Selasa, 24 Desember 2019

Peselancar Wajib ke Sini: Pantai Lakey di Dompu

Saat jalan-jalan ke Dompu, jangan lupa berkunjung ke pantai cantik ini. Selain surganya para surfer, pemandangan nya juga sangat indah. Inilah Pantai Lakey.
Pantai Lakey adalah hamparan pantai berpasir putih yang panjang. Sebagian besar dasarnya berbatu, tetapi lebih jauh ke pantai itu berpasir dan bagus untuk berenang. Lakey sudah terkenal di kalangan komunitas peselancar dunia. Gelombang di sini tampak menyapu ke arah kiri. Ditambah lagi, keindahan alam pantai telah menjadi sensasi, terutama di kalangan penggemar selancar. Selain itu, angin laut juga cukup kuat yang mendukung kegiatan selancar, selancar angin, atau selancar layang-layang.

Selain surganya bagi para peselancar, pemandangan pantai Lakey juga sangat indah. Pantai dengan pasir putih, air laut berwarna biru tosca, apalagi sunset yang begitu menawan dijamin kita bisa betah berlama-lama menikmati pemandangan sambi bersantai di pantai Lakey.

Saat air surut biasanya ramai anak-anak juga warga lokal yg mencari ikan, gurita, rumput laut dll. Bagi yg ingin ke pantai lakey jangan khawatir, di sekitar pantai banyak dijumpai penginapan/ home stay juga hotel. Selamat bersantai.

Untuk kesini, bisa dari Jakarta menuju bandara Bima, kemudian dilanjutkan menuju desa Hu, sekitar 2,5 jam dengan mobil

Kata Orang Prancis: Rote Seperti Bali Zaman Dulu

Namanya Axl Chalvet, orang Prancis. Dia merupakan pelaku wisata dan sudah tinggal 12 tahun lamanya di Pulau Rote. Asyik nggak sih di Rote?

20-26 Agustus 2019, tim Tapal Batas detikcom bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjelajahi Kabupaten Rote Ndao di NTT. Kabupatennya berupa kepulauan dengan total 96 pulau. Namun, hanya 7 pulau yang berpenghuni dengan Pulau Rote sebagai yang paling besar.

Kami pun bertemu dengan Axl Chalvet. Dirinya merupakan manajer salah satu resort di kawasan wisata Nemberala, Rote Barat. Yang bikin mengejutkan, dia sudah tinggal 12 tahun di Rote!

"Ya, sangat menyenangkan di sini. Alamnya dan suasananya bagus, orang-orangnya baik," katanya membuka percakapan dengan kami di kediamannya di Pantai Nemberala.

Mengenal AXl lebih dekat, dia ternyata lahir di Bali. Namun kedua orangtuanya asli dari Prancis dan dia pun sering bolak-balik Prancis-Indonesia. Axl, sudah lama berkecimpung di dunia pariwisata khususnya di Bali.

Kalau Rote, keindahannya seperti apa sih?

"Begini, banyak turis mancanegara bilang dan saya merasakannya sendiri juga, Rote itu seperti Bali di zaman dulu," jawabnya.

Maksudnya?

"Bali punya alam yang indah, seperti pantai-pantainya. Nah Rote juga sama, hanya saja di sini masih sangat sepi tidak sepadat di Bali. Kehidupan dan kebudayaan masyarakatnya juga masih asli, sehingga banyak turis yang senang datang ke sini," papar pria berusia 35 tahun tersebut.

Axl paling suka surfing. Menurutnya, ombak-ombak di Rote sudah terkenal mendunia. Ombak-ombak di Rote, tidak kalah dari destinasi lainnya di Indonesia.

"Mau surfing, diving, memancing dan trekking semuanya bisa di Rote. Wisatanya lengkap," ungkapnya.

Sebagai pelaku wisata, Axl menjelaskan kalau Rote memiliki potensi pariwisata yang besar. Hanya saja, masih ada beberapa hal yang harus dimaksimalkan di sini.

"Penerbangan mungkin bisa ditambah, misal juga kalau ada penerbangan langsung dari Australia ke sini lebih dekat. Selain itu, pengelolaan objek wisata harus dimaksimalkan, karena akses jalannya masih belum memadai," paparnya.

"Soal promosi wisata pun masih kurang. Saya yakin, pariwisata bisa berkembang dengan baik dan menambah kesejahteraan masyarakatnya," tambah Axl.

