Senin, 23 Desember 2019

Mengenal Sejarah Lengkap Myanmar di Museum Ini

Tak lengkap berkunjung ke Yangoon tanpa mengenal sejarah panjang dari Myanmar. Berkunjung ke Museum Nasional Myanmar, kamu bisa belajar banyak.

Setiap negara memiliki museum nasional, tempat di mana pengunjung bisa mengetahui sejarah negara yang bersangkutan sejak dari awal berdiri hingga sekarang. Bagi rekan-rekan yang sedang berkunjung ke Myanmar dan kebetulan sedang berada di kota Yangoon maka mengunjungi Museum Nasional Myanmar sebuah gedung berlantai 4 yang berada di seberang gedung Kemnterian Luar Negeri Myanmar akan membuka pengetahuan kita akan sejarah bangsa ini. Ciri utama museum ini adalah patung Raja Anawarahta (8 maret 1015 M-23 maret 1078 M) yang meruapakan seorang raja besar dan pendiri kerajaan Bagan yang termasyhur yang berdiri tepat di depan museum.

Sama seperti di Museum Jenderal Aung San, kamera, video camera dan HP termasuk tas tidak boleh dibawa masuk ke dalam museum. Harus pengunjung titipkan di loker yang ada di luar gedung museum. Biaya penitipan gratis, setelah itu pengunjung boleh masuk ke dalam museum. Di dalam pengunjung akan membeli tiket masuk museum seharga USD 5/orang bisa juga dalam kyat 5000 kyat/orang.

Kita mulai perjalanan dari lantai paling bawah, di sini ada beberapa ruangan ruangan pertama bernama Myanmar Epigraphy And Calligraphy. Di sini pengunjung melihat kertas, batu dan kayu yang bertuliskan alfabet Myanmar yang mirip tulisan sansekerta dari India. Skrip tulisan tangan dari periode yang berbeda ada dari abad ke 5 -9 dan abad 16 termasuk yang ditemukan di Istana Kambawzathadi di bago.

Dari ruang Myanmar Epigraphy And Calligraphy kita masuk ke ruang lion throne show room. Sesuai namanya di ruangan ini pengunjung akan melihat singgasana singa yang dulu pernah digunakan Raja Myanmar. Singgasana ini ukurannya sangat besar dan tinggi, hampir setinggi ruangan. Menurut sejarah, usia singgasana ini umurnya lebih dari 150 tahun yang berarti merupakan peninggalan Dinasti Konbaung. Singgasana ini terbuat dari kayu yamanay yang seluruh bagian singgasana dilapisi dengan emas.

Sebenarnya ada 8 singgasana lainnya peninggalan konbaung dinasti yang masih ada saat tentara Inggris merebut kota Mandalay tahun 1885, tapi ke 8 singgasana itu sayangnya hancur saat Perang Dunia kedua. Singgasana singa ini beruntung karena saat itu dipamerkan di Museum Kolkata, India. Akhirnya di tahun 1948 pemerintah inggris mengembalikan benda-benda milik kerajaan yang telah mereka ambil, salah satunya singgasana singa ini. Fungsi singgasana ini digunakan Raja saat hendak memutuskan masalah hukum.

Ruang ketiga yang kita masuki adalah ruang periode Yadanabon suatu periode yang dimulai sejak pemindahan ibukota kerajaan ke kota Mandalay yang dilakukan raja mindon min (8 Juli 1808-1 oktober 1878) dan juga merupakan masa akhir kekuasaan dinasti konbaung kita bisa menyaksikan tandu berlapis emas yang digunakan kaum bangsawan bepergian dari abad ke 19 M, pembatas ruangan dari gelas mosaik, sepatu milik bangsawan. Replika Istana Myanansankyaw yang ada di kota Mandalay tempat Raja Mindon Min dan penerusnya Raja Thibaw Min memerintah, foto-foto Mandalay di abad 19 dan awal abad 20, furniture milik bangsawan, serta pakaian yang akan dikenakan bangsawan saat upacara

Kita naik ke lantai 1, bisa melalui tangga atau lift diruang pertama yang kita masuki bernama Ruang Regalia Bangsawan. Sesuai namanya, di sini pengunjung dapat melihat benda-beda milik keluarga bangsawan. Benda-beda tersebut seluruhnya terbuat dari emas kualitas tinggi dan dipercantik permata serta batu berharga lainnya. Benda-benda tersebut digunakan para bangasawan dalam upacara-upacara khusus yang diadakan raja dan ratu saat menerima persembahan dari bawahan meraka 3 kali dalam setahun.

