Senin, 23 Desember 2019

Kisah Cinta Abadi di Taman Bunga Rozelin

 Ada satu taman bunga cantik di tengah ibu kota baru Indonesia, yaitu Taman Bunga Rozelin. Ada kisah cinta abadi di balik indahnya taman ini. Penasaran?

Di Kota Penajam Paser Utara, tepatnya di Kilometer 9 Nipah-nipah, ada sebuah taman cantik yang menarik perhatian traveler. Dari kejauhan taman ini bak oase segar yang mengundang traveler untuk mampir dan sekedar beristirahat.

Di bagian gapura taman tertulis besar-besar nama dari taman cantik ini: Taman Bunga Rozeline. Tim Jelajah Ibu Kota Baru detikcom pun tak melewatkan kesempatan untuk mampir sejenak. Apalagi saat itu masih pagi sekali. Udaranya sangat segar. Cocok banget buat berolahraga ringan.

Rasa penasaran saya terusik terkait nama taman ini, Taman Bunga Rozeline. Siapakah gerangan Rozeline itu?

Basri, driver sekaligus pemandu saya hari itu, menjelaskan bahwa nama Rozeline di taman bunga ini diambil dari nama istri Bupati Penajam Paser Utara terdahulu yang kini sudah tiada.

"Nama taman ini diambil dari nama istri Bupati Penajam Paser Utara sebelum yang sekarang, Bu Roslina. Beliau meninggal karena sakit kalau tidak salah," kisah Basri.

Dari penelusuran detikcom, rupanya yang dimaksud oleh Basri adalah Ibu Andi Roslina Harahap, istri dari Andi Harahap, Bupati Penajam Paser Utara periode tahun 2008-2013. Sang istri, Roslina, meninggal dunia tepat di momen hari Ibu pada 22 Desember 2014 silam karena sakit.

Untuk mengenang jasa-jasa dan kepergiannya, nama Rozeline pun disematkan kepada taman ini agar namanya tetap abadi seperti bunga-bunga cantik di taman ini.

Suasana taman yang asri benar-benar bikin betah. Taman ini pun dilengkapi dengan gazebo-gazebo yang bisa dipakai untuk traveler duduk bersantai sambil menikmati suasana.

Taman Bunga Rozeline juga dilengkapi danau buatan dan juga jembatan kayu yang Instagramable. Cocok banget dikunjungi oleh anak-anak muda yang hobi selfie narsis dan eksis di media sosial.

Untuk traveler yang sudah berkeluarga, Taman Bunga Rozeline sangat Family Friendly alias ramah keluarga. Ada banyak mainan anak-anak di sini. Taman ini pun bisa menjadi tempat liburan keluarga yang murah dan berkualitas di ibu kota baru.

Masuk ke taman bunga ini, traveler tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun ingat, tetap jaga kebersihan ya. Sayang rasanya jika taman secantik ini dinodai dengan sampah yang dibuang sembarangan.

Patung Jendral Soedirman 'Penjaga' Selatan Indonesia

Tiap wilayah di Indonesia punya patung Jendral Soedirman. Namun satu yang spesial, adalah patung Jendral Soedirman di pulau paling selatan Indonesia ini!

20-26 Agustus 2019, tim Tapal Batas detikcom bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjelajahi Kabupaten Rote Ndao di NTT. Kabupatennya berupa kepulauan dengan total 96 pulau. Namun, hanya 7 pulau yang berpenghuni dengan Pulau Rote sebagai yang paling besar.

Terdapat 10 kecamatan di Rote Ndao. Tiap kecamatan punya potensi dan tempat wisata yang beragam.

Namun tahukah kamu, pulau paling selatan Indonesia di Kabupaten Rote Ndao bernama Pulau Ndana. Pulau yang tak berpenghuni penduduk, hanya ditempati oleh sekitar 30-an personil Satgas (Satuan Tugas) Pengamanan Pulau Terluar dari kesatuan TNI.

Pulau Ndana sejatinya destinasi wisata yang indah. Pulau ini punya ombak yang menggoda untuk surfing, pesisir pantai putih nan halus, padang savana luas sampai danau berwarna merah.

Ada satu hal menarik lainnya di Pulau Ndana. Suatu patung Jendral Soedirman yang menghadap ke lautan lepas, Samudera Hindia!

"Ini namanya Monumen Panglima Besar Jendral Soedirman. Diresmikan tanggal 1 Agustus 2010 oleh Jendral TNI Djoko Santoso saat itu," ujar Kapten Marinir Komandan Satgas Pulau Terluar Pulau Ndana, Agus Dwi Wibowo yang menemani tim Tapal Batas detikcom di Pulau Ndana.

Patungnya menjulang tinggi nan gagah. Menggambarkan sosok Jendral Soedirman, pahlawan pejuang yang begitu hebat kisah-kisah perjuangannya.

Patung Jendral Soedirman ini pun tak jauh dari markas Satgas (Satuan Tugas) Pengamanan Pulau Terluar. Posisinya di tengah padang savana, dekat pantai.