Festival Lembah Ijen, Pertunjukan Seni di Ketinggian 600 mdpl

Banyuwangi punya beragam festival. Salah satunya, Festival Lembah Ijen berupa pertunjukan seni di ketinggian 600 mdpl.

Sendratari Meras Gandrung yang rutin digelar Banyuwangi setiap bulan menjadi atraksi menarik tersendiri bagi wisatawan. Tidak hanya atraksinya yang memukau, namun Taman Gandrung Terakota yang menjadi area pertunjukan juga menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjungnya.

Atraksi seni ini dibungkus dalam sebuah event Festival Lembah Ijen. Sendratari Meras Gandrung merupakan sebuah pertunjukkan drama minim dialog yang dikemas dalam bentuk tari tradisional yang mengisahkan tentang perjalanan penari menjadi seorang 'Gandrung'. Di mana dia tidak hanya dituntut menjadi seorang penari profesional, namun juga harus bisa menjadi sinden.

Sendratari ini mengambil seting masa kolonial Belanda karena Gandrung di masa itu memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Pertunjukan ini diiringi oleh musik gamelan dan melibatkan hingga puluhan pemain yang mengenakan kostum suku Osing, suku lokal setempat, dengan paduan kain batik sebagai ciri khasnya. Selama satu jam, pengunjung disuguhi atraksi memukau suara indah pesinden dan para penari yang berusia dari 6 hingga 60 tahun.

Atraksi itu mendapat pujian dari penontonnya, termasuk tiga kepala daerah lintas kepulauan di Indonesia yang tengah berkunjung ke Banyuwangi dan menyempatkan diri menontonnya pada Sabtu (14/9/2019).

Mereka adalah Bupati Tapanuli Selatan Sumatera Selatan, Syahrul M Pasaribu; Bupati Manggarai NTT, Deno Kamelus; dan Bupati Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Amrullah.

"Luar biasa bagus. Pertunjukan ini bisa jadi sumber inspirasi bagi kami bagaimana melestarikan budaya lokal dan mengembangkan ekonomi rakyat. Lewat atraksi semacam ini, orang makin kenal dengan kebudayaan lokal setempat. Seperti ini kan kami akhirnya tahu kisa Gandrung yang sangat identik Banyuwangi ini," kata Bupati Tapsel Syahrul.

Para kepala daerah tersebut tak hanya menikmati atraksi seni yang disuguhkan, namun kesejukan dan keelokan area pertunjukan membuat mereka terpukau.

"Ini inspirasi bagi kami untuk membuat atraksi serupa yang menampilkan kebudayaan lokal kami secara rutin. Tempatnya ini indah sekali," puji Bupati Konawe, Amrullah.

Atraksi ini digelar di sebuah amfiteater terbuka yang berada di Taman Gandrung Terakota di kawasan Jiwa Jawa Resort. Kawasan ini berada di ketinggian dataran Banyuwangi, tepatnya di Desa Tamansari, Kecamatan Licin Banyuwangi yang berada di kaki Gunung Ijen.

Amfiteater ini menawarkan pemandangan dengan latar belakang persawahan dengan ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di antaranya.

Bupati Banyuwangi Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang menemani tiga bupati tersebut mengatakan pemkab terus mendorong proses regenerasi seni dan budaya di Banyuwangi, salah satunya dengan rutin menggelar pertunjukan seni yang melibatkan anak-anak muda. Seperti Sendratari Meras Gandrung.

"Kebudayaan ini harus tetap lestari di tengah kemajuan daerah kami. Seni dan budaya daerah adalah identitas bangsa, sekaligus kekayaan bangsa yang perlu kita jaga dan tetap dihidupkan oleh generasi muda. Kolaborasi dengan pihak swasta seperti inilah salah satu upaya yang kita lakukan untuk tetap melestarikan budaya," terang Anas.

Selain ajang regenerasi budaya, imbuh Anas, Festival Lembah Ijen juga menjadi instrumen untuk mempromosikan kebudayaan Banyuwangi kepada khalayak luas.

"Ajang ini tidak sekedar untuk mencetak bibit-bibit penari baru. Tapi juga untuk promosi kearifan lokal warga setempat, dan juga melestarikan kebudayaan Banyuwangi, terutama gandrung yang kini telah digandrungi masyarakat," pungkasnya.