Selesai dari ruangan ini kita beralih ke ruang pamer zaman sejarah Myanmar. Di sini Batu dolomite, terracotta, kopi, lukisan mural di dinding fot-foto ekskavasi, lukisan pagoda-pagoda di bagan, tulisan di atas batu dari abad 10-13 M dan barang-barang dari zaman pinyu hingga konbaung dipamerkan di sini. Ruang zaman prasejarah Myanmar juga menarik dikunjungi. Di sini benda- berusia lebih dari 10 ribu tahun yang ditemukan di Gua Padalin saat penggalian arkeologi, benda dari jaman perunggu, serta benda- benda dari periode piyu abad ke 5 -9 M benda-benda tersebut seperti paku besi dari srikhsetra abad 5 SM-1 M, kapak besi dari hanlin abda 5 SM -9 M.

Melepas Lelah di Pantai Nipah-nipah, Ancolnya Ibu Kota Baru

Kalau Jakarta punya Ancol, maka ibu kota baru punya Pantai Nipah-nipah yang tak kalah indah. Cocok banget buat melepas lelah!

Presiden Jokowi sudah mengumumkan bahwa ibu kota Indonesia akan pindah. Dari Jakarta akan berganti jadi sebagian wilayah Penajam Paser Utara dan juga sebagian Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur.

Nah, ternyata Kabupaten Penajam Paser Utara punya sedikit kemiripan dengan Jakarta. Sama-sama terletak di tepi laut dan punya garis pantai yang panjang.

Traveler pun bisa melepas lelah di salah satu pantai yang ada di Penajam Paser Utara. Namanya Pantai Nipah-nipah. Tim Jelajah Ibu Kota Baru detikcom berkunjung ke kawasan pantai ini pekan lalu.

Saat saya datang, suasana pantai sangat lengang. Bisa dikatakan sepi dari pengunjung. Wajar, karena saat itu hari kerja dan jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi waktu setempat.

Pantainya sendiri memiliki kontur yang landai dan memanjang dari ujung ke ujung. Saya perkirakan panjangnya mencapai ratusan meter. Pasir pantainya putih dan halus, walaupun ada juga bagian pantai yang pasirnya berwarna agak kecokelatan.

Sempat ada sedikit rasa bingung saat saya melihat papan nama kekinian yang terpasang di tepi pantai. Papan itu bertuliskan Pantai Sipakario, bukan Pantai Nipah-nipah. Saya berada di lokasi yang tepat atau salah tempat?

Pertanyaan saya terjawab setelah bertemu dengan Pak Subair, salah seorang pengelola pantai ini. Ternyata nama pantai ini memang Sipakario dan letaknya berada di Kelurahan Nipah-nipah. Jadi jangan heran kalau pantai ini punya 2 nama.

"Namanya Pantai Sipakario. Itu ada artinya. Dalam bahasa kami, Sipakario artinya sifat yang memberikan kesenangan. Lokasi pantai ini ada di Kelurahan Nipah-nipah, sering disebut Pantai Nipah-nipah ini sudah," kata Subair, Pengelola Kelompok Sadar Wisata Pantai Sipakario kepada Tim detikcom.

Sehari-hari, Subair mengelola pantai ini. Sudah 2 tahun ke belakang Pantai Sipakario dibuka dan banyak menarik minat wisatawan lokal. Paling ramai tentunya di hari libur, baik itu libur weekend, libur hari raya, maupun hari besar lainnya.

"Sejak 2 tahunan ini mulai ramai pengunjung dari luar. Kebanyakan anak-anak muda, masyarakat khususnya dari Penajam Paser Utara (PPU). Ada juga yang dari luar kota, Samarinda, Balikpapan karena pantai ini yang terdekat di Kota Penajam," imbuh Subair.

Di pantai ini ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan traveler. Selain bersantai dan main air, traveler bisa foto-foto narsis di beberapa spot kekinian yang sudah disediakan pengelola. Di setiap spot foto, traveler cukup mengeluarkan uang Rp 2.000 saja buat foto-foto. Murah kan?

Selain itu, traveler juga bisa menyewa sampan untuk berkeliling atau bisa juga menyewa ban kalau mau main air di pantai. Tapi di waktu musim selatan seperti sekarang ini, kedua kegiatan itu tidak dianjurkan.

Terkait pemindahan ibu kota ke Penajam Paser Utara, Subair pun menyambutnya dengan gembira. Itu berarti makin banyak orang yang berkunjung dan dia pun makin mendapat untung dari membuka warung di pinggir pantai.

"Senang. Makin banyak pengunjung. Makin banyak orang, makin bagus karena selama ini kita ibaratnya swadaya, jadi ya ala kadarnya. Dari Dinas Pariwisata Penajam Paser Utara belum ada perhatian," pungkasnya.