Rabu, 25 Desember 2019

Kenalan dengan Bu Soeto, Idola Para Pendaki Gunung Raung

Ada sosok perempuan yang begitu penting bagi para pendaki Gunung Raung di Banyuwangi. Inilah Ibu Soeto, ibunya para petualang.

Pendaki Gunung Raung via Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi pasti mampir di rumah Ibu Soeto. Mereka akan singgah sejenak menunggu pemberangkatan ataupun saat turun melepas lelah saat mencapai Puncak Sejati setinggi 3.344 mdpl tersebut. Siapa tidak kenal dengan Basecamp Bu Soeto?

Homestay Bu Soeto, itu nama sebuah tempat persinggahan satu-satunya yang ada di wilayah tersebut. Rumah ini mulai didatangi oleh para pendaki sejak tahun 1998 lalu.

Bangunan tua ini penuh dengan stiker dan foto para pendaki Gunung Raung. Stiker tersebut merupakan kenang-kenangan lembaga dan perkumpulan pendaki yang ditempelkan begitu saja di pintu dan jendela. Saking banyaknya, hingga menutupi kaca dan kayu jendela serta pintu masuk rumah Bu Soeto.

"Per bulan hampir ada 400-an pendaki mampir di sini. Baik itu mereka datang maupun mereka yang turun dari Raung," ujar Udin, penjaga homestay Bu Soeto kepada detikcom, Sabtu (7/9/2019).

Homestay Bu Soeto sudah hampir 20 tahun lebih didatangi oleh pendaki gunung. Tidak ada lokasi khusus sebagai tempat tidur. Hanya karpet, kasur tipis dan tikar yang digelar di ruang tamu, ruang tengah dan teras depan. Selain itu juga ada dua ruangan lagi, tempat istirahat dan ruangan penyewaan alat pendakian, seperti tali, helm hingga kaos kenang-kenangan di Raung.

"Baterai lampu dan kaos saya jual di sini. Untuk kaos harga sekira Rp 125 ribuan," pungkas Udin.

Bu Soeto merupakan penerus suaminya, Pak Soeto yang sudah meningggal dunia. Pak Soeto dulunya menjabat sebagai kepala dusun. Setiap kali ada pendakian, mereka harus meminta izin dan meninggalkan kartu pengenal sebelum naik ke puncak Gunung Raung.

Ada sebuah toko yang menjual bahan makanan dan makanan ringan. Untuk makanan bermacam-macam. Mulai soto, rawon, ayam bakar hingga masakan rumah lainnya. Maklum saja, konsep homestay ini seperti rumah sendiri.

"Biasanya mereka menyebut ini Basecamp Bu Soeto. Tapi sekarang kan ada namanya homestay," ujar Bu Soeto yang memiliki nama asli Lilik Sutimbul.

Uniknya, homestay ini tak mematok harga untuk menginap atau sekedar beristirahat para pendaki. Ia menerima seikhlasnya, asal para pendaki dapat beristirahat dengan nyaman.

"Kami dari pengurus sekretariat juga diberi uang ya sekedar untuk kebersihan dan listrik per orang itu Rp 5 ribu untuk wisatawan domestik. Sementara mancanegara kita dikasih Rp 10 ribu per orang," tambahnya.

Namun, kesederhanaan inilah yang membuat Bu Soeto dan basecamp-nya terkenal. Tidak jarang, para tamu memberikan imbalan lebih kepadanya.

"Tapi banyak yang ngasih ke kami lebih. Saat pendaki pulang mereka suka ngasih kita," tambahnya.

Hingga kini, basecamp Bu Soeto tak pernah sepi dengan kehadiran pendaki. Mereka silih berganti datang dan meramaikan di dusun yang terpencil itu.

Welcome Drink Untuk Para Tamu Allah

Para jamaah haji dan umrah adalah para tamu Allah di Arab Saudi. Saat sampai di hotel, mereka biasa diberikan welcome drink yang istimewa. Apa itu?

Seperti Anda ketahui, Indonesia adalah jamah haji terbesar di dunia yang mempunyai kuota jamaah kurang lebih sekitar 231.000 orang. Perjalanan menuju Madinah ataupun Makkah via pesawat terbang jika langsung dari Indonesia kurang lebih 9-10 jam jika langsung. Bisa Anda bayangkan berapa letih dan lelah dalam pesawat.

Sebagian para jamaah (kloter) singgah sekitar 10 hari di Madinah mendarat di Bandara Internasional Prince Mohammaed Bin Abdulaziz dan ada pula yang langsung menuju Makkah yang mendarat di Bandara Internasional King AbdulAziz Jeddah. Jika jamah pertama kali mendarat di Jeddah, merela melanjutkan perjalanan via darat dari Jeddah menuju Makkah sekitar 1 jam perjalanan.

Ketika para jamaah setelah sampai pada hotel masing-masing yang berada di Madinah mau pun di Makkah mereka akan disuguhkan minuman selamat datang yang berupa kopi khas dari Timur Tengah bernama Qahwah Arabi. Minuman ini disajikan ketika menyambut tamu di Arab Saudi, tetapi para pencinta kopi juga bisa menikmati pada saat sarapan ataupun setelah sarapan, biasa juga bisa dinikmati pada saat sore hari bahkan pula pada malam hari ketika keluarga atau teman berkumpul. Ada pula dari pihak hotel yang menyajikan minuman selamat datang berupa air zam-zam yang dituang melalui kendi yang unik ke gelas kecil

Pada umumnya Qahwa Arabi disajikan mengunakan termos khusus dan khas biasa disebut dengan Dallah dan dituangkan dalam cangkir kecil tanpa gagang biasa disebut dengan Fijan Qahwa (arabic coffee cup). Kopi disuguhkan dalam keadaan panas dan diberi sebutir kurma atau coklat untuk rasa manis dalam kopi tersebut karena dalam pembutan kopi tersebut tanpa mengunakan gula sedikit pun.

Anda akan merasakan pahit serta rasa pedas karena dicampur dengan cengkeh dan kapulaga yangĂ‚  merupakan herbal berkhasiat bagi tubuh kita. Kapulaga yang biasa digunakan untuk memasak di Indonesia adalah salah satu bumbu yang paling mahal ketiga setelah safron dan vanilla.

Hanya dalam hitungan hari, para jamah dari seluruh dunia akan melaksanakan puncak dari haji yaitu Wukuf di Padang Arafah di sebelah tenggara Masjidil Haram. Waktu Wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah dimulai dari tergelincirnya matahari hingga matahari terbenam. Para jamah dari seluruh dunia pada saat wuquf berdoa, berzikir, membaca Alquran serta melaksanakan salat Jamak Takdim dhuzur dan ashar.

Setelah melaksanakan Wukuf di Padang Arafah, para jamah haji bergerak menuju Muzdalifah setelah terbenamnya matahari untuk bermalam di sana hingga waktu fajar. Di Muzdalifah para jamaah salat Jamak Qasar maghrib dan isya, serta mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah dari tanggal 10-13 Dzulhijah. Ini sudah termasuk dalam rukun haji, setelah itu para jamah melaksanakan Tawaf Ifadha di Makkah.

Setelah itu mereka kembali dari Makkah ke Mina untuk melaksanakan lempar Jumrah yang terakhir dan berakhir pula puncak haji yang dilaksanakan para jamaah dari seluruh dunia. Beberapa hari dari usainya puncak haji, para jemaah sebagian menuju Madinah, untuk yang datang langsung ke Makkah. Di Madinah kurang lebih 10 hari setelah itu para jamah kembali ke negara asal mereka masing-masing.