksi munculnya pagi dari ufuk timur kalian juga dapat melakukan camping di tempat ini, karena tempatnya yang memang cukup luas sehingga memang dapat dijadikan area camping ground, pada saat saya datang ke Bunker ini ada 1 tenda yang memang masih berdiri di tengah-tengah jalan.

Memang bagi saya Yogyakarta memang Kota yang sempurna, kaya akan budaya, kaya juga akan alam semestanya. Pastinya banyak sekali perantau yang menimpa ilmu di Yogyakarta ingin kembali lagi ke Kota ini.

Kota yang dari segala sudut terlihat romantis yang akan selalu menjadi bagian hidup setiap orang yang datang ke kota ini. Semoga selalu menjadi inspirasi bagi setiap insan yang datang sudah lelah dengan aktivitas semunya dan Merapilah yang akan menjadi pelipur laranya,

Pantai Mandorak Sumba yang Cantiknya Nggak Main-main

Pantai di Sumba memang terkenal cantik-cantik. Salah satunya yang tak boleh dilewatkan adalah Pantai Mandorak.
Pantai Mandorak terletak di bagian utara, desa Moro Manduyo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Jarak dari Bandara Tambolaka ke pantai ini membutuhkan sekitar 1.5 jam dengan kendaraan bermotor. Mobil bisa diparkir cukup dekat dengan pantai. Tidak lama menginjakkan kaki keluar dari mobil, anak-anak kecil yang menjual kerajinan lokal seperti gelang sudah menunggu. Sayang yang membuat agak kurang nyaman adalah kesannya yang cukup memaksa.

Pantai Mandorak tidak memiliki garis pantai yang panjang, hanya sekitar 50 meter. Pantai ini memiliki 2 buah tebing berbatu karst yang jaraknya dekat hingga hampir menyatu. Pasirnya juga putih bersih. Kita bisa menikmati pantai mandorak dari atas tebing maupun dari bibir pantai.

Dari atas tebing, kita bisa melihat deburan ombak yang menghempas tebing, bahkan percikan airnya bisa kita rasakan saat berdiri di sisi tebing. Sedangkan dari bibir pantai, kita bisa menikmati pasir putih sambil bermain-main air.

Di sini tak ada warung yang menjual makanan sehingga jika mau berkunjung ke sini sebaiknya membawa bekal makanan. Kita bisa menikmatinya sambil bersantai disebuah rumah panggung terbuka. Rumah tersebut dikelilingi pohon cemara yang menjadi tempat anak-anak lokal bermain.

Di Sumba, sebaiknya memang membawa buku untuk anak-anak lokal. Disini anak-anak yang menjual oleh-oleh cukup agresif, karena jika kita membeli dari satu orang, yang lain juga akan meminta kita untuk membeli darinya bahkan tak jarang kita akan terus diikuti.

Lepas dari itu, Pantai Mandorak memang memiliki pesona yang unik dengan pantai lain di Sumba. Salah satu yang harus jadi tujuan d'traveler di Sumba.

Mengenal Reog Ponorogo, Kekayaan Budaya Bangsa

Tak ada salahnya mengenal budaya setempat saat liburan. Jika ke Ponorogo misalnya, jangan lupa lihat kesenian reog yang sudah melegenda.

Reog merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang terkenal dan telah mendunia pertunjukkan reog ditampilkan tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri disini peran mempromosikan budaya bangsa ini jatuh kepada warga negara Indonesia yang sekolah maupun bekerja di sana, dalam festival maupun acara budaya yang berlangsung di negara tempat mereka tinggal, sering kesenian reog ditampilkan.

Kota Ponorogo sebagai tempat lahirnya kesenian ini memiliki acara besar yang diadakan dalam merayakan bulan Suro, nama acaranya adalah Festival Grebeg Suro Ponorogo.

Festival dimulai festival reog mini yang dimainkan siswa sekolah kelas SD dan SMP.selama 2 hari dilanjutkan festival reog nasional. Setiap malamnya pertunjukkan reog dimulai pukul 19.30 dan berakhir pukul 22.00.tiap malam 5 group reog tampil. Jadi selama festival reog saya menyaksikan penampilan 20 group reog yang berbeda.

Dalam pertunjukkan reog kita akan bertemu beberapa tokoh dimulai dari bujang ganong biasanya dimainkan anak-anak kecil, Bujang Ganong mengenakan pakaian berwarna merah dan topeng tugas mereka adalah menghibur penonton dengan tariannya yang kocak maupun gerakan salto yang dilakukan berulang kali, dalam pertunjukkan jumlah bujang ganong bisa 2,3 atau lebih Bujang Ganong adalah senopati kepercayaan Prabu Kala Sewandana.

Dilanjutkan dengan Jathil yaitu penari wanita berpakaian putih dengan kuda lumpin, Jathil menarikan tarian dengan tempo cepat dan bersemangat yang menggambarkan prajurit maju ke medan perang dengan kuda perangnya, lalu ada Warog penari pria yang dengan wajah dirias warna merah yang gagah memainkan jurus-jurus silat, tokoh utama dalam pertunjukkan warog yaitu Prabu Kala Sewandana raja dari kerajaan Bantar Angin yang dimainkan oleh seorang penari pria dengan topeng merah dan memegang cambuk.

Dalam pertunjukkan reog saat Sang Raja dalam perjalanan mencari istrinya dewi Sanggalangit beliau dihadang di tengah perjalanan oleh Singa Barong yang dimainkan oleh 2 atau 3 atau lebih penari pria yang membawa hiasan singa dengan dadak merak diatas kepala mereka yang beratnya mencapai puluhan kilo. Dalam cerita meski sudah bertarung sangat lama Prabu Kala Sewandana belum dapat mengalahkan Singa Barong.

Akhirnya Bujang Ganong senopati kepercayaannya membawa Pecut Samandiaman dengan senjata pusaka inilah ahirnya sang raja dapat mengalahkan singa barong dan bertemu kembali dengan istrinya Dewi Sanggalangit sejak itulah kesenian reog dipentaskan hingga saat ini.

kita harus bangga dengan Festival Grebeg Suro Ponorogo yang diadakan setiap tahun, event ini selalu menarik ribuan pengunjung tidak hanya dari masyarakat kota Ponorogo dan sekitarnya namun juga warga dari kota-kota lain di Jawa Timur bahkan hingga mancanegara, ini bisa kita lihat di alun alun kota Ponorogo yang setiap malam selama festival dipadati pengunjung.

Selain itu grup-grup seni reog yang tampil di festival grebeg suro juga berasal dari banyak kota lain selain Ponorogo sebagai tuan rumah. Contohnya ada dari perwakilan SMU di Yogyakarta,Universitas Brawijaya Malang, group dari Kota Tangerang, BUMN bahkan Group Reog Nihongo dari Jepang. Kita dapat melihat betapa antusiasnya saudara-saudara kita meski berjarak ribuan kilometer dan melintasi batas negara mereka tetap datang dan menampilkan penampilan terbaik mereka di Festival Grebeg Suro Ponorogo.

Selamat kepada rekan-rekan volunteer dan panitia yang telah sukses menyelenggarakan event besar ini di festival inilah Irfan bertemu rekan-rekan fotografer dan team volunteer.