Kisah Masjid di Pulau Rote, Dibangun Pakai Telur dan Gula

Inilah masjid paling selatan di Indonesia, yang berada di Pulau Rote. Masjid An-Nur namanya, yang di zaman dulu dibangun pakai telur dan gula pasir.

20-26 Agustus 2019, tim Tapal Batas detikcom bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjelajahi Kabupaten Rote Ndao di NTT. Kabupatennya berupa kepulauan dengan total 96 pulau. Namun, hanya 7 pulau yang berpenghuni dengan Pulau Rote sebagai yang paling besar.

Terdapat 10 kecamatan di Rote Ndao. Tiap kecamatan punya potensi dan tempat wisata yang beragam.

Bicara soal peninggalan bersejarah alias cagar budaya, Rote juga punya. Salah satunya adalah Masjid An-Nur yang berada di Kota Ba'a, Kecamatan Lobalain.

"Masjid ini berdirinya pada tanggal 5 bulan 8 tahun 1928 merupakan masjid tertua di Rote," kata pengurus Masjid An-Nur, Muhammad Ali.

Namun Ali menjelaskan, sebelumnya di tahun 1700-an sudah berdiri masjid di Rote. Hanya saja kala itu masjidnya dibongkar.

"Tidak ada referensi sejarah yang pasti mengenai hal itu, jadilah Masjid An-Nur ini sebagai yang tertua usianya di Rote dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini," terangnya.

Masjid An-Nur punya 1 menara menjulang tinggi. Dulunya menara tersebut digunakan sebagai tempat adzan. Sedangkan bangunan masjidnya, luasnya sekitar 700 meter persegi.

"Masjid An-Nur mampu menampung 200 jamaah. Salat 5 waktu berjamaah dilakukan di sini," kata Ali.

Usut punya usut, Ali adalah keturunan dari Ismail bin Abdullah, yang membangun Masjid An-Nur. Dia menjelaskan, Ismail bin Abdullah adalah orang Bugis dan berasal dari Makassar. Ismail bin Abdullah suka berlayar untuk berdagang hingga sampai ke Rote.

Saat ke Rote, Ismail bin Abdullah tidak melihat ada masjid. Setelah itu, dia pulang ke Makassar, membuat sketsa masjid dan kembali lagi ke Rote untuk membangun masjid.

"Makanya, bentuk masjidnya seperti masjid-masjid di Makasssar," terang Ali.

Ali menjelaskan, bahan bangunan sebagai perekat yang digunakan untuk membangun Masjid An-Nur di kala itu sangatlah tradisional. Masih pakai gula dan telur!

"Gula, telur dan pasir dicampur dan diaduk sebagai perekat. Begitu terus dilakukan setiap hari," ungkap Ali.

Sejak tahun 1992, Masjid An-Nur sudah didaftarkan dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dilindungi Undang-undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

"Sekarang juga disebut sebagai Masjid Tua Rote. Di Kabupaten Rote Ndao sendiri, ada 11 masjid di sini," terang Ali.

Masjid An-Nur pun boleh didatangi wisatawan. Begitu mudah datang ke masjid ini, karena lokasinya di pusat Kota Ba'a yang merupakan kota terbesar di Rote.

Kota Ba'a punya banyak fasilitas penunjang pariwisata, termasuk tersedianya ATM BRI untuk menarik uang tunai. Sehingga wisatawan yang datang ke Rote, bisa ambil uang dulu di Kota Ba'a kemudian lanjut ke berbagai destinasi lainnya.

Kisah Cinta Abadi di Taman Bunga Rozelin

 Ada satu taman bunga cantik di tengah ibu kota baru Indonesia, yaitu Taman Bunga Rozelin. Ada kisah cinta abadi di balik indahnya taman ini. Penasaran?

Di Kota Penajam Paser Utara, tepatnya di Kilometer 9 Nipah-nipah, ada sebuah taman cantik yang menarik perhatian traveler. Dari kejauhan taman ini bak oase segar yang mengundang traveler untuk mampir dan sekedar beristirahat.

Di bagian gapura taman tertulis besar-besar nama dari taman cantik ini: Taman Bunga Rozeline. Tim Jelajah Ibu Kota Baru detikcom pun tak melewatkan kesempatan untuk mampir sejenak. Apalagi saat itu masih pagi sekali. Udaranya sangat segar. Cocok banget buat berolahraga ringan.

Rasa penasaran saya terusik terkait nama taman ini, Taman Bunga Rozeline. Siapakah gerangan Rozeline itu?

Basri, driver sekaligus pemandu saya hari itu, menjelaskan bahwa nama Rozeline di taman bunga ini diambil dari nama istri Bupati Penajam Paser Utara terdahulu yang kini sudah tiada.

"Nama taman ini diambil dari nama istri Bupati Penajam Paser Utara sebelum yang sekarang, Bu Roslina. Beliau meninggal karena sakit kalau tidak salah," kisah Basri.

Dari penelusuran detikcom, rupanya yang dimaksud oleh Basri adalah Ibu Andi Roslina Harahap, istri dari Andi Harahap, Bupati Penajam Paser Utara periode tahun 2008-2013. Sang istri, Roslina, meninggal dunia tepat di momen hari Ibu pada 22 Desember 2014 silam karena sakit.